Pahala Betebaran Di Pasar

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: