Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. dian Says:

    Alhamdulillah, ternyata masih ada orang yg terkesan dngn Tanah Grogot. Beberapa minggu lagi, saya akan pindah kesana, tapi mungkin lebih terpencil dari tanah grogot, yaitu batukajang.
    MAkanya saya antusias sekali melihat artikel atau apapun di internet yang “berbau” tanah grogot ayau batukajang sendiri. Jujur saja, saya agak stress akan pindah kesana, meskipun saya belum pernah melihat langsung seperti apa tanah grogot dan batukajang.

    Salam
    dian

  2. hamsin Says:

    sbelumnya slam kenal, makasih banyak anda udah memberi kesan baik dengan tanah grogot…kalau ada waktu silahkan kunjungi web. saya http://www.hamsin.wordpress.com sukses aja dehdengan tulisan bapak makasih…

  3. hamsin Says:

    mkasih banyak pak atas kunjungan bapak kapan-kapan mampir lagi pak ya slam kenal z deh dari saya

  4. dempo Says:

    syng sX anda tdk mampir k”t4 saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: