Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama

Alkisah, pada awal abad ke 16, tepatnya pada tahun 1516 Masehi berdirilah kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kesultanan Pasir. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung (kalau di Inggris barangkali akan dipanggil Lady Di). Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurengas ini meliputi wilayah kabupaten Pasir yang ada sekarang, ditambah dengan kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1523, sang Putri Di menikah dengan seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Pasangan ini memperoleh empat orang anak, yang kemudian berturut-turut akan menurunkan pewarisnya memimpin Kesultaan Pasir. Begitu turun-temurun hingga selama tiga abad Kesultanan Pasir dipimpin oleh anak-cucu-buyut-canggah-canggahnya-canggah-dst dari pasangan Putri Di dan Abu Mansyur. Hingga sampai pada periode tahun 1900 – 1906 dimana Pangeran Mangku Jaya Kesuma yang menjabat sebagai sultan terakhir Kesultanan Pasir.

Entah bagaimana proses transisinya, menurut catatan sejarah, setelah masa pemerintahan kesultanan terakhir itu kemudian berubah menjadi masa perjuangan rakyat Pasir melawan kolonial Belanda. Hingga tahun 1959 wilayah Pasir berstatus sebagai sebuah kawedanan dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dan tahun 1959 itulah yang dianggap sebagai tahun berdirinya kabupaten Pasir.

Rupanya masyarakat Pasir tidak menginginkan menjadi bagian dari wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Baru pada tahun 1961 kabupaten Pasir bergabung dengan propinsi Kalimantan Timur, setelah melalui perjuangan panjang para tokoh masyarakat Pasir sejak tahun 1950. Melalui resolusi demi resolusi, tuntutan demi tuntutan, desakan demi desakan dan segala macamnya kepada pemerintah pusat, hingga akhirnya dapat kembali bergabung dengan Kalimantan Timur, dari sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kabupaten Kota Baru, Kalimanan Selatan.

***

Menilik catatan sejarah kabupaten Pasir, memang rada-rada unik. Karena itulah maka saya tertarik membacanya. Rupanya masih ada darah Demak di dalam darah anak keturunan kesultanan Pasir. Pantas kalau kedua kabupaten itu mestinya menjalin kerjasama sebagai kota kembar (sister city). 

Kalau biasanya propinsi yang berebut kabupaten, maka Pasir telah berjuang sendiri memekarkan dirinya dari kawedanan menjadi kabupaten dan pindah propinsi, dan akhirnya berhasil. Maka masyarakat Pasir layak bangga dengan eksistensi ke-Pasir-annya.

Kini masih ada obsesi lain sedang diperjungkan oleh para tokoh masyarakat Pasir, yang langsung dipelopori oleh bupatinya sendiri. Obsesi untuk mengubah, mengganti dan mengembalikan penulisan dan pelafalan kata “pasir” menjadi “paser” sesuai nama penduduk asli (etnis) daerah ini. Salah kaprah penulisan dan pelafalan “paser” menjadi “pasir”, menurut anekdot bermula karena kesulitan etnis tertentu dalam menyebut fonem “e”, dan lebih akrab dengan fonem “i”.

Apalah artinya sebuah nama, begitu kira-kira kita akan memandangnya. Namun tidak demikian dengan para tokoh di kabupaten Pasir. Perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser dan ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser, tetap perlu diperjuangkan, karena akan mendorong semangat membangun Kabupaten Pasir untuk lebih maju dari sekarang, begitu cita-citanya.

Setiap perubahan tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang ingin tetap menjadi Pasir dan ada yang ingin berubah menjadi Paser. Agaknya sikap bupati Pasir yang sekarang, H.M. Ridwan Suwidi, cukup bijaksana dan layak dicontoh oleh siapapun yang suka pada perubahan. “Lahirkan kesepakatan yang damai, jika terjadi cekcok akibat tak searah pandang cukup sampai hari ini, karena apalah arti sebuah nama, tetapi dengan nama akan melahirkan cahaya mutiara-mutiara menuju masa depan yang lebih maju”, begitu katanya.

Mencermati perkembangan terakhir dunia perpolitikan kabupaten Pasir, ada yang menarik dengan sikap demokratisasi yang sedang berkembang. Tidak serta-merta wakil rakyat bersidang lalu voting dan ketuk palu. Kuisioner pun disebarkan ke segenap penjuru. Hasil sementara menunjukkan lebih banyak warga masyarakat yang setuju perubahan nama dari kabupaten Pasir menjadi Paser, namun lebih banyak yang tidak setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Tidak cukup dengan kuisioner. Jajak pendapat SMS pun dibuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, bak acara polling-polling-an di televisi. Hasil sementaranya menunjukkan bahwa 75% pengirim SMS setuju perubahan nama kabupaten Pasir menjadi kabupaten Paser, sementara hanya 25% pengirim SMS yang setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Singkat cerita, tidak perlu ada chaos, tidak perlu gontok-gontokan, tidak perlu timpuk-timpukan atau ngotot-ngototan untuk membuat sebuah perubahan. Apapun hasilnya, Pasir dan Tanah (juga batubara dan air sungai Kandilo) tetap akan ada disana. Hidup Pasir…..! Hidup Paser…..!

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: