Archive for September 29th, 2009

Bakmi Jawa Jogja Mbah Hadi

29 September 2009

Mbah Hadi3_rPada sekitar tahun 1997 mbah H. Hadi memulai usaha warung bakmi kaki lima di pinggiran depan terminal Terban, Yogyakarta. Kini bakmi khas Jogja itu dikenal dengan nama bakmi jawa atau jowo, lebih afdhol lagi kalau disebut bakmi jowo Jogja. Bahkan ketika warung sejenis dibuka di kota lain pun tetap menggunakan label bakmi jowo atau bakmi Jogja.

Kalau kebetulan sedang berada di Jogja, maka banyak pilihan tempat untuk mencicipi bakmi Jowo sejenis ini. Sekedar menyebut nama yang sudah dikenal, di antaranya ada bakmi Mbah Mo, bakmi Pak Pele, bakmi Kadin, dan masih banyak lainnya yang tersebar di seantero wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, beserta segenap penerus, peniru dan pengikutnya. Dan, bakmi jowo Mbah Hadi adalah satu di antaranya.

Lokasi bakmi Mbah Hadi relatif mudah dicari dan dicapai karena berada di tengah kota Jogja. Berada di kawasan bekas terminal Terban, Jl. C. Simanjuntak, tepatnya sebelah utara SPBU. Sejak Mbah Hadi meninggal dunia bulan Mei 2009 yll, kini usaha warung bakminya diteruskan oleh putra-putranya. Dimotori oleh Pak Sukiran, putra kedua Mbah Hadi, dan dibantu oleh adik-adik serta sanak-saudara lainnya, maka kini warung bakmi Mbah Hadi yang semakin dikenal para pelanggannya terus mengibarkan bendera bakmi jowonya.

“Sakjatosipun meniko inggih namung samben kok pak…”, kata Pak Sukiran yang maksudnya menjelaskan bahwa jualan bakmi ini sebenarnya cuma sekedar sambilan. Tentu saja ini gaya merendah versi pak Sukiran. Sepenuhnya dapat dimaklumi karena pak Sukiran merasa pekerjaan utamanya sebenarnya seorang PNS di Jogja, tapi setiap sore hingga malam jualan bakmi. Begitu kira-kira logika pikirannya. Dan saya cuma tersenyum mengiyakan.

Kalau saya pikir-pikir, ya sambilan bagaimana kalau warung bakminya setiap  hari rata-rata menghabiskan 10 ekor ayam dan 300 butir telur bebek, yang berarti sekitar 300 porsi bakmi godok (rebus) dan goreng terjual habis. Pak Sukiran dan pasukan keluarganya bahu-membahu melayani penggemar dan penikmat bakmi jowo setiap malam dan buka mulai jam 5 sore, tentu ini bukan pekerjaan sambilan atau pengisi waktu belaka. Belum lagi kalau tiba musim liburan atau lebaran, 14-15 ekor ayam siap dihabiskan.

Mbah Hadi1_rRasa bakminya memang tidak diragukan lagi bakal membuat ketagihan penggemar bakmi jowo. Tergolong hoenak…. Sekelas dengan bakminya Mbah Mo yang ada di pedalaman mBantul sana (yang konon kini kelezatan taste-nya yang sudah kondang itu mulai rada menurun, tapi ya tetap saja enak….). Dalam upayanya menjaga kualitas rasa bakminya, pak Sukiran menerapkan rejim satu wajan satu porsi. Betapapun banyaknya pelanggan yang mengantri, tetap saja pemasakannya akan dilayani sesuai prosedur yang sudah ditetapkan, yaitu setiap porsi dimasak masing-masing dan sangat dihindari untuk memasak sekaligus lebih dari satu porsi. Prosedur inilah yang diyakini oleh pak Sukiran dan timnya akan mampu menjaga cita rasa khas bakmi jowonya dan ramuan bumbu yang pas bagi setiap porsinya.

Meski pelayanannya sebenarnya tergolong lincah dan cekatan, dan meski didukung oleh dua wajan yang beroperasi non-stop sejak buka, tetap saja berakibat menjadi kurang cepat ketika banyak pelanggan menunggu dilayani. Meski demikian toh dengan tenangnya pak Sukiran berkata : “Kalau sabar ya monggo ditunggu…. Kadang-kadang ada juga yang kurang sabar lalu tidak jadi beli”. Dalam hal seperti ini pun pak Sukiran bergeming, pokoknya satu wajan tetap satu porsi. Akibatnya hanya pelanggan-pelanggan yang fanatik dengan cita rasa khas bakminya Mbah Hadi saja yang sanggup mengemban judul “sabar menanti”, menanti dilayani maksudnya…

Seperti pengalaman saya malam kemarin, puluhan orang rela dengan sabar menanti dilayani. Warung bakmi ini sebenarnya hanya menempati sepetak kios kecil yang hanya diisi oleh dua buah meja kayu panjang dengan empat bangku berhadap-hadapan, tapi di luar warungnya tergelar kursi dan tikar tambahan. Itu pun penuh diisi pelanggan. Dalam menjalankan bisnisnya, bakmi Mbah Hadi berkolaborasi dengan pedagang angkringan yang menyediakan minuman teh jahe.

Harga per porsinya tergolong murah-meriah jika dibandingkan dengan warung-warung bakmi kategori hoenak tenan, yang ada di Jogja. Sebanding juga dengan kesabaran menunggunya. Kalau tidak salah tiap porsinya dihargai sekitar Rp 8.000,-. Harga persisnya saya lupa (maklum saking enaknya jadi lupa….). Menirukan kata seorang rekan setelah makan bakmi Mbah Hadi ini lalu mengekspresikan kepuasannya : linak, litu, linggo, lico, lijo….., njuk liyar. Maksudnya, lali anak (lupa anak), lali putu (lupa cucu), lali tonggo (lupa tetangga), lali konco (lupa teman), lali bojo (lupa istri), dan akhirnya lali mbayar (lupa mbayar)….. Kalau yang terakhir ini memang rada nekat……

Pak Sukiran memang pantas kalau sekarang bisa menikmati hasil rintisan dan kerja keras almarhum Mbah Hadi sejak lebih sepuluh tahun yll. Maka menjaga kualitas cita rasa bakminya adalah menjadi prioritasnya. Jamaknya sebuah kesuksesan, maka kini banyak pihak investor mulai melirik ingin membuka cabang bakmi Mbah Hadi. Namun pak Sukiran nampaknya belum tergerak. Khawatir tidak tertangani dengan baik (bahasa moderennya, manajemennya tidak siap), nanti malah bubrah semua. Sederhana sekali. Dan kita sering dibuat tertegun menyaksikan kesuksesan yang terjadi di balik sebuah kesederhanaan sikap dan cara berpikir.

Yogyakarta, 29 September 2009
Yusuf Iskandar

Bapak-bapak menunggu pesanan

Bapak-bapak menunggu pesanan

Ibu-ibu kekenyangan

Ibu-ibu kekenyangan

Iklan

Matur Nuwun Gusti

29 September 2009

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini hari ulang tahunku adalah sindiran-guyonan anak perempuanku tadi siang. Katanya : “Wah hari ini bakal ada yang nraktir makan, nih….”. Itu saja. Selebihnya live must go on as usual, seperti-hari-hari kemarin, seperti tidak ada yang spesial…

Entah kenapa sejak saya kecil dulu orang tua saya tidak pernah membiasakan mengadakan perayaan ulang tahun. Mungkin karena himpitan ekonomi keluarga, mungkin karena kebiasaan seperti itu tidak jamak di lingkungan masyarakat sekitar kami tinggal, atau mungkin memang dianggap bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Boro-boro pesta, bahkan sekedar bancakan selamatan bubur merah bubur putih pun tidak.

Yang kemudian terjadi ketika saya dan adik-adik saya kemudian tumbuh dewasa dan mulai mengenal ada tradisi yang oleh keluarga lain selalu dirayakan, adalah merayakannya sendiri dengan caranya sendiri. Aneh, lucu, tapi juga tidak perduli….

Kebiasaan tidak perduli dengan hari ulang tahun itu terbawa sampai kini, sampai usia saya menyongsong setengah abad, tapi kata teman saya masih ABG (Aku Belum Gocap..). Pernah suatu kali kami sekeluarga lupa sama sekali bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Baru teringat saat tanggal ulang tahun itu sudah berganti, maka sekedar makan bersama di luar rumah pun baru dilakukan ketika ingat dan ketika sempat. Pernah juga suatu kali justru orang lain yang mengirim tumpeng ulang tahun atau mengadakan tumpengan untukku (akan saya kenang kebaikan orang-orang yang bukan sanak bukan kadang…, bukan siapa-siapa ini…). Maka karena saya tidak pernah paham akan pentingnya merayakan ulang tahun, ketika lupa pun tidak pernah saya sesali apalagi saya pikirkan. Biasa saja….

Sungguh bukan karena balas dendam kalau kemudian di lingkungan keluarga saya sekarang, tradisi itu pun tidak tumbuh. Apakah itu ulang tahunku, istriku atau anak-anakku, tidak pernah menjadi urusan yang harus dipersiapkan apalagi dipikirkan secara khusus, dipikir sambil tidur pun tidak. Kalau ingat dan sempat merayakannya syukur, kalau tidak ingat juga tidak masalah. Paling-paling sekedar makan-makan di luar. Itu pun kalau sempat. Kalau tidak sempat, bisa dijadwalkan ulang kapan sempatnya. Mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak selalu saling kami lakukan. Ndeso tenan….

Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang baik atau kurang baik atau biasa-biasa saja. Tapi ada pengalaman buruk, beberapa kali saya gagal mengingat tanggal ulang tahun istriku dan anak lelakiku, sehingga harus buka-buka catatan atau bertanya lebih dahulu. Sedang untuk anak perempuanku tidak pernah salah karena tanggalnya sama dengan tanggal kelahiranku.

Meski demikian, bagaimanapun juga saya ingin memberi pengalaman berbeda bagi kedua anakku. Saat mereka masih balita dulu, untuk pantes-pantes kami orang tuanya juga mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang teman-teman kecilnya. Itu berlangsung dua-tiga kali saja. Selebihnya, ya itu tadi…. live must go on as usual…., seperti hari-hari biasanya. Soal cara merayakannya juga terserah selera masing-masing. Istriku pernah bikin nasi kuning untuk dirinya sendiri ketika berulang tahun. Pernah juga membikinkan nasi kuning untuk kedua anakku sekaligus. Karena tanggal dan bulan ulang tahun kedua anakku itu berdekaan, maka nasi kuning dibuat pada tanggal kira-kira tengah-tengah antara keduanya. Sesederhana itu.

Pernah juga ketika menjelang ulang tahun kedua anakku. Saya cuma bilang kepada mereka bahwa ini ada anggaran dana sekian rupiah, lalu saya ajukan usulan kepada mereka : Mau dipakai makan-makan bersama teman-temannya silakan, atau datanglah ke panti asuhan dan sedekahkan uang itu kepada anak-anak yatim. Sekali waktu mereka memilih yang pertama dan pada waktu lain mereka memilih yang kedua. Namun ketika memilih yang kedua, sesudah itu tetap saja menagih untuk yang pertama. Dasar, anak-anak…..!

Bagi saya hari ulang tahun adalah bisnis pribadi saya dengan Tuhan. Hal yang sama saya tanamkan kepada anak-anakku, agar melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya muhasabah) ketika memasuki hari ulang tahun, kalau kebetulan hari itu mengingatnya. Kalau lupa ya esoknya atau esoknya lagi…

Kini saya tersenyum sendiri…. Sepanjang badan mengandung hayat, hingga usia saya menjelang setengah abad, baru sekali inilah (berkat teknologi Facebook dan SMS) teman-teman dan sahabat-sahabat baik saya bertubi-tubi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Sumprit…, belum pernah saya menerima perlakuan seperti ini. Saya merasa bak seorang selebriti tanpa wartawan infotainment yang kurang kerjaan…..

Matur nuwun……, matur nuwun Gusti…….

Kabulkanlah doa para sahabat baik saya itu, dan ijabahi pula agar doa yang sama kembali tertuju kepada para sahabat saya itu bersama keluarganya….

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Ampuni hambaMu yang ndeso ini. Jadikanlah hambaMu yang naif ini menjadi orang yang selalu besyukur kepadaMu. Dan jangan Engkau biarkan hambaMu ini berjalan melenceng dari jalan yang Engkau kehendaki.

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Telah Kau ijinkan hambaMu yang lemah ini memasuki usia ke empat puluh sembilan….. Dan beri hambaMu ini kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ibadah yang senantiasa memberi manfaat bagi sesama mahlukmu…..

Amin…..

Yogyakarta, 23 September 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Ke Gunung Lawu

29 September 2009

Tanggal 25-27 September 2009, sehari sebelum hutan Lawu kebakaran, anakku (Noval, 15 th) bersama empat orang teman sekolahnya mendaki gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim. Bagi Noval, ini pendakian kedua kali, setelah yang pertama pada Tahun Baru 2008 saya temani karena waktu itu adalah pertama kali Noval mendaki gunung. Sejak itu dia mejadi ketagihan naik gunung. Dan kali ini adalah pengalaman petualangannya yang ke-15 dalam 1,5 tahun terakhir. Gunung atau bukit lainnya yang sudah didaki antara lain : Merapi, Merbabu, Sindoro, Menoreh, Nglanggeran, dll, diantaranya sampai 2-3 kali. Penggalan catatan berikut ini saya posting di Facebook.

——-

Rencana mau silaturrahim ke luar kota batal, karena rupanya anak lanang sudah ngajak teman-temannya mau silaturrahim ke puncak Lawu. “Yo wis, ati2 le…”

(1) Tadi pagi ngantar anak lanang (Noval, 15th) yang memimpin 4 orang temannya ke terminal bis Giwangan, setelah (sebelumnhya) saya briefing dulu di rumah. Mereka naik bis menuju Cemorosewu, sebelum mendaki gunung Lawu. Ini pendakian kedua ke Lawu buat Noval. “Selamat jalan, le…. Jaga kekompakan tim…”.

(2) Sekitar jam 14:30 dia kirim SMS, katanya hampir sampai ke Pos 2. Berarti mereka langsung mendaki (wah… ini di luar rencana semula mau aklimatisasi dulu…). Lalu belum ada kabar lagi…. Mungkin nge-camp di jalan atau langsung ke Pos terakhir, Hargodalem.

Yogyakarta, 25 September 2009

***

(3) Kemarin sore anakku kirim SMS katanya sudah di basecamp, berarti sudah turun dari puncak. Lalu, tadi pagi berangkat pulang dari Cemorosewu. Dan, siang ini alhamdulillah tim pendaki sudah sampai rumah dalam situasi ramai-lancar….

Alhamdulillah juga, nasi se-magic jar… + rendang sewajan yang dibikin ibunya tadi pagi langsung boablasss… diserbu lima pendaki kelaparan. Untung enggak sewajan-wajannya……

Yogyakarta, 27 September 2009
Yusuf Iskandar