Sepotong Roti

Jam limo keliwat limo (05:05) pagi, sepur Argo Dwipangga jurusan Solo – Jakarta memasuki statsimun Jatimanaraga (Jatinegara, mangsudnya…..). Saya terbangun dari mimpi karena selimut pinjaman pramugari sepur ditarik-tarik sama yang tadi meminjaminya, sesaat sebelum kereta memasuki Jatinegara. “Hampir sampai…..”, katanya seperti terburu-buru sembari tidak perduli.

Mata masih agak siut-siut, antara melek dan merem. Saya lihat jatah konsumsi yang disuguhkan pramugari kereta api tadi malam masih utuh terselip di depan saya. Secepat kilat saya sempat berpikir lugu, kalau jatah makanan itu tidak saya makan sementara sepur keburu berhenti di Gambir, maka makanan itu jadi mubazir. Kereta api akan segera dibersihkan lalu sampahnya dibuang oleh tukang bersih-bersih kereta api.

Sebenarnya perut saya tidak lapar-lapar amat. Namun dengan pertimbangan kilat daripada mubazir itu, akhirnya saya ambil kardus jatah konsumsi di depan saya. Saya buka isinya ternyata dua potong roti dalam bungkus plastik tersimpan dalam sebuah kardus besar. Sebenarnya, ukuran kardusnya tidak proporsional dengan ukuran rotinya. Ya sudahlah. Barangkali kardusnya sudah telanjur lebih dahulu dicetak banyak-banyak pada akhir tahun anggaran setahun yang lalu, sementara isinya baru dipesan kemarin sesuai dengan kondisi dan situasi ekonomi “oknum” jawatan persepuran pada saat memesan roti.

Tanpa pikir panjang lagi, sepotong roti saya kunyah habis. Lalu potongan kedua menyusul lhek demi lhek….. Akhirnya kedua potong roti pun bablas tinggal kardus kosongnya. Bersamaan tertelannya kunyahan terakhir…..lhek….., muncul anak laki-laki kecil berpakaian lusuh, usia bangsa 12 tahunan sebaya anak kedua saya, masuk menyusuri gerbong di belakang para porter yang menawarkan jasanya.

Sembari tolah-toleh serong ke kiri dan serong ke kanan, lalu anak itu berhenti di seberang tempat duduk saya, dan ngomong kepada penumpang yang juga masih terkantuk-kantuk di sana. Si anak bertanya kepada penumpang di seberang saya : “Om, rotinya boleh untuk saya?”.

Mak deg atiku….., mendengar pertanyaan memelas anak itu. Setelah diiyakan oleh yang punya roti, si anak pun secepat kilat menyambarnya dan ngeloyor pergi.

Saya ngong-bengngong….., lha barusan kunyahan terakhir masuk ke tembolok saya, ndadak ada anak kecil pagi umun-umun minta roti di sebelah saya. Sementara kedua anak saya di Yogya barangkali masih bobok manis menjelang berangkat ke sekolah, tanpa kurang suatu rotipun jua.

Mestinya….., perut anak itu lebih membutuhkan dua potong roti yang telanjur saya makan tadi daripada perut saya…… Kalau saya mau agak bersabar sedikiiiit saja, mestinya saya tahu bahwa tidak ada yang mubazir di dunia fana ini…..

Jakarta, 8 Mei 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: