Kendal Kaline Banjir

Sewaktu tempat-tempat lain tidak banjir, kota Kendal banjir. Sewaktu tempat-tempat lain kena banjir, Kendal tambah buuuanjir. Begitu karakter kota kelahiran saya, Kendal yang letaknya 30 km di sebelah barat Semarang, yang identik dengan banjir.

Mereka yang dulu sering menjalani rute pantura Semarang – Jakarta, pasti familiar dengan kota ini setiap kali datang musim rendeng (penghujan). Sampai kini pun kota ini tetap menjadi langganan banjir. Bedanya, kalau dulu banjir sering memutus jalan raya seperti yang sekarang terjadi di jalur Pati – Rembang. Kalau sekarang karena jalan raya semakin ditinggikan, tinggal perkampungan di sekitarnya tetap banjir.

Nampaknya sudah jadi tradisi alam, bahwa “berkahnya” Kendal datang bersama datangnya banjir. Siapa tahu?

Banjir kali ini munculnya seperti guyonan, silih berganti banjir-surut-banjir-surut, berulang kali. Baru saja selesai membersihkan latri (istilah lokal untuk tanah laterit atau lumpur) di dalam rumah, ngos-ngosannya belum hilang, lalu datang banjir mengirim lumpur lagi. Dibersihkan lagi, lalu datang lagi. Begitu dalam dua minggu terakhir ini. Kalau lumpur sudah masuk rumah, tinggi se-polok (tumit) atau se-gares (betis) tidak ada bedanya, sama-sama kudu brangkangan ngosek latri (sambil merangkak membersihkan lumpur) di dalam rumah.

Untungnya Pemkab Kendal cepat tanggap, bantuan beras, uang, dapur umum, cepat mengalir dan in-action. Tapi ya selalu saja ada pihak yang kurang puas dan juga yang “nakal”. Nampaknya dimana-mana kok ya begitu. Pihak Pemkab “cepat berbuat sesuatu” rasanya sudah sangat baiklah, tinggal dibutuhkan orang (pejabat) yang mau belajar bagaimana membenahi sistemnya agar semakin baik dalam management penanganan bencana.

(Padahal banjir sudah datang sejak dahulu kala, tapi belajarnya kok enggak selesai-selesai?)

Tadi malam, dari Jakarta saya mampir Kendal. Jalan Semarang – Kendal rusak parah. Pengemudi kendaraan, lebih-lebih sepeda motor di malam hari, perlu ekstra sabar dan hati-hati. Sangat berbahaya. Banyak lubang tidak terlihat. Taksi yang saya tumpangi dari bandara Ahmad Yani Semarang yang biasanya suka ngebut, kali ini sopirnya agak spaneng (stress), menthelengi dalan (melototi jalan), ngiwo-nengen milih dalan (ke kiri-ke kanan memilih jalan bagus), bolak-balik mak jeglak-jegluk….. terjebak lubang.

Sejak kemarin hingga hari ini, hujan seperti tidak berhenti. Cuaca memang membuat malas. Kasihan anak-anak sekolah. Belum lagi mereka yang rumahnya kebanjiran sejak Senin, bahkan sejak akhir minggu lalu dan belum tuntas membersihkannya, pasti sangat direpotkan.

Tinggal “uji nyali”, siapa yang mampu menjadi “pemenang” dalam keterdesakan, kesulitan dan cobaan semacam ini.

Saya ke Kendal bukan dalam rangka mau “banjiran” (istilah lokal yang maksudnya berekreasi banjir bagi mereka yang tidak kebanjian, wong rekreasi kok menikmati banjir…..) melainkan menjenguk orang tua yang sedang sakit. Rumah masa kecil saya sekarang kalau musim banjir mulai sering ikut-ikutan dimasuki air plus lumpur. Padahal dulu kampung saya termasuk daerah bebas banjir.

Memang benar, sungai-sungai semakin dangkal sehingga air cepat meluber kemana-mana seperti lumpur Sidoarjo. Waktu kecil dulu seingat saya permukaan air berada jauh dari permukaan jalan. Kalau ciblon (mandi di sungai) dengan meloncat dari jembatan ke permukaan sungai, serasa seperti sedang meloncat dari papan loncat kolam renang bertaraf internasional. Tapi kini permukaan air sepertinya mudah untuk diraih, juga semakin buthek (keruh).

Keadaan pendangkalan sungai semacam ini sepertinya juga terjadi di berbagai daerah. Semakin tanggul pelindung rumah atau kampung ditinggikan, air pun semakin mencari celah untuk melampauinya. Semakin jalan ditinggikan, air pun semakin leluasa nyambangi rumah dan perkampungan di sekitarnya.

Menyitir lagunya Waljinah :

Kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku…..
Kendal kaline banjir, yen ora kenal ora usah dipikir…..

Kendal kaline banjir, yen pingin kenal (Kendal) yo monggo mampir….. ngrewangi ngosek lumpur (membantu membersihkan lumpur) maksudnya.

Salam banjir dari Kendal, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: