Seputar Adelaide

(3).   Jalan-jalan Sore Di Victoria Square

Hari masih terlalu pagi untuk check-in di hotel yang sudah kami pesan, sehingga kamar belum siap karena masih diisi orang lain yang belum check-out. Mau ditinggal jalan-jalan dulu, anak-anak masih merasa malas dan setengah ngantuk setelah menempuh perjalanan tengah malam dari Denpasar menuju Adelaide. Terpaksa mesti menunggu dulu sambil leyeh-leyeh di lobby hotel yang kebetulan sedang sepi.

Sore hari musim panas di Adelaide, tanggal 16 Desember 2003, kami keluar hotel menuju ke pusat kota. Berniat untuk jalan-jalan sore di kota Adelaide dengan tujuan utama ke alun-alun Adelaide, orang-orang menyebutnya sebagai Victoria Square. Tidak sulit untuk mencapai tempat ini dari hotel. Meluncurlah kami ke arah selatan melalui jalan utama King William Road menuju alun-alun Victoria. Ada beberapa tempat yang hendak kami tuju. Apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan untuk sight seeing di kala sore hari.

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore. Matahari pun sudah agak condong ke barat. Cuaca mulai agak teduh. Saya pikir, inilah saat yang pas buat JJS (jalan-jalan sore), yang benar-benar jalan kaki dan bukan dengan kendaraan. Setelah mengitari alun-alun Victoria, kami menuju ke Central Market yang terletak di sebelah barat alun-alun. Mencari tempat parkir di kompleks pasar, lalu keluar jalan kaki.

Lho, pasarnya kok sepi? Tempat parkirnya juga tidak ada yang jaga? Saya curiga, jangan-jangan pasarnya sudah bubar.

Benar juga, ternyata pasar memang sudah tutup. Masih tampak kesibukan orang menutup kios-kiosnya, tapi pintu gerbang sudah ditutup rapat. Rupanya hari itu pasar ditutup jam 5:30 sore. Wah, bukankah ini musim panas, matahari baru tenggelam selewat jam 8:00 malam. Cuaca masih terang-benderang, belum nampak remang apalagi gelap, tapi kios-kios di Central Market sudah pada tutup. Semula kami ingin ke Central Market untuk mencari makan. Pasar ini merupakan pusatnya segala macam jenis makanan. Yo wis, akhirnya JJS kami alihkan untuk berkeliling di sisi barat alun-alun Victoria.

Central Market ini adalah sebuah pasar tua di Adelaide. Umurnya sudah lebih dari 130 tahun. Tahun 1869 pasar ini mulai ada sebagai sebuah pasar tradisional yang menjual aneka buah dan sayuran segar, tapi baru awal tahun 1870 dibuka secara resmi. Setelah mengalami pasang surut dan berkali-kali renovasi, baru akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1965 pasar tradisional ini resmi disebut Central Market. Di sana ada beraneka makanan segar, pakaian dan layaknya toko-toko kelontong dengan harga pasar. Letaknya bersebelahan dengan China Town, tempat favoritnya lidah melayu kalau sedang kepingin makan nasi.

Jalan-jalan sore di Victoria Square, di pusat kota Adelaide, yang di sekelilingnya masih berdiri kokoh bangunan-bangunan tua. Keanggunan kota Adelaide masih mengesan dari banyaknya bangunan-bangunan kuno di pusat kota. Bangunan-bangunan kuno yang masih tampak bersih dan terawat, dengan arsitektur yang indah dipandang. Banyak di antara bangunan-bangunan itu masih berfungsi sebagai gereja. Wajarlah kalau kota Adelaide yang jumlah penduduknya hanya sekitar satu juta manusia lebih sedikit ini juga dijuluki sebagai “City of Churches”.

Sebagai ibukota negara bagian South Australia, kehidupan kota Adelaide relatif tenang, tidak terlalu hiruk-pikuk jika dibandingkan dengan kota-kota besar metropolitan lainnya di Australia. Negara bagian South Australia dikenal juga sebagai “festival state”. Di sinilah, di Australia tempat sering diadakannya berbagai acara festival yang menarik wisatawan untuk mengunjunginya.

Pada tahun 1836, seorang berkebangsaan Inggris kelahiran Kuala Kedah, Malaysia, mendarat di Adelaide. Dialah Kolonel William Light, seorang penjelajah yang kemudian mengawali tumbuhnya komunitas kota Adelaide. Sayangnya, Kolonel Light meninggal dunia tiga tahun kemudian karena terserang TBC. Sebuah tugu dibangun untuk mengenang jasa Kolonel Light. Lokasi keberadaan tugu ini kini disebut dengan Light’s Vision yang lokasinya berada di dataran agak tinggi di sisi utara Adelaide. Nama Adelaide sendiri diambil dari nama Ratu Adelaide, permaisuri dari Raja Inggris William IV.

***

Setelah lumayan capek jalan-jalan di Victoria Square dengan bangunan-bangunan tuanya, segera kami beralih menuju ke Rundle Mall yang lokasinya tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan di sana masih banyak toko yang buka sehingga lebih puas untuk cuci mata. Sore itu, angin terasa mulai semakin kuat berhembus dan hawa dingin pun semakin menyengat.     

Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: