Archive for April 5th, 2010

Ketika Kekasihku Ketakutan

5 April 2010

Suatu ketika (duluuu sekali…) kekasihku merasa ketakutan karena tiba-tiba tercium aroma semerbak yang tidak biasanya.

Lalu kukatakan: “Enggak usah takut, aku di belakangmu siap memelukmu” (sumprit…, saya belum memeluknya…).
Dia pun merasa tenang. Tapi kemudian dia tanya: “Kalau benar-benar ada yang muncul gimana?”.
Jawabku: “Ya pasti kamu duluan yang di-brakot (dimakan seperti makan buah), ‘kan kamu ada di depanku…”.

Yogyakarta, 5 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kopi Dingin

5 April 2010

Pagi-pagi bikin secangkir kopi panas, pilihan pada kopi Amungme. Belum sempat kuhabiskan, keburu berangkat pergi melayat. Kopi lalu kusimpan di kulkas.

Siang-siang kuminum itu kopi dingin. Wow, lha kok mak nyusss…, hoenak tenan! Apalagi ditambahi sedikit es batu. Cuaca Jogja yang siang itu surya bermandi sinarnya, seolah-olah tiba-tiba redup langit kelam, perasaan sejuk wal-menyegarkan. Sumprit…, saya tidak sedang mendramatisasi, tentang kopi dinginnya.

Yogyakarta, 4 April 2010
Yusuf Iskandar

Sepeda Motor Tanpa Lampu

5 April 2010

Sedang mengemudi mobil dengan santai, di Jogja malam hari. Sewaktu membelok, lihat kiri-kanan sepertinya sepi. Tapi betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba ada sepeda motor tanpa lampu enak saja nyelonong memotong jalan.

Istriku komentar: “Wong jalan malam kok nggak mau nyalain lampu”. Tapi jengkelku tak terbendung: “Ya begitu itu kalau orang punya uang, nggak seberapa pandai, tapi rada edan… Sudah tahu sepeda motor nggak ada lampunya kok dibeli….”

Yogyakarta, 4 April 2010
Yusuf Iskandar

Angkringan Pendopo

5 April 2010

Nama restonya ‘Angkringan Pendopo’ — Angkringan tapi pendopo, yaitu warung angkringan di pendopo atau pendopo yang dipakai untuk warung angkringan, timur pasar Ngasem, Jogja. Di sini saya makan malam dengan nasi liwet, sayur brongkos (khas Jogja) dan sate brutu ayam. Ada juga jajan pasar. Lebih untuk tujuan ‘membeli’ suasana…

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Tangan Kiri Tidak Tahu

5 April 2010

Cek fisik mobil untuk ngurus mutasi/balik nama di Samsat DIY. Usai mesin digesek-gesek, tukang geseknya minta uang 10 ribu. Saya tahu ini illegal.

Sambil merogoh saku, terjadi perdebatan sengit dalam tempoh sesingkat-singkatnya antara hati dan otak, rasa vs. logika. Ketemulah tiga alasan: (1). Tidak tega mempermalukan tukang gesek, (2). Jumlah rupiah yang tidak seberapa, (3). Sekali seumur mobil itu. Akhirnya sampai pada alasan keempat : tangan kanan bersedekah, tangan kiri tidak tahu.

(Seorang teman melalui Facebook berkomentar : Mau sedekah saja kok mesti berpikir sampai empat langkah. Maka komentarku: Justru letak indahnya ibadah itu kalau kita bisa menikmati prosesnya…).

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Kondangan Di Tetangga

5 April 2010

Siang ini pergi kondangan di rumah tetangga sekampung. Jamuan makannya ala prasmanan. Melihat piringku penuh tapi tidak ada nasinya, istriku tanya: “Kok tidak ngambil nasi?”. Jawabku berbisik: “Kalau cuma mau makan nasi saja nggak usah repot-repot datang ke kondangan. Di rumah banyak…”.

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

“Selamat Jalan Anakku…”

5 April 2010

“Rasanya belum lama kau kuantar ke Jakarta, nak. Kemarin petang kau kecelakaan dan tak sadarkan diri, lalu pagi ini kau harus segera berangkat menuju keabadian. Bahkan salam perpisahan pun belum sempat kuucapkan. Selamat jalan, anakku…”.

Begitu kira-kira, betapa galau hati kedua orang tuanya. Dan orang tua itu adalah sahabatku, ex-teman kerja di Papua, Bp/Ibu Sriyono. Kami berdoa, Allah swt. pasti telah memilihkan jalan yang terbaik bagi ananda dan keluarganya.

(Turut berduka atas berpulangnya ananda Ria Octarianti, 16 tahun, putri kedua dari Bp/Ibu Sriyono, karyawan PT Freeport Indonesia. Jenazah dimakamkan di dusun Karangwetan, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Alirkan Terus Airnya

5 April 2010

Merespon status saya tentang konsep ‘memberi dan menerima’ dalam konteks rejeki, seorang sahabat, senior dan sumber inspirasi saya, mengutip pesan ibunda beliau: “Kalau ingin sumbermu besar, alirkan terus airnya, jangan pernah dibendung”. Sungguh saya sampai merinding menelaah kalimat indah itu…

(Terima kasih Pak Dwi Pudjiarso. Semoga kita tetap diberi kemampuan untuk terus berpikir, memahami dan mengamalkan)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar