Perang Tuku

Berikut ini adalah posting tulisan lama :

Kabar seru kembali datang dari kota Timika, di Papua bagian tengah sebelah selatan. Ada perang tuku, maksudnya perang suku (orang angsli Papua biasa melafal huruf ‘s’ dengan ‘t’, dan sebaliknya). Tepatnya keributan antar suku di daerah Kwamki Lama, yang kalau terjadinya di Jakarta biasa disebut tawuran. Akan tetapi karena, keseharian masyarakatnya memang berbusana sangat sederhana; juga mereka tidak biasa menggunakan clurit atau golok melainkan panah dan tombak; juga melibatkan kelompok sekampung (di Papua umumnya beda kampung sudah beda suku), maka kejadian tawuran antar kelompok bisa berubah kesan menjadi perang (antar) suku.

Meskipun judulnya perang suku, namun jangan heran kalau peserta perangnya ada yang pakai safety googgles (kacamata keselamatan), rubber booth (sepatu keselamatan), safety helmet (topi keselamatan), atau kalau cuaca agak mendung ada juga yang pakai rain coat (jas hujan) warna kuning. Darimana lagi kalau bukan “keluaran” Freeport. Maklum, sebagian matarakas (maksudnya, masyarakat) yang berperang adalah karyawan perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.

Kalau sudah begini, para supervisor Freeport dibuat kelabakan, anak buahnya pada bolos kerja untuk ikut perang. Setelah perangnya usai, mereka masuk kerja dan melapor kemarin tidak kerja karena ikut perang. Bagi Freeport jadi serba salah, antara mau dianggap mangkir (dan oleh karena itu terkena sangsi dan potong gaji) atau ditolerir saja. Kalau dibiarkan, kejadian sejenis ini sering sekali dan selalu dimanfaatkan oleh mereka yang malas-malas kerja untuk absen, apapun sukunya. Akhirnya, mereka dianggap sebagai cuti tanpa bayar (secara peraturan tidak ada yang dilanggar oleh mereka, namun gajinya dipotong). Dengan kata lain, ketidak hadirannya “diijinkan”. Namun perlu diketahui bahwa “ijin perang” diberikan setelah perang terjadi, dan bukan sebelum perang.

Menangani soal ijin-mengijin ini memang gampang-gampang susah. Orang-orang asli Papua ini sangat lihai mencari alasan untuk tidak masuk kerja. Umumnya orang akan minta ijin kalau ada lelayu, atas saudara dekatnya yang meninggal, misalnya ayah, ibu, mertua, suami, istri, anak, dan kerabat dekat lainnya. Tapi itu saja ternyata tidak cukup bagi orang Papua, saudara jauh, pernah apanya-siapa, tetangga sekampung, bahkan babi piaraannya mati pun akan minta ijin tidak masuk kerja.

Ihwal perang juga aneh. Meskipun semangat kemarahan untuk membalas, melawan, memusuhi sedimikian memuncaknya, namun dijamin pada saat jam istirahat kedua belah pihak akan berhenti dan makan dulu. Demikian pula jika tiba waktunya untuk jeda minum (istilah sekarangnya coffee break), kedua belah pihak akan serentak berhenti dan beristirahat. Kemudian perang akan dimulai lagi setelah itu. Tidak ada gerilya, malam ya istirahat. Namun, jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam terus membara.

Tentang sebab-musabab perang bisa macam-macam, rasanya tidak berbeda jauh dengan yang biasa menyebabkan tawuran. Lebih-lebih umumnya orang asli Papua hobi minum minuman keras sebagai hasil serapan budaya modern, maka tidak terlalu sulit untuk membuat pemicu. Belum lagi, situasi semacam ini rentan untuk dimanfaatkan oleh kalangan yang sudah agak berpikiran maju, yang dalam bahasa sekarang disebut provokator.

Yusuf Iskandar
(19/04/2004)

Iklan

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: