Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(2).  Sarapan Ketupat Haruan 

Selasa pagi keesokan harinya, sebelum meninggalkan Rantau untuk meneruskan perjalanan ke utara menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan, tentu perlu mengisi bahan bakar. Ya untuk mobil, ya untuk perut penumpangnya. Mampirlah kami ke sebuah warung tempat biasa mangkal para pegawai dan pekerja untuk sarapan. Menunya ketupat dengan lauk kari ikan haruan. Pokoknya, pilih menu yang tidak ada di tempat lain. Minumnya teh panas. Berbeda dengan daerah Sumatera, di kawasan Kalimantan yang saya temui baru pertama kali ini rupanya kebiasaan minum kopi tidak mentradisi. Kalau mau ngopi ya bikin sendiri. Makanya jarang kita dengar ada kopi Kalimantan.

Tersajilah sepiring potongan ketupat, lalu secawan kuah sejenis kari dengan sepotong kepala ikan haruan di atasnya. Lho, kok tidak ada sendoknya? Saya pun tolah-toleh mencari sendok. Tapi teman yang duduk di sebelah saya yang asli Rantau memberitahu, bahwa tradisi masyarakat Rantau makan ketupat haruan tidak pakai sendok. Maka saya pun lalu turun tangan, maksudnya makan pakai tangan. Lha piye iki, ketupat digrujug kuah kari lalu dimakan pakai tangan. Lhadalah….., sepotong ketupatnya remuk, terpaksa butiran nasinya dijumputi pakai jari. Tapi yang paling hoasyik dan hoenak adalah ketika tiba waktunya nithili endas iwak (makan kepala ikan sedikit demi sedikit sampai tuntas-tas-tas-tas…..).

Sebenarnya nama yang benar untuk makanan khas Kalimantan Selatan atau tepatnya masyarakat Banjar ini adalah ketupat kandangan, merujuk pada nama kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Namun karena bentuk ketupat yang kami sarap di Rantau pagi itu agak berbeda dengan ketupat dari Kandangan, meski kuah campurannya sama, yaitu kuah ikan haruan, maka saya sebut saja ketupat haruan. Jadi kalau kebetulan lain kali berkesempatan mampir di Kalsel, carilah ketupat kandangan, bukan ketupat haruan.

Ikan haruan, mulanya saya tidak tahu juga ini ikan jenis apa? Rupanya ikan haruan ini adalah nama lain untuk ikan gabus, yang kalau di kampung saya disebut ikan kutuk, bentuknya mirip-mirip lele. Prejengannya (profil mukanya) menakutkan seperti kepala ular. Tapi rasanya , bo….. Gurih dan huenak tenan. Tingkat kelezatannya berbeda dengan ikan sejenis yang ada di Jawa atau tempat lain (kata orang yang pernah mencicipi ikan haruan di tempat lain). Untuk mengimbangi kelezatannya, terpaksa kepala ikannya nambah satu porsi lagi.

***

Ikan haruan atau gabus (Ophiocephalus striatus atau Channa striatus) adalah jenis ikan yang banyak hidup di rawa-rawa, bahkan di genangan-genangan air yang masam di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan ikan haruan adalah makanan rakyat Banjar yang umumnya disantap bersama ketupat kandangan. Inilah makanan yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan khas Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.

Kini kabarnya ikan haruan ini semakin langka diperoleh di habitatnya di Kalsel. Terutama sejak maraknya dilakukan perburuan anak-anak ikan haruan untuk umpan ikan hias louhan. Sehingga membuat ikan haruan dewasa semakin sulit diperoleh. Padahal selain kelezatannya yang tak tertandingi, katanya, ikan ini juga sebenarnya mempunyai keunggulan lain yaitu sangat bermanfaat untuk penyembuh luka.

Ikan, jenis karnivora yang nenek moyangnya berdomisili di Asia ini pernah mau dimusnahkan dan dicekal masuk ke Amerika. Jenis ikan yang termasuk rakus dan kanibal ini bagi Amerika menjadi mahluk yang menakutkan. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di Kalsel malah menduduki posisi ekonomi yang cukup penting.

Pernah tercatat di Banjarmasin, bahwa kelangkaan komoditas ikan haruan dan beberapa jenis ikan lokal di sana bisa menjadi penyebab terdongkraknya angka inflasi. Agak aneh kedengarannya jika dibandingkan dengan pemicu inflasi di kota-kota lain yang biasanya didorong oleh sektor jasa, properti, atau permintaan barang-barang konsumsi lainnya. Sumbangan perubahan harga ikan haruan bisa menduduki urutan teratas dari 10 komoditas di Kalsel yang menjadi pendorong inflasi. Masyarakat Kalsel memang “maniak” dengan ikan lokal, terutama haruan. Maka wajarlah kalau berapa pun harga ikan haruan akan tetap dibeli oleh masyarakat.

Sementara di Malaysia, ikan ini dipercaya sangat mujarab menjadi penyembuh luka dan amat ampuh untuk pemulihan kesehatan luka bagi ibu sehabis bersalin. Sejak tahun 1931, menurut literatur Malaysia telah menganjurkan pengobatan luka dengan haruan. Perguruan  tinggi di Malaysia hingga kini pun terus meneliti khasiat haruan. Ini karena diindikasikan  di dalam tubuh ikan haruan terkandung semua asam amino esensial dan asam lemak unik yang mampu mempercepat penyembuhan luka.

Sedangkan di Indonesia, penelitian ikan haruan sebagai obat penyembuh luka masih sangat minim. Publikasi penelitian ikan haruan untuk obat di Indonesia baru terpantau dalam penelitian Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS awal Januari 2003 lalu. Penelitian yang mengungkap pemanfaatan ekstrak ikan gabus sebagai pengganti serum albumin yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka operasi, telah mengantarkan Eddy Suprayitno meraih gelar profesor pertama di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.

Dari informasi yang sempat saya gali, mengungkapkan kalau penelitian di Indonesia masih terus mengembangkan pembuatan ekstrak untuk obat oles atau serbuk untuk obat luar. Sementara di Malaysia, pembuatan krim dan tablet tersebut sudah dilakukan sejak dulu kala.

***

Barangkali nasehat yang pas akan berbunyi : jangan hanya menikmati kehoenakannya, tapi raih pula manfaat sampingannya. Alangkah bagusnya kalau ada pihak-pihak yang mau secara lebih intensif menggali potensi yang luar biasa dari ikan haruan ini untuk manfaat yang lebih besar. Kurang apa lagi kekayaan yang dimiliki negeri tercinta ini, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Di bawahnya ada batu bara, di atasnya ada kayu, di sela-selanya ada rawa-rawa yang dihuni ikan haruan.

Sementara belum “sempat” diteliti, ya dimasak dululah untuk sarapan bersama ketupat. Hmm…..

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. naff Says:

    udah pernah makan ketupat kandangan belum pak????
    nanti mapir ke kandangan yah………
    salam kenal
    http://www.kawasah.co.cc

  2. josenetmail Says:

    yang paling bahaya perjalanan antara balikpapan ke samarinda, ulun pernah terperangkap kabut pada jam 11 malam disana, jalannya curam sekali. Pas bejajalanan dari banjarmasin, tanjung, balikpapan, samarinda

  3. Edwin Says:

    Haruan terkenal di Kal Sel, Kal Teng dan sebagian Kal Tim ,area Kal Bar tdk terkenal. Haruan biasanya di rawa2 , area yg penduduknya banyak org jawa maka kemungkinan banyak ikan haruannya krn kebanyakan org jawa tdk suka haruan tp klu penduduknya mayoritas suku banjar(kal sel), area tsb pasti langkah haruannya, selain menjadi kesukaan suku banjar cara penangkapan nya tdk bertanggung jawab. Di setrum dan di putas(memakai sejenis obat yg di larutkan ke air), akibatnya anak anak haruan yg msh sangat kecil(msh warna merah) ikut mati. Makanya di kal sel harga haruan sudah mahal krn sudah langkah akibat ke serakahan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: