Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(12).   Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy

Berhubung hari Jum’at sore itu tidak ada kegiatan, sementara rencana besoknya adalah pulang ke Jogja, maka jangan lewatkan sedetik pun untuk tidak melihat hal-hal baru. Pilihan jatuh pada kota Tenggarong, ibukota kabupaten Kutai Kartanegara (disingkat Kukar, terkadang orang menyebutnya dengan Kutai saja, padahal mestinya ada kabupaten Kutai Barat dan Kutai Timur).

Kota Tenggarong berjarak sekiar 40 km dari Samarinda, ditempuh melalui Loa Janan. Mencapai Tenggarong melalui Loa Janan memang bukan satu-satunya rute yang dapat ditempuh. Ada beberapa rute lain yang dapat dilalui. Jalur melalui Loa Janan ini melintasi sisi barat dan utara sungai Mahakam. Jalannya memang tidak terlalu lebar, tapi cukup leluasa untuk melaju agak cepat.

Tiba di Tenggarong masih belum terlalu sore, sehingga panorama sungai Mahakam, pulau Kumala dan suasana kota yang terkesan apik dan resik masih jelas dapat dinikmati. Tenggarong memang bukan kota yang padat penduduknya. Masyarakatnya pun kini sangat heterogen, bercampur antara warga suku asli Dayak dengan kaum pendatang. Salah duanya adalah teman sekolah di jurusan Tambang yang menyunting penduduk asli Tenggarong dan kini memilih tinggal di sana. Seorang teman lainnya juga beristrikan warga Dayak dan kini membuka usaha restoran di tepi sungai Mahakam di seberang ujung timur pulau Kumala. Nama rumah makannya “Tepian Pandan”.

Ke resto “Tepian Pandan” itulah tempat pertama yang kami jujug, ketika tiba di Tenggarong sore itu. Tempatnya memang strategis dan berpemandangan indah. Di tepi sungai, dekat dengan obyek wisata kompleks keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu teman lama yang empunya resto, karena rupanya teman saya sore itu masih berada di tempat kerjanya di sebuah tambang batubara. Saya pikir ini kerjasama mempersiapkan hari tua yang layak dihargai. Sang bapak menjadi karyawan tambang, semenara sang ibu mempekerjakan karyawan membuka usaha rumah makan.

Nama Tepian Pandan, dahulu kala adalah nama sebuah kawasan kecil yang merupakan cikal bakal terbentuknya kota Tenggarong. Konon kawasan di tepian sungai Mahakam itu dulunya banyak ditumbuhi tanaman pandan. Menurut sohibul-hikayat, nama Tenggarong diperkirakan berasal dari sebutan “tangga arung” yang artinya rumah raja.

***

Sejarah panjang kerajaan Kutai Kartanegara, tidak lepas dari sejarah panjang kerajaan Mulawarman sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Meski juga berada di Kutai, pusat kerajaan Mulawarman yang berdiri pada abad ke-4 Masehi itu sebenarnya bukan di Tenggarong sekarang ini, melainkan di pedalaman Sungai Mahakam, tepatnya di Muara Kaman, atau sekitar 200 kilometer dari Tenggarong ke arah hulu Mahakam.

Kerajaan Mulawarman atau Kutai Martapura yang sempat dipimpin oleh 25 orang raja (tentu saja tidak berbarengan…..) selama 13 abad itu akhirnya musnah tahun 1635, akibat pertempuran hebat dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang waktu itu dipimpin oleh Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (Kutai, dilawan…..!).

Meskipun keraton Kutai Kartanegara kini berada di kota Tenggarong, namun asal bin muasalnya kerajaan Kutai Kartanegara dulunya berpusat di muara delta Mahakam tepatnya di Kecamatan Anggana yang sekarang disebut Kutai Lama. Dinasti Kutai Kartanegara diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 Masehi dan berhasil menurunkan 19 orang raja.

Selama 13 abad masa kejayaannya, kesultanan Kutai Kartanegara mengalami beberapa kali kepindahan pusat kerajaan mulai dari Kutai Lama, Pemarangan, Samarinda, dan akhirnya di Tenggarong. Kota terakhir ini diketahui menjadi pusat Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1782 saat Aji Imbut dengan gelar Sultan Muhammad Muslihuddin berkuasa. Sebelum akhirnya istana raja yang dibuat dari kayu ulin oleh Sultan Muhammad Muslihuddin itu pada tahun 1844 hangus terbakar saat terjadi peperangan melawan Belanda, dan kalah (giliran Londo, dilawan…..!).

Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian harus tunduk pada kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dengan ditandatanganinya traktat Tepian Pandan pada 29 April 1844. Pada tahun 1850, Sultan AM Sulaiman berinisiatif kembali mendirikan keraton Kutai dari kayu ulin dengan gaya arsitektur Melayu. Bangunan Keraton ini kemudian dibangun secara permanen dari beton pada masa Sultan AM Parikesit. Pembangunan secara permanen istana kerajaan Kutai pada tahun 1936 itu dikerjakan dengan gaya arsitektur Eropa klasik.

Sementara itu, nama Kutai atau Koetai sendiri diperkirakan mulai dikenal pada abad ke-5 Masehi, ketika para pedagang Cina masuk ke daerah ini. Mereka menyebutkan Kutai dengan Kho Thai yang artinya bagian besar dari pulau atau pulau yang besar. Sedangkan pedagang dari Kalingga, India Selatan, menyebutnya dengan Quetairy yang maksudnya hutan yang lebat.

Kini Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy, sudah menjadi salah satu warisan budaya nusantara. Bersama tradisi budaya masyarakat Dayak di sekelilingnya, mestinya menjadi kekayaan Kalimantan yang tak ternilai harganya. 

Yogyakarta, 20 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda”

  1. qolbi Says:

    jogja sebagai kota budaya, sejajar dengan roma, PARIS, TOKYO, DAN KOTA-KOTA BERSEJARAH DIDUNIA LAINNYA.
    sudah sepantasnya jogja mempertahankan predikatnya sebagai kota budaya…
    save jogja heritage now!!!!
    hamemayu hayuning bawono

    http://qolbimuth.wordpress.com/2008/04/08/save-jogja-heritage/

  2. madurejo Says:

    Appreciate untuk concern Anda terhadap warisan budaya Yogyakarta. Sebenarnya banyak kekayaan budaya Jogja yang kelihatannya kurang terkelola dengan baik. Salut untuk spirit yang Anda tunjukkan melalui blog Anda.

    Maju terus dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: