Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

(14).   Rebutan Bukit Soeharto

Hari Sabtu, 29 Juli 2006 adalah hari terakhir kami di bumi Kalimantan, tepatnya propinsi Kalimantan Timur. Masyarakat setempat bangga menyebutnya “Banua Etam” (bahasa Kutai yang artinya “kampung kita”). Sudah sering disebut-sebut, bahwa propinsi Kalimantan Timur ini termasuk propinsi terkaya di Indonesia. Kekayaan yang berupa minyak bumi, gas alam, batu bara, emas dan hasil hutan sepertinya melimpah-ruah.

Namun ironisnya, dengan kekayaan yang melimpah dengan catatan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi, hanya sekitar 10% yang kemudian kembali ke daerah dalam bentuk dana perimbangan (yang dinilai tidak berimbang karena sebagian besar nyangkut di pusat). Kenyataannya, dari sekitar 2,7 juta penduduk “Banua Etam” itu 11% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Infrastruktur sosial pun sangat terbatas. Maka tidak heran kalau masyarakat Kaltim teriak-teriak menuntut pembagian dana perimbangan yang lebih berimbang dan adil.

Padahal masyarakatnya sangat antusias membangun daerahnya. Dimana-mana terpampang tulisan yang menggugah semangat “Etam bangga membangun Kaltim”. Tentu menjadi kurang fair kalau kemudian yang menikmati hasil pembangunan “etam” itu tadi justru bukan masyarakat Kaltim sebagian besarnya. Mendingan kalau masyarakat Indonesia lain yang menikmatinya, hitung-hitung “sedekah”…… Tapi masalahnya dikhawatirkan yang menikmati justru oknum nun jauh di sana (mengkambinghitamkan oknum memang paling enak…..). Begitu kira-kira kegundah-dan-gulanaan yang berkembang di tengah masyarakat Kaltim, yang kini siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII tahun 2008.

***

Agak siang kami harus meninggalkan Samarinda, ibukota “Banua Etam”, menuju ke Balikpapan. Perjalanan ke Balikpapan dengan menempuh jarak 115 km itu berarti kami akan kembali melalui jalur berkelok di Bukit Soeharto. Kali ini saat siang hari, sehingga nampak benar suasana hutan nan teduh dan asri dari kawasan perbukitan yang menghijau.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, terletak membentang sepanjang 32 km di jalur jalan Balikpapan – Samarinda, tepatnya di km 45 – 77, masuk wilayah kecamatan Semboja, kabupaten Kutai Kartanegara. Hutan seluas 61.850 hektar ini ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam pada tanggal 20 Mei 1991. Di hutan ini tumbuh berbagai vegetasi hutan dengan semak dan alang-alang. Pepohonan yang ada merupakan hasil reboisasi, seperti akasia, sengon, mahoni, johar, sungkai dsb. Jenis satwa yang ada antara lain babi hutan, kancil, kera, biawak serta berbagai jenis burung-burungan.

Dengan bentang alamnya yang indah, sejuk dan nyaman, tak syak lagi tempat ini menjadi obyek wisata yang cukup diminati oleh para wisatawan. Beberapa lokasi di sepanjang jalur lintas hutan ini pun dimanfaatkan oleh para penduduk untuk membuka kedai-kedai yang menjual aneka macam. Tumbuhlah aktifitas ekonomi kecil, yang kalau tidak ditata dengan baik tentu berpotensi mengganggu keindahan dan kenyamanan berwisata.

Namun kini aktifitas ekonomi yang berskala lebih besar sedang menghadang. Hal ini terkait dengan ditengarainya bahwa di dalam perut Soeharto terkandung 122-150 juta ton cadangan batubara. Ini baru heboh!. Bukit Soeharto lalu seolah-olah jadi rebutan. Berbagai kepentingan pun lalu menyeruak. Maka persoalannya menjadi klasik. Antara yang hendak mengeksploitasi dengan yang hendak mengkonservasi. Antara yang pro hutan dan pro industri, tapi rupanya masih ada satu lagi yang pro hutan tanaman industri. Nah, loe! “Nggak ada loe, nggak rame…..”, kata iklan sebuah produk hijau (maksudnya produk yang bungkusnya berwarna hijau) di televisi…..

Riuh-rendah tentang Bukit Soeharto ini terlihat dari semangat pihak Bapedalda yang mengancam tidak akan mengeluarkan ijin jika Bukit Soeharto hendak dieksploitasi batubaranya. Tetapi, begitupun pihak Pemkab Kutai Kartanegara ternyata sudah mengkapling-kapling dan mengeluarkan ijin Kuasa Pertambangan batubara bagi sejumlah pengusaha dan Koperasi Unit Desa. Sementara itu, pihak Menhutbun juga sudah telanjur melepaskan sejumlah areal hutan untuk perluasan Hutan Tanaman Industri dan sarana penunjangnya. Lebih seru lagi, pada musim kemarau seperti sekarang ini kebakaran hutan mengancam ketiga kepentingan itu.

Bagai persamaan matematika, ada tiga buah garis yang hendak bertemu di satu titik perpotongan. Maka perlu dicari harga optimum dari titik perpotongannya, dimana menghasilkan minimum kemudharatan (keburukan) dan maksimum kemaslahatan (kebaikan). Biarlah orang-orang pintar di “Banua Etam” duduk bersama, bekerja dalam tim, untuk merumuskan titik perpotongan yang bernilai optimum, agar kelak anak-cucunya tidak tuding-tudingan. 

Ini hal yang lumrah saja. Sudah menjadi hukum alam, bahwa ketika ilmu dan teknologi semakin maju, maka semakin banyak pula peluang terjadinya benturan. Kenapa jaman dulu tidak banyak benturan (tepatnya, belum teridentifikasi)? Karena ilmu dan teknologi belum semaju sekarang dan orang-orangnya pun belum sepintar sekarang. Seratus tahun lagi benturan akan semakin hebat. Tapi kerepotan selalu muncul, yaitu ketika salah satu pihak menganggap dirinya yang paling benar. Uh…., repotnya!

***

Jalur melintasi Bukit Soeharto pun terlewati sambil mata terkantuk-kantuk tak tertahankan. Tahu-tahu kami sudah memasuki kota Balikpapan. Suasana kota yang padat dan ramai, di tengah cuaca siang yang panas sungguh membuat kurang nyaman. Waktu menunjukkan menjelng tengah hari. Masih ada beberapa jam sebelum pesawat ke Jogja tinggal landas dari bandara Sepinggan.

Rasanya ada yang kurang. Ya, oleh-oleh!. Lalu seorang teman di Balikpapan mengantarkan membeli makanan khas Kaltim, yaitu amplang. Amplang adalah sejenis kerupuk ikan, yang terbuat dari ikan dan tepung sebagai bahan utamanya, lalu dicampur dengan bumbu, telor dan sedikit gula. Maka jadilah makanan ringan berukuran kecil-kecil, yang kalau dimakan bunyinya antara kremes-kremes dan kriuk-kriuk. Rasanya mirip-mirip seperti kalau kita makan kerupuk udang atau kerupuk Palembang, dengan rasa bumbu ikannya lebih kuat. Lumayan enak untuk makanan selingan di rumah, agar tidak terus-terusan makan kacang rebus atau blanggreng (ubi goreng). Tetangga pun bisa turut kebagian kremes-kremes dan kriuk-kriuknya…. Itulah enaknya tinggal di kampung dekat tetangga, ada yang bisa diberi oleh-oleh……  

Yogyakarta, 22 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: