In Memorium Pak De HMS — Sustainable Business

SoehartoInnalillahi wa inna ilaihiroji’un…

Bapak Pembangunan itu telah tiada tadi siang, Minggu, 27 Januari 2008, jam 13:10 WIB. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya (dan, biar Allah swt. sendiri yang memberi rapor atas amal ibadahnya itu).

Terlepas dari masalah hukum yang dihadapi oleh Haji Muhammad Soeharto (HMS) selama dekade menjelang akhir hayatnya, ada hikmah positif yang saya petik dari beliau di awal kepemimpinannya.

Tangan besinya telah menjaga, mengawal dan mensukseskan “teori” yang diyakini keampuhannya sejak awal memimpin negeri ini, yaitu Trilogi Pembangunan. Bahkan telah mematahkan teori ekonomi pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, thok. Sedangkan, Pak De HMS meraciknya menjadi Trilogi Pembangunan yang diawali dengan Stabilitas, baru Pertumbuhan, dan akhirnya Pemerataan. Lengkapnya :

  • Stabilitas Nasional yang dinamis
  • Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
  • Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

“Teori” Trilogi Pembangunan itu lalu diimplementasikan melalui program Pembangunan Jangka Panjang (PJP) selama lima kali Pelita (5 x 5 tahun = 25 tahun). Barangkali karena beliau khawatir PJP tidak tercapai sesuai impian mulianya, maka Pak De HMS “merasa perlu” untuk mengawal dan memimpin sendiri menjadi pimpronya. Untuk itu, maka beliau “terpaksa” harus menjadi presiden minimal untuk waktu 25 tahun ke depan, sejak dicanangkannya Pelita Pertama pada tanggal 1 April 1969.

Namun sayang, di tengah perjalanan banyak anggota keluarga besar timnya yang terlena sehingga banyak yang terpeleset dan keenakan dalam terpelesetnya. Terus dan terus, berurat berakar. Jama’ah yang terpeleset pun semakin tahun semakin banyak. Akhirnya menjadi “salah kaprah” secara berjama’ah pula, hingga sepertinya menjadi kebenaran kolektif. Dan, Pak De HMS terperosok bak ketua Paguyuban.

Namun tidak dipungkiri, bahwa “teori” Trilogi Pembangnannya terbukti sukses dikawal hingga babak terakhir, sampai akhirnya Pak De HMS lengser keprabon.

***

Obsesinya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan cara mengawalnya sendiri pelaksanaan PJP, terbukti berhasil (sekali lagi, terlepas dari aneka ria dakwaan, sangkaan, tuduhan, terkait KKN). Barangkali tanpa disadari oleh beliau, bahwa sejak awal kuartal pertama tahun 1969, hanya obsesi itulah yang ada dalam benak dan pikiran Pak De HMS. Dan, itu barangkali dapat digambarkan sebagai mulai bekerjanya “law of attraction” (hukum tarik-menarik) yang terpancar dari pikiran beliau. Hingga akhirnya berhasil diwujudkan pada 25 tahun kemudian.

Sekali lagi, namun sayang, pancaran pikiran positif atas obsesi Pak De HMS, pada babak-babak akhir kepemimpinannya terkontaminasi oleh pikiran positif (juga) akan virus kenikmatan dan keenakan menduduki kursi goyang ketua “Paguyuban Indonesia”. Maka, “law of attraction” pun bekerja untuk kedua pikiran positif yang (disadari atau tidak, direncana atau tidak) terpancar bersamaan dalam pikiran Pak De HMS.

Dalam pikiran Pak De HMS, bahwa skenario sustainable development atau pembangunan berkelanjutan selama PJP harus sukses dan sukses, Pelita demi Pelita, meski untuk itu beliau harus tersandung-sandung mengendalikan sendiri wadya bolo timnya dan ketidakpuasan stakeholder lainnya. Tidak boleh ada yang mbalelo. Kalau ada yang merintangi pun akan digebugnya. Pokoknya pembangunan berkelanjutan harus sukses..ses..ses..ses…

Jadi, lalu apa urusannya?

Sebagai pengelola warung ritel ndeso, “Madurejo Swalayan”, pantas rasanya kalau saya mengambil inspirasi dari semangat tanpa menyerah (meski tidak harus dengan tangan besi yang seakan-akan menghalalkan segala cara), tentang bagaimana mengurus warung seperti mengurus negara (dan, jangan sebaliknya).

Sustainable business harus dijaga kinerjanya, jangan hanya bulita demi bulita (business lima tahun), melainkan obsesikan bahwa bisnis itu akan berlangsung lima kali bulita, syukur lebih. Pancarkan pikiran positif dan obsesi sustainable business sebagai pancingan bekerjanya “law of attraction” untuk 25 tahun ke depan.

Menciptakan stabilitas kinerja toko di tahun-tahun awal. Meningkatkan pertumbuhan bisnisnya setinggi mungkin. Hingga kelak dapat melakukan pemerataan bisnis dan hasil-hasilnya. Kalaupun harus berjama’ah, maka itu adalah dalam rangka berbagi sukses dan kebaikan dalam bingkai hubungan antar manusia (mu’amalah) seperti yang digariskan oleh Sang Pemilik Alam Semesta.

Bisnis tidak selalu berarti usaha jual-beli, melainkan bisnis untuk urusan apa saja. Tidak sekedar “do it”, melainkan “plan it” sebaik-baiknya. Lalu pancarkan pikiran-pikiran positif akan pencapaiannya dalam jangka panjang.

Tidak mudah memang, tapi tidak berarti tidak bisa. Insya Allah. God speed…..!

Yogyakarta, 27 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: