Berkunjung Ke Bumi Raflesia

(3).  Mbelah Duren Di Waung Pak Leman

Sejak saya datang menjelang maghrib, Pak Leman yang nama lengkapnya Soleman (konon kalau di Jerman ejaannya menjadi Lehmann…..), tak habis-habisnya bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi pekerja tambang. Mengaku sebagai penduduk asli dusun Siring, sejak tahun 1983 Pak Leman dan keluarganya menempati sepetak rumah merangkap warung di pinggir jalan tambang. Jalan kampung yang biasa dilalui truk-truk pengangkut batubara. Di warung kecil-kecilan itu pula Bu Leman berjualan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.

Hari-hari ini musim durian sudah menjelang tiba. Pak Leman pun nyambi jualan durian, seperti sudah bertahun-tahun dilakoninya. Musim durian di Bengkulu memang baru awal-awalnya. Karena pohon durian milik Pak Leman belum mulai menghasilkan, maka Pak Leman kulakan durian dari tetangganya yang mempunyai pohon durian di hutan yang sudah mulai matang.

Saat petang mulai meremang itulah, dalam perjalanan pulang ke kota Bengkulu dari sebuah lokasi tambang, kami berhenti sejenak di warung Pak Leman itu. Ya buat apa lagi kalau bukan mau menikmati buah durian. Kebetulan pas ada tetangga Pak Leman yang baru keluar dari hutan membawa durian. Meski untuk itu tetangga Pak Leman itu rela berjalan kaki berkilo-kilometer memikul beberapa butir durian dari kebunnya untuk dijual.

Acara tunggal petang itu adalah mbelah duren….. Mula-mula jenis durian biasa, cukup manis dan enak rasanya. Lalu Pak Leman menyodorkan jenis durian tembaga. Dagingnya agak lembek, berwarna kekuningan, tapi rasanya …..boo……, huenak tenan….. Belum pernah saya temukan durian jenis ini di Jawa.

Di Sumangtrah memang terkenal kalau yang namanya durian tembaga itu tiada yang melawan rasanya. Bagi orang yang sudah lama tinggal di Sumatera barangkali tidak asing lagi dengan jenis durian ini. Tapi bagi mereka yang belum pernah mencicipi durian ini, sepertinya perlu dicatat di buku agenda untuk suatu saat nanti mencobanya. Selain karena kekuatan rasa dan aromanya, terutama sensasi kliyeng-kliyeng di kepala kalau kebanyakan (namanya juga kebanyakan…..).

Entah kenapa durian yang dagingnya berwarna kekuning-kuningan ini disebut durian tembaga. Saya tidak paham muasal-asalnya kenapa bukan durian kuningan atau durian emas, disebutnya.

Selain durian biasa dan durian tembaga, masih ada satu jenis durian lagi yang saya coba petang itu, yaitu durian roti. Dagingnya kesat dan berwarna keputih-putihan (sengaja kata ‘putih’ saya tulis berulang). Ketika dimakan terasa taste seperti roti tawar. Barangkali itu, makanya disebut durian roti. Kalau umumnya orang bikin roti rasa durian, maka ini durian rasa roti. Memang tidak semanis durian tembaga, tapi tetap saja hoenak tenan……  Tidak ada salahnya juga, suatu saat nanti diagendakan untuk dicoba, bagi yang kepingin.

Sambil menikmati durian, sambil menyeruput kopi Bengkulu yang katanya hasil olahan dari kebun Pak Leman sendiri. Masih sambil mendengarkan cerita-cerita seru pengalaman hidup Pak Leman…. tan soyo dalu tan soyo gayeng….. , dan semakin malam semakin berbau mistis.

Ketika akhirnya kami berpamitan, tidak lupa Pak Leman memberi tips. Kalau habis makan durian, ambil sebilah kulitnya, tuangkan sedikit air putih ke ceruk kulitnya, lalu diminum. Katanya selain dapat menetralisir baunya, juga dapat menetralisir hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin berkecamuk di dalam perut. Khusus untuk durian tembaga, ada tips tambahan. Jangan buru-buru minum air es karena akan berakibat perut kembung. Dan jangan dulu minum bir atau minuman beralkohol, kecuali bagi yang memang merencanakan untuk teler……..

***

Malam seperti semakin menuju larut, padahal sebenarnya belum. Itu karena kampung di sekitarnya sudah sepi bin senyap. Sesekali sopir truk angkutan batubara lewat menyapa Pak Leman. Langit pun tampak bersih dengan bulan sabit menggantung di dinding timur. Pak Leman pun semakin sulit dipenggal cerita-ceritanya.

Warung Pak Leman menjadi satu-satunya tempat yang masih terlihat terang-benderang, sementara rumah-rumah tetangganya sudah pada tutup, dengan kerlip lampu-lampu kecil di sana-sini, khas suasana desa. Waktu maghrib sudah lama terlewati. Saya memilih untuk memanfaatkan “fasilitas” untuk men-jamak (menggabung) sholat maghrib dengan isya, sebagai seorang musafir yang sedang lapar duren di kawasan ladang batubara……

Akhirnya, Pak Leman hanya minta duriannya dihargai Rp 5.000,- sebutirnya, sedangkan kopinya gratis. Sebagai sapaan selamat datang, katanya. Padahal dua hari sebelumnya kami membeli durian di kota Bengkulu harganya Rp 12.500,- per butir. Katanya kalau lagi musim-musimnya durian, harga sebutir durian hanya sekitar dua-tiga rebuan per butir. Eee…, lha kok di jalan Kusuma Negara Jogja tetap saja dua puluh lima ribuan per butir, tidak perduli lagi musim apa……

Bengkulu, 30 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Berkunjung Ke Bumi Raflesia”

  1. a. fachroni Says:

    pak, cbo pai ke bgkulu utara, wuih, durennyo ciamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik nian, jgn lupo mkn smbl tmpuyaknyo. mantab!!! syg nian sayo skrg lagi di solo jateng, kulyh, utk mmprbaiki msa dpn syo n msa dpn bgklu. bravo bgklu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: