Archive for Februari 28th, 2008

Keramahtamahan Amerika

28 Februari 2008

Sekali waktu saya mencoba menghitung berapa banyak kata “terima kasih” dan “maaf” yang saya ucapkan per hari, mulai saat bangun tidur pagi hari hingga menjelang tidur malam hari. Hasilnya? Rata-rata tidak lebih dari 10 kali. Malah seringkali hitungan angkanya di bawah 10 untuk ucapan “terima kasih” dan di bawah 5 untuk ucapan “maaf”.

Ketika pertanyaan yang sama saya bandingkan dengan ketika saya tinggal di Indonesia, ternyata hasil hitungan angkanya lebih kecil lagi. Artinya, lingkungan di Amerika memang menuntut saya (atau siapapun juga) untuk lebih membiasakan diri mengucapkan kedua kata itu.

Saya justru kaget sendiri, ketika lingkupnya saya persempit di lingkungan keluarga saya sendiri. Ternyata kedua kata itu menjadi barang langka, nyaris jarang terdengar diucapkan. Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan di hati saya : Apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah berbuat salah sehingga antar anggotanya tidak perlu saling mengucapkan kata maaf?. Ataukah keluarga saya termasuk keluarga yang tidak bisa berterima kasih antar sesama anggota keluarganya?

***

Dalam keseharian saya di Amerika, sering saya jumpai seseorang mengucapkan kata “terima kasih” ketika dia hampir ketinggalan hendak naik lift dan orang-orang yang lebih dahulu ada di dalam dengan suka rela kembali membuka pintu lift mempersilahkannya masuk.

Seorang lainnya berterimakasih ketika diberi jalan menyusuri lorong-lorong rak atau almari di dalam pertokoan. Seorang ibu berterimakasih kepada anaknya yang mengambilkan sebuah barang belanjaannya yang jatuh dari kereta belanja. Hampir setiap orang merasa perlu berterimakasih ketika ditanyakan tentang kabarnya.

Atau, seseorang mengucapkan kata “maaf” ketika usai membuka pintu masuk ke sebuah ruangan, dia lupa ketika melepaskan daun pintu begitu saja dan tidak memudahkan jalan bagi orang lain di belakangnya yang juga hendak masuk ke ruangan yang sama.

Seseorang meminta maaf ketika tanpa disadarinya dia berdiri menghalangi jalan orang lain. Seorang ibu meminta maaf kepada anaknya ketika barang belanjaannya secara tidak sengaja menyenggol kepala anaknya, padahal bukan salah sang ibu.

Itu semua sedikit contoh yang saya jumpai dalam keseharian saya di Amerika, untuk sekedar membandingkannya dengan yang biasa saya jumpai di Indonesia, dimana kejadian-kejadian semacam itu nampaknya dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja yang memang sewajarnya terjadi. Tanpa perlu basa-basi dengan kata-kata “terima kasih” atau “maaf”.

Sekedar contoh sebaliknya (yang kedengaran ekstrim, tapi nyata), ketika ada seorang anak tanpa sengaja menabrak emak-nya yang sedang asyik tawar-menawar dengan bakul kain di pasar. Apa kata emak-nya?. “Ooo…..matane ora
ndelok-ndelokke..
.” (matanya tidak lihat-lihat). Padahal emak-nya yang keasyikan sehingga berdiri menghalangi jalan orang lain.

Atau, orang tua yang menyuruh anaknya menutup pintu. Setelah pintu ditutup, ya sudah. Tanpa perlu kata-kata terima kasih. Layaknya menjadi satu segmen kehidupan yang memang semestinya orang tua menyuruh anaknya dan sudah sepatutnya sang anak patuh.

***

Maka ketika saya ingat lagi pertanyaan yang muncul dalam hati saya tadi, apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah salah atau keluarga yang tidak pernah berterima kasih, saya merasa “agak” lega dan terhibur. Sebab ketika pertanyaan yang sama saya coba proyeksikan kepada keluarga lain tetangga-tetangga saya di Indonesia, ternyata sebenarnya saya berada pada “level” yang sama dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

Hah? Ternyata saya tidak sendirian. Apakah memang demikian senyatanya? Kedengarannya subyektif. Atau, jangan-jangan saya hanya mencari pembenaran atas kesalahan kolektif bersama lebih 200 juta keluarga tetangga saya?

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sepotong cermin yang saya temukan di tengah kultur Amerika. Cermin yang nyaris tidak pernah memantulkan bayangan sisi baik budaya Amerika ke desa saya di katulistiwa sana.

Herannya, justru budaya-budaya yang tidak cocok malahan dibawa masuk (bukan cuma dipantulkan) untuk ditiru dan diterapkan. Lebih celaka lagi, ternyata kita lebih permisif terhadap budaya-budaya yang (sebenarnya) tidak cocok itu.

***

Budaya berbasa-basi (katakanlah itu demikian, atau taruhlah dilakukan dengan tanpa ketulusan) untuk mengucapkan kata “terima kasih” atau “maaf”, bagaimanapun juga adalah satu sisi positif dari keramahtamahan Amerika yang pantas untuk dijadikan bahan introspeksi kolektif di antara kita. Padahal Amerika tidak pernah meng-claim dirinya sebagai bangsa yang ramah, (maaf) tidak sebagaimana kita. Apalagi sampai mem-penataran-kannya atau malah menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah.

Bukannya keramahtamahan itu tidak penting, melainkan anak-anak bangsa kita kurang melihat contoh perilaku keramahtamahan yang ditunjukkan oleh para orang tua mereka. Keramahtamahan dalam perspektif yang tidak sempit, tidak picik, tidak lemah, tidak buta, tidak tiran dan tidak sak geleme dhewe (semaunya sendiri), yang oleh orang Islam disebut sebagai akhlaqul karimah (budi pekerti luhur atau tingkah laku terpuji). Dan, termasuk dalam akhlaqul karimah adalah dengan ketulusan mengucapkan kata-kata “terima kasih” dan “maaf”.

Bahkan disebutkan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu (entah dia salah atau benar) mempunyai derajat yang lebih mulia ketimbang orang yang dimintai maaf. Indah sekali suratan itu, kalau saja dapat diwujudkan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan.-

New Orleans, 19 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Pensiun Ketika Mati

28 Februari 2008

Hari Minggu, 29 April 2001, sekitar jam 9:00 pagi saya tiba kembali di New Orleans, Louisiana, setelah menempuh perjalanan lumayan panjang sekitar 14 jam dari Juneau, Alaska. Dari bandara New Orleans saya lalu menggunakan taksi untuk pulang ke apartemen. Kali ini saya menjumpai taksi yang tampil beda dari biasanya.

Sejak pertama kali memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi belakang taksi, saya sudah mencium sesuatu yang lain dari biasanya. Di bagian lantai bagasinya tergelar kain tebal seperti selimut bergaris-garis merah muda seakan-akan difungsikan sebagai karpet. Begitu masuk dan duduk di jok belakang taksi, serta-merta tercium bau wangi-wangian yang jelas aromanya terasa sumegrak (bukan semerbak tapi berbau tajam), aroma yang aneh untuk selera indra penciuman orang Indonesia.

Sedan Lincoln tahun 1988 yang berbadan panjang dan lebar yang “dipekerjakan” sebagai taksi itu di dalamnya didekorasi layaknya sebuah ruang tamu. Di seputar kaca depan dan dashboard-nya dihiasi dengan bunga-bunga plastik dan patung-patung kecil Yesus Kristus. Di sela-selanya ditempelkan banyak jam tangan berbagai merek tidak terkenal, sepertinya ditempel dengan lem sehingga susah dilepas. Di bagian atas joknya ditempel hiasan plastik berbentuk udang, crawfish, dsb., yang agaknya juga direkatkan dengan lem.

Di seputar jendela samping ada hiasan-hiasan lain, termasuk kutipan-kutipan kitab Injil serta foto-foto hitam-putih. Dari foto-foto itulah akhirnya saya tahu bahwa pak sopirnya adalah seorang veteran Angkatan Laut. Diam-diam saya cocokkan postur tubuh gagah dan kekar serta wajah tampan yang ada di foto dengan wajah pak sopir. Meskipun tidak tampak serupa benar, namun saya melihat garis-garis wajah yang memang membuktikan bahwa wajah yang ada di foto adalah wajah pak sopir.

***

Untuk meyakinkan dugaan saya, maka akhirnya saya mulai membuka percakapan dengan pak sopir. Pak sopir yang bernama Billy itu memang dulu pernah bekerja di Angkatan Laut Amerika dan pernah tugas ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara. Pak Billy pun mengiyakan dengan tersenyum bangga ketika saya tanya apakah orang yang ada di dalam foto itu adalah dirinya.

Pada bulan Agustus nanti Pak Billy akan genap berusia 75 tahun! Ya, sopir taksi itu adalah Pak Billy yang usianya hampir 75 tahun. Sudah 30 tahun ini Pak Billy menjadi sopir taksi miliknya sendiri. Berjalannya sudah tidak lagi tegap, melainkan pelan dan hati-hati. Bicaranya juga pelan, tidak jelas dan serak-serak kering. Setiap kali mendengarkan pembicaraannya saya mesti mendekatkan telinga saya ke sela-sela antara dua jok depan.

Namun jangan salah, tampil dengan berkacamata plastik hitam (bukan plus atau minus) Pak Billy masih cukup gesit mengemudikan taksinya dan tidak keteter mengikuti laju kecepatan lalulintas New Orleans pagi itu.

Pak Billy mengaku hanya bekerja 4-5 jam saja per hari, itupun terkadang banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu dapat penumpang. Dia memang bekerja tidak ngoyo (memaksakan diri). Namun tentu adalah sebuah jenis pekerjaan yang luar biasa di usianya saat ini kalau mengingat bahwa dia mengaku berkerja 7 hari per minggu. Artinya, tanpa mengenal hari libur.

***

Menurut Pak Billy, ada dua hal yang membuatnya bangga, yaitu : bangga dapat menghidupi dan mengatur hidupnya sendiri dan bangga dapat menikmati hari tuanya. Lho? Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa menjadi sopir taksi ternyata juga merupakan salah satu bentuk kenikmatan di hari tua seseorang. Setidak-tidaknya bagi Pak Billy, dan itulah cara Pak Billy menikmati hari tuanya. Sebuah cara yang tentu saja kedengaran aneh di telinga kita pada umumnya.

Kalau dapat diambil benang merahnya, maka barangkali esensinya adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Adakah sesuatu yang dapat ditiru dari penggalan kehidupan seorang sopir taksi bernama Pak Billy ini? Sesuatu yang kiranya dapat disemangati (bukan mengganti) untuk disisipkan ke dalam budaya masyarakat kita yang pada umumnya selalu merencanakan ingin menikmati hari tuanya setelah pensiun nanti, tapi pasti bukan menjadi sopir taksi.

Jika demikian, lalu kapan Pak Billy akan pensiun? Jawabnya ringan saja, dengan suaranya yang lemah dan serak dia berkata : “I will retire when I die ……”, sambil tertawa terkekeh.

Setelah membayar ongkos taksi US$16 plus tip US$2 setiba di apartemen, saya berkata : “Good Luck, Pak Billy…..”

New Orleans, 30 April 2001
Yusuf Iskandar

Sang Pramugari Dan Penumpang Yang Kecewa

28 Februari 2008

Barangkali ini kejadian yang biasa-biasa saja, ketika ada seorang penumpang pesawat yang kecewa oleh pelayanan awak pesawatnya. Paling-paling sang awak pesawat akan minta maaf, dan sesudah itu sebodo amat, mau diterima atau tidak. Tapi bagi saya menjadi peristiwa yang luar biasa, setidak-tidaknya jarang saya jumpai, ketika ada seorang penumpang Singapore Airlines di sebelah saya dalam perjalanan Jakarta – Singapura kecewa berat oleh pelayanan awak pesawatnya.

Waktu makan siang di kelas bisnis, seorang pramugari Singapore Airlines membagikan sajian makan siang seperti biasanya, juga kepada penumpang di sebelah saya itu. Saat makan siang selesai dan akan dibereskan, rupanya makanan penumpang di sebelah saya nyaris masih utuh, hanya tampak sedikit bekas dicolek-colek. Melihat hal itu, yang rasanya sudah biasa terjadi, saya beranggapan barangkali penumpang di sebelah saya itu masih kenyang atau paling-paling tidak suka dengan menunya.

Sang pramugari juga seperti biasa bertanya : “Apakah Anda tidak suka dengan menunya?”. Jawaban penumpang itu yang membuat saya baru ngeh (menyadari apa yang terjadi). Rupa-rupanya sejak tadi penumpang itu menahan kekecewaan. Terbukti dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan keluhan panjang, yang kira-kira maksudnya bahwa tadi dia tidak ditanya lebih dahulu soal menu makannya, dan ternyata menu yang disajikan sangat tidak baik bagi dirinya.

Sang pramugari pun seperti baru menyadari “ada yang salah” ketika mendengar keluhan bernada marah dari penumpang di sebelah saya itu. Buru-buru sang pramugari itu minta maaf, bahkan hingga beberapa kali. Tampaknya kekecewaan penumpang itu sudah sangat mendalam. Dari tingkah dan raut mukanya (saya sempat melirik) sekilas terlihat bahwa penumpang itu masih menahan kekecewaannya.

Beberapa menit kemudian, pramugari tadi datang lagi dan kembali meminta maaf atas kejadian itu, sambil mengatakan : “saya harap hal ini tidak membuat Anda kecewa”. Betapa kagetnya saya ketika dengan tegas penumpang di sebelah saya itu menjawab “You did!”, sambil menambahkan bahwa dia sudah banyak melakukan perjalanan udara tapi kejadian ini membuatnya sangat kecewa.

Sang pramugari seperti kehabisan kata-kata, dan entah berapa banyak saya mendengar kata-kata penyesalan dan permintaan maaf disampaikan oleh sang pramugari. Tapi hingga dia berjalan menjauh, penumpang itu tampaknya masih belum bisa menerima kekecewaannya. Dalam hati saya berpikir, orang ini nanti pasti akan complaint setibanya di Singapura.

Pengalaman saya selama ini mengajarkan bahwa kejadian semacam itu adalah lumrah saja, dan selanjutnya akan berakhir dengan akhir yang tidak enak. Sang pramugari merasa sudah berkali-kali minta maaf, sedang sang penumpang tetap memendam kekecewaannya. Peristiwa akan dianggap selesai dengan sendirinya. Itu saja.

Tampaknya mulai hari itu saya harus mencatat bahwa pengalaman saya ternyata masih belum lengkap. Apa yang terjadi beberapa menit kemudian, menyadarkan saya bahwa ada hal baru yang seharusnya saya tambahkan dalam daftar pengalaman saya.

***

Kali ini datang pramugari yang lain, agaknya lebih senior. Dengan senyum manisnya di balik baju seragamnya yang khas seperti iklan-iklan Singapore Airlines di TV, sang pramugari senior ini mendekati penumpang di sebelah saya, dan mengawali pembicaraan dengan meminta maaf atas kejadian tadi. Sang pramugari ini lalu menjanjikan akan membantu mengatur menu yang sesuai, untuk perjalanan lanjutan yang akan dilakukan oleh penumpang di sebelah saya. Mulailah sang pramugari ini menanyakan kepada penumpang yang sedang kecewa berat itu kemana tujuan akhirnya, dengan pesawat apa, dan seterusnya.

Lalu sambil berlutut di sebelah tempat duduk penumpang itu (sebab kalau tidak, pramugari itu pasti akan kecapekan bicara sambil nungging), sang pramugari dengan lihai mulai menggiring pembicaraan ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Diajukannya dengan sopan dan lembut pertanyaan-pertanyaan seperti : perjalanan ini dari mana, mau kemana, berapa lama, dalam rangka apa, pekerjaannya apa, tugasnya dimana, berasal dari mana, dsb.

Di luar dugaan saya, sang pramugari ternyata berhasil mem-pribadi-kan suasana, hingga penumpang di sebelah saya pun dengan enak menjawab semua pertanyaan itu. Suasana dialog lalu berubah menjadi layaknya pembicaraan dua orang yang sudah lama saling kenal. Sekitar sepuluh menit diperlukan oleh sang pramugari untuk merubah muka cemberut penumpang yang kecewa berat ini hingga lumer menjadi sumringah (cerah) air mukanya (saya sempat sesekali mencuri pandang sambil nguping pembicaraan, sebab tentu tidak etis kalau saya sengaja menolehkan kepala untuk memperhatikannya).

Bagi saya, ini kejadian yang luar biasa. Peristiwa kekecewaan mendalam yang tadi itu kini berakhir dengan happy ending. Terbukti ketika sang pramugari akan pamit meninggalkannya, merekapun saling mengucapkan terima kasih.

Sungguh ini membuat saya gumun (heran). Gumun bukan saja kepada kepiawaian sang pramugari menetralisir suasana, tapi lebih karena pertanyaan yang kemudian timbul di otak saya : “Kenapa saya nyaris tidak pernah menjumpai peristiwa seindah ini di dalam masyarakat bangsa saya yang selalu bangga dengan sebutan bangsa yang ramah?”. Padahal jutaan peristiwa layanan masyarakat semacam ini terjadi setiap detiknya.-

New Orleans, 1 Maret 2000.
Yusuf Iskandar