Lebaran Sebentar Lagi

Lebaran sebentar lagi.

Dengan berharap memperoleh lailatul-lebaran, maka berarti kita (yang muslim) punya peluang untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebulan penuh, komplit seisi-isinya yang tak terukur nilai ibadahnya. Ya kualitasnya, ya kuantitasnya.

Tidak ada hari-hari dimana khalayak ramai (orang muslim tentunya) berebut memaksimalkan kuantitas ibadahnya, keculi di hari-hari Ramadhan. Tidak ada hari-hari dimana orang ramai-ramai seperti potong padi di sawah berlomba meraih kualitas ibadah sekuali-kualinya, selain di hari-hari Ramadhan.

Inilah hari-hari dimana malaikat Rakib (malaikat pencatata kebaikan) super sibuk nyenthangi (memberi tanda centhang.….) pada kolom ibadah dengan kode : bermutu tinggi (karena selama sebelas bulan sebelumnya ternyata mutu ibadahnya rendah terus, bahkan tekor…..). Sejak kita tidur sampai bangun sampai tidur lagi…..

Nyaris semua orang muslim sepakat (meski belum tentu menghayati), bahwa Ramadhan adalah sebuah peluang. Peluang untuk meraih bonus, mengumpulkan angka cum, menumpuk poin positif dan menutupi ketekoran. Tapi, lha wong namanya peluang, jadi ya terserah bagi siapa saja yang mau menerkamnya atau melepaskannya. Siapa cepat dia dapat? Bukan…..! Itu permainan gaya kita.

Inilah huebatnya Sang Maliki Yaumiddin (Yang menguasai hari pembalasan). Siapa saja pasti dapat. Sebab kalaupun orang se-Sidoarjo, se-Aceh atau se-Jogja semuanya cepat menangkap peluang, maka digaransi semua akan dapat balasannya bersama-sama. Sebaliknya, taruhlah semua kelelat-kelelet menangkap peluang, juga dijanjikan masih akan dapat hasilnya beramai-ramai. Horo... coba…..! Tidak ada janji yang akan selalu ditepati melainkan janji-Nya. Kita saja yang suka semaunya sendiri. Tidak mau menangkap peluang tapi nagih bonusnya terus….. Bagita (bagi rata), katanya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi Ramadhan lebih sebentar lagi, lagi. Hari-hari indah selama sebulan datang menjelang. “MARHABAN YA RAMADHAN”, kata teman kecil saya, Sayid Bakar namanya. “ASAUP NALUB HALITAMROH”, kata spanduk yang memasangnya terbalik di sudut perempatan kampung. Lha, yang disuruh menghormati bulan puasa itu siapa?

Wong puasa kok minta dihormati. Minta diistimewakan. Kalau begitu mah keciiil.…. (sambil menjentikkan seruas ujung jari kelingking). Kalau puasa kok minta dihormati, ya anak sekolah Taman Nak-Kannak saja mampu. ‘Gak ada tantangan! Justru nilai kualitasnya terletak karena banyaknya tantangan, godaan dan rayu-bujukan. Barangkali yang dimaksud sekedar tenggang rasa. Maksudnya : “Awas, ada orang sedang merasa lapar, tenggang dia, jangan ganggu dia…..!”.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi hari-hari luar biasa sebentar lagi mau lewat. Karena hanya lewat, biasanya tidak berlangsung lama. Meski sebenarnya lama atau sebentarnya tergantung pada bagaimana cara menangkap yang mau lewat itu. Kalau dianggapnya sebagai “aktifitas ngoyoworo”, ya lebaran jadi luamaaa sekali…… Tapi kalau dianggapnya sebagai sebuah rahmat dan nikmat, sungguh terlalu cepat dia berlalu. Tahu-tahu sudah mau lebaran. Padahal rasanya belum banyak detik-menit-jam-hari-minggu yang telah dialokasikan untuk menggapai rahmat dan ampunan-Nya. Belum banyak waktu-waktu senggang digunakan untuk menutup nilai tekor selama sebelas bulan sebelumnya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi tidak banyak orang yang ngeh bahwa sebulan sebelum lebaran adalah sebuah peluang bisnis. Bisnis yang margin keuntungannya dijamin kekal bin abadi dunia wal-akhirat. Bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi. Bisnis yang dijamin memberikan Return on Investment ribuan bahkan jutaan persen. Nyaris dengan modal bodong. Boro-boro bermodal sarung kumel plus kupluk bolong, tidak punya dengkul pun bisa meraup yield jutaan persen. Itu kalau tahu “trik”-nya…… Namun sayang-sayang seribu kali sayang. “Trik” itu hanya bisa diperoleh kalau seseorang mau mengaji (ini bahasa kampung saya). Bahasa moderennya adalah mau melakukan kajian, mau belajar, mau berpikir, mau menyadari kebodohannya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi saya hanya bisa melamun, berimajinasi mewanti-wanti kepada anak-anak saya (yang sialnya tidak pernah berhasil, sebab selalu ditanggapi sambil cengengesan). Boro-boro kepada anak-anak orang lain atau orang tuanya……., anak sendiri saja syusyahnya bukan main…..

Cobalah nak…….. Saat malam pertama Ramadhan tiba, tarik napas dalam-dalam, resapi aliran udaranya. Nikmati bahwa itu adalah udara Ramadhan, yang setiap molekulnya bernilai ibadah. Kalau kau tahu…..!

Hisap aromanya, agar aroma tubuhmu adalah aroma Ramadhan. Masukkan ke dalam darah dan biarkan dia mengalir ke seluruh tubuh, agar tubuhmu adalah tubuh Ramadhan. Gerakkan ke seluruh anggota badan, agar ayunan tangan dan langkahmu adalah irama gerak Ramadhan. Rambatkan ke indera pandangan matamu, gerak bibirmu, pendengaran telingamu dan sentuhan lembut kulitmu, agar getaran inderamu adalah getaran Ramadhan.

Cobalah nak…….., untuk melakukannya malam demi malam. Tidak usah dululah melakukan yang lain-lain, melainkan menyatulah dengan aura Ramadhan. Agar nanti di malam terakhir Ramadhan kalian tidak menyesal karena tahu-tahu esok lebaran tiba. Dan kalian baru menyadari bahwa bulan super deal barusan berlalu….. Air matamu akan menetes tak terbendung bagai lumpur panas. Namun (siapa tahu) itu terlambat, karena tidak ada yang bisa menggaransi tahun depan akan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Lebaran sebentar lagi.

Hanya rasa ikhlas menyambut kedatangan Ramadhan yang akan membedakan apakah lebaran benar-benar sebentar lagi atau masih lama. Rasa ikhlas yang mengejawantah menjadi tetesan air mata saat bersujud keharibaan-Nya, di tengah malam….. sunyi….. sepi….. sendiri…..

Rasa ikhlas yang diawali dengan kesadaran untuk saling memaafkan.

PS.
“Mohon maaf lahir dan batin”

Yogyakarta, 22 September 2006 (29 Sya’ban 1427H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: