Jumatan Di Tengah Jalan Kehujanan

Wong ndeso seperti saya ini rada keder juga ternyata menghadapi kepadatan lalu lintas Jakarta. Seperti pengalaman mau menyeberang jalan Mampang Prapatan Raya di teriknya siang Jumat kemarin, susahnya minta ampun. Lalulintas seperti tidak ada selanya. Akhirnya cari barengan. Kalau berjamaah rupanya menjadi lebih diperhatikan orang, termasuk berjamaah untuk menyeberang jalan. Setidak-tidaknya pengendara kendaraan lain menjadi tidak nekat. Tujuan saya memang mau sholat jumatan berjamaah di seberang jalan.

Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan itu rupanya penuh. Setengah jamaah sudah berada di dalam bangunan masjid, setengah lainnya menyebar di trotoar dan di jalan. Padahal, sebagian teras masjidnya sudah dibangun dengan “memakan” trotoar jalan. Maka sebagian Jl. Mampang Prapatan pun digelari tikar dan karpet untuk menampung peserta jumatan yang membludak. Bukan hanya sebagian, setengah lebar jalan malah. Akibatnya lalulintas jadi tersendat karena ada penyempitan jalan.

Hal yang tampaknya sudah lumrah di Jakarta. Saya memang baru pertama kali mengalami yang seperti ini. Selama ini kalau kebetulan jumatan di Jakarta, biasanya di dalam gedung atau kompleks perkantoran, atau di masjid yang lokasinya tidak persis di jalan besar.

Sambil duduk sila di atas gelaran karpet di tengah jalan, saya membayangkan bagaimana kalau jumatan pas hujan deras dan air di jalan mengalir deras pula. Kemana mau pindah?

Ee… lha kok tenan. Belum selesai khotbah, sholat belum dimulai, gerimis tiba-tiba turun. Semakin deras dan titik airnya semakin besar-besar. Jamaah nampak mulai gelisah, sebagian sudah pada berdiri dan bubar menyelamatkan diri mencari tempat aman dari hujan. Ya susah juga, wong di dalam masjidnya sudah penuh.

Untungnya sewaktu sholat dimulai, gerimis hanya berupa titik air kecil-kecil saja, belum berubah menjadi hujan. Untungnya lagi sang khatib yang menyampaikan pesan-pesan khotbah agak pengertian, sehingga khotbahnya tidak berpanjang-panjang. Demikian halnya sang imam pemimpin sholat juga “tahu diri” kalau setengah jamaahnya yang di belakang sedang gelisah bakal kehujanan. Irama gerak sholat pun agak digas lebih cepat dan dengan memilih bacaan surat Qur’an yang tidak terlalu panjang.

Tepat ketika sholat selesai, hujan turun, mak bress….., semakin lebat. Untung sholat sudah selesai. Serta-merta jamaah lari sipat kuping bubar jalan berhamburan bagai anak ayam tidak memperdulikan induknya. Lalulintas terhenti beberapa saat, memberi kesempatan kepada orang-orang yang hendak menyeberang jalan menyelamatkan diri dari hujan. Tak terelakkan kalau kemudian pakaian jadi basah.

***

Agaknya jumatan di tengah jalan sudah menjadi hal biasa di kota besar seperti Jakarta, yang kebetulan letak masjidnya tepat di pinggir jalan besar. Sehingga seminggu sekali jalan raya yang padat lalulintasnya terpaksa dikorbankan, menjadi “three-in-one” (maksudnya berubah dari 3 lajur menjadi tinggal 1 lajur jalan). Apa hendak dikata kalau kemudian jalan yang sudah padat itu menjadi agak macet dan tersendat lalulintasnya. Peristiwa mingguan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh orang desa seperti saya yang biasanya jumatan di kampung dalam suasana santai dan tidak kemrungsung.

Kedua belah pihak nampaknya harus saling maklum. Pihak yang jumatan ya mesti hati-hati sholat di pinggir bahkan di tengah jalan. Pihak pengguna jalan juga mesti agak mengalah akibat penyempitan jalan.

Apa ada solusinya yang praktis dan mudah? Rasanya tidak ada. Sebab di satu pihak, sampai kapanpun masjid dan jamaahnya ya tetap ada di situ, bahkan peserta jumatan cenderung semakin banyak seiring semakin padatnya penduduk kota. Di pihak lain, lalulintas ya akan tetap padat seperti itu dan juga kecenderungannya semakin padat.

Peristiwa jumatan di tengah jalan dan sesekali kehujanan, mau diapa-apakan ya tetap terjadi seperti itu. Sampai kapanpun, kecuali kalau kotanya pindah. Maka satu-satunya solusi adalah menghidupkan dan membumikan semangat dan budaya tenggang rasa yang akhir-akhir ini terasa semakin pudar.

Tenggang rasa, kata yang enak diucapkan, manis dijadikan bahan pidato, indah dituliskan, tapi ngudubilah tidak mudah untuk diamalkan. Boro-boro menenggang rasa, menenggang kebutuhan hidup saja seperti diuber setan…. Kalau sudah demikian, tinggal kita ini memilih mau berada di sisi sebelah “mananya” tenggang rasa. It’s your call……

Yogyakarta, 5 April 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: