Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(1).   Pergi Ke Rantau

Sebenarnya hari masih belum sore-sore amat ketika saya mendarat di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang terletak di Kotamadya Banjarbaru, Senin, 24 Juli 2006 yang lalu. Hanya karena propinsi Kalimantan Selatan ini masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah, maka sepertinya hari sudah sore karena sudah jam limo keliwat limo, meski arloji saya masih menunjukkan jam enambelas lebih lima menit, waktu Yogyakarta. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di bumi Kalimantan. Jejakan pertama begitu menggoda, selebihnya tidak akan saya sia-siakan dengan banyak jejakan seminggu ke depan.

Sambil menunggu mobil jemputan, kami (saya dan beberapa teman) ngopi dulu di sudut pintu keluar bandara. Sekira setengah jam kemudian barulah kami meninggalkan bandara dan langsung meluncur ke arah utara. Berarti juga menjauh dari kota Banjarmasin yang berada kira-kira 25 km ke arah barat dari Banjarbaru. Kami terus melaju ke arah utara melewati kota Martapura. Kota Banjarbaru dan Martapura yang berjarak sekitar tiga kilometer sepertinya sudah menjadi satu kawasan kota besar. Martapura yang ketika di sekolah dulu dikenal sebagai kota penghasil intan, seakan tidak lagi mengesankan sebagai sebuah kota tambang melainkan sebuah kota yang sedang beranjak tumbuh dan padat penduduknya. Selain di buku-buku ilmu bumi dulu dikenal sebagai kota intan, di Kalimantan kini Martapura juga dikenal sebagai kota santri.

Hari sudah mulai benar-benar senja saat meninggalkan kota Martapura dan terus melaju ke arah utara mengikuti jalan Trans Kalimantan. Hari semakin gelap, tapi lalulintas di jalan yang beraspal mulus masih terlihat padat. Semakin malam semakin padat dengan puluhan bahkan mungkin ratusan truk pengangkut batubara. Kami berpapasan dengan truk-truk yang sedang mengangkut batubara dari banyak lokasi tambang di wilayah Kalimantan Selatan yang sedang menuju ke pelabuhan sungai, Trisakti, di Banjarmasin. Konvoi truk-truk pengangkut batubara itu memang hanya diijinkan melewati jalur lalulintas umum hanya pada malam hari. Para sopir truk pun seakan berkejaran agar bisa mengangkut batubara sebanyak-banyaknya untuk ditumpahkan ke dalam tongkang yang sudah menanti di pelabuhan, sebelum ayam jantan berkokok di pagi hari. Tidak mau kalah dengan Bandung Bondowoso yang mengejar menyelesaikan seribu candi.

***

Malam itu kami pergi ke Rantau. Rantau adalah ibukota kabupaten Tapin, satu dari sebelas kabupaten yang ada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dari Martapura menuju Rantau ditempuh selama kurang-lebih dua jam perjalanan melintasi jalan darat sejauh kira-kira 70 km. Sudah lewat jam tujuh malam ketika akhirnya kami tiba di Rantau, melewati beberapa wilayah kecamatan, antara lain Binuang.

Kota kecamatan Binuang terkenal dengan produk makanan khasnya yaitu selai pisang rimpi. Nama kota kecil ini cukup dikenal oleh mereka yang sering berkunjung ke Kalsel, meski tidak semuanya tahu kalau ada produk makanan khas hasil olahan dari buah pisang. Pisang merupakan salah satu produk pertanian yang memang banyak dihasilkan di Binuang dan umumnya sebagian wilayah Kalsel. Dan produk selai pisang Binuang pun dikenal dengan sebutan rimpi Binuang. Meski saya tidak sempat berhenti membeli oleh-oleh di Binuang (wong baru saja menginjakkan kaki, kok sudah beli oleh-oleh…..) karena hari sudah gelap, tapi akan saya catat siapa tahu pada kesempatan lain saya sempat mampir untuk mencicipinya.

Rantau hanyalah kota kecil yang tidak terlampau padat penduduknya, dan di sanalah malam itu kami bermalam. Kota ini sengaja dipilih karena kebetulan ada seorang teman yang tinggal di sana, sekalian bersilaturahmi dengan keluarganya. Juga karena kota ini berada di tengah rute perjalanan, agar perjalanan darat menuju utara esok hari menuju perbatasan Kalimantan Timur menjadi tidak terlalu jauh. Sebenarnya lokasi yang kami tuju lebih dekat dicapai dari Balikpapan, hanya karena ingin melihat dunia lebih banyak, maka dipilih mencapainya dari Banjarbaru. Rugi sehari waktu tempuh, tapi untung ratusan kilometer jarak dijejak.

Seorang teman mengidentifikasi jalur jalan sepanjang Martapura – Rantau (dan ke utara lagi) sebagai rute jalan “seribu masjid”. Tentu ini guyonan plesetan. Pasalnya di sepanjang jalur jalan itu banyak betebaran bangunan masjid atau musola, baik yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun, bahkan yang sedang dipikirkan untuk dibangun. Nyaris ada sebuah masjid atau musola berdiri di hampir setiap kampung di pinggir penggal jalan lintas Trans Kalimantan ini. Maklum, di sana memang banyak orang berpunya dari hasil batubara. Kalaupun tidak ada dana, maka tinggal memasang tong atau drum di tengah jalan dan siapkan sebuah jaring ikan untuk menampung lemparan uang dari para pengguna jalan. Mirip-mirip yang terjadi di jalur pantura (terlebih kalau bulan puasa), juga di Bantul ketika bantuan terlambat menjangkau para korban gempa.

Meskipun saya sendiri telanjur su’udzdzon (berprasangka buruk), saya toh tetap berusaha untuk khusnudzdzon (berprasangka baik), semoga semangat masyarakat setempat untuk memakmurkan dan menghidup-hidupi ribuan masjid itu sama atau lebih besar dari semangat untuk membangunnya. Sebelum nanti malah digunakan untuk arena uji nyali atau uka-uka…..     

Setiba di Rantau malam itu, kota ini tampak ramai. Rupanya di Rantau sedang ada hajatan besar untuk ukuran kota kecil seperti Rantau. Sore hari sebelum kami tiba, di Rantau ada pembukaan Porprov. Ini istilah yang kedengaran agak aneh di telinga saya. Maksudnya adalah Pekan Olah Raga Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan di kabupaten Tapin. Di tempat lain biasanya disebut Porda. Maka Rantau pun hari-hari itu menjadi semarak dan ramai dengan aneka kegiatan olah raga, mencari atlit terbaik untuk menuju Pekan Olah Raga Nasional ke-17 yang akan diselenggarakan di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2008.

Yogyakarta, 3 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. umar Says:

    Assalamu’alaikum…. Salut sekali Pak dengan cerita-cerita perjalanan Bapak… sepertinya hampir seluruh penjuru dunia ini sudah pernah dikunjungi ya… Pak? saya jadi pengin neh…. kalau boleh tahu kok bisa ya pak sering keliling2 begituan????
    Ngomong2 soal traveling, saya jadi teringat juga dengan perjalanan dari Banjrmasin-Samrinda, dulu sekitar tahun 2005 waktu ada temu mahasiswa tk nasional, hampir sama kesan nya…. salah satunya masih ingat banyaknya masjid2 kecil disepanjang jalan itu… gak salah kalau disebut ‘jalan seribu masjid’ Pak… 🙂
    Salam,
    Lain waktu pengin belajar lagi dari Bapak…
    http//:umarsaifudin.wordpress.com
    http//:businesswithheart.blogspot.com

  2. madurejo Says:

    Wa-alaikum salam…., mas Umar.
    Lha, saya sendiri juga heran. Tapi sesungguhnya semua berawal dari mimpi waktu masa muda duluuuu…. sekali. Eh, ajaibnya, ndilalah kok ya kemudian semua apa yang saya lakukan dan kerjakan mengarah pada perwujudan dari mimpi itu. Pekerjaan, kesibukan, kegiatan, hobi, dsb. sepertinya mengalir begitu saja dan memungkinkan saya untuk blusukan kemana-mana. Aneh tapi nyata…. Karena itu, jangan menyepelekan mimpi-mimpi kita yang terkadang sepertinya hil yang mustahal…. Semoga keinginan Anda bisa terwujud kelak. Salam.

  3. Munzir Baraqah Says:

    Assalamu’alaikum
    Tahun yg lalu saya sudah susuri dari Sabang sampai ke Bali melalui 2 pulau besar 2 pulau kecil yaitu Pulau Sabang, Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Pulau Bali walau belum sempat saya tampilkan ceritanya secara mendetail di blog saya.
    Dan tahun ini, Insya Allah tgl 24 Desember 2008 saya dan rekan dari LSM WAKIL akan menempuh perjalanan yg lebih jauh lagi. Mimpi kami adalah Merauke di Papua sana.
    Kalau bapak tidak berkeberatan, bisakah bapak beritahukan jalan terbaik berikut di kota mana saja ferry penyeberangan berada? karena tim kami hanya berbekal semangat saja, namun minim pengalaman di lintasan yg akan ditempuh. Terimakasih atas petunjuknya.

  4. madurejo Says:

    Mas Munzir, luar biasa perjalanan Anda ini, lebih luar biasa lagi karena Anda berencana menuntaskan nyanyian “Dari Sabang sampai Merauke”. Sebenarnya saya kurang familiar dengan kota-kota lintasan di Indonesia timur. Tapi dari cerita yang pernah saya dengar, kalau Anda sudah mencapai Bali, maka menuju pulau-pulau di timurnya (NTB-NTT), tidak terlalu sulit untuk menemukan pelabuhan-pelabuhan penyeberangan antar pulau. Kemudian dari Kupang katanya ada kapal PELNI yang menyeberang menuju Sulawesi (Makasar, Buton), Maluku (Ambon, Halmahera) dan kota-kota pelabuhan di Papua (Sorong, Jayapura, Merauke). Tapi persisnya rute-rute kota yang dilalui saya kurang mengetahui. Saya yakin info ini mudah diperoleh kalau Anda tanyakan ke agen-agen PELNI.

    Dukungan moril dan doa saya, Insya Allah, menyertai perjalanan Anda. Jangan lupa kelak cerita pengalamannya dibagikan ke saya juga. Lebih bagus lagi kalau Anda sempat menuliskannya, karena saya yakin akan sangat bermanfaat bagi teman-teman lain senusantara. Selamat menikmati perjalanan & selalu berhati-hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: