Perjalanan Pulang Kampung

(9).   Melihat Kincir Angin Dan Sepatu Kayu Di Zaanse Schaan

Hari Selasa, 17 Juli 2001 pagi saya mencari-cari informasi tentang beberapa obyek wisata yang sejak semula memang menjadi tujuan kami. Mempertimbangkan bahwa kesempatan kami mengunjungi Amsterdam sangat terbatas, maka pilihan-pilihan memang perlu dibuat. Di antaranya yang kami prioritaskan adalah melihat windmill atau kincir angin yang sering menjadi simbol bagi negeri Belanda dengan sebutannya sebagai Negeri Kincir Angin.

Tujuan kedua adalah kota Madurodam dimana terdapat kota mini atau miniatur negeri Belanda. Keminiannya kira-kira berskala 1 : 25 dari ukuran sebenarnya. Semula kami masih merencanakan tujuan lain yaitu menyaksikan bunga tulip yang juga menjadi salah satu simbol  bagi negeri Belanda. Namun sayang saat ini bukan musim yang tepat. Bunga ini biasanya mekar sekitar bulan-bulan Maret sampai Mei.

Mengingat beberapa lokasi pilihan yang hendak kami kunjungi ternyata letaknya saling berjauhan, maka saya memutuskan untuk mengambil paket wisata untuk mengunjungi tujuan wisata yang agak jauh lokasinya, seperti Madurodam. Melalui petugas hotel saya memesan paket wisata untuk mengunjungi Madurodam dan sekitarnya yang dijadwalkan berangkat jam 02:00 siang.

***

Memanfaatkan waktu paginya, di hari Selasa tanggal 17 Juli 2001, sebelum pergi ke Madurodam, kami pergi melihat kincir angin (windmill) yang terletak di kawasan Zaanse Schaan. Kawasan ini berada di arah barat laut dari Amsterdam dan dapat ditempuh dengan taksi paling lama 30 menit. Agar tidak memboroskan waktu, maka saya putuskan untuk menggunakan jasa taksi, meskipun untuk itu saya mesti menganggarkan biaya agak mahal. Untuk pergi dan pulang saya harus mengeluarkan hampir 200 Fl (Gulden) atau kira-kira setara dengan US$ 80.

Zaanse Schaan memang merupakan daerah tujuan wisata. Kalau di Indonesia barangkali dapat saya identikkan dengan desa wisata. Di kawasan ini dapat dijumpai beberapa bangunan  kincir angin yang sengaja difasilitasi untuk dikunjungi wisatawan. Selain itu juga ada sentra kerajinan sepatu kayu, industri pengolahan roti dan keju, serta beberapa museum.

Salah satu dari bangunan kincir angin yang ada di sana memang dibuka untuk wisatawan yang ingin naik ke bagian atapnya. Masuk ke bagian bawah dari bangunan ini akan dapat dilihat bagaimana kincir angin bekerja untuk dimanfaatkan energi yang dihasilkannya. Melalui tangga yang berukuran kecil dan relatif tegak, maka pengunjung dapat naik ke atap bangunan tepat di bagian belakang dari empat buah kincir atau baling-baling yang terus-menerus berputar karena tertiup oleh hembusan angin yang cukup kuat.

Sejauh mata memandang dari atap ini adalah dataran terbuka di satu sisi dan danau di sisi yang lain. Di seberang danau tampak bangunan-bangunan kayu yang berkonstruksi khas dan artistik yang dicat warna-warni. Saya tidak tahu persis apakah itu adalah bangunan khas tradisional Belanda.

Yang saya tahu bahwa adanya bangunan beberapa kincir angin di satu sisi danau dan bangunan artistik berwarna-warni di seberang danau telah menciptakan perpaduan pemandangan yang menarik. Pantas saja lanskap seperti itu sering ditampilkan dalam foto-foto promosi pariwisata termasuk di kalender atau kartu pos, selain bunga tulip kebanggan bangsa Belanda.

***

Obyek wisata ini rupanya memang cukup menarik wisatawan mancanegara. Banyak rombongan-rombongan wisatawan yang datang menggunakan bis-bis besar, diantaranya yang banyak saya temui adalah rombongan wisatawan dari Cina dan Jepang.

Masih satu kawasan desa wisata dengan kincir angin, selanjutnya kami menuju ke tempat industri sepatu kayu (woodshoes). Di lokasi inipun para pengunjung mesti berdesak-desakan. Di bagian depan tempat ini ada seonggok patung sepatu kayu raksasa yang menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto. Menilik namanya, maka dapat ditebak ini adalah tempat pembuatan sepatu yang bahannya dari kayu yang dipotong, dipahat, dilukis dan dikreasi dengan sentuhan seni sehingga benar-benar menjadi sepatu, sandal, sepatu-sandal dan sejenisnya.   

Saya jadi ingat, kalau saya pikir-pikir industri sepatu kayu ini sesungguhnya tidak beda dengan industri bakiak atau theklek di Jawa. Bakiak atau sejenis sandal kayu yang oleh orang-orang desa dulu biasa digunakan untuk pergi ke kamar mandi atau WC. Di desa-desa yang namanya tempat mandi atau WC ini biasanya lokasinya terpisah dari rumah induk, sehingga bakiak dirasa sangat cocok digunakan sebagai alas kaki. Biasa juga dipakai untuk pergi ke langgar atau surau oleh para orang-orang tua. Bahkan kalau dipakai untuk ronda malam dan jalannya agak diseret bisa untuk nakut-nakutin pencuri.

Sama-sama merupakan hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, rupanya bakiak atau theklek buatan Indonesia ini kalah pamor dibandingkan dengan sepatu kayu (woodshoes) dari Belanda. Bisa jadi karena yang namanya bakiak itu sepanjang sejarahnya ya berbentuk begitu-begitu saja, tanpa pernah ada upaya untuk memberi sentuhan seni. Atau, barangkali karena para perajin bakiak kita memang kalah dalam kreatifitas dan idealisme, yang penting bekerja dan hasilnya lalu dijual apa adanya.

Atau, para perajin kita memang suka bekerja sendiri-sendiri, tidak pernah ada yang memberi petunjuk bagaimana agar bisa bersama-sama secara kolektif memperbaiki kualitasnya agar mampu ber-go international.  Entahlah, saya cuma menerka-nerka dalam hati. Sebab kalau saya ucapkan, saya akan kesulitan kalau anak-anak saya tanya : “Apa itu theklek…?”  Menjawabnya susah kalau tidak ada contohnya.

Sekitar jam 12:30, kami sudah meninggalkan kompleks desa wisata di Zaanse Schaan sebab jam 13:30 mesti kumpul di hotel untuk mengikuti paket wisata yang akan membawa kami menuju kota Madurodam. Katanya perlu waktu perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan.-

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: