Archive for Maret 3rd, 2010

Dibawa Kemana-mana

3 Maret 2010

Beberapa kali saya benar-benar lupa menjalankan pesan istriku. Saking kesalnya istriku bilang begini: “Yang diingat-ingat itu ya apaaa…, paling cuma yang dibawa kemana-mana ituuu…” (emangnya mbah Surip). Mungkin maksudnya, SIM, KTP dan dompet kalau pas lagi ada isinya…

(Beberapa teman berkomentar di Facebook dengan menebak-nebak maksudnya. Tapi komentar terakhir saya adalah : “Hoa ha ha…, justru diperlukan pikiran bersih untuk dapat tertawa… Maaf”. Just joking…)

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kudu Nesu

3 Maret 2010

Wooo… PLN kurang asem tenan! Pekerjaan belum sempat di-save je…, listriknya sudah dimatikan… Berarti lain kali strateginya harus saya ubah, pekerjaan dimatikan dulu baru listriknya di-save… [Judulnya: www.kudu-nesu.com].

(Menjelang tengah malam listrik PLN tiba-tiba mati untuk waktu yang cukup lama di wilayah Umbulharjo, Yogyakarta – Note : kudu nesu, bahasa Jawa berarti : ingin marah)

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Antara Sholat Dan Olahraga

3 Maret 2010

Seorang teman bertanya, di usia nyaris gocap kok masih mampu (+ nekat) mendaki gunung: “Olahraganya apa pak?”. Jawabku: “Sholat”.

Maka bagi orang muslim pemalas olahraga dan belum punya alasan untuk apa sholat, coba lakukan sholat dan niatkan untuk olahraga. Setelah bisa menikmati setiap gerakan jungkar-jungkir dari ‘olahraga’ itu, ubahlah niatnya menjadi beribadah kepada Allah. Itulah jalur alternatif mudik ketika jalur utama macet.

Beberapa komentar di Facebook :

Slamet Abu Farros – Yogyakarta:
Sholat sama olahraga dalilnya beda lho om

Catatan saya:
Kang Slamet: Sampeyan 100% benar. Ini memang bahasanya ‘tukang kompor’. Jangn lalu disimpulkan “aku sudah sholat jadi nggak perlu olahraga”, atau “aku mau olahraga dulu sajalah, sholatnya nanti saja”…
Untuk mendaki gunung saya pun perlu persiapan fisik yang luar biasa, meski sudah sholat

***

‘Olahraga’ sholat..? Yang wajib 17 rakaat. Yang sunnah (katakanlah) 23 rakaat (rawatib/tahajud/witir/dhuha) & asumsikan hanya bisa 35%-nya. Bulatkan total rata-ata 25 rakaat/hari.

Bayangkan, ‘jungkar-jungkir-gedebug’ 25 kali tiap hari, pagi-siang-sore-malam. Rasakan dan nikmati sensasi tiap gerakan persendian dan posisinya, bernafas dengan santai. Wow, …garansi! Tidak terbukti, sholatlah kembali. Atau kalau mau, boleh juga minta disholati…

Beberapa komentar di Facebook :

Rita Punto – Jakarta:
Nggak bisa dibayangkan pak.. Buktinya banyak kok yang bela-belain mangkir dari keasyikkan ini..

Lelly Iriantho – Bandung:
Jangankan yang sunnat yang wajib aja sering ditinggal pa ?

Bambang Sidharta – Riau:
Saatnya beranjak ke pemahaman lebih tinggi, tidak hanya ibadah dengan gerakan fisik/ritual belaka (maklum banyak dugaan nabi yang shalat dan puasa yang didapat hanya letih dan lelah saja).. Beranjak ke ibadah dengan menggunakan hati, kesadaran jiwa, kesadaran ruh dan terus meningkat.. Shalat sebagaimana Nabi shalat bisa ditiru, namun kondisi hati dan bathin nabi dalam ibadahnya yang belum bisa ditiru ummat..

Catatan saya:
Very good discussion. Tentu saja status saya ini jangan lalu diterjemahkn secara harafiah, melainkan “sholatlah, maka kalian akan sehat (jasmani-wal-rohani)”. Hayuuuk…

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Menyenangi Dan Menikmati

3 Maret 2010

Ndilalah, di Terminal 3 Cengkareng ketemu teman yang sedang dalam perjalanan pulang dari kebun. Sekian hektar kebun sawit dan karetnya ada di Jambi, sehingga kalau pergi ke kebun lalu pulang ke rumahnya di Jogja harus naik pesawat. Katanya: “Saya sudah telanjur menyenangi dan menikmati ngurus kebun…”. Ya, bisa menyenangi dan menikmati, memang itulah kata kuncinya, sehingga ijazah sarjana tambangnya pun ikhlas dimuseumkan sekedar sebagai memorabilia.

(Salam hormat dan apresiasi untuk rekan Suharyono, alumni Tambang UPN “Veteran” Yogyakarta)

Jakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Di Ketinggian

3 Maret 2010

Lho kok tumben check-in maskapai Singo pagi ini di Adisutjipto lancar. Padahal biasanya klelat-klelet (lelet) seperti anakku kalau disuruh mandi sore (ya…kadang-kadang saya juga). Mudah-mudahan rejeki yang nyanthol di ketinggian 32.000 kaki juga mudah dipetik…(fissamaa-i fa anzilhu..)

Yogyakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar