Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

masjidWilayah kabupaten Berau yang luasnya sekitar 34 ribu kilometer persegi dan kini barangkali hanya dihuni oleh sekitar 150 ribu jiwa penduduknya, relatif merupakan kawasan yang masih sangat longgar. Sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di wilayah ibukota Tanjung Redeb. Kecepatan pertumbuhan kotanya banyak dipengaruhi oleh karena banyaknya kaum pendatang. Mayoritas masyarakat etnis Bugis dan Jawa berada di kawasan ini, sedangkan sisanya adalah campuran antara penduduk asli suku Banua, etnis Cina dan pendatang lainnya.

Semula saya mengira penduduk asli Berau adalah suku Dayak, tapi rupanya dugaan saya keliru. Penduduk asli Berau adalah suku Banua yang merupakan turunan dari suku bangsa Melayu. Memang di bagian pedalaman wilayah Berau juga dijumpai komunitas suku Dayak, seperti hanya pedalaman Kalimantan di wilayah lainnya.

Pusat kota Tanjung Redep ditandai dengan adanya kawasan perkantoran bupati Berau yang cukup mentereng. Ada taman kota Cendana yang asri di depan kompleks kantor bupati. Juga ada masjid agung Baitul Hikmah yang tergolong megah dengan dominasi warna hijau dan dengan lima buah menaranya. Kemegahan masjid ini mengingatkan saya pada kemiripannya dengan masjid di kota Tanah Grogot ibukota kabupaten Pasir, dan dalam ukuran lebih besar adalah masjid Islamic Center di kota Samarinda.

Salah satu menara masjidnya yang konon tingginya mencapai 70 meter, sebelumnya sering dimanfaatkan masyarakat untuk wisata angkasa (maksudnya melihat pemandangan dari ketinggian). Mbayar, tentu saja…. Tapi gara-gara sekarang menara itu dihuni secara liar oleh ribuan burung walet untuk menyimpan sarangnya, dan konon ada ratusan sarang walet nyangkut di dinding menara yang siap dipanen setiap bulan, maka wisata ketinggian pun bubar. Untung saja pihak pengelola masjid tidak berniat membangun menara lagi agar dapat menampung lebih banyak burung walet……
Kalau kini melihat geliat ekonomi di Tanjung Redeb semakin pesat, itu antara lain berkat naluri bisnis para pendatang yang mengimbangi pertumbuhan sektor industri yang didominasi oleh industri perkayuan dan pertambangan batubara.

Seperti diketahui bahwa wilayah di provinsi Kalimantan Timur ini juga kaya akan sumberdaya alam batubara, selain minyak. Dan kabupaten Berau adalah salah satu kabupaten yang juga menyimpan kekayaan alam batubara. Sebuah perusahaan batubara, PT Berau Coal, kini masih aktif beroperasi di wilayah itu. Untuk alasan yang masih terkait dengan batubara pula saya jauh-jauh menjelajah ke wilayah Berau.

Menjadi harapan semua pihak tentunya agar kekayaan alam yang luar biasa itu mampu dikelola dengan arif dan bijaksana oleh pihak penguasa setempat demi kesejahteraan masyarakat Berau, bukan hanya pejabatnya. Sudah cukup banyak pelajaran serupa yang terjadi di tempat lain. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pemerintah Berau.  

***

Salah satu sentra keramaian di Tanjung Redeb adalah kawasan yang disebut dengan Tepian. Ini mirip-mirip Tepian di Samarinda, hanya beda luas dan panjang arealnya. Sesuai namanya, kawasan ini memang berada di tepi sungai Segah, atau terkadang disebut sungai Berau yang lebarnya lebih 100 m dan tinggi muka airnya kurang dari satu meter dari daratannya. Makanya di sepanjang tepian ini sekarang sudah dibangun tanggul tembok guna mengatasi air pasang. Sungai Segah atau sungai Berau ini merupakan pertemuan dari dua buah sungai besar yang mengalir di wilayah kabupaten Berau, yaitu sungai Kelay dan Segah.

Kawasan Tepian ini panjang arealnya hanya beberapa ratus meter saja. Tapi setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati aneka jajanan makanan dan minuman sambil bersantai menikmati pemandangan malam sungai Segah yang sebenarnya remang-remang tapi tampak kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Terlebih saat malam Minggu tiba, kawasan ini seperti pasar malam. Ini memang tempat mangkalnya anak-anak muda Berau. Jalan A. Yani yang membentang di sepanjang tepian sungai pun jadi padat.

Di sebelah selatannya adalah kawasan pasar, orang menyebutnya pasar Bugis karena memang banyak pedagangnya yang berasal dari Bugis. Sedangkan pada penggal jalan di sebelah utaranya adalah tempat berkumpulnya puluhan warung tenda yang menyediakan segala macam menu makanan. Warung-warung tenda ini juga buka hanya pada waktu sore hingga malam hari. Menilik tulisan warna-warni yang ada pada setiap kain penutup warung tenda itu mudah ditebak bahwa mereka pasti pedagang pendatang dari luar Berau.

Pada sekitar awal dekade tahun 70-an, diantara para pendatang dari Sulawesi masuk ke Berau dengan becaknya (maksudnya merantau untuk menjadi tukang becak, kalau datangnya ya naik kapal…..). Pendatang dari Jawa pun tidak mau kalah menyemarakkan dunia perbecakan di Tanjung Redeb. Namun belakangan pemerintah Tanjung Redep mulai merasa risih melihat bahwa populasi becak semakin tidak terkendali.

Dan, ketika masyarakat pembecak berinteraksi dengan para penyepedamotor, ditambah kurang sopannya berlalulintas di tengah kota, maka lalulintas kota pun terlihat semakin semrawut. Becak terpaksa dikalahkan. Pemerintah akhirnya memutuskan menghapus becak dari bumi Tanjung Redep. Maka sejak dua-tiga tahun yang lalu, kota Tanjung Redeb yang dijuluki sebagai kota “Sanggam” yang katanya berarti cantik, pun menjadi kota tanpa becak.

Namanya juga becak, jarang ada yang parasnya cantik (apalagi tukang becaknya…..), sehingga bak penampakan dari dunia lain, becak dianggap mengganggu upaya Tanjung Redeb untuk menjelma tampil cantik, atau “sanggam” seperti julukannya. Kalau ada kota di dataran rendah yang tidak ada becaknya, maka Tanjung Redeb adalah salah satunya.

Yogyakarta, 13 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb”

  1. kangdiqin Says:

    salam knl..dari orang sragi pekalongan..angka pengangguran apa ndak bertambah tu..

  2. madurejo Says:

    Salam kembali Kang Diqin. Lebih repot lagi ibu-ibu yang mau ke pasar tapi tidak ada angkutan kota dan tidak bisa naik sepeda motor, terpaksa jalan kaki dulu, deh……

  3. abel Says:

    numpang nih…saya juga termasuk penduduk yang tinggal di berau lho…dengan tidak adanya becak sepertinya fine2 saja kok kota berau..hehehe…karena tingkat ekonomi masyarakatnya juga ga terlalu miskin..buktinya beras miskin yang ada dikelurahan saja masih banyak sekali yang tersisa..ini membuktikan bahwa penduduk berau gengsi makan beras miskin.hehehe

  4. madurejo Says:

    Mas Abel,
    Sebagai warga Berau tentunya Anda lebih paham dan bisa merasakan kehidupan keseharian di sana. Banyak terima kasih tambahan infonya. Bagaimanapun juga ini adalah bagian dari keanekaragaman negeri tercinta. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: