Mendadak Jadi Pranatacara

Pranatacara atau terkadang juga disebut pranata adicara adalah kosa kata dalam bahasa Jawa yang berarti pembawa acara atau MC. Mendadak jadi MC….. Siapa takut? Bagi sebagian dari kita, kiranya bukan menjadi sesuatu yang luar biasa kalau suatu saat mendadak ditunjuk menjadi pembawa acara atau MC.

Sepanjang bisa berhalo-halo, ditambah sedikit wawasan, improvisasi plus bumbu cengengesan, kiranya sudah bisa menjadi MC. Begitulah biasanya yang kita alami. Mendadak ditunjuk jadi MC pada pertemuan kampung atau kantor, arisan, pengajian, syukuran, reuni, rapat, sunatan, halal-bihalal, pentas seni, perlombaan sampai kampanye bin coblosan pemilu. Enteng saja sebagian dari kita menjalankannya, termasuk pengalaman saya sepanjang hayat dikandung badan ini.

Namun ceritanya menjadi lain, ketika suatu kali seorang teman menilpun saya dan meminta saya menjadi MC pada acara lamaran anak perempuannya. Kenapa jadi beda? Karena MC yang dimaksud adalah pranatacara alias pranata adicara.

Dimana bedanya? Pertama, ini adalah acara yang bagi sebagian kalangan dipandang mengandung ada bau-bau sakral. Kata lainnya, ada ketentuan tidak tertulis yang menengarai bahwa acara semacam ini harus berjalan mulus, khidmat dan jangan sampai ada kesalahan.

Kedua, di kalangan masyarakat Jawa acara semacam ini biasanya berlangsung dalam format suasana nJawani. Komunikasi dilangsungkan dalam bahasa Jawa halus, termasuk sambutan-sambutan, dsb. (kecuali bacaan kalam Ilahi…. ). Ini yang susah…. Bukan kalam Ilahinya, tapi justru ngomong Jawanya. Aneh rasanya, dan heran juga saya. Lha seprana-seprene bergaul dengan orang Jawa, sejak mbrojol ke dunia pun sudah nangis dan ngomong cara Jawa, disuruh jadi pranatacara kok sambat…. mengeluh susah.

Tapi ya begitulah. Akhirnya terpaksa syarat saya ajukan, ketika menjawab permintaan teman tadi. Saya bersedia jadi MC acara lamaran, asal menggunakan bahasa Indonesia. Kedengaran rada nasionalis sepertinya, tapi sebenarnya ya karena kesulitan ngomong bahasa Jawa halus alias kromo hinggil itu tadi.

Eh, lha kok teman saya setuju. Ya terpaksa secepat kilat kasak-kusuk cari referensi untuk bekal, minimal guna meminimalisir kalaupun nanti terjadi kesalahan. Alasannya ya seperti saya ceitakan di depan. Untuk acara-acara yang bersifat umum barangkali, sak-dek sak-nyet (seketika) saya siap. Tapi kalau acara lamaran dalam format Jawa, apalagi pernikahan, saya belum punya “fly watch”.   

***

Tiba saatnya membawakan acara. Sang MC yang mendadak jadi pranatacara pun mengantarkan acara demi acara di depan tetamu undangan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sementara para wakil keluarga yang menyampaikan sambutan pengantar, lamaran, penerimaan, dst. menggunakan bahasa Jawa kromo hinggil….. Sudah begitu, malah para wakil keluarga itu sebelum menyampaikan sambutannya pakai minta ijin segala kalau hendak bicara dalam bahasa Jawa. Entah ini bagian dari sopan-santun atau sindiran kepada pranatacara yang keukeuh berbahasa Indonesia.

Akhirnya, acara pun dapat berlangsung dengan aman dan terkendali, meskipun keringat sempat bercucuran membasahi baju batik baru (maklum, habis lebaran) yang saya kenakan tanpa rangkapan kaus singlet (karena memang tidak biasa dan tidak punya, kalau yang ini memang rodo ndeso…). 

Tapi tuan rumah dan para pihak yang terkait sempat sangat berterima kasih sama sang pranatacara. Pasalnya di akhir acara, sang pranatacara bahasa Indonesia ini, memberi bonus doa. Dalam draft susunan acara yang disodorkan si empunya hajat, tidak tertulis mata acara doa, akibatnya petugas pendoa pun tidak disiapkan. Tapi saya berinisiatif memimpin doa (sok alim ya biarin, wong berdoa itu baik, pikir saya…..). Lalu saya bacakan doa berbahasa Arab. Saya jamin ini bukan doa yang mengancam, meski saya yakin hanya sebagian kecil saja dari yang hadir tahu maksud dari doa yang saya lafalkan. Yang pasti ujungnya berbunyi : “Amiiin” (vokal i-nya agak panjang…..).

Asyik juga mendadak jadi MC, eh… pranatacara acara lamaran dalam format Jawa. Belakangan terpikir, barangkali ada baiknya juga kalau sempat belajar tentang pranatacara yang full bahasa Jawa kromo hinggil…… Tapi syusyah je…..

Kendal, 15 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Mendadak Jadi Pranatacara”

  1. sugiarso Says:

    We lah jebul kok ketemu Pak Yusuf meneh. Sajake saiki ya sembarang ditandangi inggih? Apa gawe komunitas2 tartamtu?

    Tak pikir bareng minimarkete jalan, peluang nyalurkan hobi bisa klakokn tenan, inggih ta. Tinimbang teng PTFI biyen saksat kinunjara tanpa dosa

    • madurejo Says:

      Mas Giarso,
      Biar irama hidup ini tidak monoton, pancen yo kudu seneng ngelakoni opo wae…. Istilah panjenengan ‘kinunjara tanpa dosa’ kok sajak mesakaken tenan… he..he.. Suwun & salam, mas.

  2. ridwan Says:

    kulo salut, mesti urip kudu iso sinau, halah.. salam pak ridwan kuntara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: