Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif 

Hari Rabu, 26 Juli 2006 pagi kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Hari itu adalah hari yang kami rencanakan untuk mencari batubara di Pasir. Beberapa lokasi sudah kami tandai di peta untuk didatangi. Kami lalu meluncur kembali ke Kuaro yang jaraknya 28 km dari Tanah Grogot. Diteruskan menuju arah kembali ke Rantau sejauh kira-kira 7 km. Dari titik itu kami menyimpang ke arah selatan memasuki kawasan semak yang sudah terbuka oleh bekas adanya aktifitas penambangan setahun sebelumnya. Cukup lama kami berpanas-panas ngublek-ublek singkapan batubara yang ada di sana.

Dalam perjalanan kembali ke Kuaro, kami berhenti di dekat sebuah sungai kecil. Sungai Muru namanya, desanya pun bernama desa Muru. Tujuan kami adalah mensurvei singkapan yang muncul di salah satu dinding sungai kecil itu. Sengaja kami memilih tempat berhenti di dekat sebuah kios dimana di seberang-menyeberang jalannya ada sekelompok warga yang tinggal di sana. Kebetulan si pemilik kios juga menyediakan es batu, maka menenggak minuman dingin di tengah suasana kepanasan dan dahaga, serasa mak nyes rasanya….. 

Perhatian saya tertuju pada sebuah rumah di seberang kios yang nampak ada kesibukan sedang menumpuk-numpuk barang rongsokan. Dari rumah itu pula terdengar suara kaset musik ndang-ndut yang disetel keras-keras. Lho, kok orangnya ngomong bahasa Jawa….. Tahulah saya, di situ tinggal Pak Supar dan keluarganya beserta teman-teman kerjanya. Pak Supar ini rupanya asli orang Sleman yang sejak tahun 1992 sudah merantau ke Kalimantan Timur. Bukan sebagai transmigran, namun lebih karena mengadu nasib bekerja mengikuti kontraktor demi kontraktor. Hingga akhirnya terdampar di desa Muru sejak sembilan tahun yang lalu karena beristrikan orang sana.

Berkebun adalah sambilannya. Itupun sekedar memanfaatkan lahan kosong di seputaran tempat tinggalnya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, tepatnya bosnya pemulung. Pak Supar setiap hari asyik menumpuk-numpuk dan memilah-milah barang-brang plastik, kardus, botol, dsb. Kalau tumpukan hasil pulungan sudah banyak, segera diangkut ke Banjarmasin dan disana sudah ada pembelinya. Di tempat yang adoh lor adoh kidul itu rupanya Pak Supar bisa menyambung hidup dengan layak, bahkan lebih layak dibanding warga lain di desanya.

Pak Supar tentu tidak tiba-tiba menekuni profesinya itu. Melainkan karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa di manapun selalu ada peluang yang bisa digarap demi tingkat kelayakan hidup yang lebih baik. Itulah kira-kira jawabannya (seandainya Pak Supar bisa mengatakannya) kalau ditanya kenapa tidak menjadi petani atau pekebun kelapa sawit atau pekerjaan “tradisonal” lainnya seperti yang dikerjakan oleh umumnya warga desa di sekiarnya.

***

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Grogot dari Kuaro, kami menyimpang ke arah selatan. Di sana ada beberapa titik singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan untuk di-ublek-ublek. Tepatnya menuju desa Bekoso, termasuk wilayah kecamatan Pasir Belengkong. Lokasi desa ini kira-kira 18 km di selatan Tanah Grogot. Setelah terlebih dahulu kami sowan ke rumah Pak Kepala Desa, kemudian diantar oleh seseorang yang akan membantu menunjukkan lokasi singkapan.

Berbeda dengan sebelumnya, di desa Bekoso ini lokasi singkapan batubaranya tersembunyi di balik semak belukar, sehingga perlu bantuan orang lokal untuk membuka dan melakukan perintisan jalan. Demikian halnya ketika berpindah lokasi, kami ditemani oleh seorang pekebun kelapa sawit bernama Pak Syarif. Pak Syarif ini yang mengantarkan kami menemukan singkapan yang lokasinya agak masuk ke dalam hutan. Beberapa singkapan lainnya tentu akan sulit kami temukan sendiri kalau bukan karena bantuan Pak Syarif yang penduduk asli desa Bekoso. Sebab untuk mencapainya mesti berjalan kaki tiga kilometeran menyusuri punggungan bukit melewati kebun kelapa sawit dan menuruni lembah sungai kecil yang tertutup rapat semak belukar.

Pak Syarif adalah seorang guru sekolah dasar. Setiap hari bersepeda motor pergi dan pulang mengajar murid-muridnya. Namun Pak Syarif lebih suka disebut sebagai pekebun ketimbang sebagai guru. Itulah pilihan hidupnya. Di tengah kesibukannya mengajar setiap hari, Pak Syarif juga disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua kelompok tani kelapa sawit. Sulit untuk menerka-nerka mana di antara kedua tugas kerjanya yang menjadi pekerjaan pokoknya dan mana yang pekerjaan sambilannya. Namun yang pasti, Pak Syarif selalu tekun mengajar setiap hari, dan pada saat yang sama juga membimbing dan mengajar anggota kelompoknya dalam berkebun kelapa sawit.

Dengan sangat fasih pak guru Syarif ini bercerita tentang seluk dan beluknya bertani sawit, tentang hitung-hitungan ekonomi hasilnya, dan tentang bagaimana masyarakat desanya sangat tertolong dengan menjadi petani plasma kebun sawit. Program petani plasma ini baru setahun terakhir digalakkan oleh sebuah perusahaan perkebunan sawit, PTP Nusantara XIII. Hasil dari berkebun sawit yang dijalaninya bersama warga sekitarnya sangat membantu kehidupan masyarakat pekebun, begitu tuturnya. Keahliannya sebagai guru dan keahliannya menguasai ilmu persawitan, tentu menjadi aset tersendiri bagi para tetangganya yang tergabung dalam kelompok tani sawit di bawah pimpinan pak guru Syarif.

Apapun pekerjaannya, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh kiranya juga akan memberi hasil yang baik pula. Barangkali begitu jawabannya (seandainya Pak Syarif bisa mengatakannya) kalau ditanya apakah berkebun sawit bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Kalau kemudian pak guru Syarif juga suka dimintai bantuan oleh para pencari batubara, maka itu hanyalah kegiatan selingan.

*** 

Hari sudah gelap saat kami kembali ke Tanah Grogot. Hari itu memang habis-habisan. Kami kelewat bersemangat untuk mendatangi semua lokasi singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Hingga lupa waktu. Kendala pencapaian lokasi yang kami bayangkan sebelumnya, menjadi lebih mudah diatasi berkat bantuan pak guru Syarif dan seorang lainnya. Dengan demikian, tuntas sudah agenda survei kami hanya dalam waktu sehari dur….., yang melelahkan itu.   

Namun kondisi jalan pulang ke Tanah Grogot melewati kawasan perkebunan sawit PTP Nusantara XIII ternyata sama melelahkannya. Kondisi jalannya sungguh minta ampun buruknya. Nyaris tidak ada sisa jalan agak bagus yang dapat dipilih. Dan Panther pun bak tertatih-tatih dan meloncat-loncat di antara lubang-lubang jalan yang lebih tepat disebut sungai kering. Begitu kok ya tega-teganya truk-truk pengangkut buah sawit bermuatan munjung, menempuhnya setiap hari. Uh…..!  

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , ,

2 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. ansyah ajaa Says:

    cerita perjalanan yang indah… , mantap..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: