Archive for Januari, 2010

Menu Jagung

20 Januari 2010

Siang : oseng2 jagung muda. Sore : perkedel jagung. Malam : jagung bakar. Moga-moga besok tidak jagong manten……

(jagong manten = kondangan)

Yogyakarta, 19 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

PNS dan Kejujuran

20 Januari 2010

Seseorg yang belum saya kenal mengeluh padaku via email: “Sebagai PNS, berat sekali tantangnnya untuk mempertahankan bertindak jujur”. Saranku, agar tetap konsistenlah bertindak jujur, lalu berdoa: “Tuhan, terimalah kejujuranku ini sebagai ibadahku padaMu, dan jika nanti aku mengalami kesulitan karena ibadahku ini, please Panjenengan bantu aku ya… Benar, lho…”

Yogyakarta, 19 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Awan Gelap Menggantung Di Atas Jogja

20 Januari 2010

(Foto diambil pada 19 Januari 2009, sekitar jam 15:00 WIB di kawasan Maguwo, Ring Road Utara, Jogja — Yusuf Iskandar)

‘Ngemong’ Penyakit

18 Januari 2010

“Ketika kita sedang menderita sakit, sebaiknya bisa ‘ngemong’ (baca: me-manage) penyakit itu agar dapat bernilai ibadah & jadi penyeimbang bagi kehidupan kita”, begitu kira-kira kata Kyai tetanggaku. “Wah, ya sulit….”, kataku. Tapi…yen tak pikir-pikir, barangkali itu lebih baik ketimbang dipanggilkan tetangga minta dibacakan surat Yasin…

Yogyakarta, 18 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Pilihan Di Awal Senin

18 Januari 2010

Mengawali Senin dengan harus membuat pilihan: Bersepeda lalu mampir sarapan soto atau beli sarapan soto naik sepeda… Gara-gara pagi umun-umun sudah diusir ‘boss’ saya, katanya: “Sudah sana pergi, daripada di rumah ‘gangguin’ aja…”. Ah, yo wis

Yogyakarta, 18 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Musim Angin Kencang

18 Januari 2010

Angin kencang melanda Jogja malam ini. BMKG juga sudah kirim ‘warning’ badai akan terjadi di wilayah Indonesia bagian tenggara. Jadi ingat beberapa pendaki yang pernah menghubungi saya akan menuju puncak Rinjani pada pertengahan Januari. Semoga mereka aware akan hal ini, dan Tuhan bersama mereka…

Yogyakarta, 17 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Pahala Bekualitas Tinggi

18 Januari 2010

Teman saya baru keluar dari opname di rumah sakit. Ketika dikomplain kok tidak kabar-kabari, dengan bersahaja dia bilang bahwa tidak ingin merepotkan orang lain. Maka saya pun berkata dengan sama bersahajanya : “Sampeyan kelihatannya bijaksana, tapi sebenarnya egois bin pelit”. Lho…? “Karena tidak memberi kesempatan kepada teman-teman sampeyan yang pahalanya tekor ini untuk memperoleh tambahan pahala berkualitas tinggi dengan menjenguk orang semodel sampeyan yang sedang sakit……”

Yogyakarta, 17 Januari 2010
Yusuf Iskandar

“Tahajud Call”

16 Januari 2010

Ada bidadari dari awang-awang tingkat enam (semula tujuh, tapi tingkat satunya roboh salah konstruksi), rajin membangunkanku untuk (sholat) tahajud. Setiap kali datang “tahajud call”, saya balas dengan doa “alhamdulillah”, lalu saya pun bertahajud. Sekali waktu datang “tahajud call”, lalu saya berdoa, setelah itu saya tinggal tidur lagi… Esoknya saya tersenyum: “Kali ini kutipu kau bidadari”. Tapi sumprit hanya sekali itu saja. Duh Gusti, ampuni hamba-Mu yang ngantukan ini…

Yogyakarta, 16 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Gerhana Matahari – 15 Januari 2010

15 Januari 2010

Barusan kirim SMS mengingatkan putriku yang lagi shopping di pasar (ya masak di gedung DPR): “Nanti siang ada gerhana matahari, sempatkan cari masjid dan perbanyak doa. In addition, it’s really good topic for writing practice“… (Kalau ada orang lain turut teringatkan, ya alhamdulillah…)

Yogyakarta, 15 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Menu “Sisa Kemarin”

14 Januari 2010

A simple breakfast: ada bumbu pecel sisa kemarin + tempe sisa kemarin + suwiran ayam goreng sisa kemarin, tinggal direbuskn sayuran. Menu cepat saji ‘sisa kemarin’ yang lebih baik ketimbang menu ‘sisa entah kapan dan siapa’ yang dimakan anak-anak jalanan…

Yogyakarta, 14 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Sendalku Kembali Utuh

14 Januari 2010

Sendalku yang kemarin raib dipakai orang di masjid, malam ini rupanya kembali ke tempat semula dalam keadaan utuh. Heran…! Padahal tidak saya ‘bacain’ apa-apa, kecuali (dibacain) berita koran tentang Bank Century. Mudah-mudahan uang rakyat yang dirampok via Bank Century juga akan kembali ke tempat semula dalam keadaan utuh seperti sendalku….

(Seorang teman bertanya : apa doanya? Jawabku : ya dibacain koran itu tadi, plus Qur’an tentu lebih baik…..)

Yogyakarta, 13 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Tiga Kali Pulang Dari Masjid Nyeker

13 Januari 2010

3x berjamaah di masjid, 3x sendal dipakai orang, 3x pulang nyeker seperti ayam (untung tidak nginjak tahinya), 3x ikhlas, tapi dongkolnya itu… sampai 30x, sebanyak anggota Pansus Bank Century. Mau ‘pindah ke lain masjid’ kok jauh…

(Di sebelah rumah saya ada pondok pesantren. Tipikalnya, semua ‘properti’ seolah menjadi milk bersama. Makanya sebenarnya sandal saya bukannya hilang, melainkan dipakai orang lain tanpa bilang… Tapi njuk pulangnya nyeker itu lho, habis hujan lagi….)

Yogyakarta, 12 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Lalu Sarapan Rawon

13 Januari 2010

Bersepedaaaa… (lagi, setelah break 2 minggu karena ke Rinjani). Olahraga? Yaa… sedikitlah, yang pentingnya mampir warung di pinggir jalan sarapan rawon…

(Mampir ke warung soto dan rawon di Jl Sorogenen, Nitikan, Jogja. Rasanya standar saja….)

Yogyakarta, 10 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Nglaras Dengan Mie Jowo

13 Januari 2010

Habis hujan, ngantar teman menikmati mie jowo sambil diiringi musik klenengan tembang Jawa. Suasana nglarasss…di Yogya…

(Mengajak teman yang siangnya sempat kesasar di jalanan Jogja, ke warungnya mie jowo ‘Bu Gito 29’ di Rejowinangun, Jogja)

Yogyakarta, 9 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Kesasar Di Jalanan Jogja

9 Januari 2010

Seorang teman yang baru datang dari Jakarta dan kesasar di jalanan Jogja heran. Setiap kali tanya orang tentang arah yang benar, jawabannya selalu menggunakan ‘parameter yang membingungkan’, yaitu ke kiri, ke kanan, jauh dan dekat. Untung saja tidak dijawab : “Yaa… kira2 sak rokok-an (sepanjang hisapan sebatang rokok)…..”. Lebih dari itu, enjoy aja, kawan!

Yogyakarta, 9 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Foto Pendakian Ke Rinjani (1 Jan 2010)

9 Januari 2010

Dokumentasi foto-foto Pendakian Ke Puncak Rinjani (30 Desember 2009 – 2 Januari 2010) sudah saya upload di Facebook. Bagi mereka yang tidak memiliki akun di Facebook dapat melihatnya di Flickr. Silakan klik di sini.

Alunan Musik Keroncong

8 Januari 2010

Saya tidak begitu suka musik keroncong, tapi ketika terdengar alunan musik keroncong di TATV (Solo), kok ujuk-ujuk pikiran ngelangut…, melayang kemana-mana…, mampir ke wuwungan yang bocor kalau hujan, pucuk pohon talok yang banyak kalongnya, menara BTS yang berdiri tanpa ijin, tiang listrik yang listriknya sering mati, pintu-pintu… rumah yang tak terkunci, dan…. hoping some one else will show (Re: ‘Wasted Sunset’ by Deep Purple).

Yogyakarta, 7 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Sahabat Kecilku Ngajak Ke Gunung Slamet

8 Januari 2010

Senin pulang dari gunung Rinjani, Selasa naik (lagi) gunung Sumbing, Kamis pulang. Njuk ngajak ke gunung Slamet pada liburan berikutnya. Uuahhh…! Ada yang mau ikut?

(Gunung Slamet terletak di wilayah sebelah utara kota Purwokerto, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3418 mdpl. Kondisi medan cukup berat, perlu kesiapan fisik lebih baik…)

Yogyakarta, 7 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Nyambung Mendaki Ke Gunung Sumbing

7 Januari 2010

Belum 24 jam sejak tiba dari Rinjani kemarin, pagi ini sahabat kecilku sudah minta diantar ke terminal bis, katanya mau mendaki Gunung Sumbing. Piyeeee iki…

(Gunung Sumbing berlokasi di selatan kota Wonosobo, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3371 mdpl).

Yogyakarta, 5 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani

7 Januari 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010.

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani pada tahun 1991.

“Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat merasa putus asa, “kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal puncak sudah kelihatan…”, Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  (bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai pendakian.

Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar