Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik

Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai “Bopet Pak Haji”.

Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti “Bopet Pak Haji” yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. Rule of thumb-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : uenak dan huenak sekali.

Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup uenak saja apa huenak sekali sih…. Paling tidak, ya lumayan uenak-lah, meki taste-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     

***

Sore serasa belum lengkap kalau belum nyruput kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : “Kopi O, pak?”. Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf “O”, mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : “Ya, kopi biase tak pakai ape-ape….”, dengan logat Melayunya. Saya baru ngeh : “Ooo…. , itu to maksudnya kopi O…..”, barulah saya bisa mengkonfirmasi : “Iya, kopi O satu!”.

Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. “Kalau teh O ada, tak?”, tanya saya. Lalu dijawabnya : “Ada, pak. Teh obeng juga ada….”. Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di “Madurejo Swalayan” saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. Lha ini ada lagi teh obeng….. Rupanya yang disebut teh obeng adalah es teh. 

Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.

Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan mbludak, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera ngopi bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.

Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh obeng. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar clue, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.

***

Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan “Melayu Square” yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.

Yang disebut “Melayu Square” ini adalah semacam Pujasera, open air, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.

Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis ikan-ikanan, maklum wong dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu laksa (dibaca la’se). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat nek (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.

Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring laksa. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih…..!

Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi tarik. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh tarik adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.

Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.

Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : huenak dan mantab (diakhiri huruf “b”) sekali….. Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh tarik selagi berada di Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan”

  1. Rizal Says:

    Hallo, salam kenal. Nama saya Rizal. Saya sedang mencari tahu mengenai makanan khas Pulau Batam dan Pulau Bintan, khususnya yang ada di Tanjung Pinang. Kalau mas Yusuf Iskandar mempunyai informasi yang lebih, boleh saya dikirimkan email mengenai makanan khas Propinsi baru Indonesia tersebut? Saya berterima kasih atas segala informasi yang diberikan oleh Mas Yusuf.

  2. madurejo Says:

    Mas Rizal,
    Sayang sekali saya belum memiliki info lebih detil tentang makanan khas Batam dan Bintan.

    Setahu saya tentang Batam, saya kira tidak memiliki makanan khas, karena ini adalah kawasan baru dimana masyarakatnya sangat heterogen dan berdatangan dari segala penjuru. Praktis, semua jenis makanan di Indonesia nyaris ada di sini. Sedang Bintan, makanannya hampir sama dengan pada umumnya di daerah Riau, al. laksa.

    Selebihnya saya belum memilki infonya. Silakan kalau ada pembaca lain yang bisa menambahkan. Terima kasih.-

  3. Rizal Says:

    Terima kasih atas informasinya kalau begitu. Karena Batam adalah propinsi paling muda di Indonesia, makanya saya ingin mencari tahu makanan khasnya dan siapa tahu ada.

    Btw, ada yang mengetahui juga masakan khas dari Samarinda (Balikpapan) dan Palangkaraya? Siapa tahu sudah ada yang pernah menjelajah kuliner di sana? Terima kasih atas informasinya.

  4. Yanto Says:

    Makanan khas tanjung pinang berupa:
    1. otak-otak
    2. Laksa
    3. Mie Siam
    4. Ta Mie
    5. Nasi ayam khas tanjung pinang

    Coba aja deh kl sempat singgah di tanjung pinang.

  5. agnes Says:

    Senang sekali aku baca pengalaman anda ini. Sekitar bulan September 2006 aku juga pernah kunjungi Tanjung Pinang. Kota yang cukup indah memang, walaupun hanya dapat berada disana beberapa hari saja.

    Aku memandang kota ini dari sudut yang lain. Beberapa saat aku mengamati ada beberapa hal yang mestinya dapat lebih diperhatikan perkembangannya.

    Aku tinggal bersama orang tua kekasihku di daerah Menteng, Jl. I.R. Sutami, kota Tanjung Pinang beberapa hari. Singkat kata, niat keberangkatan yang semula hanya ingin “have fun” menjumpai kekasih yang baru saja pulang berlayar berubah menjadi interest pada situasi pendidikan non-formal yang tersedia di kota tersebut.

    Aku di antar laki-laki pujaanku (du-ren Pinang, alias DUda keRENnya Pinang, masih muda umur 22th tapi udah duda,hahahaha… ) berkeliling ke tempat-tempat yang aku maui, ke sekolah-sekolah, ke pasar, ke toko-toko, ke kedai makanan, dan ke tempat kursusan. Sayangnya, saat itu adalah awal bulan puasa, jalan-jalan sepi, pertokoan banyak yang tutup, angkutan umum jarang berlalu-lalang, tidak seperti kota besar lainnya. Beberapa sekolahpun libur.

    Aduh, koherensi antar paragrafnya gak ada nih…. ah, biarlah…., inikan mengarang bebas. hehehe….

    Saat itu aku tanya pada kekasihku, “mayoritas pekerjaan penduduk sini apa, mas?” (karena aku orang jawa, maka aku panggil dia mas, walaupun dia lebih suka di panggil abang sih). Kata dia, “ya, yang muda sebagian besar memilih melaut, berlayar, ya macam-macam la, tapi sebagian besar ya berlayar…”. kemudian pertanyaan lanjutanku, “di perairan mana?”, “ya macam-macam lah…., tapi agak ada keterbatasan karna terbentur kurangnya kemampuan bahasa internasional”, …”hahahah,termasuk kamu lah say…”, jawabku.

    Akhirnya dia menceritakan kalau di sana memang tidak terlalu banyak penyelenggara pendidikan non-formal yang berkait dengan bahasa, kalaupun ada ya cuma Pel Nus itu. Padahal kalau di tilik ulang, dengan posisinya yang dekat dengan perbatasan seperti itu, kemampuan bahasa mutlak di perlukan kalau tidak mau merugi.

    Sebenarnya keberadaan penyelenggara pendidikan non-formal yang ikut memberi kontribusi secara holistik banyak benefitnya. Namun pada saat aku berkunjung kesana sepertinya kebutuhan akan hal tersebut belum terakomodir dengan baik. Buktinya, untuk daerah yang seluas itu, dengan potensi pasar yang seluas itu, hanya ada sang Pel Nus, 1 kursusan adikuasa. Wow, pantas saja rumah pemiliknya berada di bilangan perumahan mewah kota tersebut, dengan halaman yang cantik, mobil yang aduhai dan desain exterior yang oke.

    Pada saat itu langsung timbul pikiranku untuk membuka usaha jasa pendidikan disana, serupa yang sudah aku miliki di kota-kota di daerah Jawa Tengah.

    Pada saat ini aku masih menunggu informasi-informasi lain dari manapun asalnya yang berkait dengan perubahan Tanjung Pinang sebab kekasihku itu sekarang udah jadi mantan, mana mungkin lah aku tanya-tanya padanya…

    Jadi tuk siapapun yang mau kasi informasi atau malah mau kerjasama bikin usaha jasa pendidikan Tanjung Pinang, bisa hubungi aku ya…
    0888-2525-702 atau 085-226-188-053.

    thanks a bunch….

    greet,

    Agnes

  6. madurejo Says:

    Mbak Agnes,
    Terima kasih untuk “sharing”-nya yang sangat mengesankan. Semoga gagasan dan usahanya segera bersambut dan menemukan jalannya. Siapa tahu jadi peluang bisnis yang bagus. Salam.

  7. Denny Says:

    Buat informasi aja:

    “O” dari minuman kopi O dan teh O berasal dari 0 (nol atau kosong). Ini berarti kopi dan teh yang disajikan tidak disajikan bersama susu.

    Kalau di Singapore / Malaysia, kalau kita memesan “teh” atau “kopi” tanpa mengatakan “O”, mereka akan memberikan teh susu dan kopi susu. Ini adalah SOP mereka.

  8. madurejo Says:

    Mas Denny,
    Terima kasih tambahan infonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: