Es Campur “Pak San” Cilacap

Kota Cilacap hari Minggu siang itu terasa sepi, dengan arus lalulintas tidak terlampau padat. Katanya memang seperti itulah suasana keseharian kota itu. Jalan-jalan kotanya cukup lebar dan nampak teratur rapi dan bersih dibanding kota-kota sekelas di daerah lain. Wajar kalau kota ini memperoleh penghargaan atas kebersihan dan kerapihan kotanya. Meski kota industri, tapi bukan kota transit atau kota dagang. Kalau ada orang pergi ke Cilacap, umumnya ya memang tujuannya ke sana, bukan karena kebetulan lewat lalu singgah.

Memasuki jalan protokol Urip Sumoharjo, mengingatkan saya pada bentang tata ruang kawasan Beverly Hills di Los Angeles dimana di sepanjang kiri-kanan jalan ditumbuhi pohon palem. Bedanya, kalau menyusuri Beverly Hills di Los Angeles tampak sebuah kawasan yang berlanskap asri dan rapi dengan rumah-rumah besar dan mewah di antaranya, sedangkan menyusuri jalan Urip Sumoharjo di Cilacap terkesan gersang dengan padatnya bangunan kantor, toko dan rumah tinggal. Kalau di Los Angeles orang-orangnya suka bilang “again”, sedangkan di Cilacap suka bilang “maning”. Jangan-jangan walikota Los Angeles dulu pernah melihat foto Cilacap di kalender, lalu tiru-tiru? Tapi kalau menilik pohon palem yang di Beverly Hills tampaknya lebih tinggi, berbatang besar dan tua, kayaknya sebaliknya, deh….

Di salah satu sudut sisi barat kota (sebenarnya saya agak kesulitan melakukan orientasi arah di Cilacap), ada sepenggal jalan bernama Jl. Wiratno. Nylempit di antara bangunan di sisi barat jalan yg cukup lebar ini, sebuah warung kecil yang jualan es campur. Namanya warung es campur “Pak San”, seperti tertulis pada selembar spanduk dengan warna dasar biru muda, berukuran 1 m x 2 m, dipasang tepat didepan warung, lengkap dengan motto : Gurih + Gandem (mungkin ini satu-satunya es yang rasanya gurih tanpa MSG). Warna biru spanduk ini bisa menjadi tetenger (tanda) ketika hendak menemukan dimana warung es campur “Pak San” berada.

Di warung kecil inilah tersedia es campur yang luar biasa rasanya. Ini bukan bahasa iklan, melainkan karena memang campuran esnya di luar kebiasaan es campur. Sepertinya di tempat lain di dunia ini saya belum pernah menemukan es campur yang ramuannya seperti di warung “Pak San”.

***

Warung es “Pak San” yang sekarang ini merupakan tempat migrasinya yang ketiga sejak dua tahun terakhir. Pengelolanya yang sekarang ini sudah generasi ketiga, alias cucu dari Pak San (sampai saya lupa menanyakan siapa nama lengkapnya Pak San, saking uasyiknya nyruput es…..). Pada tahun 1957, alm. mBah San dulu mulai jualan es campur di Pasar Gede Cilacap sebelum dimoderenkan seperti Pasar Gede yang terlihat sekarang. Usaha es campur itu lalu diteruskan oleh anaknya dan pindah lokasi di Jalan Tendean, juga di Cilacap. Dan terakhir ilmu perescampuran itu diwarisi oleh cucu perempuannya yang kini buka warung di Jalan Wiratno itu.

Hanya sayangnya, masalah tampilan, penyajian dan pengelolaannya kurang tertangani dengan baik, padahal potensinya sangat bagus. Ya maklum….., masih bisa jualan saja sudah syukur, begitu kira-kira jalan pikirannya. Pada hari-hari biasa, paling tidak 100 mangkuk dibeli pelanggan. Ada yang diminum di tempat, banyak juga yang dibawa pulang. Ukuran warungnya memang teramat kecil dan terkesan sumpek. Di dalam warung itu hanya ada 4 meja dan bangku panjang dari kayu. Sangat sederhana dan seadanya. Bagi sebagian orang barangkali akan merasa ogah-ogahan untuk mampir, karena memang kesannya es komboran…..

Apanya yg luar biasa? Es campur “Pak San” ini menggunakan mamahan (bahan campuran) berupa manisan jipang (labu siam) dan belimbing, dicampur kelapa muda, kolang-kaling dan cendol. Semuanya sudah diolah manis, kecuali cendolnya yang tawar. Manisan jipang dan belimbingnya dibuat dengan cara mengiris kecil-kecil buah yang masih segar lalu dijemur, setelah itu baru dibuat manisan (saya tahu karena saya tanya). Pantas saja ketika digigit terasa sensasi kriuk-kriuk dan kremes-kremes, dengan rasa yang sangat khas.

Es campur “Pak San” tidak menggunakan susu kental manis, melainkan diguyur dengan kanil atau santan kental. Barangkali kanil ini yang memberi taste gurih. Setelah ditambah dengan sirup gula pasir (bukan sirup pabrik), barulah kemudian ditimbun dengan es pasah hingga menggunung di dalam mangkuk. Bak fenomena gunung es, ketika bagian puncak esnya masih runcing putih, bagian pinggiran bawahnya ketika dicutik-cutik dengan sendok akan muncullah campuran mamahan es campur yang setelah disruput benar-benar mak nyusss……. Lha wong es….. (kalau air panas ya mak nyosss……. mlonyoh…...).

Sepertinya tidak rugi membayar Rp 4.500,- semangkuk es campur yang rasanya ruarrr biasa. Tidak puas dengan semangkuk di sana, lalu pesan tiga bungkus tanpa es untuk dibawa pulang ke Jogja.

Esok harinya tinggal dicampur es sendiri di rumah. Tapi es pasahnya? Gampang. Kebetulan kulkas di rumah sudah mulai tua dan agak tidak normal bekerjanya, sehingga sering timbul bunga es di kompartemen freezer-nya. Nah, bunga es inilah yang digaruk-garuk dengan sendok oleh anak saya (bapaknya tinggal makan) sehingga diperoleh serpihan-serpihan es seperti hasil dipasah. Ternyata, masih mak nyusss….. juga. Anak-anak pun senang. Ada manfaatnya juga punya kulkas tua.

Kalau ada hal yang mengherankan di balik gunung es campurnya “Pak San” ini, adalah meski sudah berbisnis hampir setengah abad jualan es campur yang terbukti memang Gurih + Gandem (sesuai aslinya ditulis dengan tanda plus), warung itu ya begitu-begitu saja. Penghasilannya pun ya segitu-segitu juga. Tidak pernah (barangkali belum) terbersit niat untuk mematut-matut tampilannya atau memoderenkan manajemennya. Atau pendeknya, merubah “kemasannya”.

Kata sang cucu yang sekarang mengelola warung “Pak San”, sebenarnya sejak ada wartawan yang pernah mengekspose es campurnya yang gurih bin gandem itu, ada pengusaha yang mengajak buka cabang di Jakarta. Tapi ya, itu….., jangan-jangan memang kita ini yang kelewat pintar tapi kurang arif memahami. Baginya……, kersanipun mekaten kemawon….., biarlah begini saja……  

Yogyakarta, 2 Desember 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

2 Tanggapan to “Es Campur “Pak San” Cilacap”

  1. infogue Says:

    Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/makanan_minuman/es_campur_pak_san_cilacap/

  2. macanangh Says:

    yoi, cilacap kotanya termasuk rapi jalan2nya, dengan jalan yang lebar2 dan anti macet. cuman cilacap terkenal puanas pak…

    btw, salam kenal pak,

    macanang, jayapura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: