Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau

PerahuSebagai ibukota kabupaten Berau, Tanjung Redeb hanyalah sebuah kota kecil. Tidak perlu waktu lama untuk berkeliling melewati semua jalan yang ada di kota itu. Belum terlalu padat penduduknya. Demikian halnya lalulintas kota Tanjung Redeb relatif masih belum padat. Kalau sesekali tampak kesemrawutan lalulintas kotanya, itu seringkali karena ulah pengendara sepeda motor yang (sepertinya sama di hampir setiap kota) “belum pernah” belajar sopan santun berlalu lintas.

Saya ingin memberi penekanan pada kata “belum pernah”. Coba perhatikan proses seseorang sejak memiliki sepeda motor hingga ber-SIM di jalan raya. Sama sekali tidak ada tahap mempelajari tata tertib atau lebih lazim disebut sopan santun berlalulintas. Meski sebenarnya bukan monopoli pengendara sepeda motor saja, juga sopir-sopir mobil.

Tanpa mempelajari aturan berlalulintas pun siapa saja dapat memiliki SIM. Akibatnya? Rambu-rambu lalulintas ya hanya sekedar hiasan jalan. Piranti lampu sign ya hanya sekedar asesori sepeda motor. Sampai-sampai di Banjarmasin pak polisi perlu memasang spanduk di mana-mana yang mengingatkan agar menghidupkan lampu sign ketika belok. Atau di Jogja banyak sepeda motor tanpa lampu berkeliaran di malam hari. Ngebut lagi! Uedan tenan! (pernah saya singgung, wong sepeda motor tidak ada lampunya kok dibeli……)

***

Meski hanya sebuah kota kecil, kini Tanjung Redeb dan Berau sedang menggeliat. Pasalnya kota ini dipilih menjadi salah satu lokasi untuk ajang Pekan Olahraga Nasional ke-17 pada bulan Juli tahun 2008 ini, dimana provinsi Kaltim menjadi tuan rumah. Hampir di setiap sudut kota, terlebih jalan-jalan protokol, sedang dibenahi. Kondisi jalannya, trotoarnya, saluran airnya, dan berbagai fasilitas kota sedang direnovasi dan ditata agar tampil lebih baik.

Tanjung Redeb khususnya dan kabupaten Berau pada umumnya, memang sudah sepantasnya melakukan itu. Kabupaten ini memiliki pesona wisata yang luar biasa yang belum digarap maksimal oleh penguasa setempat. Keindahan alamnya, baik di darat maupun di laut dengan wisata baharinya. Wisata sejarah dan budaya dari sisa peninggalan kerajaan Berau serta museumnya. Juga masih bisa dijumpai jejak peninggalan jaman Belanda. Semuanya menawarkan pesona wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Tanjung Redeb yang letaknya berada di dekat muara sungai Berau, dari sana mudah untuk menjangkau kawasan pulau Derawan dan Sangalaki yang terkenal memiliki keindahan alam laut dan bawahnya. Sebagian wisatawan menyebutnya sebagai sorga bawah laut terindah di dunia. Tentu ini adalah ekspresi untuk melukiskan betapa keindahan yang ditawarkan oleh pesona alam di daerah ini. Belum lagi kekayaan biota laut dan keindahan ekosistem kelautan yang banyak dikagumi oleh para wisatawan.

Kawasan kepulauan Derawan ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari ratusan buah pulau yang berada di delta sungai Berau. Sebagian sudah bernama, sebagian lainnya belum punya nama. Mudah-mudahan saja pemerintah Berau mampu mengurusnya agar tidak dicaplok oleh negeri jiran seperti nasib tetangganya, pulau Sipadan dan Ligitan, hanya karena pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu mengurusnya.     

Hutan yang ada di wilayah kabupaten Berau termasuk yang terbesar yang masih utuh di Indonesia. Salah satu tipe hutan yang istimewa di Berau adalah hutan kapur dataran rendah. Tipe hutan ini hanya ada di Kalimantan Timur, sementara yang ada di tempat lain kondisinya sudah tidak sebaik yang ada di Berau. Keistimewaan lain kabupaten Berau adalah masih dijumpainya populasi orangutan. Bisa jadi kawasan ini kelak akan menjadi benteng pelestarian orangutan alami, agar tidak semakin punah populasinya.

Menilik sejarah pemerintahan di jaman baheula, kerajaan Berau berdiri pada abad 14 dengan rajanya yang memerintah pertama kali adalah Baddit Dipattung yang bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan permaisurinya bernama Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri. Dalam perjalanan pemerintahan kerajaan Berau kemudian, hingga pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini masih dapat disaksikan peninggalan bersejarah kesultanan keraton dan museum Sambaliung dengan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1902-1959).

Kalau saja memiliki waktu agak longgar berada di Tanjung Redeb, rasanya sayang kalau tidak menyempatkan mengunjungi berbagai obyek wisata di sana. Ada pesona wisata yang belum banyak terjamah oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tinggal pintar-pintar saja bagaimana pemerintah Berau menjualnya.

Di Tanjung Redeb tidak sulit menemukan tempat untuk menginap. Kota ini juga memiliki banyak pilihan penginapan, mulai dari hotel kelas bintang, melati hingga kelas backpakker yang murah-meriah.

Untuk mencapai Tanjung Redeb pun tidak terlalu sulit. Meskipun belum ada pesawat besar yang menyambangi, setidaknya pesawat kecil masih midar-mider baik langsung dari Balikpapan maupun melalui Tarakan lalu disambung dengan kapal ferri. Mau mencoba lewat darat menyusuri jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb juga bisa jadi petualangan yang mengasyikkan. Mudah-mudahan kelak tidak perlu lagi 20 jam lewat darat, untuk menikmati pesona wisata yang luar biasa yang ditawarkan kabupaten Berau.

Yogyakarta, 12 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: