Perjalanan Pulang Kampung

(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord

Hari Senin, 16 Juli 2001, adalah hari yang kami jadwalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Amsterdam dengan menggunakan kereta api. Namun kami belum melakukan pemesanan tiket kereta, padahal dari buku-buku wisata selalu disarankan untuk melakukan pemesanan tiket jauh hari sebelumnya. Setelah cari-cari informasi, maka kemudian saya menilpun bagian reservasi kereta api yang untungnya menyediakan sambungan khusus untuk komunikasi berbahasa Inggris.

Jauh dari yang saya bayangkan, ternyata pemesanan tiket kereta dapat dilakukan dengan sangat mudah dan praktis. Cukup dengan menyebutkan kartu kredit sebagai jaminan, lalu saya diberi nomor kode pemesanan. Tinggal nanti menyelesaikan pembayaran saat tiba di loket stasiun dengan menunjukkan kode pemesanan yang telah diberikan via tilpun. Harga tiketnya pun relatif cukup murah. Untuk gerbong kelas dua harganya 503 Fr (sekitar US$ 72) untuk dewasa dan 126 Fr (sekitar US$ 18) untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Setelah selesai dengan pemesanan tiket kereta untuk perjalanan nanti sore, kami memanfaatkan waktu pagi hari dengan jalan-jalan ke Galeries Lafayette karena ibunya anak-anak berniat hendak berbelanja sesuatu. Mempertimbangkan masih cukup waktu, kami pun meluncur menggunakan taksi.

***

Saat kami meninggalkan hotel di Paris siang harinya dan hendak menuju ke stasiun Le Gare du Nord, sebenarnya kami sempat agak bingung bagaimana harus naik kereta api dengan membawa barang-barang bawaan yang cukup banyak dan berat. Bayangan saya adalah repotnya naik kereta Yogya – Jakarta dengan membawa banyak barang bawaan.

Rupanya kekhawatiran saya terpupus begitu kami turun dari taksi dan semuanya berlangsung begitu mudah. Setidak-tidaknya kami dapat menanganinya sendiri dengan tanpa bantuan porter stasiun. Cukup dengan menyewa kereta dorong (trolly) dua buah dengan harga sewa 12 Fr (sekitar US$ 1,50) sebuahnya, lalu bersama-sama istri dan anak-anak bergotong-royong mendorong barang bawaan masuk menuju ke dalam stasiun.

Di dalam stasiun, sementara istri dan anak-anak menunggui barang bawaan, saya mencari loket karcis (billet). Di loket saya tinggal menunjukkan catatan tentang nomor kode reservasi kereta Thalys yang menuju ke Amsterdam yang tiketnya sudah saya pesan pagi harinya via tilpun dari hotel.

Sekitar 15 menit sebelum jam keberangkatan kereta, di papan petunjuk jadwal kereta yang terpampang besar dan sangat jelas (perlu agak teliti saja mengingat di sana terpampang banyak jadwal kereta api) baru diinformasikan tentang kereta atau sepur nomor berapa yang menuju ke Amsterdam. Barulah kami dan para penumpang lainnya berbondong-bondong menuju ke peron dari nomor sepur (spoor) yang dimaksud.

Rupanya saya kurang teliti melihat nomor gerbong kereta yang tertulis di karcis. Dengan meyakinkan saya bawa segenap rombongan beserta barang-barang bawaan masuk menuju ke gerbong nomor 17. Usai menyusun barang-barang di tempat bagasi yang ada di ujung gerbong, kami lalu menuju ke kursi tempat duduk. Pekerjaan ini sungguh bikin berkeringat mengingat cukup beratnya tas-tas kami. Setelah tolah-toleh, akhirnya ketemu nomor tempat duduk kami. Tapi kok hanya ada dua nomor kursi, padahal kami pesan empat nomor.

Setelah sekian menit kami kebingungan mencari nomor kursi yang “hilang”, barulah saya ingat untuk memeriksa kembali tiket yang saya beli. Wow…, ternyata kami masuk di gerbong yang salah. Seharusnya kami masuk ke gerbong nomor 15. Terlanjur  sudah menaikkan barang-barang yang cukup berat. Sementara di luar sudah terdengar halo-halo bahwa kereta segera akan diberangkatkan yang berarti pintu-pintu otomatis gerbong kereta segera akan ditutup.

Dalam ketergesa-gesaan, saya instruksikan segenap rombongan untuk segera keluar dari gerbong nomor 17 dan bersama-sama lari menuju ke gerbong nomor 15. Sementara biarkan dulu empat buah tas yang cukup berat tetap berada di gerbong 17. Agak ngos-ngosan sambil sedikit cengengesan, akhirnya kami duduk di kursi yang benar sesuai bunyi karcisnya. Soal bagasi, biarlah saya percayakan kepada kereta api.

***

Tepat (dan benar-benar tepat) pukul 16:55 sore, pintu-pintu otomatis gerbong kereta api listrik Thalys meninggalkan stasiun Gare du Nord, Paris, meluncur ke arah utara menuju ke Amsterdam. Menurut jadwal, kereta ini akan tiba di Amsterdam pada pukul 21:07 malam, atau hanya sekitar 4 jam perjalanan. Saya sebut malam karena menyesuaikan dengan sebutan untuk waktu yang sama di Indonesia. Meskipun sebenarnya masih awal dari sore kalau mengingat lokasi Amsterdam yang lebih ke utara dari kota Paris. Jika di Paris matahari baru tenggelam di atas jam 10 malam, maka di Amsterdam pasti lebih malam lagi matahari baru akan terbenam.

Sekitar satu setengah jam meninggalkan Paris, kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, berarti kami sudah meninggalkan negara Perancis dan masuk ke Belgia. Saat kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, saya menyempatkan keluar dari kereta dan menuju ke gerbong nomor 17 untuk memeriksa bagasi saya. Ternyata masih aman di sana.

Setengah jam kemudian kereta berhenti lagi di Antwerpen – Berchem yang merupakan stasiun perlintasan bagi penumpang yang akan berpindah jurusan selain ke Amsterdam. Untuk kedua kalinya ketika kereta berhenti di stasiun Antwerpen – Berchem, saya sekali lagi mengintip bagasi saya, dan memang masih terlihat aman di sana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi perlu menengok-nengok. Mudah-mudahan aman sampai kami tiba di stasiun Centraal Amsterdam, doa saya.-

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: