Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(11).   Nggado Ikan Puyu Goreng Garing

Hari itu, Jum’at, 28 Juli 2006, agenda kami adalah urusan perkantoran. Maksudnya, pergi ke beberapa kantor, untuk bertemu dengan beberapa orang, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Agenda tentang beberapa ini akan selesai pada tengah hari, sebelum tiba waktu jum’atan. Maka pada siang harinya akan saya manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan sebuah keluarga yang masih ada hubungan “pernah-pernahan” dengan keluarga saya.

Saya rada kesulitan menerjemahkan kata “pernah” dalam kosakata pergaulan Jawa. Kira-kira maksudnya adalah hubungan keluarga yang kalau ditelusuri dengan pertanyaan “apanya siapanya-siapa”, lalu akan ketemu bahwa dia adalah “apanya” kita. Maka kesimpulannya bahwa dia masih keluarga atau famili dengan kita. Kata “saudara” atau “famili” bisa menjadi kata kunci yang sangat berharga apabila ketemunya di tempat yang jauh dari tempat asal kita. Tradisi semacam ini memang khas bagi bangsanya Indonesia (suku bangsa yang ada di Indonesia, atau yang sejenis dengan Indonesia).

Maka betapa senangnya ketika akhirnya kita ketemu dengan seseorang yang ternyata masih ada hubungan “pernah-pernahan” itu tadi. Adalah famili saya yang sejak saya mengeluargai istri saya sekian belas tahun yang lalu belum pernah ketemu. Hingga akhirnya famili saya itu menjemput ke hotel dengan naik sepeda motor, karena katanya mobilnya sudah lama masih saja dititipkan ke dilernya (dealer) entah sampai kapan.

Kocaping carito… (saya kok jadi merasa enak mengucapkan kata-kata ini), singkat cerita, siang itu saya mengunjungi famili saya. Kali ini ganti reuni kecil-kecilan antar dua keluarga. Bersilaturahmi, bercengkerama, bertukar cerita tentang nasib keluarga, dan rencana-rencana keluarga, dengan famili saya yang akhirnya terdampar di Samarinda sejak meninggalkan Jogja sekian belas tahun yang lalu.

Hingga tibalah pada salah satu bagian terpentingnya. Duduk bersama di depan meja makan. Bukan duduknya, bukan pula meja makannya, melainkan yang ada di atasnya. Tentu ini menjadi acara istimewa bagi saya dan terutama bagi tuan rumah yang kedatangan (lebih tepat, didatangi) tamu jauh yang masih “pernah” saudara. Di tengah kesederhanaan hidup yang sedang dijalani saudara saya di Samarinda ini, rupanya masih sempat untuk mempersiapkan menu makan siang yang terkesan agak istimewa. Syukur alhamdulillah. Inilah yang saya maksud dengan kata kunci yang sangat berharga tadi.

Ada ayam goreng, tempe goreng, ikan puyu goreng, sayur bening, lalapan dan sambal terasi tomat. Semua menjadi favorit saya. Pokoknya kalau yang enak-enak, semua harus difavoritkan. Tempe goreng dan ikan goreng ditambah lalapan dan sambal tomat agak pedas sedikit, wuiiih……, ruarrr biasa nikmatnya. Menikmati menu yang semacam ini memang harus turun tangan. Jangan sekali-kali menggunakan sendok, karena akan berkurang intensitas kenikmatannya. Ukuran intensitas kenikmatan siang itu hanya satu ukuran tunggal : nuuuikmat sekale….. Tidak ada skala lain yang “pas” untuk digunakan.

Lebih-lebih ikan puyu goreng garing (kering) yang rasanya gurih tenan. Ya baru pertama kali inilah saya mendengar nama ikan puyu. Sampai-sampai untuk memastikan namanya saya harus ha…he…ha…he… agar diulang penyebutannya untuk memastikan saya tidak salah dengar. Rupanya ikan air tawar ini memang menjadi kegemaran masyarakat Samarinda, Kalimantan pada umumnya. Nasibnya mirip-mirip dengan ikan haruan, yaitu bahwa ikan puyu ini kini semakin sulit diperoleh. Mangkanya kalau lagi ada dijual di pasar atau dimana saja orang akan berebut membelinya. Kebetulan pada hari itu, saudara saya berhasil memperolehnya, yang lalu menyajikannya sebagai menu unggulan untuk menjamu seorang tamunya dari Jogja yang masih “pernah” saudara tapi belum pernah ketemu.

Ikan puyu yang disajikan sepiring munjung, pada siang itu, rata-rata ukurannya hanya telong nyari (selebar tiga jari tangan). Badannya pipih. Banyak duri-duri kecilnya. Dagingnya sedikit tapi gurih. Karena itu ada seni tersendiri untuk menikmatinya. Memisahkan serpih demi serpih daging ikannya dari duri-duri kecilnya. Jangan sampai kloloden duri (durinya turut termakan dan nyangkut di tenggorokan). Sebab kalau itu sampai terjadi, maka bisa bikin mata mendelik (melotot).

Kalau accident itu terjadi juga, maka resep mengatasinya bukan digelontor air, apalagi lumpur panas, melainkan didorong dengan ngelek (menelan) nasi putih tanpa dikunyah atau dikunyah sedikitlah. Akan menyebabkan mendelik dan meringis sesaat, tapi setelah itu biasanya teratasi. Ini resep ampuh yang tidak pernah terpikirkan oleh dokter-dokter di negara maju. Kalau terjadinya di Amerika, maka segera dokter keluarga akan ditilpun, atau langsung call 911…… Kalau setelah diemploki nasi ternyata tidak berhasil juga, ya nasib namanya……. Ibarat berada di dalam rumah yang rubuh digoyang gempa tapi tidak sempat lari.

Ikan puyu ini adalah sejenis ikan sepat yang banyak hidup di kali, di sawah atau di lingkungan air tawar. Terkadang suka disebut juga dengan ikan pepuyu atau betok. Ikan puyu (istilah londo Latinnya : Anabas Testudineus) termasuk jenis ikan yang luar biasa dalam melakukan survival. Badannya yang bersisik dan bersirip keras memudahkan spesies ini bergerak di atas tanah yang berair sedikit. Pada musim hujan ikan ini suka hijrah dari satu tempat ke tempat lain, jika perlu meloncat dan memanjat tebing aliran air pun dilakoninya.

Ikan ini memiliki asesori tambahan alat pernapasannya yang disebut labirin di luar insangnya, sehingga dia mampu bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu tanpa air karena alat pernapasannya tetap basah. Jika musim kemarau tiba, ikan ini mampu bertahan dan bernafas dalam lumpur hingga selama beberapa waktu tertentu. Maka jangan hueran, kalau ada suatu kolam yang kelihatannya kering, ujug-ujug ada ikannya ketika hujan tiba. Bisa jadi mereka adalah masyarakat ikan puyu yang sembunyi di dalam tanah.

***

Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahi, pelipis dan kulit kepala yang menyebabkan rasa agak gatal. Namun rasa gatalnya seolah termanipulasi oleh gurihnya ikan puyu (ini memang gaya bahasa, yang sebenarnya terjadi ya tetap saja goatal…..). Biarpun nasi sudah tanduk sekali atau tamboh ciek dan habis juga, namun episode makan ikan puyu belum selesai.

Atas seijin tuan rumah (itulah etikanya, mau menghabiskan sisa ikan di meja saja mesti minta ijin dulu, dan biasanya diijinkan dan malah senang kalau suguhannya habis), acara makan siang masih dilanjutkan dengan nggado (memakan tanpa nasi) ikan puyu goreng garing yang masih tersisa. Tentu sambil bercengkerama dan berbagi cerita tentang keluarganya mas anu, mbok de anu, eyang kakung anu dsb. Untuk alasan etika pula, akhirnya hanya setengah piring ikan yang saya habiskan. Yah…. kira-kira kalau saya hitung ada enam atau tujuh atau delapan ekoran ikan puyu saya gado. Habis huenak sih….., dan barangkali tidak akan saya temukan di Jogja.    

Yogyakarta, 19 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

2 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. Rahay Says:

    Maaf saya menggangu saudara Yusuf. Saya adalah pengeluar ikan puyu di malaysia. Bagaimana saya ingin mengeksport ikan tersebut ke indonesia? Bagaimana untuk mendapat contct number pengumpul ikan betok di indonesia. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: