Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3

Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya bayar tunai begitu saja.

Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkannya.

Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri saya bertanya : “Beli melon, berapa harganya?”.

“Sekilo enam ribu rupiah”, jawab saya.

“Ditawarkan berapa?”, tanya istri saya lagi.

“Ya, enam ribu rupiah”, jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang sebenarnya tidak ada yang salah kok

“Mestinya masih bisa ditawar lebih murah”, komentar istri saya kemudian sambil memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena kami berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada datar : “Kapan ya…. terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar…. Lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali…..”.

***

Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.

Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya disetujui. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi (menang melawan tukang becak kok sombong….), kepuasan memberi lebih banyak tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.

Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan malah hampir selalu dilakukan.

Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh keikhlasan.

Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: