Archive for April 7th, 2008

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Beda Bikin Marem, Di Marem Pondok Seafood

7 April 2008

(1)

Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem’ Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.

Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang ngangeni (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah hotplate, sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.

Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu traffic light pertama lalu belok kanan. Marem’ Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto “Coba yang beda, beda bikin marem” (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.

Menu unggulannya adalah udang galah marem hotplate. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. Taste yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja plate-nya hot, kalau tidak….. nasinya saya tuang ke plate, agar bisa dikoreti kuahnya……

Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya seafood, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.

Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang ngangeni. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti kayak gitu juga, tapi yang ini hoenak tenan….. Selain racikan masakannya yang mak nyuss, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya kemrenyes seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih fanas (pakai ‘f’, karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap ‘p’). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi kemrenyes dari kangkungnya.

Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba ‘Algojo’ yang ternyata adalah alpokat gulo jowo (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).

Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut….., berebut diacungi, bukan berebut jempol… ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.

(2)

Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya daripada rumah makan ‘Marem’ Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.

Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.

Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.

Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.

Bagi saya, pengalaman di ‘Marem’ Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.

Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.

Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun cuek bebek…), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun ora urus yang penting mbayar), lalu pulang.

Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu “Madurejo Swalayan” di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana paseduluran (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan ndeso dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.

Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.

Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah kadung menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.

Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan ngelmu masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya bejo-ne (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.

*) Marem = puas (bhs. Jawa) 

Madurejo, Sleman – 26 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Kedai Tiga Nyonya

7 April 2008

Sebenarnya saya tidak sengaja masuk ke resto Kedai Tiga Nyonya (maksudnya, bukan tiba-tiba disuguhi makan dan tiba-tiba disuruh mbayar...). Ketika malam itu sedang berjalan-jalan di Jl. Wachid Hasyim, Jakarta Pusat, sambil tolah-toleh siapa tahu ada tempat makan yang menarik. Tiba-tiba pandangan mata terarah ke sebuah bangunan bernuansa cino ndeso (bahasa sekarangnya antik bin artistik khas rumah peranakan Cina), bercat dominan hijau telur. Dari judul depannya saya tahu, ini pasti tempat makan.

Bagi warga Jakarta, barangkali Kedai Tiga Nyonya bukan sebuah nama yang asing. Tapi bagi saya, tempat ini bagai magnet yang mengundang untuk masuk dan mencoba tawaran menunya. Benar saja. Begitu masuk ke dalam bangunan dua lantai itu, saya merasa seperti sedang berada di kompleks rumah pecinan. Pernak-pernik hiasannya, piring keramik, lampion, baju khas masyarakat peranakan, aneka mebel kayu berkesan kuno, termasuk dominasi warna merah, yang kesemuanya menegaskan bahwa siapapun yang ada di sana seolah-olah sedang berada di tengah komunitas peranakan.

Namun yang pasti, bahwa siapapun yang masuk ke sana jelas berniat hendak cari makan. Karena tempat itu adalah restoran masakan khas peranakan yang diramu dan ditata sedemikian rupa agar tampil beda dan menarik. Menu masakan yang disediakannya pun beraneka ragam. Menurut pemiliknya, Paul dan Winnie Nio yang asal Semarang, semuanya berasal dari resep keluarga peranakan yang telah diwarisi turun-temurun. Semua informasi tentang Kedai Tiga Nyonya dan termasuk menu yang disediakan, dikemas dalam sebuah buklet daftar menu berbahasa Inggris. Saya pikir, ini restoran memang disiapkan untuk melayani konsumen asing, minimal orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia tapi mengerti bahasa Inggris. Tidak paham bahasa Cina tidak masalah, wong tidak ada tulisan Cinanya.

Kedai Tiga Nyonya yang berdiri di Jl. Wachid Hasyim ini sudah beroperasi sejak Desember 2005 dan merupakan cabang dari induknya yang lebih dahulu ada di kawasan Tebet Indraya Square, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Perihal nama Tiga Nyonya ini menurut ceritanya, bermula dari ketertarikan Paul B. Nio, sang pemilik kedai, kepada sebuah foto kuno yang ditemukannya di Semarang. Foto dua orang ibu-ibu Cina dan seorang anak perempuan yang sebenarnya tidak ada hubungan pernah-pernahan dengan pak Paul itu lalu direpro dan dijadikan inspirasi sekaligus ikon bagi restorannya yang kini bernama Kedai Tiga Nyonya.

Restoran yang sebenarnya tidak berkesan mewah ini rupanya pernah menyabet penghargaan sebagai Restoran Terbaik pada tahun 2005 dan 2006. Bahkan menu ayam bakar spesialnya pun diakui kelezatannya. Namun barangkali ada satu hal yang patut dicatat, yaitu jaminan dari pemiliknya bahwa semua makanan disana halal dan tidak menggunakan MSG. Jadi, meskipun banyak kolesterol tapi masih agak sehatlah….. sedikit.

***

Tiba saat pemesanan. Saya pilih menu utama kakap steam dan cah kangkung, lalu minumnya es Tiga Nyonya, masih ditambah tahu pong sebagai pelengkap pendahuluan. Mari kita deskripsikan satu per-satu agar lebih komplit dalam membayangkan taste-nya yang memang enak…… Kalau soal bumbunya saya tidak tahu, wong saya bukan tukang masak. Tapi yang penting adalah hoenak ketika dimakan dan ketika tidak ikut memakannya pun tetap terbayang hoenaknya.

Kakap steam yang disajikan berupa seekor ikan kakap merah berukuran cukup besar, dipadu dengan irisan tomat, bawang bombay dan paprika merah-hijau. Ditaruh di meja dalam keadaan panas kemebul (berasap) dengan kuah kental bersantan. Terasa sedapnya ketika disantap dalam keadaan panas dengan nasi putih pulen. Jangan ditunda memakannya ketika dingin, karena kuah kentalnya membikin perut cepat kenyang dan nek. Sayang, ikannya terasa kurang segar. Ya, maklum ini restoran lokasinya di tengah kota yang padat, berbeda dengan warung yang terletak di dekat pantai.

Demikian halnya dengan sajian cah kangkung yang juga masih kemebul. Cah kangkung dengan campuran udang, lebih enak kalau disantap juga dalam kondisi hanas (saking panasnya di mulut). Kuahnya benar-benar sedap nian. Tingkat kematangan daun dan batang kangkungnya pas sekali sehingga memberi sensasi kemrenyes, gigitan demi gigitan. Inilah rahasianya menikmati cah kangkung. Jangan menunda memakannya ketika sudah dingin, karena tingkat kematangan daun dan batangnya sudah berubah. Regangan serat batang dan daun kangkung sudah mengendor layu. Akibatnya sensasi kemrenyesnya hilang. Tanya kenapa? Saya tidak tahu. Tapi boleh dibuktikan sendiri kalau di rumah ada yang bisa masak.

Giliran menikmati es Tiga Nyonya. Dari namanya saja pasti ini menu minuman khas unggulan kedai Cina itu. Dalam wadah agak besar berisi campuran kolang-kaling berwarna merah, cincau hitam, bijih selasih yang seperti telur kodok, dan (ini yang paling enak dan kemrenyes) irisan tipis-tipis manisan mangga, lalu ada sirup dan prongkolan es batu yang digepuk (bukan dipasah). Ramuannya begitu pas, sehingga rasanya…. uedan tenan!. Kalau bukan karena kekenyangan nggado kakap steam, rasanya kepingin nambah.

Yang terakhir, walau sebenarnya justru yang pertama disajikan dan pertama pula saya santap sebagai menu pembuka, yaitu sesuai orderan adalah tahu pong gimbal komplit khas Semarang dengan sambal petis. Tapi ketika disajikan rupanya gimbalnya ketinggalan di dapur. Ya sudah, tahu pong sambal petis saja. Yang penting tahu dan petisnya benar-benar terasa. Tidak seperti tahu petis di Sekaten Jogja yang petisnya sudah dicampur gula jawa.

Pendek cerita, saya benar-benar puas menikmati sajian menu Kedai Tiga Nyonya. Sebelum meninggalkan kedai dan tiba waktunya mbayar, uuah… harganya (kurang) pas buat saya (membuat saku saya mendadak jadi tipis). Terima kasih Kedai Tiga Nyonya. Terima kasih untuk harga yang sebanding dengan tingkat keenakan masakannya. Puas… puas… puas….!     

Yogyakarta, 2 Maret 2007
Yusuf Iskandar

Soto “Sungeb” Purwokerto

7 April 2008

Sokaraja adalah sebuah kecamatan yang bertetangga dengan kota Purwokerto, Jawa Tengah. Kalau dari arah barat daya atau perempatan kecamatan Buntu, kabupaten Banyumas, Sokaraja berada kira-kira 5 km sebelum masuk Purwokerto. Tapi untuk menikmati soto ayam kampung khas Sokaraja yang terkenal hoenak itu, ternyata tidak harus selalu di Sokaraja. Di dalam kota Purwokerto ada sebuah tempat dimana kita dapat menikmati soto Sokaraja.

Soto Sokaraja, oleh masyarakat setempat terkadang disebut juga dengan sroto (pakai sisipan “r”) Sokaraja. Mungkin karena memiliki taste yang saking sredap dan hroenaknya…… Tentu berbeda dengan soto-soto khas daerah lain. Soto Sokaraja disajikan tidak dengan nasi melainkan irisan ketupat atau lontong kecil. Di bagian atasnya dikepyuri (ditaburi) rajangan atau irisan loncang (daun bawang) mentah agak banyak. Mengandung sedikit santan cair, tidak sekental santan soto atau coto Makassar. Ditumpuki lagi dengan remukan kerupuk mi (kerupuk kampung yang bentuknya seperti gumpalan mi). Asesori sambalnya berupa sambal kacang seperti sambal pecel. Maka saat disajikan nampak seperti munjung, membentuk gunungan dalam mangkuk kecil (sebab kalau besar namanya baskom…..),

Jangan tanya rasanya, hmmm…… rasa gurihnya nendang banget. Menjadikan sruputan duduh (kuah) pertama begitu menggoda. Ya, disruput dulu kuahnya karena masih hanas (pakai “h” di depannya…..). Dijamin butir-butir keringat akan muncul sampai membuat gatal di kulit kepala, apalagi kalau suka dengan asesori sambalnya agak banyak. Semangkuk kecil serasa kurang, tapi kalau sebaskom pasti kebanyakan. Jika posisi usus dua belas jari sedang agak longgar, lebih baik pesan sekaligus dua mangkuk, agar waktu jeda antara mangkuk pertama dan kedua tidak terlalu lama. Kalau pesan mangkuk keduanya belakangan, keburu mesin perut dingin dan kehilangan gairah.

Kalau ingin lebih puas lagi, mintalah tambahan suwiran daging ayam goreng. Rajangan atau irisan endhas pitik (kepala ayam) goreng, jerohan atau rempelo, cakar ayam, bisa menjadi asesori tambahan yang membangkitkan selera. Langsung saja dicampurkan ke dalam sotonya. Mak krenyes-krenyes…….

***

Kalau kebetulan mampir di kecamatan Sokaraja, maka banyak pilihan warung soto di sepanjang jalan raya yang melintas kota Sokaraja menuju atau dari Purwokerto. Tapi kalau sudah berada di kota Purwokerto, carilah jalan Bank. Kiranya hampir setiap orang Purwokerto tahu dimana lokasinya. Disebut jalan Bank karena di ujung jalan itu ada museum Bank. Padahal nama sebenarnya adalah Jalan RA. Wirjaatmaja. Tapi justru nama ini kurang dikenal.

Di jalan Bank ini ada beberapa warung soto Sokaraja, dan yang terkenal adalah soto “Sungeb 1”, konon ini yang asli. Tapi ya embuh…, wong sekarang ini siapa saja boleh menggunakan label Asli, bahkan yang imitasi sekalipun. Ada beberapa soto “Sungeb” di jalan Bank yang kesemuanya merupakan generasi penerus dari Pak Sungeb yang sudah almarhum sejak tahun 1997. Kalaupun kesasar memasuki warung soto yang bukan “Sungeb 1”, tidak perlu disesali, sebab krenyes-krenyes dan hoenaknya tetap sama.

Warung soto “Sungeb 1” ini berada di ujung gang kecil. Warungnya juga kecil, seukuran kira-kira 3 x 12 meter persegi, memanjang ke belakang. Tampilan warungnya sederhana dan tidak berkesan resto. Tapi kalau datang pada jam-jam makan siang misalnya, mesti sabar mengantri. Biasanya buka dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam. Tapi kalau ternyata sotonya habis lebih cepat, jangan kecewa kalau jam 19:00 atau 20:00 sudah tutup.

***

Purwokerto lalulintas kotanya cukup padat dengan jumlah penduduknya lebih 300 ribu jiwa. Terletak di kaki gunung Slamet (gunung tertinggi di Jawa), maka udaranya pun cukup segar dan berhawa agak dingin. Banyak jalan-jalan searah kalau siang sampai jam lima sore, setelah itu boleh untuk dua arah. Maka bagi yang pertama kali menginjakkan roda mobilnya ke kota ini terkadang rada membingungkan.

Senyampang sudah berada di Purwokerto, jangan lupakan tempe mendoan dan gethuk goreng Sokaraja. Kawasan di seputaran Purwokerto dan wilayah kabupaten Banyumas dan sekitarnya memang kaya dengan jenis makanan khas. Jika perlu membawa oleh-oleh dari kota ini, tinggal menyesuaikan isi kantong dengan jenis makanan yang akan dibeli.

Gethuk goreng Sokaraja bisa jadi pilihan untuk oleh-oleh. Selain karena relatif tahan lama, juga kandungan singkong dan gula merahnya terasa kenyal-kenyal dan gurih. Seperti didendangkan oleh lagunya Waljinah, gethuk goreng…gethuk goreng Sokaraja…… sing enak rasane….. 

Pilihan lainnya yang jangan dilewatkan adalah tempe mendoan, tempe tipis-tipis dibungkus tepung yang digoreng setengah matang. Dicocol atau disirami dengan kecap atau saus tomat, dan banyak juga yang lebih suka melahapnya dengan nyeplus cabe rawit. Jangan lupa, enak selagi panas. Letak titik kelezatan dan kenikmatannya justru karena megap-megapnya itu….., ketika melahapnya dalam kondisi masih hanas (pakai huruf depan “h”) dan hedas (juga pakai huruf depan “h”), sehingga kedua bibir susah ditangkupkan.

Menungso (manusia) ini memang aneh, membayar untuk megap-megap kepanasan dan kepedasan……

Yogyakarta, 1 Desember 2006
Yusuf Iskandar

Es Campur “Pak San” Cilacap

7 April 2008

Kota Cilacap hari Minggu siang itu terasa sepi, dengan arus lalulintas tidak terlampau padat. Katanya memang seperti itulah suasana keseharian kota itu. Jalan-jalan kotanya cukup lebar dan nampak teratur rapi dan bersih dibanding kota-kota sekelas di daerah lain. Wajar kalau kota ini memperoleh penghargaan atas kebersihan dan kerapihan kotanya. Meski kota industri, tapi bukan kota transit atau kota dagang. Kalau ada orang pergi ke Cilacap, umumnya ya memang tujuannya ke sana, bukan karena kebetulan lewat lalu singgah.

Memasuki jalan protokol Urip Sumoharjo, mengingatkan saya pada bentang tata ruang kawasan Beverly Hills di Los Angeles dimana di sepanjang kiri-kanan jalan ditumbuhi pohon palem. Bedanya, kalau menyusuri Beverly Hills di Los Angeles tampak sebuah kawasan yang berlanskap asri dan rapi dengan rumah-rumah besar dan mewah di antaranya, sedangkan menyusuri jalan Urip Sumoharjo di Cilacap terkesan gersang dengan padatnya bangunan kantor, toko dan rumah tinggal. Kalau di Los Angeles orang-orangnya suka bilang “again”, sedangkan di Cilacap suka bilang “maning”. Jangan-jangan walikota Los Angeles dulu pernah melihat foto Cilacap di kalender, lalu tiru-tiru? Tapi kalau menilik pohon palem yang di Beverly Hills tampaknya lebih tinggi, berbatang besar dan tua, kayaknya sebaliknya, deh….

Di salah satu sudut sisi barat kota (sebenarnya saya agak kesulitan melakukan orientasi arah di Cilacap), ada sepenggal jalan bernama Jl. Wiratno. Nylempit di antara bangunan di sisi barat jalan yg cukup lebar ini, sebuah warung kecil yang jualan es campur. Namanya warung es campur “Pak San”, seperti tertulis pada selembar spanduk dengan warna dasar biru muda, berukuran 1 m x 2 m, dipasang tepat didepan warung, lengkap dengan motto : Gurih + Gandem (mungkin ini satu-satunya es yang rasanya gurih tanpa MSG). Warna biru spanduk ini bisa menjadi tetenger (tanda) ketika hendak menemukan dimana warung es campur “Pak San” berada.

Di warung kecil inilah tersedia es campur yang luar biasa rasanya. Ini bukan bahasa iklan, melainkan karena memang campuran esnya di luar kebiasaan es campur. Sepertinya di tempat lain di dunia ini saya belum pernah menemukan es campur yang ramuannya seperti di warung “Pak San”.

***

Warung es “Pak San” yang sekarang ini merupakan tempat migrasinya yang ketiga sejak dua tahun terakhir. Pengelolanya yang sekarang ini sudah generasi ketiga, alias cucu dari Pak San (sampai saya lupa menanyakan siapa nama lengkapnya Pak San, saking uasyiknya nyruput es…..). Pada tahun 1957, alm. mBah San dulu mulai jualan es campur di Pasar Gede Cilacap sebelum dimoderenkan seperti Pasar Gede yang terlihat sekarang. Usaha es campur itu lalu diteruskan oleh anaknya dan pindah lokasi di Jalan Tendean, juga di Cilacap. Dan terakhir ilmu perescampuran itu diwarisi oleh cucu perempuannya yang kini buka warung di Jalan Wiratno itu.

Hanya sayangnya, masalah tampilan, penyajian dan pengelolaannya kurang tertangani dengan baik, padahal potensinya sangat bagus. Ya maklum….., masih bisa jualan saja sudah syukur, begitu kira-kira jalan pikirannya. Pada hari-hari biasa, paling tidak 100 mangkuk dibeli pelanggan. Ada yang diminum di tempat, banyak juga yang dibawa pulang. Ukuran warungnya memang teramat kecil dan terkesan sumpek. Di dalam warung itu hanya ada 4 meja dan bangku panjang dari kayu. Sangat sederhana dan seadanya. Bagi sebagian orang barangkali akan merasa ogah-ogahan untuk mampir, karena memang kesannya es komboran…..

Apanya yg luar biasa? Es campur “Pak San” ini menggunakan mamahan (bahan campuran) berupa manisan jipang (labu siam) dan belimbing, dicampur kelapa muda, kolang-kaling dan cendol. Semuanya sudah diolah manis, kecuali cendolnya yang tawar. Manisan jipang dan belimbingnya dibuat dengan cara mengiris kecil-kecil buah yang masih segar lalu dijemur, setelah itu baru dibuat manisan (saya tahu karena saya tanya). Pantas saja ketika digigit terasa sensasi kriuk-kriuk dan kremes-kremes, dengan rasa yang sangat khas.

Es campur “Pak San” tidak menggunakan susu kental manis, melainkan diguyur dengan kanil atau santan kental. Barangkali kanil ini yang memberi taste gurih. Setelah ditambah dengan sirup gula pasir (bukan sirup pabrik), barulah kemudian ditimbun dengan es pasah hingga menggunung di dalam mangkuk. Bak fenomena gunung es, ketika bagian puncak esnya masih runcing putih, bagian pinggiran bawahnya ketika dicutik-cutik dengan sendok akan muncullah campuran mamahan es campur yang setelah disruput benar-benar mak nyusss……. Lha wong es….. (kalau air panas ya mak nyosss……. mlonyoh…...).

Sepertinya tidak rugi membayar Rp 4.500,- semangkuk es campur yang rasanya ruarrr biasa. Tidak puas dengan semangkuk di sana, lalu pesan tiga bungkus tanpa es untuk dibawa pulang ke Jogja.

Esok harinya tinggal dicampur es sendiri di rumah. Tapi es pasahnya? Gampang. Kebetulan kulkas di rumah sudah mulai tua dan agak tidak normal bekerjanya, sehingga sering timbul bunga es di kompartemen freezer-nya. Nah, bunga es inilah yang digaruk-garuk dengan sendok oleh anak saya (bapaknya tinggal makan) sehingga diperoleh serpihan-serpihan es seperti hasil dipasah. Ternyata, masih mak nyusss….. juga. Anak-anak pun senang. Ada manfaatnya juga punya kulkas tua.

Kalau ada hal yang mengherankan di balik gunung es campurnya “Pak San” ini, adalah meski sudah berbisnis hampir setengah abad jualan es campur yang terbukti memang Gurih + Gandem (sesuai aslinya ditulis dengan tanda plus), warung itu ya begitu-begitu saja. Penghasilannya pun ya segitu-segitu juga. Tidak pernah (barangkali belum) terbersit niat untuk mematut-matut tampilannya atau memoderenkan manajemennya. Atau pendeknya, merubah “kemasannya”.

Kata sang cucu yang sekarang mengelola warung “Pak San”, sebenarnya sejak ada wartawan yang pernah mengekspose es campurnya yang gurih bin gandem itu, ada pengusaha yang mengajak buka cabang di Jakarta. Tapi ya, itu….., jangan-jangan memang kita ini yang kelewat pintar tapi kurang arif memahami. Baginya……, kersanipun mekaten kemawon….., biarlah begini saja……  

Yogyakarta, 2 Desember 2006
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar