Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , ,

23 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb”

  1. Krebo Says:

    Wah dgr ceritanya aja bikin “cuapek deh” palagi ngelakoninya. . .

  2. Aries 'wong solo' Says:

    Bang Iskandar
    apa yg anda ceritakan tentang perjalanan anda di trans kalimantan balikpapan-berau juga pernah saya alami tepatnya pd thn 1993 waktu berangkat merantau dan 1999 waktu mau pulang ke jawa.
    Kalau di situ anda tulis perjalanan sekitar 20 jam,saya lebih parah lagi.kalau dihitung mungkin sekitar 30jam perjalanan dari “berau -samarinda” dng korban perjalanan: sepatu yg sebelah ilang kecelup lumpur,dorong mobil 11 kali padahal bayar, roti tawar pengganjal perut 3bungkus,3botol besar air mineral(botol yg kosong buat nampung air kencing trus di tumpahin lewat jendela mobil,soalnya mobil gak mau berhenti takut dirampok,trus botolnya disimpan buat di pake lagi,2 tablet obat sakit maag.Yah….itung2 cerita anda mengingatkan sisi getir pengalaman hidup saya,tapi setelah baca tulisan anda satu hal yg bisa saya ambil bahwa segala sesuatu tak hrs di sikapi dng “misuh misuh”.
    Salam kenal dari saya

  3. Aries 'Solo on 7' Says:

    Ternyata apa yg anda alami pd thn 2008 gak ada bedanya dng apa yg saya alami pd thn 1999 cuman kalo dulu saya jarak tempuh +-30 jam dari Berau-Samarinda pluss dorong 11 kali

  4. madurejo Says:

    Mas Aries:
    Wah, ternyata pengalaman Anda lebih hebat lagi ya. Bisa saya bayangkan, kondisi jalur Samarinda – Berau pada tahun-2 itu pasti jauh lebih parah. Tapi nampaknya Anda bisa menikmatinya. Dan itulah yang jadi nilai lebih dari sebuah ‘pengalaman gak enak’ – Salam kenal kembali & terima kasih untuk sharingnya.

  5. silo Says:

    ah, itu mah biasa. kami yg sehari2 menjalaninya seringkali sampai 2 hari baru nyampe samarinda. kalau ukuran jalan bagus di daerah jawa adalah jalanny mulus, tapi kalo didaerah ini ukuran jalan bagus yaitu jalan yang bisa ditembus.

  6. asti Says:

    Terima kasih atas ceritanya. Saya baru mau pindah ke Tanjung Redeb. Membaca cerita ini, bikin saya ancang2 utk gak melakukan perjalanan darat kecuali kepepet 😀

    • madurejo Says:

      Saya tidak tahu perkembangan terakhir. Mudah2an jalan darat sudah lebih baik kondisinya. Kalaupun terpaksa, nikmati saja. Selamat bertugas. Jangan lupa bagi-bagi pengalamannya di sana…. he..he.. Terima kasih & salam.

  7. dr Lilik Hariyanto Says:

    Ass. Salam kenal Pak Yusuf.
    Saya baru saja menuliskan Komentar/Pengalaman saya menyusuri jalan yang sama dengan Pengalaman PakYusuf Desember 2007, di Madurejo WordPress. Saya mengendari Kijang Super tahun 1991. Berangkat hari Minggu 13 Desember 2009 dari Samarinda ke Tanjung Redeb. Kemudian kembali ke Samarinda seminggu kemudian. Asyik juga. Ya terinspirasi de ngan tulisan Pak Yusuf diatas. Tk. Wass.

  8. bakr Says:

    begitulah keadaan jalan trans kaltim, semoga di baca oleh pemerintah propinsi dan pusat, daerah yg byk di kerok hasil tambangnya dan uangnya byk lari ke pusat tapi infrastrukturnya seperti jaman baru merdeka. Kalau perhitungannya di jawa lebih padat penduduk, kapan dong yang di daerah di datangi orang untuk tinggal, orang mungkin lebih memilih jawa di karenakan di jawa lebih baik infrastrukturnya, karena sudah menjadi tradisi di indonesia, banyak penduduk berarti harus lebih dipentingkan. Salah buktinya kalau listrik jawa bali akan mati 1 hari saja, di media akan memajangnya di headline. Di kaltim mah biasa mati listrik media elektronik ngga pernah menyiarkan beritanya. Saya menganggap jaman kemerdekaan sekarang ngga berarti bagi rakyat di daerah, toh kurang lebih dengan jaman penjajahan belanda, mengeruk hasil bumi, tanpa imbalan yang sepadan.

    visit http://kotabalikpapan.wordpress.com

  9. heru Says:

    perjalanan yg mengasyikkan,penuh tantangan seperti medan offroad. pernah saya alami saat perjalanan kedua saya ke berau ,waktu itu sekitar tahun 2003.karena penasaran jalur darat.(perjalanan pertama tahun 2001 naik kapal teratai dari samarinda) kalau ingat waktu itu seakan ingin mengulanginya lg.pake kijang kotak lagi. seru……….

  10. nita Says:

    perjalanan Tg redeb-smd atw Smd-Tg redeb sudah jadi makanan saya beberapa tahun ini karena saya tinggal di Tanjung redeb dan kuliah di samarinda, jd mau gak mau harus dibiasakan dengan kondisi jalan yg seperti itu, itung-itung pengalaman karena saya belum pernah melakukan perjalan lewat derat selama itu. Pengalaman ini saya alami sekitar tahun 2006 atw 2007 deh… Waktu itu kami harus mengantri untuk melewati jalan tersebut, sampai harus bermalan di dalam mobil n ditengah hutan pula…, keesokan harinya sekitar jam 8 pagi barulah tiba giliran mobil kami yang akan ditarik oleh mobil pik up… tak disangka dan tak diduga ternyata tali yg menarik mobil kami itu putuuuusss padahal didalam mobil hanya berisi 4 org saja, kami mo turun dari mobil sdh tdk bisa lgi karena lumpurx setinggi jendela mobil, setelah menunggu agak lama dapat juga tali yg agak besar dan mulailah saat-saat yg mendebarkanitu lagi, mobil kami ditarik mobil box dan alhamdulillah mobil kami terbebas dari jebakan lumpur yg cukup dalam…..
    itulah pengalaman saya yg sangat berkesan, seru dan sekaligus mendebarkan….! ^_^

  11. Rusman Says:

    thanks sudah berbagi pengalaman..saya juga sempat mengunjugi kota ini sekitar tahu 2008….tapi saya menggunakan speedboat dari tarakan dan lanjut perjalanan darat dari tanjung selor…salam

  12. Barkati Says:

    Ternyata pengalaman yang anda rasakan kurang lebih sama, tapi saya pertama kali ke Berau thn 1999 sampai 2004 menjadi jalur yang sering saya lewati melalui jalur darat maupun laut, waktu itu memang masih ad transportasi jalur laut yang bernama kapal Teratai dan akan lengkap pengalaman jika mencoba jalur laut, Memang jauh sekali jarak menuju Tanjung Redeb kalo saya perkirakan kira” 1 hari 2 malam dlm perjalanan. Tapi sekarang sudah enak bisa ditempuh dgn pesawat dari Samarinda.

  13. ridwan Says:

    jalan Bontang-Berau tahun 1996 jauh lebih baik daripada saat ini , saat itu mobil bisa lancar tanpa hambatan.. walaupun hanya berupa jalan tanah merah bercampur bebatuan, tapi th 2010 saat saya coba bawa kendaraan sendiri bersama keluarga ..ampuun. Jalan rusak parah.. mobil mengular sekitar 2 km karena tidak dapat melewati jalan yg rusak bahkan ada kendaraan yg sudah 2 hari tdk mampu lewat… Akhirnya saya putuskan lewat jalur alternatif .. mengikuti mobil lain yg sdh biasa melalui jalur tersebut.. , hasilnya alhamdulillah kami bisa sampai di muara wahau walau harus menempuh perjalanan 12 jam!. Dan harus menginap di sebuah penginapan utk beristirahat kmudian besoknya melanjutkan perjalanan ke Tj Redep. kami brangkat dari M .Wahau jam 9 pagi & tiba di Tj Redep jam 10 malam ..kok lama ? iya..karena jalan bebatuan yg tajam dari kelay ke Tj redeb sempat merobek ban kijang LGX ini. Belum lagi jalan sempit yg ada dipinggir gunung harus dilalui extra hati2 krn sdh mulai lonsor. Akhirnya,, Keluarga ..kapok dan milih mbalik ke BTG pake pesawat lewat Samarinda hehehe,

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pengalaman yang menarik dan mengasyikkan tentunya. Di sisi lain kita prihatin dengan kondisi jalan yang sesungguhnya merupakan urat nadi kehidupan dan pertumbuhan ekonomi kawasan itu. Terima kasih telah berbagi pengalaman. Slm

  14. muhammad nur Says:

    Boleh nanya bbm abis berapa liter selama perjalanan.. Plus tmpt mampir beli bbm..

  15. leo Says:

    alhamdulillah sekarang sangatta sudah rame kok..warung dan toko yg 24 jam ada..cuma klo pom bensin belum ada yg 24 jam,setau saya sekarang perjalanan dari sangatta berau sudah aman terkendali bahkan sudah ada bus damri yg jurusan kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: