Archive for April 17th, 2008

Udangnya Mang “Engking”

17 April 2008

Ini cerita soal makan, hasil perburuan selama cuti ke Yogya musim libur kenaikan kelas kemarin. Siapa tahu dapat menjadi alternatif bagi mereka yang hendak berlibur atau ada perjalanan bisnis ke Yogya. Bosan dengan menu yang ada di dalam kota? Maka cobalah sedikit ke luar kota. Tepatnya di desa Sendangrejo, kecamatan Minggir, Sleman. Di sana ada banyak tambak udang galah yang di sekitarnya dibangun pondok-pondok atau gubuk-gubuk tempat makan. Salah satunya, dan yang menjadi pelopor bisnis ini adalah Pondok Udang Mang “Engking” (menilik namanya, pasti asal Jawa Barat).

Sebut saja Pondok Udang di Minggir, Godean, maka orang akan dengan mudah menemukan lokasinya. Setidak-tidaknya kalau sudah sampai Godean, tanya orang di pinggir jalan pasti tahu. Berjalanlah (pakai motor atau mobil tentunya, jangan sekali-kali jalan kaki) dari Yogya menuju Godean. Lanjutkan sedikit ke barat kira-kira 1,5 km akan ketemu perempatan, lalu belok kanan menuju arah Tempel. Terus ke utara sekitar 4-5 km, akan terlihat banyak tambak-tambak udang di antara areal persawahan di pinggir jalan ini. Paling tidak ada lebih 7 lokasi pondok makan di kawasan ini, tinggal pilih mau makan di pondok mana. Tapi mempertimbangkan bahwa Mang Engking adalah pelopor usaha perudangan di daerah ini, maka saya cari-cari tulisan Mang Engking di sisi kiri jalan. Begitu ketemu, lalu belok kiri masuk ke jalan kecil belum beraspal. Inilah satu-satunya jalan termudah menuju lokasinya Mang Engking, hanya beberapa ratus meter saja dari jalan aspal Godean – Tempel.

Namun jika Anda kesana hari Sabtu atau Minggu pas jam makan siang, bersiap-siaplah untuk agak kerepotan memasuki jalan ini, saking banyaknya mobil-mobil (banyak juga berplat nomor luar kota) keluar-masuk atau berebut parkir di jalan tanah pinggir sawah atau tambak. Asyik. Berikutnya cari pondok yang kosong. Ada sekitar 7 pondok dengan beberapa meja di dalamnya. Jika kebetulan lagi penuh, maka harap sabar mengantri. Asyik lagi, bisa kepanasan.

Setelah duduk, pesan makanan dengan berbagai pilihan menu ikan air tawar, selain menu utamanya udang galah. Bisa direbus, digoreng atau dibakar. Sekilo udang galah harganya Rp 70.000,- Jika khawatir terlalu banyak dan biar menunya merata, bisa “diakalin”, pesan saja udang, ikan bawal dan ikan nila masing-masing seperempat kilogram. Atau, pesan sekilo tapi terdiri dari dua atau tiga atau empat macam ikan. Tinggal terserah mau dimasak bagaimana. Bumbu asam-manis adalah salah satu yang bisa membuat ngelek idu (menelan air liur). Jangan lupa, tumis kangkung dan sambal terasinya uenak tenan. Lalu tunggu sebentar, terkadang ya agak lama juga. Asyik lagi, menanti disajikan.

Perut lapar, makan udang goreng, di atas tambak, anginnya semilir, perut kemlakaren (kekenyangan), malas berdiri (asal jangan malas bayar, saja….). Wis to, yang ini huaaasyik tenan.

***

Lebih duapuluh tahun yang lalu Mang Engking Sodikin boro dari Ciamis ke Yogya, lalu merintis usaha tambak udang galah di kecamatan Minggir, tidak jauh dari Kali Progo, dekat dengan selokan Mataram. Selama itu ya biasa-biasa saja, pasang-surut bisnis tambak udang dialaminya. Di atas tambak didirikannya pondokan tempat Mang Engking istirahat kalau capek ngurus tambaknya. Sekitar tiga tahun yang lalu, pondoknya diperbaiki, lalu ngiras-ngirus sambil jualan udang untuk konsumsi pembeli eceran. Kata Bu Engking (yang ini pasti istrinya Mang Engking), ketika saya tanya sejak kapan mulai usaha ini?. Jawabnya dengan logat Sunda yang masih kentara, kira-kira begini : pondoknya sih dibangun sejak 3-4 tahun yang lalu, waktu itu yang beli udang paling-paling sebulan hanya 1-2 orang saja.

Lha, kok lama-lama pembelinya semakin banyak, malah seringkali ada “orang-orang kota” yang minta dimasakkan sekalian dan dimakan di situ. Walhasil, sejak awal tahun 2004, Mang Engking sudah menambah jumlah pondoknya, juga agak dipercantik (meskipun masih terkesan sangat sederhana), dan kebetulan koran Kedaulatan Rakyat mengangkat dan mensponsori publikasinya. Jadilah kisah sukses Pondok Udang Mang “Engking” yang sekarang ini. Lha, siapa yang nyangka, wong cuma jualan udang eceran di tambak kok malah jadi buka restoran besar. Pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun yang pasti, Mang Engking perlu waktu “pencarian” dua puluh tahun dengan tanpa disadarinya.

Melihat tanda-tanda kesuksesan Mang Engking, jamaknya lalu para petambak udang di sekitarnya mulai ikut-ikut membangun pondok-pondok makan juga. Maka berdirilah beberapa lokasi pondok udang di kecamatan Minggir. Setidaknya bisa sebagai pilihan untuk menikmati udang jika ternyata pondoknya Mang Engking sudah penuh. Lagi, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Dan, meniru sukses orang lain adalah bukan tindakan yang salah (menjadi salah kalau disertai dengan “kampanye negatif”)

Kepingin mencoba? Monggo……

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 20 Juli 2004

Iklan

Bakminya Mbah “Mo”

17 April 2008

Lagi, cerita tentang makan. Bagi para penggemar bakmi, kalau lagi ada di Yogya, rasanya nama bakmi Kadin di mBintaran atau juga bakmi Pele di alun-alun lor di depan sebelah kanan keraton, sudah tidak asing lagi. Komentar sementara orang yang pernah atau malah sering mencoba bakmi Kadin : “enak sekali”. Namun, tunggu dulu! Jika Anda adalah penggemar bakmi, maka ada pilihan lain untuk jenis makanan ini yang perlu untuk sesekali dicoba. Lokasinya ada di luar kota Yogya, bagian selatan. Namanya bakmi Mbah “Mo” (pakai tanda petik).

Untuk mencapainya memang rada susah, karena warung bakmi Mbah “Mo” ini berada di tengah perkampungan, di Kabupaten Bantul. Jalan paling mudah kalau dari kutho Ngayogyokarto, ikuti jalan Parangtritis terus ke selatan. Saya tidak ingat hingga kilometer ke berapa, nanti akan ketemu dengan perempatan besar dan ramai yang berlampu lalu lintas, yang kalau lurus menuju Parangtritis, dan kalau belok kanan atau barat akan tembus ke kantor Pemda Bantul (ada rambu-rambunya).

Nah, ikuti jalan yang belok kanan ini, terlihat banyak pedagang kerajinan kulit. Menuju ke arah barat sekitar 1-2 km, di antara areal persawahan, ada jalan beraspal masuk ke kanan atau utara. Ikuti jalan ini hingga sekitar 500 meter akan terlihat gapura besar dan tugu kecil di sisi kanan, jalan masuk ke perkampungan. Masuk pelan-pelan menyusuri jalan kampung pinggir sawah, bebarapa puluh meter kemudian masuk gang yang ke kiri sejauh kira-kira 30 meteran, lalu belok kanan. Sampailah di warung bakmi Mbah “Mo”.

Yang membuat agak susah adalah karena warung Mbah “Mo” ini bukanya sore hari hingga malam, sementara sepanjang jalan masuknya gelap gulita, maka diperlukan sedikit kejelian untuk mencapainya. Namun jika Anda bisa mencapai perkampungan ini, maka tidak sulit lagi untuk bertanya kepada orang kampung. Layaknya warung di kampung, maka hanya ada rumah dan sekumpulan meja plus bangku, dengan halaman tanah diselingi pepohonan. Di halaman ini Anda bisa memarkir mobil atau sepeda motor di sela-sela pepohonan.

Namun jangan heran, pada saat musim liburan, akan terlihat banyak mobil berplat nomor asing (bukan AB) yang parkir di sini, yang ditinggal penumpangnya nongkrong menikmati bakmi di warung bakmi Mbah “Mo”. Lalu apa kehebatannya? Secara lahiriah tidak ada yang istimewa, wong namanya juga warung bakmi di kampung. Namun jangan tanya soal rasa bakminya. Saya berani bertaruh, bakmi Kadin dan bakmi Pak Pele, “lewat”….. jika dibanding bakminya Mbah “Mo”.

Saking huenaknya, sampai saya lupa tanya siapa sebenarnya nama lengkap Mbah Mo ini. Seperti halnya bakmi Kadin, maka bakmi Mbah “Mo” yang sekarang adalah penerus dari generasi Mbah Mo, anak-anaknyalah yang meneruskan usaha warung bakmi hingga sekarang ini. Usaha yang dirintis Mbah Mo di kampung (entah sejak kapan), kini semakin berkembang dan disukai pelanggannya.

Sekali waktu Purdie Chandra (bosnya Primagama) mengangkat tema bakmi Mbah “Mo” ini dalam salah satu tulisannya. Maka moncerlah bintangnya bakmi Mbah “Mo” sejak itu. Banyak pengunjung luar kota atau rombongan dari berbagai lembaga atau instansi yang menyempatkan mampir menikmati bakmi Mbah “Mo” kalau malam.

Ketika Mbah Mo masih sugeng (hidup), barangkali beliau tidak pernah menyangka kalau warung bakminya yang berada di tengah kampung, kelak akan dikunjungi rombongan-rombongan tamu bermobil yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh. Kini, generasi penerusnya sedang meneruskan dan meniti kesuksesan buah ketekunan orang tuanya. Sekali lagi terpikir oleh saya, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun, kesungguhan, keuletan dan keikhlasan dalam usaha mencari rejeki “secukupnya” khas wong cilik seperti yang ditekuni Mbah Mo, akhirnya toh membuahkan hasil.

Sajian bakminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bakmi pada umumnya, ada dicampur daging ayam dan telur juga. Namun taste-nya seperti yang sudah saya gambarkan di atas, pokoknya tidak kalah nikmatnya dibanding dengan bakmi Kadin dan bakmi Pele. Karena itu, jangan keburu puas setelah menikmati bakmi Kadin, kalau belum mencoba bakmi Mbah “Mo”.

Bakmi Mbah “Mo” buka jam 5 sore, tapi jangan ke sana selewat jam 9 malam, seringkali sudah kehabisan. Tinggal sebut mau bakmi goreng atau bakmi rebus. Yang saya sukai adalah bakmi rebus yang dicampur balungan (tulang ayam yang masih menyisakan sedikit dagingnya). Dimakan masih agak panas, dikecroti kecap manis dan dikeceri irisan jeruk nipis, lalu disesep-sesep kuahnya. Hmmmm………

Penasaran? Monggo….., kalau suatu saat ingin mencobanya.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 21 Juli 2004

Ikan Bakar “Lumintu 101”

17 April 2008

Masih perkara makan. Sekedar memberi alternatif menu dan suasana berbeda dalam memenuhi hajat perut. Soal makan ikan bakar, tentu sudah terlalu banyak pilihan, terutama ikan air tawar semisal gurami, bawal, nila, tombro, lele atau udang. Namun tidak ada salahnya sekali waktu mencoba menu yang sama tapi dengan suasana rekreasi yang berbeda, terutama kalau pergi bersama keluarga dan anak-anak. Mari kita pergi ke arah utara agak jauh dari Yogya, yaitu ke jurusan kota Delanggu, Klaten. Tepatnya di desa Janti, kecamatan Polanhardjo, disana ada pondok makan “Lumintu 101”.

Ke pondok makan “Lumintu 101”, lebih untuk alasan rekreasi, sebab kalau soal menu ikan bakar saja sebenarnya tidak jauh beda dengan yang disediakan oleh rumah makan di tempat-tempat lain. Meskipun masakan “Lumintu 101” dapat saya kategorikan sebagai “enak”. Kelebihannya terletak pada keberanian pondok makan “Lumintu 101” untuk memberi added value bagi warung makannya yang menurut lokasinya sebenarnaya nyaris tidak mudah dikenal orang.

Ada kolam pemancingan kecil tapi cukup representatif, sehingga cocok bagi anak-anak untuk sekedar mencoba memancing ikan. Di sana disewakan perlengkapan mancing bagi anak-anak, termasuk walesan (tongkat pancing dan senarnya), umpan dan ember kecil tempat hasil pancingan. Anak-anak akan senang sekali memancing jenis ikan mas kecil seukuran telapak tangan anak-anak. Tidak terlalu sulit bagi anak-anak untuk sekedar memancing beberapa ekor ikan. Hasilnya, silakan ditimbang dan dibeli. Dapat juga dinegosiasi untuk dikembalikan lagi ke kolam. Mengasyikkan. Buktinya, anak-anak saya yang laki-laki maupun perempuan yang belum pernah mancing, jadi keasyikan dan ogah-ogahan diajak pulang.

Selain kolam pemancingan, tersedia juga kolam renang ukuran sedang. Cukup menghibur bagi yang hobi renang. Maka kalaupun pengunjung merasa biasa-biasa saja dengan menu ikan dibakar atau digoreng, setidak-tidaknya ada hiburan menyenangkan bagi anak-anak. Kalau ada yang perlu disayangkan, adalah upaya menjaga penampilan dan mempercantik lingkungan yang agak kurang diperhatikan. Selebihnya tidak ada yang perlu disesali kalau sudah sampai di sana, meskipun letaknya agak jauh dari Yogya, tapi sungguh mengasyikkan dan santai.

Untuk mencapai desa Janti, ikuti jalur ke timur jalan Yogya – Solo. Sekitar 1,5 km selepas kota Delanggu, setelah tikungan ke kiri, ada pertigaan jalan kecil yang masuk ke kiri (ke arah utara). Masuklah ke jalan ini, lalu terus ke utara melalui jalan aspal yang agak sempit, sehingga jika harus berpapasan dengan kendaraan lain perlu untuk saling mengurangi kecepatan. Setelah berjalan kira-kira 5 km melalui bulak dan persawahan, maka akan sampai pada pertigaan jalan, tepatnya sudah berada di desa Janti. Desa Janti ini terkenal dengan banyaknya usaha kolam pemancingan.

Dari pertigaan Janti ini dapat mengambil rute yang ke kiri atau yang lurus. Jika ambil jalur ke kiri, maka sekitar 100 meter kemudian lalu masuk ke jalan kampung tidak beraspal di sebelah kanan. Di sepanjang jalan kampung yang berbelok-belok ini banyak dijumpai usaha kolam pemancingan yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Terus saja hingga tembus ke jalan aspal kelas III jalur Klaten – Boyolali. Lalu belok kanan sedikit, mengikuti jalan aspal ini, maka rumah makan “Lumintu 101” berada di sisi kanan.

Jika dari pertigaan Janti lalu mengambil jalur lurus (rute ini lebih mudah), maka akan ketemu dengan jalan Klaten – Boyolali, dan beloklah ke kiri. Nanti akan ketemu dengan pabrik pengolahan ikan PT Aquafarm Nusantara di sisi kiri jalan. Maju terus maka akan ketemu dengan rumah makan “Lumintu 101” juga di sisi kiri jalan Klaten – Boyolali.

Ihwal nama “Lumintu 101” inipun agak kedengaran aneh. Kata lumintu (bahasa Jawa) sebenarnya bukan kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Artinya kira-kira, kalau tidak salah….. berkelanjutan atau terus menerus. Misalnya, harta atau rejeki yang lumintu, artinya harta atau rejeki yang langgeng atau terus-menerus membawa berkah bagi pemiliknya. Lalu bagaimana dengan angka 101? Jangan-jangan wak haji si empunya warung terobsesi dengan popularitas anjing Dalmation 101……….

Ada banyak tempat makan dan kolam pemancingan di sana, tapi entah kenapa “Lumintu 101” paling banyak diminati tamu. Sempat terpikir oleh saya, apapun pemicu kesuksesan rumah makan “Lumintu 101”, yang pasti ide untuk memberi nilai tambah berupa kolam pemancingan dan kolam renang telah memberi daya pikat bagi para pengunjung yang tidak sekedar ingin makan, melainkan juga rekreasi dalam suasana santai alam pedesaan.

Ingin makan sekaligus rekreasi keluarga? Monggo….. jalan-jalan ke desa Janti sambil bawa anak-anak.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 22 Juli 2004