Seputar Adelaide

(5). Ke Kebun Anggur Barossa Valley

Hari kedua di Adelaide, Rabu, 17 Desember 2003. Hari itu kami merencanakan untuk menuju ke Barossa Valley, sebuah kawasan lembah yang dikenal sebagai kawasan perkebunan anggur dan pusat industri minuman anggur di Australia Selatan.

Barossa Valley berada sekitar 55 km di arah timur laut Adelaide. Untuk mencapainya, saya menempuh rute utara mengikuti Main North Road yang juga disebut sebagai Jalan A20. Karena kurang jeli membaca rambu-rambu, setiba di kota Gawler saya kehilangan arah dan tidak menemukan persimpangan yang menuju Barossa Valley. Kami kebablasan sehingga mesti memutar agak jauh. Daripada pusing-pusing mencari arah jalan, maka saya putuskan untuk berhenti di stasiun BBM di tengah kota. Setelah melayani sendiri mengisi bensin, maka sambil membayar bensin di dalam tokonya, sambil tanya arah yang benar menuju Barossa Valley kepada seorang ibu yang jualan bensin. Jawabannya klasik, yang kalau saya terjemahkan kira-kira begini : “Sampeyan terus saja, nanti di perempatan lampu merah kedua, belok kanan”.

Akhirnya ketemu juga lampu merah kedua yang ditunjukkan si ibu penjual bensin. Saya lalu belok memasuki jalan Barossa Valley Way, atau dikenal juga sebagai Jalan B19. Memasuki jalan ini, suasana pedesaan Australia atau lebih tepat suasana pegunungan sudah mulai tampak. Tiba di kota kecil Lyndoch yang berpopulasi sekitar 1140 jiwa, kami berhenti sejenak untuk buang air sambil istirahat menghirup udara segar pegunungan. Akhirnya tiba di kota Tanunda yang adalah kota terbesar di kawasan Barossa Valley yang berpopulasi sekitar 3500 jiwa.

Barossa Valley memang sebuah kawasan lembah pegunungan yang menarik untuk dikunjungi. Bentang alamnya kira-kira mirip-mirip kawasan perkebunan teh. Berhawa sejuk, berpemandangan indah dengan morfologi tanahnya yang berbukit-berlembah, dimana kebun anggur membentang di kawasan seluas tidak kurang dari 25 km x 11 km. Tidak mengherankan kalau lebih seperempat produksi anggur Australia dihasilkan dari daerah ini.

Aslinya Barossa Valley dibuka oleh pendatang para petani Lutheran Jerman di tahun 1830-an, yang tidak hanya menanam anggur tapi juga membawa minuman anggur dari negerinya dan teknik pengolahannya. Lalu tahun 1842, seorang mineralogist asal Jerman, Johann Menge, ditugaskan menyelidiki kawasan ini. Namun yang terangkat dalam laporan penyelidikannya justru bukan adanya potensi geologi melainkan kebun anggur, jagung dan anggrek. Meskipun sebuah ladang emas, Barossa Goldfields, pernah ada di kawasan ini hingga penghujung abad 19. Yang kemudian berkembang hingga sekarang adalah kawasan kebun anggur dan industri minuman anggurnya.

Maka kini Barossa Valley dikenal sebagai daerah tujuan wisata pegunungan yang cukup populer di Australia Selatan. Nama Barossa sebenarnya berasal dari sebuah nama di Spanyol, Barrosa (double ‘r’), yang kemudian terpeleset hingga kini menjadi Barossa (double ‘s’). Salah satu warisannya, kini masih banyak nama-nama yang berbau-bau Jerman.

Ada ribuan hektar kebun anggur tersebar di Barossa Valley. Ada lebih lima ratus petani anggur, sebagian diantaranya merupakan generasi keenam dari embah-buyutnya yang juga petani anggur. Sekitar enam puluh ribu ton buah anggur dipasok ke lebih 60 lokasi industri pengolahan minuman anggur yang ada di Barossa Valley. Sebagian ada yang hanya berupa industri rumahan berskala puluhan ton saja, sebagian lainnya adalah pabrik-pabrik yang memproses anggur hingga 10.000 ton.

Mengunjungi kebun anggur dan pabrik pengolahannya memang jadi pengalaman unik tersendiri. Sebagian besar dari pabrik-pabrik itu terbuka untuk dikunjungi para wisatawan. Ada juga yang menyediakan fasilitas piknik dan sarana bermain anak-anak. Sementara orang tuanya bisa nenggak anggur. Bagi pengunjung yang sekedar ingin mencicipi produk minuman wine pun disediakan secara gratis. Mencicipi tidak sama dengan nenggak. Kalau yang terakhir ini tentu saja mesti bayar, plus bonus mabuk.

Bagi penggemar dan penikmat wine, tinggal milih saja kepingin menikmati segarnya anggur putih, seperti riesling, chardonnay, semillon, atau kuatnya anggur merah seperti shiraz, grenache atau cabernet. Ada juga yang masih menyimpan anggur kuning kecoklatan yang sudah disimpan lama yang dibuat puluhan tahun yang lalu. Meskipun saya duluuuu…. pernah juga minum jenis-jenis anggur seperti ini, tapi tetap saja tidak bisa membedakan jenis dan tingkat kenikmatannya, kecuali dua hal yang saya ingat, terasa panas di badan dan kalau kebanyakan minum pulangnya mesti diantar.

***

Hari semakin siang ketika kami meninggalkan kota Tanunda, setelah sebelumnya sempat sejenak jalan-jalan dan mampir di Tourist Information Centre. Kami lalu mengambil jalan menuju jalur wisata yang disebut scenic drive, kami ingin mengunjungi salah satu kawasan kebun anggur sekaligus melihat-lihat lokasi pabriknya. Pertama kami coba masuk ke perkebunan Richmond Grove, lalu keluar lagi dan masuk ke lokasi perkebunan Peter Lehmann Wines. Dari sini pun kami keluar lagi hingga kemudian kami putuskan untuk menyinggahi lokasi yang berikutnya yaitu Langmeil Winery. Selain melihat pabrik pembuatan minuman anggur, tentu saja kami ingin berjalan-jalan berada dekat dengan hamparan tanaman anggur yang sedang berbuah.

Berjalan-jalan ke kebun anggur memang sebuah pengalaman baru bagi kami. Maklum, ini adalah pengalaman yang tidak setiap kali mudah untuk dilakukan. Meskipun cuaca siang itu cukup panas, namun rambatan tanaman anggur yang menghampar hijau dengan gerombolan butir buahnya, cukup untuk memanipulasinya. Ya, hanya cukup memandangi buah anggur saja, mau memetik takut diteriaki yang punya.

Di salah satu sudut kawasan Langmeil Winery, dekat dengan pabriknya, ada sebuah ruangan ber-AC yang di sana ada sebuah bar tempat dimana pengunjung dipersilakan untuk sekedar mencicipi anggur produksinya. Lalu di sekitarnya dipajang dan dipamerkan benda-benda dan foto-foto yang menceritakan sejarah industri anggur di kawasan Barossa Valley. Melihat foto-foto kuno hitam putih ini mengingatkan saya akan foto-foto kuno perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa jaman kumpeni dulu.

Meninggalkan lokasi Langmeil Winery, perjalanan kami lanjutkan melewati lokasi-lokasi winery dan vineyard lainnya. Kali ini tidak dengan berjalan kaki, melainkan dengan kendaraan yang sengaja berjalan perlahan. Terus dan terus menyusuri rute scenic drive kebun anggur. Lalu kami tiba di kota kecil Nuriootpa, masih di kawasan Barossa Valley.

Di Nuriootpa kami berbelok ke selatan menuju kota kecil berikutnya, Angaston yang populasinya sekitar 1800 jiwa. Masih terus melaju ke arah selatan hingga meninggalkan perkebunan anggur Barossa Valley menyusuri jalan-jalan sepi di tengah areal pertanian dan perkebunan. Jalannya sangat mulus dan lalu lintas pun sepi, sehingga kami dapat melaju cukup kencang sampai mencapai kota kecil Eden Valley yang hanya dihuni oleh kurang dari 50 jiwa penduduknya. Setelah melalui kota Springton dan Mt. Pleasant, akhirnya kami tiba di kota Birdwood.

Birdwood adalah salah satu tujuan kami berikutnya hari itu. Anak laki-laki saya sudah mengancam pokoknya harus mengunjungi museum motor yang ada di kota kecil Birdwood ini.

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Seputar Adelaide”

  1. eng Says:

    betapa indahnya lembah yg digambarkan dalam cerita tersebut, saya ingin bekerja sebagai pemetik anggur, bagaimana ya caranya , mohon saya diberitahu untuk menghubungi siapa, terimakasih

    • madurejo Says:

      Maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda karena saya adalah wisatawan biasa. Coba Anda cari di internet, sya yakin di sana ada alamat2 yang dapat dihubungi. Terima kasih, semoga sukses.

  2. Ekozul Says:

    Jadi terinspirasi, nice share,,,

  3. roni aries simeulue Says:

    tolong di muatin sejarah awal nya australia selatan
    agar kami dapat mengetahui kejadian di daerah itu.. tank
    ,, roni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: