Sambil Menyelam Minum Air, Antara Penajam – Kariangau

Tengah hari di bulan lalu, di kapal fery dalam penyeberangan dari Penajam menuju Kariangau, Balikpapan. Duduk di salah satu bilik dek penumpang sambil menonton acara televisi yang terkadang gambarnya jelas terkadang blawur. Nonton TV yang dipaksakan. Sebab di sisi kiri dek ada yang buka counter jualan kaset, CD, VCD dan sebangsanya, dengan alat peraganya adalah (juga) televisi dan sistem tata suara yang disetel dengan volume tak kira-kira. Mendingan kalau sound system-nya baru diperbaiki seperti pentas “Sejati”, Emang bikin bangga….. Lha ini, ngudubilah budek kupingku……! Tapi, ya itulah pilihannya.

Di bilik dek penumpang sebelahnya yang agak luas, penumpangnya tidak terlalu penuh. Di sana sedang diperagakan oleh seorang awak kapal, tentang tata cara penggunaan alat pelampung. Ini dia….! Seingat saya, sebelumnya saya belum pernah menyaksikan peragaan busana baju musim keadaan darurat di air, di atas kapal penyeberangan.

Saya sempatkan untuk mengikuti agenda penting ini. Sebentar saja. Meski sudah berkali-kali saya mengalami ritual semacam ini setiap kali naik pesawat, namun tetap saja agenda ini tidak saya lewatkan. Tujuan saya satu. Bukan ingin tahu bagaimana cara menggunakannya. Sebab saya pikir tidaklah jauh berbeda dengan alat pelampung di pesawat, atau pernah juga terlihat di kolam renang (hasil kreatifitas oknum tidak bertanggugjawab….., maksudnya penumpang pesawat yang minta bonus dengan cara mencuri alat pelampung di pesawat).

Tujuan saya mengikuti agenda ini adalah ingin tahu di mana alat pelampung itu diletakkan. Sehingga kalau-kalau terjadi keadaan darurat di air, tahu mesti bergerak kemana untuk mengambilnya. Pasti tidak di bawah tempat duduk, wong di bawah tempat duduknya bisa untuk brobosan…..

Namun huerannya…. Pertama, meski acara penting sedang berlangsung, suara musik dari tukang jual kaset di dek sebelahnya tetap saja jedag-jedug… bunyinya. Kedua, tidak semua penumpang tertarik untuk mendengarkan penjelasan awak kapal. Malah sebagian penumpang memilih berdiri di pinggir luar sambil melihat pemandangan laut. Padahal mereka pastinya tidak membeli tiket berdiri seperti di kereta api.

Meskipun tidak ada aba-aba “tegakkan sandaran kursi dan kencangkan sabuk pengaman”, mestinya agenda ini tidak ditinggalkan. Bagi awak kapal tentu memerlukan persiapan sungguh-sungguh untuk menyelengarakan acara “baru” semacam ini. Demi keselamatan penumpang. Saya tidak tahu apakah di kapal-kapal penyeberangan yang lain juga ada ritual yang sama. Mestinya tragedi KM Senopati memberi hikmah pelajaran sangat berharga. Terlebih, yang terakhir tragedi tenggelamnya bangkai KM Levina I yang memakan korban wartawan TV dan anggota Puslabfor.

***

Saya memang hanya menyempatkan mengikuti acara penting ini sebentar saja. Kenapa hanya sebentar? Ya karena acaranya memang sebentar. Selebihnya yang lama justru acara ikutannya, dimana forum itu lalu dimanfaatkan sebagai media promosi. Bergantian para SPM (Sales Promotion Man) bak tukang obat menawarkan barang dagangannya. Mendingan kalau SPG kemayu berrok mini…….. Entah barang apa yang ditawarkan, saya tidak lagi tertarik mengikutinya. Lebih baik “terpaksa” nonton televisi bergambar blawur dengan iringan musik jedag-jedug….

Tidak salah juga sebenarnya memanfaatkan forum umum untuk promosi, sepanjang masih dalam koridor “fair play business”. Bagi pelaku bidang pemasaran, ini adalah peluang untuk menjual. Bagi pengusaha kapal, saya tidak tahu apakah ada fee yang diterima dari penjaja dagangannya, atau justru ini usaha sampingannya sang pengusaha kapal. Sekedar memanfaatkan momen opportunity, menangkap peluang bisnis. Seandainya saya jadi pengusaha kapal, sah-sah saja rasanya kalau saya juga buka counter swalayan di atas kapal dan berpromosi kepada para penumpang saya.

Barangkali bak kata pepatah, sambil menyelam minum air. Hanya masalahnya, pengusaha kapal yang menyelam, tapi penumpangnya yang kelhegen (terminum) air…….. 

Yogyakarta, 28 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Sambil Menyelam Minum Air, Antara Penajam – Kariangau”

  1. sigit Says:

    Lucu juga ceritanya pak… b the way… pelampung untuk kapal penumpang ferry biasanya disimpan di lemari atau kotak penyimpanan di dekat lokasi televisi pak dan peragaan pemakaian pelampung diwajibkan oleh dirjen perhubungan darat… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: