Archive for November 20th, 2009

Mampir Nyoto Di Warung Soto Sapi Winong Kotagede

20 November 2009

Jumat pagi-pagi ini saya mesti mengantar anak perempuan ke terminal bis Giwangan, Jogja. Sejak kemarin dia sudah wanti-wanti agar bapaknya tidak lupa. Katanya mau mengikuti kegiatan outbond kampusnya ke daerah Sarangan (Jatim) lalu besoknya pindah ke Magelang (Jateng). Pulang dari terminal sengaja saya menempuh rute memutar melalui kecamatan Kotagede, sekedar ingin menikmati suasana pagi mendung yang baru akhir-akhir ini melanda kawasan Jogja dan sekitarnya setelah berbulan-bulan panas terus-terusan.

Tiba di daerah Winong, ujuk-ujuk saya ingat di daerah itu ada warung soto sapi yang lumayan enak, cerita seorang teman. Tidak susah untuk mencari lokasinya, tepatnya di Jl. Ngeksigondo no. 4 yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah tinggal saya. Langsung saja berhenti tepat di depan warung yang pagi itu masih terlihat sepi. Kemudian pesan semangkuk soto sapi sambil sedikit ngobrol dengan pelayannya. Biasa, kalau sudah begini rasa ingin tahu selalu muncul. Sumber informasi yang paling mudah, ya ngobrol dengan pelayannya.

Semangkuk soto dengan kandungan irisan daging sapinya cukup banyak segera tersajikan. Belum puas dengan itu, lalu saya pesan iso (usus) goreng yang dipotong kecil-kecil sebagai ramuan tambahan. Sayang iso gorengnya dibumbu bacem. Saya kurang begitu suka karena sensasi rasa asli isonya jadi hilang.

Sruputan pertama kuahnya begitu menggoda, selebihnya terserah yang menyruput…, sebab rasa kaldu dagingnya langsung terasa. Setelah dicecap-cecap sebentar kemudian saya tambah dengan kecap manis. Dasar lidah Jogja, kalau belum ditambah kecap serasa makan soto tanpa kecap…… Kurang manis, maksudnya. Rasanya lumayan enak, terutama bagi sopir yang sedang kelaparan di pagi mendung. Bisa sebagai referensi kalau suatu kali nanti kepingin makan soto yang lokasinya tidak jauh dari rumah di kawasan Jogja tenggara.

Warung soto ini sudah cukup dikenal di wilayah Jogja, sebagai warung Soto Sapi Winong. Tampilan warungnya yang mengesankan sederhana dan melayani pecinta soto sejak pagi hingga sore hari itu kini sudah memiliki cabang di Jl. Wonosari dan Jl. Solo. Masih di wilayah Jogja juga. Ini menandakan bahwa bisnis persotoan yang mulai dirintis oleh Pak Wachid sebagai pemiliknya sejak sekitar tahun 1993 itu cukup berkembang. Setidak-tidaknya memberi pilihan bagi pecinta soto yang sedang berada di wilayah kota Yogyakarta. Harga semangkuk nasi soto yang hanya Rp 7.000,- kiranya masih wajar  jika menimbang citarasa yang ditawarkan dan asesori irisan daging dalam racikan sotonya. Setidaknya sebanding dengan kebutuhan sebagai pilihan sarapan pagi bagi warga masyarakat penyoto (penggemar soto) yang tinggal atau melewati wilayah seputaran Kotagede, Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dan membawa sebungkus soto untuk ‘boss’ saya di rumah, saya pun pamit kepada pelayannya (ke pelayan saja kok pamit….). Beberapa saat sebelum meninggalkan halaman warung, lha kok tiba-tiba ada sepeda motor berhenti menghalangi. Pengendaranya sepasang muda-mudi. Keduanya lalu turun dan terlibat dalam pembicaraan serius. Tentu saja saya tidak mendengar percakapan mereka. Tapi memperhatikan ekspresi wajah keduanya sepertinya sedang bertengkar.

Dari belakang kemudi saya memperhatikan adegan yang langka itu. Dalam hati saya memberi apresiasi kepada kedua orang itu. Setidak-tidaknya mereka telah melakukan safe action berlalu lintas. Berboncengan sepeda motor, bertengkar, lalu menepi berhenti dulu. Daripada nanti dikira pemain sirkus jalanan, naik sepeda motor sambil berantam…..  Pelajarannya adalah, jangan naik sepeda motor sambil bertengkar. Kalau terpaksa juga mau bertengkar di jalan, menepilah dulu dan berhenti di tempat yang aman (Lha ya siapa yang mau bertindak bodoh semacam ini? Tapi faktanya toh terjadi juga…..).

Tidak lama kemudian, mereka pun bersepakat melanjutkan perjalanan berboncengan kembali. Mungkin sudah ada kesepakatan damai atau gencatan senjata sementara waktu. Entahlah, itu urusan mereka. Yang jelas, kemudian saya pun mengambil gambar spanduk penanda warung Soto Sapi Winong lalu berangsur pulang. Tadi itu bukan saya sengaja ingin menikmati adegan pertengkaran sepasang muda-mudi, melainkan saya terpaksa menunggu hingga pertengkaran selesai karena mereka berhenti tepat di depan tulisan yang mau saya foto.

***

Nyoto atau makan soto adalah salah satu pilihan sarapan pagi yang relatif murah-meriah-mudah. Tergolong makanan cepat saji yang bukan fast food. Kalau kebetulan uang saku lagi cekak, makan soto tanpa pesan minum pun masih layak ditempuh, sebab kuah soto tidak bersantan dan menyegarkan.

Menyimak kata orang Jawa : “Urip mung sak dermo nunut nyoto” (hidup itu cuma sekedar numpang makan soto), murah, cepat, dan kebutuhan perut terpenuhi. Esensinya adalah bahwa hidup ini cuma sebentar saja, sebelum menuju ke destinasi terakhir yang lebih kekal dan abadi. Karena itu, tunaikanlah hidup ini sebagaimana adanya dan wajarnya, sebagaimana makan soto di pagi hari. Sebab soto dan penyoto itu tidak mungkin neko-neko. Dari dulu hingga nanti lewat tanggal 21 Desember 2012, yang namanya soto dan nyoto ya begitu itu…..

Yogyakarta, 20 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan