Sepenggal Nyanyian Hujan

Hari semakin malam, hujan tak berhenti juga sejak sore. Terkadang mereda sebentar, tidak lama kemudian deras lagi, dan sesekali menyisakan gerimis meski tak sudah jua.

Mencoba online dengan fasilitas IM2 seperti yang biasa saya lakukan hampir setahun ini, nampaknya tak mau dipacu juga kecepatannya. Perlahan-lahan bisa konek, lalu sesekali ngebut. Kalau hari hujan gini malah seringkali tiba-tiba mbegegek, diam seribu basa, tak mau jalan. Tapi lumayan masih bisa membalas email dan membuka Facebook.

Saya coba ganti ke pesawat Smart yang baru saya beli belum seminggu, masih bau plastik dan masih mengkilat tampilannya. Rupanya tetap saja berkecepatan setara genjotan sepeda onthel. Memang lebih stabil, ya… stabil alon-alon waton kelakon. Dasar Punokawan…. Smart, Gareng, Petruk, Bagong (mbayar murah kok minta bagus….).

Yo wis, matikan laptop lalu pindah ke ruang tengah di depan pesawat televisi yang sedang ditonton ibunya anak-anak. Sementara anak-anak sedang berada di kamarnya masing-masing.

***

Agak jengkel juga saya. Ibunya anak-anak ini dari tadi nyetel sinetron sambil tiduran (di ruang tengah rumah saya memang belum dibelikan meja-kursi, dan sejak lebih empat tahun yang lalu masih juga belum).  Maka sambil ikut-ikutan lumah-lumah (berbaring) di samping istri, di atas kambal warna merah yang dibeli di Madinah, segera remote control saya kudeta, lalu saya matikan televisinya. Serta-merta suasana malam berubah menjadi hening, tak lagi ada berisik suara televisi melainkan suara hujan dan sayup-sayup guruh terdengar di kejauhan. Sudah barang tentu istri saya protes keras. Lalu, berlagak bak seorang resi, saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…., coba dengarkan bunyi hujan tok-tok-tok di teras depan….. (Lho, kok bukan tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting? Ya, karena airnya menetes di atas polikarbonat…). Dan suara gemericik air di halaman belakang….. Kapan terakhir kita sempat menikmati suara hujan dalam keheningan malam seperti ini…..”.Tanya saya meski sebenarnya saya tidak memerlukan jawaban.

Istri saya malah komplain memberitahu : “Tuh…., dengarkan atapnya bocor…..”. Terdengar suara tek-tek-tek, air hujan yang lolos dari genting lalu jatuh ke atas plafon gypsum.

Kembali bak seorang resi seolah tak hirau atas komplain istri saya tadi. saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…..,  terdengar seperti suara musik alam ya……”.

Lalu kata istri saya : “Musik opo….., wong genah bocor ngono…..(musik apaan, wong jelas-jelas bocor gitu…..)”.

“Apa sempat terpikir….., kenapa rumah bagus seperti ini kok atapnya bocor. Pasti Tuhan punya maksud dengan mbocori atap rumah kita…..”, balas saya datar. Dan malam pun terasa semakin hening, kecuali hanya bunyi hujan yang tak juga kunjung reda.

“Coba kita renungkan pesan yang disampaikan oleh alam kepada kita…..
Sekali waktu,
dengarkan , nikmati, hayati hingga lubuk hati yang paling dalam,
suara nyanyian alam di saat malam turun bersama titik-titik air hujan
yang menjatuhi atap polikarbonat, halaman belakang dan detak air yang menetes di atas plafon….
Lalu perhatikan apa yang terjadi”.

Begitu kata saya kepada ibunya anak-anak yang masih terbaring di samping saya yang adalah penggemar Mario Teguh.

Dan, istri saya yang dua hari lalu berulang tahun tapi saya lupa, pun menjawab santai : “Yang terjadi ya rumah kita atapnya bocor…..!”

Yogyakarta, 17 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: