Ramadhan Dan Malam Ke Tujuhbelas

Ketika mendadak saya diminta datang ke Tembagapura, Papua, di pertengahan Ramadhan ini dan tidak bisa ditawar untuk ditunda usai Lebaran, hati kecil saya rada ngelangut….. Bukan karena jauhnya, bukan karena situasi kurang kondusif pasca insiden tembak-tembakan, dan bukan juga karena komitmen kerja yang menanti di sana. Melainkan lebih disebabkan kekhawatiran jangan-jangan komitmen pribadi untuk berbisnis dengan Ramadhan akan gagal tidak seperti niat ingsun di awalnya. Atau memang ini tantangan menuju kesempurnaan berbisnis dengan Ramadhan?

Apa bedanya ber-Ramadhan di rumah sendiri dengan di tempat orang? Hanya pada keleluasaan kesempatan, kekhusyukan dan tantangannya. Setiap keputusan dan pilihan tentu mengandung konsekuensi dan resiko. Adanya komitmen untuk memenuhi undangan, berakibat waktu yang tersisa menjadi tidak seleluasa dibandingkan dengan komitmen untuk menjalankan rencana kegiatan sendiri di rumah. Ya, ini memang hanya kegalauan perasaan hati yang tidak tampak di mata yang bagi sebagian orang barangkali kedengaran seperti mengada-ada.

Akhirnya, saya mengiyakan permintaan itu. Sempat saya pesimis lalu menyampaikan excuse kepada anak lelaki saya : “Wah, boss…”, kata saya kepada anak lelaki saya. “Sepertinya bapak bakal tidak bisa khatam baca Qur’an kali ini….”. Komentar anak saya malah bernada manas-manasin : “Ah, bapak pasti bisa…!”. Lalu sebuah kitab suci lusuh yang lebih setengahnya sudah saya baca di Ramadhan kali ini pun saya sisipkan di samping laptop di dalam tas ransel yang sama lusuhnya yang akan saya gendong kemana-mana.

***

Hari Minggu, 6 September 2009 sore saya siap terbang meninggalkan bandara Adisutjipto, Jogja. Menurut jadwalnya, Batavia Air yang akan saya tumpangi akan mendarat di bandara Juanda, Surabaya, bersamaan dengan waktu berbuka. Rupanya pesawat ke Surabaya mengalami penundaan sekitar sejam. Tapi itu justru berakibat waktunya jadi nanggung terhadap waktu berbuka puasa, akhirnya pesawat ditunda lebih dua jam guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk berbuka dahulu di bandara Jogja sekaligus sholat maghrib. Barangkali inilah jenis penundaan keberangkatan pesawat yang tidak digerutui penumpangnya. Sekotak nasi padang yang rasa padangnya kurang mak nyuss pun dibagikan sebagai teman berbuka.

Tiba di Surabaya langsung check-in ke pesawat Airfast Indonesia yang akan terbang jam 22:35 menuju Makassar dan Timika. Waktu menunggunya cukup lama. Kebetulan, pikir saya. Cukup waktu untuk mampir mushola menunaikan sholat Isya’, lalu sholat tarawih, dan kitab suci lusuh pun saya keluarkan dari tas ransel. Surat An-Nur (surat ke 24 yang berarti cahaya) dapat saya selesaikan membacanya di mushola bandara sambil menunggu saat panggilan boarding. Akhirnya pesawat MD 82 Airfast Indonesia mengangkasa menjelang tengah malam menuju Makassar dan Timika. Sudah terbayang kalau sepanjang malam itu bakal saya lewatkan di angkasa antara Surabaya dan Timika hanya dengan duduk atau tertidur.

Selewat tengah malam, belum lama meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, yang indah, megah dan bertampilan futuristik tapi akustik sistem suaranya mengecewakan, saat liyer-liyer hendak tidur, mendadak dada saya terasa seperti ditekan benda berat. Tarikan nafas menjadi berat sekali, keringat dingin membasahi badan, perut terasa kembung, mata seperti berat untuk dibuka sepertinya ingin segera terlelap, kepala kliyengan dan les-lesan… (entah apa bahasa Indonesianya) seperti berada antara sadar dan menjelang pingsan.

Benar-benar situasi yang tak terlukiskan tidak enaknya. Seumur-umur midar-mider naik pesawat belum pernah saya mengalami situasi yang seperti malam itu. Saya lihat penumpang di sekeliling saya semua ngleker dalam tidurnya, di bawah cahaya temaram kabin pesawat. Sementara saya sendiri klisikan (sibuk dalam hening) menahan sakit dan ketidak-nyamanan yang tak terperikan.

Hampir saja saya memanggil pramugari minta pertolongan saking tidak tahannya merasakan apa yang saya alami. Tapi sempat terpikir, kalau hal itu saya lakukan, betapa seisi pesawat akan geger oleh ulah saya. (Heran juga masih sempat mikir. Inilah jadinya kalau punya otak terbiasa digunakan mikir apa saja. Hanya sedekah dan hajat yang terbuang saja rasanya yang tidak ingin saya pikir…).

Sempat mengingat-ingat tentang hal yang pernah saya dengar dan saya baca terkait fenomena yang saya alami saat itu, sepertinya menyerupai tanda-tanda orang terkena serangan jantung. Sementara saya menyadari adalah seorang yang rentan dengan kemungkinan mengalami hal itu. Seorang perokok, pemalas olah raga, jenis hewan berakal pemakan segala, dan rekam jejak saya dulu pernah divonis dokter memiliki gejala penyumbatan pembuluh jantung, meski kemudian dinyatakan sehat kembali. Uiiih…, klop sudah. Semua syarat terpenuhi. Kemungkinan terburuk segera membayang di pikiran saya. Jangan sampai mengikuti cara Munir, sang tokoh Kontras, menghadap Sang Khalik.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan supaya saya tahu persis apa yang terjadi pada setiap detik yang saya lalui dan memastikan bahwa jantung saya tetap berdetak. Selain itu tentu saja berdoa. Segera kalimat-kalimat dzikir menghiasi bibir, hati dan pikiran saya. Sementara penumpang lain tetap terlelap dalam tidurnya, saya berjuang mengatasi masalah saya sendiri.

Saya gunakan kedua kuku ibu jari untuk menekan dan menusuk-nusuk sekuat-kuatnya ujung-ujung jari yang lain, dengan tujuan untuk menciptakan sensasi rasa sakit sesakit-sakitnya agar saya tetap terjaga. Kalaupun sampai berdarah, barangkali saya tidak perduli. Sesekali saya mencoba batuk sebatuk-batuknya meskipun saya tidak sedang sakit batuk, dengan tujuan agar jantung saya terangsang untuk terus bekerja. Kalimat-kalimat dzikir pun terus saya lafalkan dalam hati nyaris tanpa putus.

Sekitar 4-5 menit yang bagi saya malam itu begitu menegangkan, kemudian mereda dan berlalu, kondisi berangsur normal, saya bisa menarik nafas panjang, sedang kalimat dzikir tetap terus tak terputus. Akan tetapi sekitar 15 menit kemudian situasi dramatis itu berulang kembali. Perjuangan yang sama kembali saya lakukan melawan datangnya serangan kedua.

Hingga detik itu sebenanya saya belum tahu pasti apakah itu serangan jantung, serangan perut, serangan atau sebab lain, karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi saya pikir, kemungkinan terburuk haruslah menjadi satu-satunya alasan saya untuk bertindak semaksimal mungkin dalam situasi yang tanpa punya pilihan. Konon, orang dulu sering menyebutnya angin duduk. Tapi duduknya angin ini pun memang tak terduga duduk penyakitnya, artinya bisa berarti macam-macam penyebabnya. Sekitar 4-5 menit serangan kedua berlangsung, lalu situasi kembali mereda.

Tidak berapa lama setelah serangan kedua, kemudian lampu kabin pesawat menjadi terang. Rupanya tiba saatnya pramugari membagikan makan malam menjelang pagi, atau makan sahur bagi yang berpuasa. Tidak sabar rasanya saya ingin segera minum teh manis hangat. Menu pagi itu rupanya lontong opor, mengingatkan saya pada menu unggulan saat Lebaran. Lima iris kecil lontong dengan opor daging (bukan ayam kampung) ditemani sambal dalam sachet dan sebungkus kecil kerupuk, dengan lahap saya habiskan, meski taste opornya sebenarnya agak kurang pas (heran juga, kalau sudah urusan makan sepertinya tak terpengaruh dengan derita yang barusan saya alami).

Serangan fajar rupanya belumlah usai. Kejadian yang pertama dan kedua sebelumnya sungguh membuat saya trauma ketika beberapa menit setelah makan saya mulai merasakan tanda-tanda yang sama seperti sebelumnya. Itulah kemudian datangnya serangan ketiga dan keempat yang berselang sekitar 10-15 menit. Hanya kali ini kekuatannya tidak seberat yang pertama dan kedua. Bagai gempa susulan yang biasanya intensitasnya menurun dibanding gempa utamanya. Tapi perlawananan yang sama kerasnya tetap saya lakukan. Saya tidak ingin lengah sedetikpun. Jangan sampai serangan kelima dan seterusnya datang lagi di saat saya sedang terlelap. Entah sudah berapa ribu kalimat dzikir saya lafalkan tanpa henti, tak juga saat makan dan minum. Karena hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya kecapekan sendiri dan tertidur selama beberapa menit. Sebelum kemudian terbangun dan saya lihat jam di ponsel (saya tidak punya arloji) menunjukkan sekitar pukul 3:30 WITA atau 4:30 WIT, dan saya tidak tahu sedang berada di atas mana. Sholat subuh segera saya tunaikan sambil duduk di pesawat yang sedang menuju ke timur. Kalau dunia ini bulat maka terus menuju ke arah timur akhirnya akan sampai ke barat juga, dan di sana ada kiblat. Tidak lama kemudian dari jendela pesawat tampak langit mulai cerah dengan semburat awan putih mulai menghiasi angkasa Indonesia.

Sekitar jam 5:30 WIT, hari Senin, 7 September 2009, akhirnya pesawat Airfast Indonesia mendarat dengan selamat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Lengkap beserta seorang penumpangnya yang semalam tadi merasa nyaris “wassalam”…. Dari pintu kedatangan bandara lalu berpindah menuju ke landasan helikopter, naik ojek bayar Rp 5.000,- dan akhirnya tiba di Tembagapura setelah menempuh perjalanan dengan chopper bersama tumpukan sayur-mayur (harga sayurnya pasti jadi mahal, lha wong naik chopper) sekitar 20 menit menyusuri punggungan pegunungan Papua selatan.

***

Tinggal kemudian saya dheleg-dheleg…. diam tepekur, sambil mencoba merenungi pengalaman dramatis yang saya alami malam itu. Sederet pertanyaan menggelayut di pikiran dan mencari jawabannya. Lakon apa sebenarnya yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya dalam perjalanan malam itu? “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari minal-Surabaya ilal-Timika…”, begitu yang ingin saya kaji, kalau boleh saya menyitir penggal ayat pertama kitab Qur’an surat Al-Isra’.

Kaidah pertama yang harus saya pegang adalah bahwa saya harus berprasangka baik kepada Tuhan, karena “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku”, kata Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Kaidah kedua adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang kebetulan belaka. Apakah itu adalah cara Tuhan memaksa saya agar beribadah di malam itu, sementara tidak mungkin dengan sholat atau baca kitabnya, maka semalaman saya “dipaksa” berdzikir sejak dini hari hingga pagi tanpa terputus.

Tapi untuk apa Tuhan repot-repot memaksa saya? Jangan-jangan itu adalah jawaban atas kegelisahan dan kegalauan hati saya sebelum saya berangkat yang ketika itu khawatir tidak bisa berbisnis dengan Ramadhan secara sempurna sebagaimana kalau saya tinggal di rumah.

Tapi kenapa harus malam itu saat saya sedang di angkasa entah dimana? Kenapa bukan pada malam berikutnya saja ketika saya sudah santai-santai di pelukan dinginnya hawa pegunungan di Tembagapura? Tiba-tiba…. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya baru ngeh bahwa rupanya malam itu adalah malam tujuh belas Ramadhan. Malam dimana segepok ayat-ayat Qur’an diturunkan dari lauhil mahfudz (langit tertinggi) ke baitul izzah (langit dunia), sebelum kemudian di-icrit-icrit (bertahap) diwahyukan kepada nabi Muhammad saw selama 23 tahun.

Malam lailatul qodar? Kalau iya, maka Tuhan sungguh telah menjawab dan memberikan solusi atas kegalauan hati saya. Kalau tidak, maka Tuhan telah menegur dan mengingatkan saya agar jangan terputus berdzikir kepada-Nya kapanpun dan dimanapun saya berada, baik sedang sehat maupun sakit, sedang lapang maupun sempit, sedang suka maupun duka. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 9 September 2009 (19 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: