Archive for April 9th, 2008

Kisah Seekor Pitik Ayam Alas Dan Seekor Burung Beo

9 April 2008

Dasar bukan penggemar burung, dikapakno-kapak (diapa-apakan) ya tetap saja malas kalau disuruh ngurusi hewan piaraan bangsa unggas ini. Biarpun punya banyak waktu longgar, tetap saja berat rasanya kalau mesti membersihkan kandang burung, memandikan burungnya, mengisi air minumnya dan menyuplai makanannya setiap pagi. Tapi, kok ya dilakoni juga.

Kalau akhirnya semua itu saya lakukan setiap pagi, semata-mata hanya karena rasa peri kebinatangan yang masih saya punyai. Hanya karena rasa kasihan, kok burungnya tidak diurus. Hanya karena takut kuwalat sama burung, mau menyangkarkan tapi kok tidak mau menghidupinya. Kecuali membersihkan kandangnya yang saya lakukan hanya kalau pas lagi agak berlubang pusarnya, alias kalau pas mau saja.

Kalau memang tidak suka merawat burung, lha ngapain repot-repot piara burung? Itulah masalahnya. Saya sendiri juga herman bin gumun. Sejak jadi pengangguran terselubung, saya terkadang suka berlaku “bodoh”, mengada-ada dan ngoyoworo…..  Namun karena semua itu bisa saya nikmati, saya syukuri dan saya hikmahi, maka hal-hal “bodoh” itupun seolah-olah menjadi motivator dan inspirator munculnya banyak ide dan peluang baru yang tak terduga. Termasuk inspirasi untuk menulis cerita ini…..

***

Hampir setahun yang lalu, ada seorang bekas tetangga yang menawari saya untuk memelihara ayam hutan, orang kampung saya dulu suka menyebutnya pitik ayam alas. Biar halaman depan rumah saya tampak lebih “wah”, katanya. Biar seperti halaman rumahnya orang-orang gedean, katanya. Kalau tidak ayam hutan ya ayam bekisar, katanya. Kebetulan tempat tinggal saya di Jogja berada nylempit di gang Bekisar, Umbul Harjo.  

Sangat menyadari bahwa saya bukan penggemar manuk dan tidak telaten merawat manuk, maka tawaran simpatik itupun saya tolak. Padahal dia akan memberi saya ayam hutan yang sudah “jadi” dengan percuma. Bekas tetangga saya yang kini tinggal di Imogiri itu punya seekor ayam hutan berusia remaja. Diperolehnya dari hutan Wonosari. Dibelinya dari orang hutan (maksudnya orang yang tinggal di kawasan hutan) ketika masih anak ayam. Sekarang sudah terampil kluruk kalau pagi buta membangunkan orang tidur. Nyuaring bunyinya. Ayam itulah yang ditawarkan akan diberikan kepada saya.

Karena tawaran itu disampaikan kepada saya tidak hanya sekali-dua, akhirnya goyah juga iman saya. Apa salahnya dicoba?. Toh, no risk at all. Maka pitik ayam alas itu akhirnya boyongan dari Imogiri ke halaman rumah saya. Boyongan, karena bukan hanya ayamnya yang pindah tapi sekalian kandangnya. Bekas tetangga saya ini sempat pula membuatkan kandang baru berbahan kayu dengan tampilan yang tergolong cantik. Lengkap dengan bekal makanan berupa butiran beras merah untuk persediaan selama seminggu.

Maka sejak itu, saya punya kegiatan baru, yaitu memberi makan beras merah kepada warga baru halaman depan rumah saya. Sesekali diberi suplemen berupa kroto (telur semut cangkrang). Menurut promosi tetangga saya itu, katanya kalau pagi umun-umun kluruk-nya sangat menawan.

Waktu berlalu. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, kok pitik ayam alas saya tidak juga kluruk. Saya complaint kepada tetangga saya, kenapa ayam hutannya membisu. Dijawabnya, mungkin masih stress karena kini tinggal di kandang terpisah di halaman rumah di tempat yang baru. Sebelumnya ayam itu tinggal menjadi satu dengan dapur di dalam rumah. Masuk akal, pikir saya. Hingga satu purnama berlalu sudah, dan pitik ayam alas saya tetap bergeming diam seribu basa. Malah takut kalau didekati dan krubyuk-krubyuk nabrak-nabrak dinding kandang. Boro-boro kluruk kalau pagi, sekarang malah telek-nya berwarna putih.

Pengalaman masa kecil saya mengajarkan, kalau ayam sudah berwarna putih tahi atau telek-nya, maka itu pertanda bahwa ayam sedang sakit. Ya sudah, mau diapakan lagi. Makan dan minum terus saya suplai, kandang pun saya bersihkan, dan telek-nya tetap putih. Hingga akhirnya pitik ayam alas saya yang semata wayang itu menghembuskan napas terakhirnya tanpa sempat saya tunggui. Karena hanya seekor, maka tidak terjadi gegeran di kampung. Coba kalau jumlahnya puluhan, pasti geger genjik isu flu burung akan merebak Hari itu juga liang lahat digali di pinggir selokan, lalu dimakamkan di sana. Rest in peace. Tinggal kandangnya yang masih terlihat baru, melompong menghiasi halaman depan rumah.

***

Beberapa bulan kemudian, ada teman lain memberi saya seekor burung berusia remaja, warna bulunya hitam dan paruhnya kuning. Burung beo, katanya. Entah beo apa. Saya ya percaya saja, wong memang tidak familiar dengan urusan permanukan atau perburungan. Kalau pun dia bilang burung manuk dadali, saya juga tidak akan protes. Sebenarnya saya rada malas menerimanya. Lagi-lagi demi alasan peri kebinatangan, daripada burung itu telantar lantaran tidak diurus majikannya dan mau dibuang, akhirnya saya suruh saja memasukkannya ke bekas kediaman pitik ayam alas yang sudah almarhum. Katanya kalau sudah dewasa suaranya bagus. Saya percaya saja, dan memang bukan karena itu saya mau menerima kehadirannya. Mau suaranya baguskah, atau malah tidak mau bersuara pun tidak soal benar. Asal burung itu masih mau hidup saja di sangkar bekas ayam hutan, rasanya sudah prestasi yang bagus.

Hingga hari ini, burung beo itu masih menghiasi halaman depan rumah saya. Terpaksa saya menambah jadwal kegiatan harian kalau pagi. Setelah ngojek anak-anak ke sekolah, lalu baca koran, kemudian ngurusi manuk. Makanan pokoknya jenis buah-buahan. Seperti lagu anak-anak,  pepaya….., mangga, pisang, jambu….. Buah pisang paling disukainya, apalagi kalau jenis pisang kepok. Kalau lagi kehabisan pisang, saya carikan jambu klutuk tetangga yang pada jatuh karena kelewat masak. Sekali waktu persediaan pisang makanan burung habis, terpaksa pergi dulu ke warung terdekat membeli sesisir pisang kepok. Siangnya saya lihat, lho pisangnya kok sudah habis lagi…..? Eee….., rupanya sudah direbus sama ibunya anak-anak. Habis pisang kepok kok untuk makanan burung, katanya. 

Menurut nasehat orang-orang penggemar burung, yang sudah berpengalaman dalam urusan nuk-mannuk, sekali-sekali perlu diselingi dengan makanan nasi campur sambal pedas. Biar burungnya kepedasan dan belajar ngoceh, katanya. Nasehat itu pun saya turuti, walau sebenarnya berbau pemerkosaan terhadap peri kebinatangan. Saya sendiri sebenarnya tidak perduli perihal ngoceh-mengoceh ini. Mau ngoceh, mau bengong, sebodo teuing. Mudah-mudahan berumur panjang dan tidak buru-buru meninggal dunia saja.

Anak laki-laki saya malah sudah mem-booking kandangnya. Katanya kalau nanti burungnya mati, kandangnya untuk memelihara hamster saja. Dia memang suka hamster sejak kecil, sewaktu masih tinggal di Tembagapura dulu. Malah sampai beranak-pinak hingga belasan ekor jumlahnya, dan sempat dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Hingga ibunya suka mencak-mencak karena pipis hamster baunya enggak karu-karuan.

Anak saya ini juga yang suka tanya-tanya, katanya burung beo bisa bicara dan suka menirukan suara manusia. Saya jelaskan bahwa hal itu terjadi karena dilatih dan dibiasakan. Maka kalau kepingin beonya bisa bicara dan menirukan suara, saya sarankan agar anak saya menyanyikan lagu “Balonku Ada Lima” dan batuk-batuk di depan kandang setiap pagi sebelum berangkat sekolah selama kira-kira 99 hari. Pasti nanti sang beo bisa menirukannya. Sebodoh-bodohnya beo pasti bisalah kalau cuma menirukan “dor”…..dan batuk-batuk…..

Namun, dasar saya bukan (setidaknya belum menjadi) penggemar burung, kecuali sekedar sayang dan suka saja, disuruh rajin merawat burung ya rada malas-malasan. Maka burung beo saya pun nampaknya sudah mafhum, sudah ada saling pengertian, bahwa kandangnya akan jarang-jarang dibersihkan oleh majikannya. Seminggu atau dua minggu sekali sudah cukuplah. Kalau terlambat membersihkan kandangnya, terkadang malah tikus-tikus selokan yang membantu membersihkannya, plus dibuatkan lubang kecil oleh tikus di bagian bawah kandangnya yang terbuat dari kayu, untuk jalan masuk ke kandang.

Sehari-harinya cukup dibersihkan bagian luarnya yang tampak saja, sekalian sambil ngguyang (memandikan) burung. Saya baru tahu kalau burung pun rupanya perlu dimandikan, dengan cara disemprot air. Bedanya kalau penggemar burung yang sejati nyemprotnya pakai alat sprayer kecil, lha kalau saya pakai selang plastik yang biasa untuk nyuci mobil dari jarak agak jauh. Sama-sama basah asal burungnya tidak gelagapan saja.

Sampai hari ini burung beo saya masih sehat walafiat. Entah sedang lapar, entah sedang kenyang, dia suka teriak-teriak, kaok…..kaok…..kaok….. Ya cuma begitu bunyinya. Barangkali hanya sekedar mau lapor bahwa dia masih hidup. Seandainya besok teriakannya berubah jadi meong….. meong….., atau guk….. guk….. pun sebenarnya saya juga tidak perduli, dan akan terus saya kirimi pisang setiap pagi. Maka kalau kini burung beo saya setiap pagi masih rajin berkaok….. kaok….., sesungguhnya dia sedang berteriak : “Send me a banana, boss…..!”.

Yogyakarta – 30 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Lebih Baik Jangan Sakit Gigi

9 April 2008

Ada lagu ndang-ndut yang dinyanyikan mendayu-dayu, katanya lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Dulu saya pikir ini hanyalah bunga kata-kata yang tidak berarti apapun selain sekedar agar lagunya laku dijual. Dalam hati saya nggrundel, kayak yang kehabisan kata-kata puitis saja. Dulu ada teman sekost yang kalau sakit gigi matanya merah dan jadi sensitif mudah marah. Ada yang salah sedikit saja langsung methentheng (naik darah). Dalam hati saya pun meremehkan, sakit gigi saja kayak korban banjir sedang menunggu bantuan yang tak kunjung tiba lalu dicabuti bulu hidungnya.

Sampai beberapa malam yang lalu, tiba-tiba gigi saya terasa cekut-cekut. Tan soyo dalu tan soyo cuekot-cuekot (semakin malam semakin menjadi-jadi). Maksud hati hendak pergi tidur agak sore, apa daya jam 10 masih mendengar lonceng jam. Jam 11, 12, sampai jam 1, 2 lalu 3 pun bunyi tanda waktu masih terdengar nyaring di telinga. Selama itu pula tidur berganti-ganti posisi tidak pernah pas. Di atas tempat tidur terlentang, tengkurap, serong ke kiri dan ke kanan, duduk, berdiri, bahkan dipakai jalan-jalan pun gigi kanan terasa semakin cuekot-cuekot menusuk keatas ke bagian kepala sebelah kanan. Kemudian pindah tidur ke karpet di lantai ruang tengah, masih juga tidak menemukan posisi yang pas.

Akhirnya ketemu posisi yang paling mendekati enak adalah menungging sambil mengerang ah..uh..ah..uh, karena kepala sebelah kanan seperti mau meledak. Kedengarannya saja ah..uh..ah..uh.., tapi sungguh ini mengerang yang paling tidak enak. Enggak ketulungan sakitnya. Tanpa terasa air mata pun keluar, sangking suuuakitnya. Saya tidak sedang mendramatisir kalau saya katakan bunyi tanda waktu seperti lonceng kematian, apakah saya masih bisa bertahan melewati malam panjang dengan menanggung rasa sakit yang sangat luar biasa itu hingga esok hari. Tanda waktu jam 4 pun akhirnya tidak kedengaran lagi. Bukan karena rasa sakitnya mereda melainkan karena sangking ngantuknya hingga tertidur dalam posisi nungging.

Bak sebuah pentas seni, sebuah resital tari tanpa musik, berlangsung non-stop selama beberapa jam, di kegelapan malam saat anggota keluarga yang lain tertidur lelap. Tahu saya mengeluh sakit gigi, istri saya menyarankan untuk meminum tablet ponstan penghilang rasa sakit yang kebetulan masih ada tersisa. Nasehat itupun saya turuti. Tapi nampaknya tidak membawa hasil dan gigi yang cekut-cekut tak kunjung mereda. Istri saya juga menyarankan untuk berkumur-kumur dengan air hangat dicampur garam. Nasehat yang ini tidak saya penuhi. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena saya sudah tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan lain selain gulung koming, mlungker-mlungker, menahan rasa sakit. Malah jadi kepingin marah saja, bukannya membantu membuatkannya malah perintah-perintah di saat rasa sakit sedang memuncak.

Itulah pengalaman pertama saya mengalami sakit gigi. Seumur-umur belum pernah saya merasakan sakit gigi, apalagi seperti yang saya alami malam itu. Sekarang saya tidak percaya kalau ada lagu ndang-ndut melantunkan lagu lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Orang yang mengarang lagu itu pasti benar-benar ngarang dan belum pernah sakit gigi. Kalau orang sakit hati masih bisa melamun, masih bisa bermain dengan perasaan melankolisnya, masih bisa curhat, masih bisa mencari penasehat spiritual, sementok-mentoknya masih bisa bersujud kepada Sang Pencipta agar hati dan jiwa jadi adem dan tenang.

Tapi coba sakit gigi, rasain sendiri lu…..!. Semakin melamun semakin cekut-cekut. Boro-boro curhat atau cari penasehat spiritual, bisa-bisa malah berantem dengan yang dicurhati atau penasehatnya. Saya baru benar-benar paham, kenapa teman sekost saya dulu kalau sakit gigi menjadi sensitif, mudah tersinggung dan gampang marah. Tersenyum lewat di depannya pun bisa dikira ngeledek. Kurang tepat memilih kata dalam bertegur sapa pun bisa ditanggapi negatif. Bahkan ada kucing meang-meong pun bisa kena gampar.

Pendeknya, paling aman adalah menghindari berinteraksi dengan orang yang lagi sakit gigi. Sebaliknya kalau kita sedang sakit gigi lebih bijaksana kalau kita mengisolasi diri dari berinteraksi dengan orang lain. Dijamin bahwa kita tidak akan mampu mengendalikan diri ketika melihat, merasakan, mendengar atau mengalami sesuatu yang biasanya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi sesuatu yang memancing emosi.  

***

Esok paginya rasa sakit memang mulai agak mereda. Saya coba menceritakan apa yang baru saya alami tadi malam kepada beberapa rekan lain, dengan harapan ada yang bisa memberi solusi yang mujarab. Sampai kemudian ada yang menyarankan agar sedia minyak cengkeh. Mudah diperoleh di toko obat atau apotik, harganya sangat murah tapi dijamin mengatasi rasa sakit ketika gigi sedang cekut-cekut   

Tanpa pikir panjang, sore harinya saya suruhan saudara untuk membeli minyak cengkeh di apotik terdekat. Diperolehlah minyak cengkeh cap Gajah (sebuah merek yang sama sekali tidak komersial, tapi yang penting khasiatnya) buatan PT USFI Surabaya, dalam botolan kecil warna hijau bentuknya jelek isi 10 ml, dan harganya cuma seribu perak. Menilik komposisinya 100% minyak cengkeh. Indikasinya mengobati sakit gigi (jadi memang sengaja minyak itu dijual untuk mengobati sakit gigi). Cara pakainya (saya kutip sesuai aslinya) : Kapas dibasahi dengan obat ini dan dimasukkan ke dalam lubang gigi yang sakit. Naluri bakul spontan bertanya-tanya, ini komoditas penting dan sebenarnya sangat dibutuhkan orang, tapi kenapa tidak pernah dipromosikan. Juga memberi ide bagi toko saya “Madurejo Swalayan” untuk menyediakan produk ini.

Ketika malam tiba, saya pun mulai was-was. Jangan-jangan akan terulang lagi pentas seni seperti tadi malam. Tapi kali ini saya merasa lebih siap menghadapi sliding tackle di depan gawang, berkat tersedianya minyak cengkeh cap Gajah. Benar juga, prolog pentas seni mulai terasa agak cekut-cekut tanda-tandanya. Bedanya kali ini saya menghadapinya dengan agak senyum-senyum sombong. Segera ambil sedikit kapas, dibasahi dengan minyak cengkeh lalu tempelkan di sekitar gigi dan gusi yang sakit di dalam mulut, sebab menentukan posisi mana gigi yang lubang juga rada sulit. 

Aneh bin ajaib. Rasa sakit mereda spontan tanpa ponstan. Hanya perlu agak dijaga agar jangan kebanyakan menuangkan minyaknya ke kapas. Sebab kelebihan minyaknya kalau sampai tertelan menimbulkan rasa tidak enak di tenggorokan. Meskipun kalau sampai hal itu terjadi pun sebenarnya masih dalam kategori tidak ada apa-apanya dibandingkan kalau rasa cekut-cekut datang menyerang. 

Kini, sisa minyak cengkeh yang masih ada dalam botol kecil jelek saya simpan dan saya jaga dengan baik. Jangan sampai terjadi, pas sakit gigi menyerang, minyak cengkeh terselip entah kemana, sementara di toko obat atau apotik sedang kehabisan persediaan. Benar-benar cilaka dua-belas namanya…..! Pokoknya pengalaman berpentas seni sendirian di tengah malam ini harus menjadi pengalaman pertama dan (mudah-mudahan ) terakhir. Seorang teman yang merekomendasikan saya membeli minyak cengkeh ini malah kemana-mana botol kecil jelek itu selalu dibawanya serta.

Ngayogyokarto Hadiningrat – 12 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Munggah Molo

9 April 2008

( 1 )

Merenovasi rumah barangkali bukan pekerjaan yang rumit-rumit amat kalau itu hanya sebatas memperbaharui bagian-bagian rumah yang sudah usang atau rusak atau sekedar ingin memberi tampilan baru. TMenjadi agak rumit kalau renovasi rumah harus disertai dengan merubuhkan atap bangunan utamanya. Nyaris dapat dikatakan menjadi seperti membangun rumah baru. Itulah yang saat ini sedang saya kerjakan, jarak jauh, antara Tembagapura dan Yogya.

Resminya pekerjaan sudah dimulai sejak tanggal 14 April 2004, diawali dengan membongkar rumah yang lama. Kata para tukangnya, tidak sulit untuk melakukan pembongkaran, tidak terlalu menguras energi. Pasalnya, rumah lama yang sudah berusia hampir sepuluh tahun itu kualitasnya sangat-sangat buruk. Maklum waktu pembangunannya dulu saya pasrahkan sepenuhnya kepada pemborong kampung dengan harga yang sangat murah untuk ukuran waktu itu. Untuk rumah satu lantai seluas kira-kira 110 m2, saya dan pemborong sepakat dengan harga Rp 17 juta rupiah, yang lalu membengkak menjadi sekitar Rp 20 juta rupiah, dan selesai dibangun dalam waktu sekitar enam bulan.

Kini, hampir sepuluh tahun usia rumah itu. Memang jarang saya dan keluarga saya tinggali (meskipun ada yang diserahi untuk mengurusnya). Paling-paling setahun dua kali pada saat kami cuti pada musim liburan sekolah. Sebelum saya memutuskan untuk merenovasinya, sudah banyak bagian-bagian yang bocor dan membuat kesal karena tidak kunjung teratasi setiap kali diperbaiki. Kayu-kayunya sudah pada keropos, dinding-dindingnya retak dan lantai-lantai keramiknya pada pecah.

Pendeknya, impian tentang “rumahku istanaku – rumahku sorgaku” tidak pernah terwujud dan ternikmati, lantaran istana dan sorganya semakin hari semakin menjengkelkan setiap kali ditempati. Bukan kami tidak bersyukur dengan “rumah kita sendiri”, melainkan acara cuti liburan sering tersita untuk mengurusi tambal sulam perbaikan rumah. Uh……!

Saat ini pekerjaan renovasi atau pembangunan kembali rumah kami sedang berjalan, sejauh ini lancar. Ketika pekerjaan renovasi sudah berjalan sekitar dua bulan dan volume pekerjaan selesai sekitar 60%, yaitu sebulan yang lalu, tiba saatnya pada tahap pemancangan blandar yang akan menjadi atap wuwungan, bagian tertinggi dari bangunan rumah.

Waktu itu, pelaksana saya mengirimkan SMS ke Tembagapura. Saya sebut pelaksana, karena dia memang bukan pemborong, melainkan orang kepercayaan yang tugasnya ngecakke (membelanjakan) uang, melaksanakan pekerjaan sekaligus mengawasi kualitas bangunannya (quality assurance dan quality control) dan melaporkan status keuangannya. Pendeknya dia adalah seorang “Project Manager”.

Bunyi SMS yang dikirimkan pelaksana saya ini, intinya saya ringkas seperti ini (maklum, namanya juga SMS, suka banyak menggunakan singkatan gaul yang tidak baku) :

Pelaksana saya bertanya: “Sebentar lagi kita akan naik atap, Pak. Apa akan diadakan acara munggah molo?”.

Saya malah balik tanya : “Munggah molo itu apa, Pak?”.

Lalu, jawabnya : “Menurut tradisi Jawa, sebelum dilakukan pemasangan blandar ada acara selametan …..”

Saya tanya lagi : “Lha, biasanya bagaimana, Pak?”. Maklum, saya memang baru kali ini mendengar istilah munggah molo, alih-alih tahu artinya.

Agar pokok permasalahannya menjadi lebih jelas, maka pembicaraan dilanjutkan melalui tilpun. Intinya adalah, bahwa para tukangnya merasa lebih mantap kalau diadakan acara selamatan sebelum munggah molo. Saya pun akhirnya setuju dengan keinginannya para tukang. Bagaimanapun saya menganggap para tukang adalah aset yang harus dijaga, bukan sekedar memperlakukannya sebagai likuiditas. Mereka memang tidak menghasilkan pemasukan finansial kepada saya, tetapi mereka saya harapkan akan menghasilkan produk berkualitas seperti yang saya harapkan, yang ujungnya akan memberi nilai tambah bagi rumah saya. Dan ini yang susah diukur nilainya.

Demi kemantapan hati para tukang, akhirnya saya menyetujui untuk diadakan semacam ritual munggah molo. Meskipun sempat terlintas pemikiran konservatif saya : “…..kira-kira sejalan enggak ya, dengan keyakinan akidah agama saya sebagai seorang muslim…..?”.

Selanjutnya saya menyerahkan sepenuhnya teknis pelaksanaan acara tersebut kepada pelaksana saya. Pokoknya saya nderek (menurut) saja bagaimana kebiasaannya, dan saya akan menanggung semua biaya yang diperlukan. Lalu, diaturlah waktunya pas saya cuti ke Yogya pada bulan Juni yang lalu.

Mula-mula saya usulkan diadakan pada hari Minggu saja, maksud saya karena hari Minggu biasanya hari longgar bagi kebanyakan orang. Tapi rupanya justru karena hari longgar itu maka para tukang yang sebagian besar berasal dari daerah Salaman, Magelang, justru pada libur pulang ke kampungnya. Acara lalu diundur ke hari Rabu. Namun mendadak hari Rabunya saya ada layatan ke Cepu, ada saudara yang meninggal dunia. Akhirnya acara digeser lagi menjadi hari Kamis.

Dengan pertimbangan bahwa semua hari adalah baik, maka bagi saya tidak ada bedanya antara hari Minggu, Rabu atau Kamis, apapun hari pasarannya. Tinggal bagaimana kita me-manage-nya saja yang akan membedakan sebuah hari itu baik, buruk atau biasa-biasa saja.

Tiba saatnya pelaksanaan ritual munggah molo yang sebelumnya saya sudah pasrah bongkokan (total) kepada pelaksana saya soal tetek-bengek teknisnya. Rupanya bukan hanya pelaksana saya yang sibuk mempersiapkan acaranya, melainkan para tetangga dekat saya juga turut sibuk. Segala macam ubo rampe (perlengkapan) selamatan disiapkan dan diatur oleh para tetangga saya itu.

Saya baru menyadari artinya tetangga. Sungguh saya tidak pernah membayangkan, seperti menemukan sesuatu yang selama ini saya anggap sudah hilang. Betapa ruh kekeluargaan, gotong royong dan hidup guyub-rukun, ternyata masih tumbuh dalam masyarakat saya. Lha, saya yang seharusnya punya hajat, kok jadi malah tetangga saya yang sibuk. Sementara saya sendiri tidak pernah tahu bahwa ada tata cara yang cukup rumit dalam tradisi Jawa yang perlu dipersiapkan dalam acara selamatan munggah molo. –

 

( 2 )

Bagi masyarakat Jawa pada umumnya, simbolisasi atau perlambang dalam sistem tata kehidupan manusia seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Seperti halnya tentang rumah, dalam konsep pemikiran masyarakat Jawa, rumah adalah model alam mikrokosmos. Simbol dari miniatur alam jagad raya yang di dalamnya terpancar tentang adanya kekuatan supranatural yang sulit untuk dijelaskan dengan logika.

Membangun rumah adalah ibarat membangun sebuah alam raya dimana penghuninya akan hidup dan menjalankan misi hidupnya. Maka, membangun rumah seringkali disertai dengan penghayatan dan menghidupkan kembali tradisi untuk membangunkan nilai-nilai spiritual. Tak terkecuali acara munggah molo, yaitu menaikkan atau memasang bagian rumah yang paling tinggi, sebagai simbolisasi puncak jagad raya.

Dengan demikian, tahap menaikkan molo sebuah rumah tinggal biasanya didahului dengan acara selamatan. Bahkan malam sebelumnya diadakan melekan atau lek-lekan yang maksudnya tidak tidur malam, meletakkan sesaji dan memilih hari baik. Masih ada lagi, pemancangan paku emas di bagian puncak rumah yaitu di bagian blandar di bawah wuwungan.

Demikian yang pernah saya baca dalam tulisan-tulisan tentang tradisi Jawa, sebuah pemahaman filosofis yang sampai kini masih hidup di tengah sebagian masyarakat Jawa. Terlalu naif kalau kemudian saya mengatakan bahwa saya bukanlah bagian dari sistem yang seperti itu. Dan, saya sangat mengagumi, membanggakan dan mencintai kekayaan budaya Jawa.

***

Begitulah, acara munggah molo jadi dilaksanakan pada hari Kamis (pas hari pasaran) Pahing, 24 Juni 2004, bertepatan dengan tanggal 6 Jumadil Awal 1425H. Rangkaian acaranya adalah selamatan dan doa bersama pada hari Rabu malam, dengan mengundang para tonggo teparo (tetangga sekitar rumah), termasuk para tukang, serta mengundang seorang ustadz warga kampung dimana rumah saya berada.

Menu gudeg Yogya pun disajikan, untuk dinikmati  bersama bagi yang ingin langsung menikmatinya atau kalau mau dibawa pulang juga mudah karena sudah diwadahi dalam kotak kardus. Sebelumnya didahului dengan wejangan dan doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Lalu acara dilanjutkan dengan silaturrahmi hingga larut malam sebagai wujud tradisi lek-lekan (tidak tidur malam). Meskipun toh akhirnya acara lek-lekan dipermudah, tidak perlu semalaman sampai pagi, tapi cukup sampai kalau merasa sudah ngantuk saja. Kasihan kepada para tamu yang besoknya mesti pergi bekerja, yang dalam terminologi Islam hukumnya lebih wajib dibandingkan dengan lek-lekan.

Esoknya, hari Kamis sekitar jam 12 siang atau usai dhuhur, diadakan selamatan lagi sebelum menaikkan molo. Kali ini hanya melibatkan para tukang (memang untuk merekalah sebenarnya acara ini diselenggarakan) dan mengundang beberapa tetangga dekat saja. Juga dengan mengundang Pak Ustadz yang tadi malam, sekali lagi untuk menyampaikan sedikit wejangan dan memimpin doa.

Tiba saatnya menaikkan molo. Saya sendiri merasa surprise, rupanya yang disebut ubo rampe atau asesori bagi acara munggah molo ini luar biasa (menurut saya) ribetnya. Sebelum doa, para tukang memasang bendera merah-putih berukuran sedang yang dibungkuskan di bagian tengah blandar. Lalu masih ada sesisir pisang ambon, seonggok padi yang sudah menguning dan seikat tebu, yang kesemuanya juga diikat dan digantungkan pada blandar. Pendeknya, blandar-nya dihias dengan ubo rampe tersebut, lalu dinaikkan dan dipasang pada posisinya, pada ketinggian kira-kira 13, 5 meter di atas muka tanah. Cukup tinggi untuk ukuran sebuah rumah berlantai dua.

Maka usailah sudah acara munggah molo siang itu (esoknya saya lihat pisang ambonnya sudah bablasss…..). Biasanya ada disertai pemancangan paku emas pada blandar. Tapi karena sebelumnya saya memutuskan tidak akan membeli paku emas, maka ya tidak ada yang perlu ditancapkan di blandar. Bukan karena apa-apa, hanya karena saya malas dan tidak mau repot-repot memesan dan membeli paku emas. Padahal ukuran paku emas ini hanya kecil saja, paling-paling cukup dibutuhkan satu gram emas. Tapi, ya itu tadi, saya kurang tertarik untuk mengurusi ubo rampe yang satu ini, yang menurut saya agak “aneh-aneh”. 

Sudah cukup? Belum rupanya. Para tukang lalu kumpul melingkari nasi tumpeng yang dilengkapi gudangan (urap), tempe, ayam goreng, telur, lalapan plus sambalnya, ditambah ikan bawal hasil coba-coba ternak ikan sendiri. Masih ada lagi, jajan pasar komplit, buah-buahan komplit (kelihatannya hanya buah kedondong yang tidak ada). Lalu ada bubur merah dan putih lima motif, daun kluwih, sewadah bunga dan entah ubo rampe apa lagi saya tidak ingat.

Setelah doa bersama yang dipimpin Pak Ustadz, saya disuruh memotong tumpeng yang lalu saya berikan kepada anak kedua saya yang laki-laki. Sengaja saya tidak pernah tanya apa makna di balik semua ubo rampe dan tata cara itu. Suatu saat nanti akan saya tanyakan kepada yang tahu. Ketika itu, saya takut terjebak ke dalam pemikiran mitos yang dapat mempengaruhi pemahaman saya tentang adanya kekuatan supranatural yang muncul dari ritual munggah molo, yang menurut keyakinan saya (maaf) cenderung mistis. Namun bagaimanapun juga saya adalah bagian tak terpisahkan dari sistem tradisi masyarakat yang seperti itu.

Alhamdulillah……, semua acara berlangsung lancar, santai, diwarnai canda dan cengengesan (untuk mengelabuhi nuansa sakral), dan yang penting semua senang dan kenyang. Para tukang pun semakin giat melanjutkan pekerjaan dengan perasaan hati yang lebih mantap.

Sungguh, bukan upaya yang mudah untuk menyiapkan segala macam asesori selamatan semacam itu. Dan, semua itu dilakukan oleh para tetangga saya. Betapa ribetnya. Betapa semangatnya para tetangga saya. Betapa ruh kekeluargaan, gotong royong dan guyub-rukun itu masih ada. Saya yang punya gawe, tapi mereka para tetangga saya dengan ikhlas menyiapkan serangkaian acara yang kaya akan nuansa warna-warni tradisi atau budaya Jawa yang indah. Unsur keindahan inilah yang ingin terus saya dan keluarga saya mengenangnya……. 

 

( 3 ) 

Membicarakan masalah tradisi yang disertai dengan simbolisasi melalui ubo rampe yang banyak macamnya serta serangkaian tata caranya, memang batasnya sangat tipis terhadap keyakinan akidah, khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Ritual tradisi Jawa, tidak dipungkiri memang penuh dengan nuansa mistis yang terkadang sukar dicerna oleh logika. Tapi believe it or not, berbagai macam tradisi yang kaya akan keindahan itu masih hidup dan diyakini pemahamannya oleh sebagian masyarakat Jawa. 

Soal itu pula yang sebenarnya sempat mengganggu pikiran saya sebelum saya memutuskan untuk mengadakan ritual tradisi munggah molo. Ujungnya saya mencoba untuk berpikir positif saja, dengan menitik-beratkan pemikiran saya pada unsur-unsur yang konstruktif, yang berbobot amal saleh dan yang apresiatif terhadap kekayaan budaya. 

Apapun ubo rampe dan tata caranya, maka semua itu adalah warna-warni kehidupan masyarakat Jawa. Layaknya warna-warni balon ulang tahun atau warna-warni lampion dan umbul-umbul perayaan tujuh-belasan. Selebihnya adalah ungkapan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta, berbagi nikmat rejeki kepada sesama, mempererat tali silaturrahmi dengan para tetangga dan merendahkan hati terhadap kekuasaan Sang Maha Kuasa. 

Maka, …..Bismillah…. Lalu acara selamatan munggah molo pun dikemas sebagai acara syukuran (demikian yang saya bisikkan kepada Pak Ustadz agar ditekankan dalam wejangannya). Para tetangga pun turut senang dan terutama para tukang menjadi semakin semangat. Material bangunan terus dapat dibeli (meskipun harga besi sempat naik gila-gilaan), hutang-hutang ke toko bangunan pun dapat dibayar, upah tukang terbayar sebagaimana haknya, pelaksana saya juga lega untuk melanjutkan tugas yang saya amanahkan kepadanya. 

Sejauh ini hasil kerja pelaksana saya dan para tukangnya cukup membuat kami sekeluarga puas, baik dari sisi teknis maupun artistiknya. Semoga kalau rumah kami kelak sudah jadi, akan menjadi tempat tinggal yang menyenangkan sebagai representasi alam jagad raya dimana kami hidup di dalamnya. 

*** 

Hal yang susah untuk saya jawab adalah kalau ada yang bertanya kenapa tidak membeli rumah di kompleks perumahan saja, atau kenapa tidak diborongkan saja pembangunannya kepada pemborong yang bonafid sehingga tidak perlu repot-repot mengurusi dan memonitor pekerjaannya. Pokoknya tahu-tahu sudah jadi, dibayar harganya dan tinggal menempati di lingkungan yang sudah terencana. Namun, kami mempunyai pertimbangan lain, yang justru disitulah nilai lebih dan seninya.

Pertama, di kampung Kalangan, kecamatan Umbul Harjo, Yogya, dimana rumah kami berada, kami sudah terlanjur suka dengan lokasi dan lingkungannya, meskipun berada terjepit di belakang kampung dengan akses jalan masuk yang kurang leluasa. Terasa seperti benar-benar berada di belahan mikrokosmos jagad Jawa yang kaya raya dengan warna-warni tradisi masyarakatnya.

Kedua, kalau saya pasrah bongkokan kepada seorang pemborong dalam pembangunannya, maka kemungkinan saya akan kehilangan kesempatan yang lebih bebas dan leluasa untuk meminta ini-itu atau mengubah rancangan dan asesori rumah sesuai dengan hasrat estetika yang kami inginkan. Sementara ide-ide semacam itu biasanya justru muncul ketika rumah sedang dalam tahap demi tahap penyelesaiannya, bukan pada awal ketika sedang membuat rancang bangun rumah.

Dengan menunjuk seorang pelaksana (yang Insya Allah dapat dipercaya), maka kami dapat mendiskusikan setiap jengkal bagian rumah, setiap kali muncul ide-ide baru atau menginginkan inovasi berbeda, dari gambar desainnya yang sebenarnya sudah ada. Sewaktu kami cuti ke Yogya sebulan yang lalu, kami dan pelaksana kami juga sempat beberapa kali bersama-sama berburu perlengkapan rumah dan material bangunan yang sesuai dengan yang kami inginkan. Komunikasi tidak lagi menjadi masalah. Telpon, SMS, fax dan email adalah piranti yang kami gunakan selama ini dalam berkomunikasi jarak jauh.

Dengan mengandalkan rasa saling percaya, kejujuran dan iktikad baik kedua belah pihak, maka mudah-mudahan kami akan dapat menghemat biaya, atau mengurangi kecepatan pekerjaannya bilamana suatu saat sumber dana sedang menyurut, dan yang lebih penting kami puas dengan kualitas dan tampilan yang kami inginkan. Hal ini jika dibandingkan dengan membeli rumah yang sudah jadi di kompleks perumahan atau menyerahkan pembangunannya pada pemborong umum.

Pertanyaannya menjadi : “Apa di jaman sekarang ini masih ada pelaksana yang jujur dan dapat dipercaya?”. Well……, saya belum dapat menjawabnya sekarang. Namun, mudah-mudahan keluguan cara berpikir saya akan direstui dan oleh karena itu dimudahkan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Sejak awal saya sekeluarga memang berniat merenovasi dan membangun ulang rumah kami ini adalah sebagai bagian dari ibadah kami.

***

Munggah molo, hanyalah bahagian kecil saja dari pernik-pernik tahapan panjang kehidupan manusia. Ada yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana manusia itu me-manage sisa hidup dan kehidupannya di dunia fana yang sesungguhnya, apapun ubo rampe-nya. Seindah dan seheboh apapun rencana hidup manusia, masih ada yang lebih Maha Indah dan Maha Merencanakan. Tinggal bagaimana manusia mampu menjaga kemesraannya agar semua rencana hidupnya yang indah itu “matching” dengan sistem kosmos jagad raya dan Sang Pemiliknya.

Tembagapura, 31 Juli 2004
Yusuf Iskandar

Mbah Pono

9 April 2008

Menjelang tengah malam, Kamis malam Jum’at, 25 Juli 2002, mendadak saya kepingin makan bakmi. Sebagai warga Bintaran (setidaknya KTP saya masih beralamat Bintaran Kulon), pilihan utama tentu saja Bakmi Kadin yang warungnya berada di jalan yang sama. Dari rumah Eyangnya anak-anak saya hanya perlu berjalan kaki beberapa puluh meter ke utara sudah sampai di depan Bakmi Kadin.

Lha, ternyata warung Bakmi Kadin masih penuh pengunjung. Saya timbang-timbang, kalau saya pesan bakmi goreng di sini pasti akan sangat lama menunggunya. Lalu saya putuskan untuk menyeberang jalan ke sisi timurnya. Di situ juga ada tukang bakmi. Juga ramai pengunjung, tapi tidak seramai Bakmi Kadin. Di warung ini rasanya saya tidak akan terlalu lama menunggu untuk pesan bakmi goreng dibungkus untuk dibawa pulang.

Berbeda dengan Bakmi Kadin yang dari jauh saja mudah ditandai karena ada papan namanya. Itu pun masih ditambahi tulisan “Yang Asli”. Seakan ingin meyakinkan para pelanggan baru agar tidak keliru dengan “yang tidak asli”, “yang palsu”, “yang tiruan” atau “yang imitasi”. Tukang bakmi yang saya beli malam itu tanpa papan nama. Tapi karena lokasinya ada di depan Bakmi Kadin, saya sebut saja Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Sambil menunggu pesanan saya disiapkan, saya duduk-duduk di bangku agak mojok di samping meja penyaji minuman bajigur. Seperti sudah menjadi ciri khasnya, bahwa pasangan dari tukang bakmi adalah tukang bajigur. Persis sama seperti di warung Bakmi Kadin, di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin inipun juga tersedia bajigur. Tukang bajigurnya adalah seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan tahun. Orang-orang mBintaran biasa memanggilnya Mbah Pono.

***

Mbah Pono ini rupanya termasuk orang tua yang suka diajak ngobrol. Ini tentu membuat saya merasa nyaman duduk berlama-lama di bangku panjang itu menunggu pesanan bakmi goreng sambil ngobrol dengan Mbah Pono. Ngobrol dalam bahasa Jawa krama hinggil tentunya.

Omong-omong tentang bakmi. Bagi lidah saya sebenarnya tidak ada perbedaan taste yang signifikan antara Bakmi Kadin dengan Bakmi Depan Bakmi Kadin. Kalaupun ada perbedaan, maka parameternya adalah “tingkat kelaparan” kita saat itu, dan harga per porsi yang lebih murah di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Namun rupanya masing-masing warung itu sudah memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Hanya untuk pendatang baru, biasanya akan langsung menuju ke Bakmi Kadin “Yang Asli”. Saya anggap wajar-wajar saja kalau ada seseorang yang belum merasa puas kalau belum sempat mencicipi Bakmi Kadin “Yang Asli” yang kini dikelola oleh Mbah Karto perempuan (yang bergelar Hajjah sejak dua musim haji yll, sedang Mbah Karto Kasidi yang laki-laki sudah lama meninggal) dan Pak Rohadi putranya.

Sejak mundurnya Mbah Amat (yang meninggal dunia sebulan yll.) dari dunia per-bajigur-an di awal tahun 70-an, maka Mbah Pono adalah salah satu penerusnya. Lalu ber-partner dengan Mbah Karto, berdua melanjutkan usaha bakmi-bajigur. Seperti Mbah Amat almarhum, pasangan Mbah Karto laki-laki dan Mbah Pono perempuan inipun menempati emperan kantor Kadin.

Ketika kantor Kadin direnovasi sekitar sepuluh tahun yll. Mbah Karto melanjutkan warung bakminya di belakang bangunan Kadin, tepatnya di Jalan Bintaran Kulon 6 yang ditempatinya hingga kini. Namun nasib kurang mujur bagi Mbah Pono. Rupanya Mbah Karto perempuan punya rencana bisnis baru, beliau merencanakan akan menyajikan sendiri minuman bajigur. Dengan kata lain, bakminya Mbah Karto sudah tidak memerlukan tenaga Mbah Pono lagi untuk menjadi partnernya menyediakan bajigur, demikian tutur Mbah Pono malam itu.

Hebatnya, Mbah Pono tidak sakit hati. Beliau nrimo dengan adanya rencana bisnis Mbah Karto yang hingga kini telah berkembang menjadi Bakmi Kadin. Sedangkan Mbah Pono memilih untuk pensiun saja dan tinggal di rumahnya di belakang Jalan Bintaran Kidul.

***

Nampaknya garis hidup Mbah Pono memang tidak jauh-jauh dari dunia per-bajigur-an. Ketika beberapa tahun yll. di depan Bakmi Kadin dibuka warung bakmi baru dan Mbah Pono ditawari untuk menyediakan bajigurnya, beliau pun bersedia. Maka jadilah seterusnya Mbah Pono kembali menjadi tukang bajigur hingga kini, di warung bakmi baru yang tadi saya sebut sebagai Bakmi Depan Bakmi Kadin yang tanpa papan nama.

Bajigurnya Mbah Pono ini rupanya punya taste berbeda, maka tidak heran kalau Mbah Pono punya pelanggan tersendiri. Menurut pengakuannya, banyak pelangan lamanya yang pernah kenal bajigur Mbah Pono sejak masih bersama Mbah Karto laki-laki di depan kantor Kadin yang lama, kini kembali kepadanya. Pengakuan yang bagi saya sukar dibuktikan, tapi saya percaya saja.

Lalu apa rahasianya? Entahlah. Barangkali tangan si pembuatnya saja yang lain. Nampaknya racikan bajigurnya ya begitu-begitu juga. Ada air santan, ada irisan kelapa muda dan kolang-kaling. Yang saya baru tahu adalah bahwa ternyata ada tambahan air kopi barang satu-dua sendok dalam setiap gelas bajigur yang disajikan.

Pilihan hidup Mbah Pono, terkadang memang susah dipahami. Di usia senjanya yang bahkan sudah di ambang malam, beliau memilih untuk tetap tekun menggelar jualan bajigurnya. Dua dandang besar bajigur dihabiskannya mulai jam 4 sore hingga tengah malam menyertai bukanya warung bakmi. Sekitar 150 gelas disajikan setiap hari. Kalau harga per gelasnya Rp 1.500,- maka artinya seorang Mbah Pono telah memutar uang, sebut saja Rp 200.000,- per harinya.

Salut untuk Mbah Pono, dan Mbah-mbah lainnya yang senantiasa tekun dengan kerja kerasnya, saat sebagian mbah-mbah yang lain duduk di kursi goyang menikmati hari tuanya. Orang-orang seperti Mbah Pono ini memang tidak pernah terimbas apalagi mengenal apa itu krismon. Yang dia tahu kalau harga gula atau kelapa naik, ya harga bajigurnya juga ikut naik. Lalu para pelanggannya pun kudu paham. Sesederhana itu, tapi entah sampai kapan.

Sugeng ndalu (selamat malam), Mbah…”. Sekantong plastik bajigur panas langsung saya bawa pulang dan habiskan malam itu juga.-

Yogyakarta, Juli 2002
Yusuf Iskandar

Mbah Amat

9 April 2008

Jum’at sore, 28 Juni 2002, saya tiba di Yogya. Seperti biasa, anak-anak lebih suka langsung menuju ke rumah Eyangnya di Bintaran Kulon. Setiba di rumah Eyangnya anak-anak, terlihat sebuah bendera putih berkibar di pingir jalan di sebelah rumah. Siapapun tahu bahwa bendera putih semacam ini bukan pertanda terjadi genjatan senjata setelah tawuran antar kampung, melainkan tanda ada yang sedang kesripahan (berduka cita).

Dalam hati, saya berprasangka : “Jangan-jangan Mbah Amat yang meninggal…..”. Ini memang prasangka buruk yang (saya yakin) kalau di dengar orang tidak akan menimbulkan amarah. Lantaran semua orang di bilangan mBintaran tahu bahwa Mbah Amat ini memang sudah sangat sepuh (tua), sehingga “wajar” saja kalau misalnya sudah sampai waktunya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. 

“Innalillahi wa-inna ilaihi ro-ji’un” (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Meskipun sungguh tidak saya harapkan, ternyata prasangka saya benar. Mbah Amat Sadari menghembuskan nafas terakhirnya siang tadi, setelah menderita sakit tua sejak beberapa waktu sebelumnya.

***

Kabar tentang orang meninggal dunia sebenarnya hal yang biasa saja. Namun kabar meninggalnya Mbah Amat ini memberi kesan yang luar biasa bagi saya.

Sejak saya menjadi menantunya Eyangnya anak-anak lebih 10 tahun yll, saya mengenal Mbah Amat sebagai sosok orang sangat tua yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup dan taat beribadah. Terakhir saya ketemu Mbah Amat setahun yll, beliau masih tekun sholat lima waktu dengan berjamaah di masjid Bintaran, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Padahal berjalannya saja sudah tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya.

Ketika jenasahnya akan diberangkatkan ke pemakaman esok harinya, seperti biasa ada acara sambutan oleh pihak keluarga. Hal yang menakjubkan saya adalah saat diumumkan bahwa almarhum Mbah Amat mempunyai dua orang anak, sekian cucu, sekian buyut (anaknya cucu) dan sekian canggah (cucunya cucu). Dengan kata lain, di masa hidupnya Mbah Amat ini sempat ketemu dengan keturunan generasi kelimanya.

Luar biasa. Di masa kini, sangat jarang seseorang yang sempat ketemu dengan canggahnya. Alih-alih ketemu canggah (generasi ke-5), sempat ketemu buyut (generasi ke-4) saja sudah merupakan karunia Tuhan yang sangat besar. Bahkan Mbah Amat ini sudah lebih dahulu ditinggal mati oleh seorang anaknya.

Menurut catatan di Kartu Keluarga, Mbah Amat lahir tahun 1904 yang berarti meninggal dunia dalam usia 98 tahun. Namun sangat diyakini oleh keluarganya bahwa sesungguhnya usia Mbah Amat lebih dari seabad ketika meninggal dunia. Pasalnya, menurut ceritera seorang cucunya yang setia menemani Mbah Amat hingga detik-detik akhir hidupnya, suatu kali beberapa minggu sebelum meninggal pernah omong-omong santai dengan Mbah Amat serta menanyakan usianya. Dan Mbah Amat dengan sangat yakin dan gaya humornya menjawab bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Sebuah usia yang rasanya memang masuk akal.

Kalau demikian halnya, berapa usia sebenarnya? Sayang sekali, Kartu Keluarga model lama yang masih tertulis dengan huruf Arab Jawa, tulisannya sudah sangat buruk, rusak dan kabur, sehingga tidak terbaca. Itu sebabnya maka dibuatlah Kartu Keluarga model baru, sebagaimana yang dimilikinya saat ini yang menyebut beliau lahir tahun 1904.

***

Siapakah Mbah Amat ini? Orang-orang tua atau orang-orang lama di sekitar Bintaran mengenal almarhum sebagai tukang bajigur. Bajigurnya Mbah Amat dulu sempat sangat populer dan digemari, hingga berhenti mbajigur sejak sekitar 30 tahun yll. sebelum generasi tukang bajigur berikutnya muncul melanjutkan berjualan bajigur.

Tidak jelas benar kenapa sebagai orang Yogya, Mbah Amat menekuni usaha menjadi tukang bajigur, yang sebenarnya lebih dikenal sebagai minuman khas daerah Jawa Barat. Namun yang jelas, Mbah Amat pernah berjaya dengan bajigurnya hingga puluhan tahun dan setiap malam menggelar dagangannya di tritisan (emperan) kantor yang kelak kemudian dikenal sebagai kantor Kadin, berpasangan dengan tukang bakmi bernama Mbah Karto Kasidi. Kini bakminya Mbah Karto dikenal sebagai Bakmi Kadin.

Di saat-saat akhir hayatnya, saat periode pikun dialaminya, Mbah Amat suka meminta cucunya untuk menyediakan anglo di dekat tempat tidurnya. Lalu beliau mengambil kipas dan berlaku seolah-olah sedang menghidupkan arang di atas anglo yang sedang memanaskan dandang berisi bajigur. Kalau diingatkan cucunya bahwa Mbah Amat kini sudah tidak lagi berjualan bajigur, beliau hanya tesenyum.

Kini, Mbah Amat mantan tukang bajigur Bintaran itu telah tiada. Meninggalkan kesan yang luar biasa menurut ukuran akal saya. Wafat dalam usia seabad. Sempat bertemu dengan canggahnya (keturunan kelima) sebelum meninggalnya. Di hari tuanya nyaris tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Suka guyon (bercanda) dan nrimo (ikhlas) menjalani hidup, agaknya bisa menjadi salah satu laku Mbah Amat yang layak dicontoh. “Selamat jalan, Mbah……!”.  

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Pasar Sentul

9 April 2008

Usai sholat subuh, anak laki-laki saya yang berumur 6,5 tahun ikut bangun. Sekitar jam 05:15 pagi, saya ajak dia untuk jalan-jalan pagi ke pasar Sentul, Yogya, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan masih terlihat sepi. Berdua anak saya, kami dapat jalan melenggang santai di bawah udara pagi yang segar dan belum terganggu kesibukan dan kebisingan lalulintas kota Yogya.

Tidak terlalu lama kami sampai di pasar Sentul yang pagi itu tampak sudah ramai dan sibuk. Halaman depan pasar yang normalnya adalah halaman parkir, pagi itu sudah penuh sesak dengan para pedagang yang menggelar dagangannya berjajar tidak rapi, menyisakan sekedar lorong sempit tempat orang-orang berjalan menyusuri sela-sela gelaran dagangan.

Kebisingan khas pasar tradisional mewarnai suasana pasar Sentul. Riuh rendah suara pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi, bunyi pisau yang beradu dengan landasan kayu dari pedagang ayam yang sedang memotong-motong daging ayam, dan gemuruh bunyi mesin pemarut kelapa.

Saya dan anak laki-laki saya lalu menerobos masuk ke dalam pasar dan turut berdesak-desakan di antara lalu-lalang pedagang dan pembeli yang umumnya kaum ibu dan para kuli pasar yang menggotong barang dagangan.

Tujuan kami pagi itu adalah mencari penjual gudangan atau urap, salah satu jenis makanan kesukaan saya. Setelah lebih dua tahun tinggal di New Orleans, maka ada semacam rasa kangen ingin menikmati jenis masakan tradisional ini. Meskipun bisa membuatnya sendiri di rumah, tapi tak bisa disangkal bahwa gudangan atau urap bikinan si mbok penjual urap pasar Sentul ternyata mampu memberikan taste berbeda.   

Tidak mudah menemukan lokasi si mbok penjual urap ini. Ya, maklum wong sudah lama tidak masuk pasar. Setelah berjalan putar-putar kesana-kemari beberapa kali, akhirnya terpaksa tanya kepada seorang pedagang tahu. Si mbok penjual tahu menjawab dengan sangat sopan menjelaskan bahwa pedagang urap belum datang. “Dipun entosi kemawon sekedap malih, Pak” (ditunggu saja sebentar lagi, Pak), jelasnya.

Sambil menunggu kedatangan si mbok penjual urap, saya ajak anak saya untuk mencari pedagang tempe bungkus kesukaan saya. Saat jalan berdesak-desakan ini anak saya sempat melapor : “Kaki saya diinjak orang, Pak”, katanya ringan sambil agak meringis. Ya, inilah pasar. Setelah menyodorkan uang Rp 1.000,- untuk 12 buah tempe bungkus, kami lalu kembali menuju ke lokasi penjual urap. Rencananya, sore harinya saya ingin menikmati hangatnya tempe goreng Yogya sambil minum kopi.

*** 

Rupanya si mbok penjual urap baru saja selesai menggelar dagangannya. Langsung saya memesan lima bungkus urap. Dengan cekatan si mbok membuka selembar sobekan kertas koran, lalu dilapis dengan sesobek kecil daun pisang di atasnya. Tangannya menjumput (mengambil dengan ujung-ujung jari) nasi putih, lalu dijumputnya serba sedikit daun ubi, daun pepaya, daun kencur, kecambah, bijih mlandingan, daun bayam, dsb., lalu ditambahkan bumbu parutan kelapa, dan akhirnya sepotong tempe besengek (jenis masakan berbahan tempe atau tahu).

Harga per bungkus nasi urap yang dua tahun yll. masih berkisar Rp 150,- atau Rp 200,-, kini sudah naik menjadi Rp 500,- Agaknya semua pihak sudah maklum dengan harga ini. Para pembeli pun terkadang tanpa perlu banyak ngomong untuk memperoleh sebungkus nasi urap. Cukup dengan menyodorkan selembar uang limaratusan, lalu tinggal menyebut tahu atau tempe, setelah dibungkuskan lalu ngeloyor pergi.

Saya suka menyebut peristiwa semacam ini dengan mekanisme pasar tradisional, yang tentu berbeda maknanya dengan istilah mekanisme pasar seperti yang sering disebut di koran atau televisi.

Mekanisme pasar tradisional yang tumbuh dari perhitungan ekonomi yang sederhana saja. Karena harga bahan mentahnya naik maka harga jualnya juga naik dan pembeli pun mafhum dengan harga yang disesuaikan itu. Demikian seterusnya, tanpa perlu pusing-pusing menghitung yang rumit-rumit tentang margin keuntungan guna break even.

Juga tidak perlu pusing-pusing tentang siapa presiden negerinya atau wakil presiden atau menteri kabinet atau pejabat ini dan itu, dimana hari-hari ini televisi sedang menyiarkan agenda Sidang Istimewa MPR. Lha, wong presiden dan para pejabat itu juga tidak pernah pusing-pusing memperhitungkan mekanisme pasar ala si mbok penjual urap ini.  

Nyatanya toh dengan cara yang demikian itu si penjual tetap meraih keuntungan yang barangkali tidak seberapa asal masih layak guna mencukupi kebutuhan hidup  keluarganya. Si pembeli pun ikhlas membayarkan uangnya guna memenuhi kebutuhan sarapan paginya. Dan salah satu di antara pembeli pagi itu adalah saya dan anak saya.

***

Tiba di rumah dari pasar Sentul pagi itu, kelima bungkus nasi urap langsung ludes. Kenikmatan sarapan pagi yang saya rasa luar biasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Dalam hati saya sangat berterima kasih kepada si mbok penjual urap atau mbok-mbok lainnya di pasar. Pagi itu saya temukan sebuah kenikmatan sarapan pagi yang sangat saya syukuri.

Bukan saja lantaran taste dari nasi urap dan tempe besengek bikinan si mbok, melainkan juga lantaran untuk memperolehnya saya bersama anak saya harus berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuknya pasar Sentul. Sungguh pengalaman berbeda yang menyenangkan khususnya bagi anak laki-laki saya.

Menyenangkan? Ketika selesai sarapan saya bertanya kepada anak saya :

Le, bagaimana kalau besok pagi jalan-jalan lagi ke pasar Sentul” (terkadang saya menyapa anak saya dengan Le, sapaan akrab ala desa di Jawa).

Jawab anak saya : “No, too crowded…..”, dengan logat bahasa Inggrisnya yang lebih baik dari saya. Tapi jawaban anak saya rupanya masih berlanjut : “…..tapi saya senang jalan-jalan ke pasar….”-

Yogyakarta, 26 Juli 2001
Yusuf Iskandar