Archive for April 14th, 2009

Di Bawah Purnama Menyantap Udang Bakar Mang Engking

14 April 2009

img_2116_rBagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal usahanya yang bernama Pondok Udang Mang Engking dengan menu unggulannya udang galah.

Setelah sekitar enam tahunan Pondok Udangnya berkibar di Minggir Sleman, sejak akhir 2007 Mang Engking masuk kota membuka cabang di kawasan jalan Godean. Jurus jemput bola diterapkannya guna menangkap “bola” yang sedang mencari makan malam atau yang merasa kejauhan kalau harus minggir-minggir ke Minggir.

Awalnya Mang Engking masuk kota bergandengan tangan dengan pemilik Banyu Mili Resto yang kemudian buka warung di kompleks Griya Mahkota Regency. Namun gandengan mesra itu hanya berlangsung setahun, sebab setelah itu Banyu Mili Resto menangkap peluang bisnis perkulineran untuk berdiri sendiri. Mang Engking pun terpelanting yang lalu kemudian membuka warung sendiri tidak jauh dari situ. Tepatnya kalau dari arah Jogja menuju Jl. Godean, tidak sampai 1 km kemudian ketemu perempatan pertama belok kiri sejauh 200 m. Judul warungnya adalah Gubug Makan Mang Engking Soragan Castle.

Kalau disebut Gubug Makan, itu karena arena permakanannya berupa sebuah gubug besar dan beberapa gubug (saung) kecil, baik dalam formasi meja-kursi maupun lesehan. Kalau Mang Engking agak gaya dengan nama asing Soragan Castle, itu karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan (yang dari depan tampak) megah menyerupai sebuah istana. Rupanya tempat itu sebelumnya merupakan sebuah resto bermenu asing bernama Soragan Castle. Resto masakan asing ini sendiri sempat melayani tetamu turis asing selama lima tahunan sebelum kini ditempati Mang Engking. Dan, istana itu kini masih kokoh berdiri.     

***

Di saat malam purnama, saya sekeluarga mengunjungi istana barunya Mang Engking. Siluet sosok Soragan Castle nampak angker tapi indah di bawah cahaya rembulan yang sedang bundar-bundarnya bagai bertengger di atas bentengnya. Sebuah tampilan malam yang indah sekali. Tidak sabar saya jeprat-jepret dengan kamera digital pinjaman yang sengaja saya bawa. Kami kemudian menju ke sebuah gubuk lesehan agak ke sudut kanan belakang. Lokasi itu saya pilih karena berhadapan dengan sebuah kolam dan dekat dengan persawahan umum di belakang lokasi gubuknya Mang Engking.

img_2112_rSetengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali….. (Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya….. Nampaknya malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).

Udang bakarnya disajikan berupa empat tusuk udang masing-masing berisi empat ekor udang mlungker ukuran sedang. Sajian ini berbeda dengan sebelumnya ketika saya sempat makan menu sama di Pondok Udang Mang Engking yang di Minggir. Sajian bentuk sate seperti ini mengingatkan saya pada menu sate udangnya Bu Entin di Labuan, Banten. Agaknya kini disajikan agar lebih praktis, baik dalam mengolah, menghitung maupun menyajikannya. Tapi jadi terasa kurang alami dan gimana gitu….. Kalau tentang enaknya, tidak saya ragukan, masih sama. Meski pusatnya Mang Engking masih ada di Minggir, Sleman, tapi semua kokinya termasuk yang di cabang Depok dan Surabaya sudah melalui pelatihan ketat di Minggir sebelum diterjunkan ke resto cabang-cabangnya.

img_2111_r1Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang menghiasi angkasa Jogja.  

Untuk kenikmatan makan malam plus nuansa indah malam purnama di sebuah gubuk di samping istana Sorogan malam itu, kami sekeluarga berempat harus membayar ganti rugi kepada Mang Engking sekitar Rp 250.000,- (persisnya lupa, karena notanya terselip), belum termasuk ongkos parkir dua ribu rupiah. Kami puas karena semua sajian ludes kecuali nasi putih yang masih tersisa di cething.

Yogyakarta, 14 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2120_r

Iklan