Berkunjung Ke Bumi Raflesia

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno

Ada yang berbeda dengan Adam Air yang saya tumpangi hari Minggu kemarin. Sejak dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu dilanjutkan menuju Bengkulu, semua pramugari Adam Air tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Para pramugarinya tampil santai. Mereka hanya mengenakan kaos yang warnanya tidak seragam dipadu dengan celana denim biru berbagai merek. Kaos yang dikenakan ada yang berwarna dasar oranye, kuning, dan ada pula yang putih.

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tanyakan juga kepada salah dua dari mereka. Kenapa tidak memakai seragam? Jawabnya, memperingati World Cup. Piala Dunia kok diperingati. Tentu yang dimaksudkan adalah turut berpartisipasi merayakan pesta akbar pertandingan sepak bola dunia yang sedang digelar di Jerman. Makanya kaos yang dikenakan pun menyamai seragam kesebelasan sepak bola berbagai negara peserta putaran final, antara lain ya regu Belanda dengan warna dasar oranye dan regu Brasil dengan warna dasar kuning. Sayangnya (atau bagusnya) tidak mengenakan celana pendek kombor dan sepatu bola, melainkan blujin biru ketat berbagai merek dan sepatu olah raga putih.

Kesannya memang nanggung, bukan seragam pramugarinya yang nanggung melainkan ide dasarnya Adam Air ini. Kalau maksudnya berpartisipasi merayakan pesta Piala Dunia, kenapa hanya seragam peladen (pelayan) pesawat saja yang tampil beda. Sementara tak satupun ada atribut lain yang menandakan sedang turut merayakan hajatan sepak bola dunia. Tidak juga ada poster atau brosur atau atribut lainnya, sejak saat keberangkatan hingga kedatangan. Tapi, yo wis-lah….. Wong namanya turut berpartisipasi, ya sesukanya dan seikhlasnya…..

Kalau ada yang sedikit “berbeda” adalah ketika pesawat yang dari Jakarta hendak berangkat menuju Bengkulu, pintunya susah ditutup. Engselnya ngadat. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali dicoba ditarik-tarik untuk ditutup, tetap tidak mau nutup juga. Mau tersenyum melihatnya, bagaimana seorang pramugara bersusah-payah menarik-narik pintu sambil sesekali memukul-mukul engselnya, didampingi oleh seorang pramugarinya, tetap tidak mau nutup juga. Tapi juga deg-degan, lha bagaimana nanti kalau tiba-tiba malah membuka sendiri sewaktu sedang di awang-awang? Setelah usaha yang kesekian kalinya, akhirnya semua lega ketika akhirnya pintu pesawat berhasil ditutup. Tidak perlu ada tepuk tangan untuk “kebodohan” semacam ini….. Kebodohan yang menakutkan…..

***

Sekitar jam 14:30 siang saya mendarat di Bengkulu, yang juga menyebut dirinya dengan bumi Raflesia. Entah mana tulisan yang benar, di bandara ada yang menulis besar-besar dengan Rafflesia (double “f”) dan ada yang menulis Raflessia (double “s”). Saya baru tahu kalau nama bandara Bengkulu yang dulu bernama bandara Padang Kemiling ini rupanya sejak direnovasi tahun 2001 telah berubah nama menjadi Fatmawati Soekarno Airport. Begitu nama resmi yang tertulis di sana.

Sebelas tahun lebih sedikit yang lalu, saya meninggalkan kota ini setelah enam setengah tahun sebelumnya midar-mider melalui kota ini saat masih bekerja di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara. Lebong Tandai, nama tempatnya.

Tahun 1995 terpaksa saya dan teman-teman lainnya eksodus dari perusahaan tambang yang mulai salah urus. Operasi tambang yang sebenarnya masih berprospek bagus itu ternyata pengelolaannya amburadul. Maka sebagian besar pegawainya, tidak staff tidak non-staff, akhirnya merelakan untuk melupakan satu-dua bulan gaji terakhirnya dan memilih eksodus meninggalkan lokasi kerja.

Pihak pemerintah daerah dan departemen teknis terkait yang sesungguhnya sangat diharapkan untuk turun tangan mencarikan jalan keluar, ternyata turun kaki pun tidak. Maka sekitar seribu lima ratus sisa pegawainya akhirnya bagai anak-anak ayam kehilangan induknya. Bubar mencari selamat masing-masing nyaris tanpa bekal. Patut bersyukur bagi mereka yang akhirnya bisa tiba di kampung halaman dengan selamat dengan sisa bekal yang ada.

Kota Bengkulu yang saya jumpai siang itu tampak damai dan sepertinya tidak banyak perubahan. Kota ini memang tidak terlalu ramai dan padat. Jalan-jalan kotanya lebar dan lalu lintas sangat lancar, hingga terasa enak sekali berkeliling kota ini. Sebagai sebuah ibukota propinsi, maka Bengkulu tergolong kota propinsi yang relatif sepi. Barangkali karena letak geografisnya kurang strategis. Bukan kota dagang, bukan juga menjadi kota perlintasan dagang. Belum banyak industri, selain beberapa perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.

***

Hari pertama di Bengkulu saya sempatkan untuk napak tilas jalan-jalan dan tempat-tempat yang sebagian masih saya ingat arah, rute, lokasi dan namanya. Diantaranya kawasan simpang lima, pasar Minggu, daerah Kampung (tapi ada di pusat kota), daerah pantai dengan benteng Fort Marlborough dan Tapak Padri, pantai Panjang (karena memang pantainya puanjang), bekas rumah ibu Fatmawati dan rumah Bung Karno sewaktu dalam pengasingannya di Bengkulu.

Tidak lupa, tentu saja menikmati makan malam (untuk urusan yang satu ini wajib hukumnya…..). Pilihan jatuh pada menu pindang tulang, di rumah makan “Tanjung Karang”, Jl. Mayjen Sutoyo. Pokoknya ya mampir saja. Entah lagi lapar entah memang enak, pokoknya huenak tenan… Sehingga masuk kembali ke kamar hotel pun dapat nggeblak dengan nyaman.

Ee….., lha kok pas enak-enaknya mulai menyaksikan Piala Dunia babak enam belas besar, tiba-tiba bumi seperti digoyang-goyang. Meskipun goyangannya tidak keras, melainkan goyangan lembut dan mesra, feeling saya dengan cepat dapat mengidentifiksi bahwa sedang terjadi gempa bumi. Tentu saja, mak deg….. terbayang gempa Jogja. Untung hanya sekali saja dan tidak ada gempa-gempa susulan, sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Esok hari baru saya memperoleh kepastian setelah melihat televisi, bahwa memang telah terjadi gempa di Bengkulu dengan kekuatan 5,2 skala Richter. Darimana lagi kalau bukan dari gerakan palung Jawa, masih segaris keturunan dengan gempa Aceh, Nias, Jogja, Padang dan terakhir Lampung. Barangkali karena efek getarannya sangat halus dan tidak mengagetkan, maka masyarakat Bengkulu sepertinya tidak terganggu, karena memang gempa-gempa lembut semacam ini sering dirasakan.

Saya hanya kepikiran, bahwa gempa yang sama dengan intensitas lebih lemah atau lebih kuat sepetinya tinggal menunggu tanggal mainnya saja bagi kawasan-kawasan lain yang berdekatan dengan palung Jawa. Tidak ada salahnya untuk waspada.

Bengkulu – 26 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: