Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2

Mengisi waktu sore pada sehari sebelum Pemilu 9 April 2009, saya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan rumah, lalu merapikan tumpukan sampah di pojokan (meski jelas sampah kadangkala perlu dirapikan juga). Saya sudah siap dengan sebuah korek api dan seberkas kertas bekas. Saya memang hendak mengisi waktu dengan membakar sampah dedaunan kering agar tidak terlalu menggunung di pojokan pelataran rumah.

Kegiatan bakar sampah seperti sore itu memang sudah seperti ritual yang saya lakukan setiap beberapa hari sekali, kecuali kalau saya lagi keluar kota atau hujan. Sambil jongkok membakar dedaunan kering, sesekali bergeser menghindari asap putihnya yang tertiup angin dan sesekali kucek-kucek mata yang berair karena asap putihnya mampir dan terasa pedas di mata. Ini memang sekedar kegiatan iseng dan sepele, tapi saya yakin tidak setiap orang sempat dan bisa melakukannya. Membakar sampah adalah kegiatan mengisi waktu yang cukup menghibur. Saya begitu menikmatinya.

***

Tiba-tiba lewat seorang ibu, lalu mendekat dan dengan suara tidak terdengar terlalu jelas, dia berkata : “Pak, minta sedekah…”. Dengan pandangan agak melongo setengah tidak percaya saya menatap ibu itu. Benarkah yang saya dengar tadi? Sepertinya saya tidak percaya. Sebab menilik penampilan ibu yang saya taksir berumur 40-an tapi terlihat muda yang sore itu tampil berbusana kebaya warna merah muda, berkerudung rapi, wajahnya terlihat kuning bersih dan terawat, senyumnya pun tampak manis (entah kalau dimanis-maniskan). Pendeknya, sama sekali bukan wajah susah yang perlu disedekahi. 

Kemudian terjadi percakapan pendek yang semakin membuat saya tidak konsentrasi pada pokok persoalannya bahwa ibu itu meminta sedekah. Terutama ketika dia menceritakan bahwa dia tinggal di gang sebelah kampung saya. Nyaris saya tidak percaya, sebab itu berarti ibu itu adalah tetangga saya. Lebih empat tahun saya tinggal di situ kok saya tidak pernah tahu keberadaan ibu itu. Sungguh, hal inilah yang mendadak membuat hati saya gelisah berkepanjangan. Pikiran saya melayang kemana-mana sambil saya tetap berdialog.

Kalau benar apa yang diceritakannya tentang tempat tinggalnya. Itu berarti kalau saya terbang agak ke atas dan saya lihat kenampakan dari Google Earth, jarak lurus antara rumah saya dan rumahnya tidak sampai 50 meter. Bagaimana mungkin saya bisa tinggal empat tahun di sana sementara di belakang rumah saya ada orang yang mengalami kesulitan hidup sehingga harus meminta sedekah kepada tetangganya? Dan tetangga itu adalah saya? Tetangga macam apa saya ini……

Berbagai pikiran dan prasangka berkecamuk menjadi satu di otak saya. Apakah perlu saya verifikasi dulu kata-katanya baru saya ulurkan sedekah, atau saya berikan sedekah dulu baru nanti menyusul diverifikasi kebenarannya? Akhirnya saya tepis pikiran buruk itu, lalu saya niatkan memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan, tidak perduli apakah dia tetangga saya atau bukan. Sejumlah uang lumayan besar saya berikan kepada ibu itu, sekedar sebagai improvisasi hidup sembari membakar sampah, menyambut Pemilu esok hari (jangan-jangan saya tidak jadi bersedekah kalau tidak ada Pemilu….). Ah, lupakan saja….

Percakapan masih saya lanjutkan, agar saya bisa lebih mengenalnya. Rupanya dia memang seorang ibu yang ramah. Sebut saja namanya Mak Isah, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, tidak memiliki pekerjaan tetap dan mempunyai tiga orang anak remaja yang semuanya tidak sekolah dan tidak bekerja. Mak Isah dan anak-anaknya rupanya selama ini tinggal berpindah-pindah dan terakhir mengontrak sebuah kamar di belakang kampung yang saya tinggali, hanya beda RT. Pantesan saya tidak mengenal keberadaannya.

Ketika saya tanya sore itu dia dari mana, jawabnya : “Baru saja keluar dari rumah”. Ketika saya tanya mau kemana, jawabnya : “Menemui orang-orang”. Pandangan saya cukup lama mengantar kepergiannya meninggalkan saya, sambil pikiran saya terus memproses data-data yang saya kumpulkan : “Jangan-jangan pekerjaannya memang meminta-minta…..”.

***

Malamnya saya panggil seorang takmir musholla dari RT sebelah, sekaligus karena kebetulan ada urusan lain. Setelah mendengar informasi dari takmir musholla itu, barulah saya percaya bahwa semua keterangan Mak Isah itu benar. Bahkan ketika saya ketemu pak RT-nya, saya jadi semakin tahu siapa Mak Isah itu. Rupanya almarhum suaminya dulu adalah seorang pejabat kaya di Sumatera, yang karena tersandung kasus korupsi sehingga semua hartanya disita dan jatuh miskin (rupanya bukan hanya batu yang bisa nyandungin, melainkan korupsi juga…). Lalu keluarga mereka pindah ke Jogja dan harus memulai hidup dari awal. Tragis memang. Lebih tepat kalau almarhum suaminya bukan disebut koruptor, melainkan tupai. Seperti bunyi pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dan ketika tupai itu jatuh, maka istri dan anak-anaknya yang menjadi korban. Beruntung tupai itu “cepat” meninggal, tapi “cilakak duabelas” bagi istri dan anak-anaknya yang tergelepar-gelepar berusaha kembali ke pohon. Kini rupanya Mak Isah tidak sanggup bekerja keras menggapai ranting pepohonan.  

Mak Isah kini menempuh jalan termudah untuk melanjutkan kehidupannya, yaitu dengan meminta-minta. Beberapa kali tetangganya membantunya dengan memberi pekerjaan sebagai pembantu, buruh cuci, dan apa saja. Tapi rupanya mental Mak Isah tidak siap dengan pekerjaan seadanya seperti itu. Tahulah saya kini, bahwa setiap hari Mak Isah menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kota Yogyakarta hingga larut malam baru pulang ke rumahnya. Menyambangi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dari satu warung makan ke warung makan lainnya, demi meminta sedekah. Perasaan malunya sudah sirna di balik paras wajahnya yang tergolong cantik. Sampai-sampai seorang tetangga saya mengatakan, kalau saja Mak Isah ini dimasukkan ke salon kecantikan, maka ketika keluar pasti dikira Meriam Bellina (padahal setahu saya wajah Meriam Bellina jauh berbeda dengan Mak Isah…).

Kini tetangga-tetangga Mak Isah sudah maklum, setiap kali Mak Isah datang, diberinya seribu-dua ribu sekedar sebagai sedekah hari itu.Ya, hari itu. Karena di hari lain Mak Isah akan datang lagi dan minta lagi. Peristiwa sore itu memang tidak seorang pun tahu, tak juga istri dan anak-anak saya. Bahkan tangan kiri saya pun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saya. Saya memang ingin melupakannya. Tapi ketika kemudian saya ceritakan apa yang terjadi, mereka malah memberitahu bahwa Mak Isah memang sering mampir ke rumah. Kini tinggal saya menggerutu dalam hati : “Siwalan….., tiwas sore itu saya bersedekah banyak, besok pasti akan datang lagi dan datang lagi….. Tahu begitu, saya cukup memberi sedikit-sedikit saja…..”. Sial benar! Setelah tahu cerita lengkapnya justru membuat saya jadi tidak ikhlas dengan sedekah yang telah saya berikan.

Untuk apa kisah ini saya ceritakan? Saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, bahwa betapa sulitnya menjaga keikhlasan. Improvisasi hidup yang saya lakukan sore itu ternyata rentan terhadap ketidak-ikhlasan. Saya pikir ini adalah perkara keseharian yang sangat manusiawi. Siapa pun pasti pernah mengalaminya. Bahwa suatu ketika malaikat akan mencontreng kolom ikhlas amal kita, di saat yang lain gantian kolom tidak ikhlas yang dicontreng. Meski kemudian score-nya seri bin impas, namun saya berharap punya tambahan contrengan positif karena telah mengingatkan pembaca dongeng ini bahwa menjaga keikhlasan itu tidak mudah. Sangat manusiawi kalau sesekali kita tergelincir menjadi tidak ikhlas. Melakukan improvisasi tetap perlu, tapi menjaga keikhlasannya jauh lebih perlu. Sama perlunya sesekali saya mengisi waktu sore dengan membakar dedaunan kering agar pelataran rumah saya tetap terlihat bersih.

Yogyakarta, 11 April 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: