Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(3).  Pergi Ke Atas 

Hari Selasa, 25 Juli 2006 itu telah kami awali dengan sarapan ketupat yang luar biasa nikmatnya dan mengenyangkan. Tinggal siap-siap terkantuk-kantuk di perjalanan. Tapi “penyakit” ini harus dilawan, sebab saya pasti akan kehilangan jejak-jejak Trans Kalimantan kalau perjalanan kemudian saya tinggal tidur.

Setelah belanja perbekalan di pasar Rantau yang sangat padat dan ramai, kami mulai bergerak ke atas. Awalnya sebutan “ke atas” ini sempat membingungkan  saya. Bayangan saya kalau orang mengatakan pergi ke atas adalah karena jalannya naik. Tapi rupanya ini istilah untuk menyebut menuju ke arah utara. Sejak dari Banjarbaru, orang selalu mengatakan ke atas untuk menyebut pergi ke arah utara. Barangkali orang Kalimantan terbiasa membaca peta, sehingga bagian utara selalu berada di bagian atas lembar peta.

Kota Rantau “Bastari” kami tinggalkan. Seperti tidak mau kalah dengan kota-kota lainnya, embel-embel “Bastari” adalah simbol kebanggaan masyarakatnya, kependekan dari Bersih, Apik, Sehat, Tertib, Aman, Rukun, Iman. Pendeknya, semua embel-embel sifat kebaikan diborong komplit seperti jamu bersalin. Tujuannya tentu sangat mulia, agar semua warga Rantau yang “Bastari” pasti warga yang baik. Sebaliknya, warga yang tidak baik pasti tidak “Bastari”.  

Namun itu saja rupanya belum komplit. Kota Rantau memiliki motto atau semboyan yang bunyinya  “Ruhui Rahayu”. Tentu ini berasal dari bahasa Banjar, yang arti pendeknya : semoga Tuhan memberkati. Sedang arti panjangnya adalah semoga langgeng dan Tuhan senantiasa memberkati dengan kesejahteraan/keharmonisan.

Matahari sudah lebih sepenggalah tingginya (ini ukuran satuan yang sebenarnya sulit dicari konversinya, gampangnya saja hari sudah mulai poanas…..) saat kami tinggalkan kota Rantau dengan segudang sifat kebaikan dan doanya. Maka meninggalkan kota Rantau cukup dengan berbekal satu kata saja : “Amin…..”.

***

Melewati jalan aspal yang relatif mulus, lurus dan datar. Tidak terlalu padat lalulintasnya, sehingga Panther hijau yang kami tumpangi dapat melaju cukup kencang, dan cukup irit solar. Ketika kami berhenti untuk mengisi bahan bakar di sebuah stasiun pompa bensin, terlihat antrian panjang para pengguna kendaraan yang hendak membeli premium. Rupanya sebagian wilayah Kalimantan Selatan sedang dilanda kelangkaan BBM, terutama premium.

Sejak meninggalkan Banjarbaru kemarin, tampak antrian panjang calon pembeli BBM mengular di setiap SPBU yang saya lewati. Itupun mesti terkena penjatahan dan belum tentu kebagian, kata sopir Panther yang saya tumpangi. Namun anehnya, penjual bengsin eceran  tampak berderet-deret seperti kios rokok di pinggiran jalan. Harga per liternya? Rp 7.500,- sampai Rp 15.000,-, begitu kata sopir Panther lagi. Untungnya sang Panther minum solar, sehingga tidak perlu ngantri ketika harus mengisi bahan bakar.

Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan kami lewati. Kota Kandangan terkenal dengan makanan khasnya yaitu dodol asli kandangan (kata “asli” sepertinya menjadi jaminan tersendiri), termasuk ketupat kandangan. Lalu memasuki wilayah kabupaten Hulu Sungai Tengah yang beribukota di Barabai. kemudian melewati kota Balongan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara.

Setelah melewati tiga Hulu Sungai ini kemudian sampai ke persimpangan jalan yang kalau ke kiri (barat) akan menuju kota Amuntai yang menurut papan penunjuk arah jaraknya 27 km. Kami mengambil rute lurus ke utara yang lebih pendek untuk mencapai perbatasan Kalimantan Timur, dibanding kalau mesti memutar melewati kota Amuntai lalu Tanjung.

Terus saja pergi ke atas yang tidak naik, langsung menuju wilayah kabupaten Tabalong hingga sampai ke perbatasan propinsi Kalimantan Timur. Pemandangan sepanjang jalan mulai bervariasi melewati rute kawasan hutan, semakin sepi dan sedikit naik-turun di perbukitan. Pemandangan menjadi tidak membosankan, berbeda dengan ketika masih berada di rute datar-datar saja di wilayah selatan sebelumnya.

Di wilayah kabupaten Tabalong pula kami melintasi jembatan layang jalur pengangkutan tambang batubara PT Adaro, sebuah perusahaan tambang batubara yang termasuk papan atas di Indonesia. Lalu melintasi ujung landasan terbang Warukin yang sepertinya sebuah lapangan terbang perintis. Hanya sayangnya, penggal jalan di sisa perjalanan wilayah propinsi Kalimantan Selatan ini pas kalau disebut rute jalan “seribu lubang”.

Meski kondisi jalannya beraspal halus tapi tidak rata, alias mbrenjul-mbrenjul bergelombang. Kalau tidak hati-hati bisa terjebak lubang yang menghiasi di sana-sini, maksudnya di sana ada lubang, di sini ada lubang, di mana-mana ada lubang. Nyaris tidak ada jalan lurus kurang dari seratus meter yang bebas lubang. Belum lagi jembatan rusak di beberapa seksi jalan yang seringkali tanpa rambu pengaman. Tahu-tahu, mak jegagik, di depan ada jembatan yang baru setengah lebarnya yang dapat dilewati, setengah sisanya langsung sungai menganga tanpa batas pengaman.

Meski jalan relatif sepi, kecuali di beberapa wilayah kota saja, namun kami sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pisang, kelapa sawit dan kayu olahan (entah kayu legal atau tidak legal) untuk bahan pembuat plywood.

Sampailah kemudian kami memasuki wilayah propinsi Kalimantan Timur. Ditandai dengan sebuah tugu yang penampilannya sudah jelek, kusam dan tidak terurus. Hanya karena saya konsentrasi penuh menatap sambil menikmati setiap jejak perjalanan (hanya orang kurang kerjaan yang mau melakukan hal seperti ini), maka sekilas dari Panther yang melaju agak kencang masih sempat terbaca tulisan “Bumi Daya Taka”, memasuki propinsi Kalimantan Timur.

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. Sonny Umbu M. Says:

    Salam,

    Ralat di alinea kedelapan, Balangan adalah kabupaten pemekaran (baru) sedangkan ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Amuntai.

    Bagus sekali ada catatan perjalanan, terutama lewat darat, yang dapat memvisualisasi keadaan dan kondisi alam kita. Bentuk dari rasa cinta tanah air beserta isinya yang telah banyak dilupakan generasi muda.

    Terima kasih atas sumbangannya.

  2. madurejo Says:

    Mas Sonny,
    Banyak terima kasih koreksinya. Mudah-mudahan catatan yang sekilas ini ada manfaatnya. Salam.

  3. Awan galih kangkung Says:

    Kalimantan selatan…
    Hhmmm memang begitu, wajar saja, karena daratan kal-sel adalah rawa, tak heran jika banyak jalan yg amblas…
    Karna kurang kuatnya foundasi badan jalan yg kurang kuat…
    Ayo banjarmasin khususnya kota rantau, di benahin donk jalan rayanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: