Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 2)

Cover DBKeprihatinan saya masih berlanjut perihal wabah penyakit demam berdarah (DB). Usai sholat jumatan siang tadi saya ketemu salah seorang tetangga yang baru saja sembuh dari serangan DB dan orang tua dari dua anak yang terserang DB yang salah satunya sempat mengalami masa kritis beberapa hari yll. Kesempatan ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk menggali informasi dan pengalaman.

Pasalnya beberapa hari yll anak kedua saya (13,5 tahun) mendadak pulang lebih awal dari sekolahnya dan mengeluh kepala pusing, badan panas disertai muntah-muntah. Serta-merta pikiran saya melayang jauh mengarah kepada kemungkinan serangan DB. Terapi pertama yang saya lakukan adalah memberinya obat turun panas dan “memaksanya” agar tetap makan dan banyak minum (minum apa saja).

Ternyata tetangga saya yang terserang DB tidak hanya empat orang, melainkan lebih dari enam orang. Tentu saja peristiwa ini membuat Pak RW menjadi sibuk. Upaya untuk melakukan pengasapan (fogging) pun diajukan kepada instansi terkait agar segera dapat dilakukan di wilayah kampung kami.

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa pengasapan itu sebenarnya hanya akan membunuh nyamuk, sedangkan jentik-jentik dan telurnya tetap sehat wal afiat dan siap-siap menjadi kader agen penyebar virus dengue. Oleh karena itu, pengasapan bisa tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk itu, ingat rumus 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) adalah langkah yang tepat dan bukan sekedar slogan.

***

Kenapa orang dewasa yang terkena DB jarang yang sampai mengalami ke tahap masa kritis? Salah satu alasan yang bagi saya masuk akal adalah karena orang dewasa lebih nalar bahwa meski sakit, tubuh tetap perlu makan dan banyak minum. Sedangkan anak kecil, kalau sudah emoh makan dan minum, sekali emoh ya tetap emoh. Tidak perduli apa urusannya.

Padahal, tetap makan dan banyak minum adalah satu-satunya cara agar terhindar dari masa kritis penderita DB. Begitulah kesimpulan kami orang awam ini. Setidak-tidaknya kesimpulan itu dibenarkan oleh pengalaman tetangga saya yang sudah dua kali terserang DB dan orang tua dari kedua anak yang terserang DB. Kesimpulan yang sangat masuk akal setelah merujuk kepada penjelasan dokter dan apa yang diterangkan dalam buku praktis “Mengenal Demam Berdarah”, tulisan Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp. A(K).

Penyakit DB yang disebabkan oleh virus dengue itu hingga kini belum ada obatnya. Satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kodisi dan daya tahan tubuh penderita atau calon penderita. Kondisi tubuh yang fit perlu dipertahankan, baik dalam rangka pencegahan maupun perawatan.

Benar-benar kita perlu waspada ketika mulai menderita demam, lalu perhatikan pada hari keempat ketika demam mulai turun. Apakah kondisi tubuh menjadi lebih enakan, segar dan mau makan juga minum. Atau sebaliknya, tubuh menjadi lemah, kepala pusing, mual-mual dan tidak enak makan atau minum, otot-otot dan persendian nyeri, atau malah ada tanda-tanda perdarahan. Ada baiknya mengingat-ingat rumus KLMNO(P) seperti ditunjukkan dalam buku di atas.

Jika hal terakhir itu yang terjadi, perhatikan penuturan dari tetangga saya berikut ini :

Menurut dokter, itulah saatnya mulai terjadi pembengkakan lever (hati), sehingga terasa seperti ada yang mendorong (menyodok-nyodok) ke atas, di dalam perut. Peristiwa ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi bila peristiwa ini dialami oleh anak-anak kita, jangan maido (menyalahkan) kalau mereka akan mengerang dan merintih kesakitan.

Bagi anak-anak yang umurnya masih di bawah 3 tahun, barangkali mereka hanya bisa menangis dan merintih menahan sakit. Tetapi bagi mereka yang usianya lebih tua, seringkali sampai mengeluarkan kata-kata yang siapapun orang tua yang mendengarnya pasti akan menangis. “Saya tidak tahan lagi, Ma…”, “Saya tidak kuat lagi, Bu…”, “Lebih baik mati saja……”. Begitulah rintihan anak-anak, saking menahan rasa sakit luar biasa yang ditimbulkan. Ini bukan kalimat yang saya dramatisir, melainkan sungguh-sungguh terjadi dan banyak terjadi. Pada tahap ini pula penderita adakalanya mengalami shock atau juga kehilangan kesadaran seperti orang linglung.

Dengan rasa sakit seperti itu, sudah barang tentu tidak akan mampu untuk makan atau minum. Apapun yang dimasukkan ke mulutnya segera akan muntah keluar lagi. Itulah sebabnya kenapa harus segera dibawa ke rumah sakit, karena harus diberi infus untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum tubuhnya yang semakin lemah. Memang hanya itulah terapi yang akan diberikan dokter. Obat-obatan selebihnya hanya bersifat “asesori” yang tidak ada hubungan langsung dengan serangan virus dangue.

Dan satu lagi upaya terakhir, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dengan kekuatan doa. Masa kritis itu akan terjadi pada hari keempat hingga keenam sejak hari pertama penderita mengalami demam. Jika penderita berhasil melewati masa kritis ini, maka kebanyakan penderita segera akan memasuki masa pemulihan mulai hari ketujuh dan selanjutnya, hingga diijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Jadi kalau dihitung-hitung sejak hari pertama terserang demam, maka siklusnya hanya sekitar tujuh hari dan (mudah-mudahan) penderita akan segera pulih.

***

Apa yang saya ceritakan di atas adalah ringkasan pengalaman dari seorang tetangga saya yang belum lama pulih dari DB dan seorang tetangga yang anaknya sempat mengalami masa kritis akibat DB. Pengalaman itu lalu saya rujuk kepada buku “Mengenal Demam Berdarah”.

Meskipun demam yang dialami anak saya sudah turun dan sekarang malah sudah pecicilan minta ijin mau bersepeda keliling ring-road Jogja, tapi keprihatinan saya akan serangan wabah DB belum reda. Apalagi melihat siaran berita di televisi yang masih saja menayangkan wabah penyakit DB di mana-mana. Penyakit ini pernah membunuh adik sepupu saya lebih 35 tahun yll, ketika itu DB masih menjadi new comer di Indonesia.

Maka sekali lagi waspadalah, justru ketika demam mulai turun.

Umbulharjo – Yogyakarta, 21 Maret 2008 (Jumat Agung dan hujan nyaris seharian mengguyur kota Yogyakarta)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: