Scoleciphobia

Misty Chapell sempat kamitenggengen (tertegun seperti tidak percaya), menatap seonggok cacing yang tampak pating krungkel (saling belit-membelit menjadi satu). Bukan karena kaget atau kagum, melainkan karena dia harus segera memakan cacing-cacing itu. Ya, Misty mesti mengambil cacing-cacing itu, lalu mengunyah dan menelannya. Rasa jijik, kotor, mau muntah, mual, jorok, bercampur menjadi satu.  

Mula-mula Misty merasa begitu tegar, sedikitpun tidak ada rasa takut atau khawatir. Ia menyangka akan mudah melakukan hal itu. Namun menjadi lain ceritanya, ketika dia harus menjadi orang pertama yang memakan cacing-cacing itu, mendahului dan disaksikan oleh rekan-rekannya. Ia begitu kaget menjadi orang pertama yang harus melakukannya.

Adegan di atas bukanlah kisah fiksi dalam sebuah film, melainkan benar-benar terjadi dan harus dilakukan oleh Misty tahun lalu. Misty Chapell adalah satu dari enam orang peserta kontes melawan rasa takut. Sebuah kontes adu berani dan adu nekad yang terkenal dengan nama “Fear Factor”. Acara ini diselenggarakan oleh stasiun televisi NBC yang secara rutin mengadakan kontes ini dan ditayangkan di televisi. Kini acara itu dapat disaksikan melalui saluran televisi AXN.

Setiap peserta dari setiap kontes “Fear Factor” dituntut keberaniannya untuk melakukan berbagai hal yang seringkali tampak rada gila, nekad, dan enggak masuk akal. Termasuk diantaranya harus makan cacing atau kecoa hidup, meloncat dari helikopter, meluncur dari ketinggian dengan kaki diikat dan kepala di bawah, meniti papan dengan sepeda menyeberangi atap dua gedung tinggi, telanjang di tempat umum, makan jeroan kambing atau ikan mentah, menelan telur busuk yang sudah disimpan lama, diseret kuda, dikerubuti tikus atau lebah, menyelam, dan macam-macam ide gila lainnya.

Tapi, lha wong namanya lomba, mau tidak mau setiap peserta harus melakukannya. Atau jika tidak, artinya mundur menyerah atau kalah. Dan kehilangan kesempatan untuk membawa pulang hadiah uang tunai US$50,000, kalau menang.

Lalu bagaimana Misty harus melakukan pekerjaan yang bagi orang waras tentu sangat menjijikkan itu?. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, namun Misty langsung saja memasukkan semua cacing-cacing itu ke dalam mulutnya sampai mucu-mucu (mulutnya menggembung karena kepenuhan), lalu mengunyahnya. Dia kesulitan untuk menelannya karena mulutnya kelewat penuh. Dia merasa seperti keseredan (ada yang nyangkut di tenggorokan), tapi dia terus mengunyah dan mengunyah, sementara cacing-cacing itu masih terus bergerak dan tidak mati di dalam mulutnya.

Akhirnya semua cacing itupun ditelannya. Dan, Misty tersenyum penuh kemenangan. Satu tahapan adu keberanian telah berhasil dilakukannya. Setiap peserta dalam setiap kontes “Fear Factor” harus melalui tiga tahapan adu keberanian yang jenisnya dirahasiakan hingga saatnya lomba akan dimulai.

“Fear Factor” adalah sebuah acara televisi sungguhan yang dapat diduga memang penuh dengan nuansa entertainment. Berbeda dengan sebuah buku yang berjudul sama “The Fear Factor” karya Dr. Barry S. Philipp yang lebih bernuansa ilmiah, kajian atas berbagai hal tentang rasa takut atau phobia.

***

Sebenarnya tidak hanya kaum perempuan, banyak pula kaum laki-laki yang mempunyai perasaan yang sama terhadap cacing. Jangankan memakannya, menyentuhnya pun tidak semua orang merasa nyaman melakukannya. Kecuali mereka yang dulu waktu di kampung hobinya mancing dengan menggunakan cacing sebagai bangi atau umpannya.

Orang yang takut dengan cacing disebut juga Scoleciphobia atau Vermiphobia. Sedangkan kalau merasa sampai kelewat takut diganggu atau diserang cacing disebut juga Helminthophobia. Dalam istilah bahasa Inggris, rasa takut cacing (worm) ini terkadang juga disebut Wormophobia. Misty Chapell dalam kisah di atas tentu tidak termasuk sebagai penderita Scoleciphobia. Tidak saja karena tidak takut atau jijik dengan cacing, malah cacingpun dimakannya.

Para penderita Scoleciphobia tentu tidak cocok kalau harus mengembangkan bisnis ternak cacing. Tidak juga menguntungkan bagi mereka yang hobi berkebun atau menanam bunga. Hal ini akan bertentangan dengan hobinya tanam-menanam karena cacing justru sangat dibutuhkan oleh media tanam dalam sangat bermanfaat dalam menyuburkan tanah.

Penyakit Scoleciphobia atau Vermiphobia ini tentunya tidak dikenal oleh orang-orang desa yang umumnya bekerja sebagai buruh tani. Cacing sudah menjadi bagian dari hidup kesehariannya. Dengan kata lain, munculnya rasa takut atas sesuatu itu biasanya sebagai akibat dari situasi atau kebiasaan yang tanpa disadari telah terkondisikan sejak kecil sehingga demikian tertanam kuat dalam alam bawah sadarnya. Coba saja, biasakan anak kita diberitahu : “Di situ gelap, nanti ada hantunya”, dan kata-kata sejenis lainnya yang menjadi semacam afirmasi. Maka kelak si anak akan memetik buahnya, benar-benar menjadi takut dan perlu waktu lama untuk bebas darinya.

Takut cacing sebenarnya adalah rasa takut yang wajar, sebagaimana dialami oleh manusia dengan berbagai rasa takut yang berbeda-beda. Ada ratusan jenis rasa takut atau phobia sejenis ini, termasuk takut kecoa , takut hantu, takut tampil di depan umum, takut sakit, takut ketinggian, takut gelap, takut sex, takut jalan sendirian, dsb. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan monopoli jenis kelamin tentang siapa penderitanya. Siapapun bisa mengalami salah satu rasa takut. Takut apa saja.

Dalam bahasa politik, bebas dari rasa takut merupakan hal elementer yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bebas dari rasa takut adalah satu dari hak asasi manusia yang (semestinya) tidak boleh direnggut atau diberangus oleh siapapun juga dari diri seseorang. Tapi, lha wong namanya politik, buku sejarah dunia ini justru penuh oleh peristiwa-peristiwa yang asal-muasalnya berhubungan dengan kebebasan atas rasa takut.

Dijaman modern ini, urusan bebas dari rasa takut yang menjadi salah satu hak asasi manusia ini sudah ada wadahnya, yaitu Komnas HAM atau Amnesty International. Tapi ya jangan coba-coba kalau Anda takut cacing lalu pergi melapor ke Komnas HAM. Jangan-jangan malah Komnas HAM-nya nanti yang takut kepada Anda dan lari terbirit-birit.

Kalau ada rasa takut yang justru harus dijaga, dibina dan dipertahankan, maka itu adalah takut kepada Tuhan. No question asked!

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: