Archive for Februari 4th, 2008

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba

Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.

Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang saya rencanakan. Sudah pasti saya tidak akan menangi almarhum ibu saya. Lha wong baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya. Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.

Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(3).   Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang

Penerbangan New Orleans ke Dallas – Ft.Worth selama satu setengah jam dengan pesawat American Airlines (AA) berjalan lancar. Hari itu juga disambung dengan penerbangan lanjutan AA menuju Tokyo. Di perjalanan, sambil membayangkan persiapan pemakaman ibu saya, sambil terus mengirimkan doa, sambil saya berpikir apakah ada cara lain untuk mendapatkan penerbangan tercepat menuju kampung halaman. Jelas, bermalam di Tokyo bukan pilihan yang tepat (meskipun bunyi tiketnya demikian) di saat seperti itu.

Perjalanan selama 16 jam menuju Tokyo dengan menyeberangi Samudra Pasifik, sepertinya kurang dari 4 jam. Berangkat dari Dallas jam 11:30 siang, tiba di Tokyo jam 15:15 sore. Di sepanjang perjalanan, setiap kali saya memperhatikan petunjuk waktu setempat (saat dimana posisi pesawat berada), hanya berkisaran di seputar jam 1, 2 atau 3 siang. Tidak mengalami sore, malam dan pagi. Dari Dallas hari Minggu, tiba di Tokyo hari Senin, karena perjalanan menyeberangi Samudra Pasifik adalah perjalanan melewati garis batas penanggalan internasional.

Tapi sebagai seorang muslim, saya “untung”. Selama perjalanan 16 jam, bahkan hari telah berganti, saya hanya berkewajiban sholat satu kali saja, yaitu Dzuhur yang waktunya suuuaangat panjang. Lha waktu-waktu sholat yang lain kemana? Ya, embuh….. Wong nyatanya begitu, berangkat dari Dallas menjelang waktu Dzuhur, tiba di Tokyo sesudah bedug Ashar. Penjelasan yang paling masuk akal adalah barangkali karena pesawatnya bergerak ke arah barat bersamaan dengan “bergeraknya” matahari, sehingga waktunya seperti siang terus.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(5).   Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa

Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam 15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo. Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.

Menurut tiketnya, saya akan bermalam di Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju Jakarta esok harinya dengan Japan Airlines (JL), karena rute inilah yang akhirnya saya dapatkan saat pesan tiket di New Orleans. Oleh karena itu bagasi saya harus diambil di Tokyo. Untuk mengambil bagasi, saya harus keluar dari bandara melewati imigrasi, dan untuk melewati imigrasi saya ditanya tentang visa kunjungan ke Jepang.

Karena saya hanya akan overnight menunggu penerbangan sambungan esok harinya, maka diperlukan shore pass. Sedangkan untuk memperoleh shore pass saya mesti menghubungi dan meminta kepada petugas American Airlines (AA), yaitu perusahaan penerbangan yang mengatur perjalanan saya dari Amerika.

Petugas imigrasi bandara Narita lalu menunjukkan agar saya menuju counter AA. Saya pun segera mundur dari gerbang imigrasi, dan menuju counter AA yang dimaksud. Ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, bahkan nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa di situ tempat meminta shore pass. Saya pun celingukan, berjalan kesana-kemari, kesal, sambil jelalatan barangkali ada petunjuk arah. Karena tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di counter yang ditunjukkan tadi., saya lalu berhenti dan bersandar di sebuah meja setinggi dada (dalam hati saya mereka-reka, orang Jepang ini umumnya pendek tapi meja counter-nya kok tidak lazim tingginya).

Eh, lha kok ternyata di atas meja itu ada tempelan kertas bertuliskan kira-kira bunyinya adalah : jika Anda perlu bantuan untuk mendapatkan shore pass, silahkan hubungi nomor-nomor di bawah ini….. Lalu tertulis berderet nama perusahaan penerbangan beserta nomor-nomor tilpun.

Saya temukan nomor tilpun untuk pesawat AA, ternyata nomor tilpun yang aslinya dicetak dengan komputer sudah dicoret dan diganti dengan tulisan tangan. Dan itupun sudah juga dicoret lagi, diganti dengan tulisan tangan yang lebih jelek, dan nulisnya miring lagi. Di balik meja tinggi itu ada sebuah pesawat tilpun dan komputer “kuno” yang sepertinya tidak pernah dipakai. Tampak kusam dan sudah tidak cerah lagi warnanya.

Sejenak saya tolah-toleh, sekedar untuk meyakinkan bahwa di situ memang tidak ada siapa-siapa, selain ada seorang ibu muda yang juga penumpang pesawat yang sedang sama bingungnya dengan saya. Lalu saya beranikan diri mengangkat gagang tilpun, ambil nafas sejenak, lalu menekan sebuah nomor yang tertulis jelek itu. Entah mau nyambung kemana atau siapa, yang penting tilpun. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan nomornya tidak salah, tidak salah sambung dan tidak dijawab oleh mesin otomatis. Berhasil…..!

Ternyata memang langsung nyambung ke kantor perwakilan AA, entah kantornya ada di mana. Belum sempat saya mengutarakan maksud saya menilpun, dengan cepat ditimpali oleh pembicara di seberang sana dan saya diminta menunggu sebentar, karena petugas AA akan segera datang (dalam hati saya berharap mudah-mudahan yang menjawab tadi bukan jin Tomang yang suka menterjemahkan kata-kata “sebentar” berarti bisa sampai satu jam).

Seperti tahu kekhawatiran saya, dua orang petugas AA yang nampak jelas mereka orang Jepang, memang membuktikan pesannya tadi. Belum lima menit…., sudah sampai ke meja tempat saya menilpun tadi. Lho, kok tahu kalau saya menilpun dari situ?

Agaknya mereka lari, nafasnya masih ngos-ngosan, karena itu saya tidak tega untuk langsung mencecar dengan pertanyaan. Tapi sepertinya mereka sudah paham apa yang saya butuhkan, barangkali memang itu tugas rutinnya, sehingga malah mereka yang mendahului mengajukan pertanyaan beruntun, antara lain saya datang dengan pesawat nomor berapa, penerbangan lanjutannya dengan pesawat apa, nomor berapa, kapan, dsb. Tiba-tiba saya merasa menjadi tidak sendirian di Narita, tidak sebagaimana saat kebingungan tadi.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(7).   Jika Ingin Tilpun Dari Tilpun Umum Di Bandara Narita

Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000, sambil menunggu saat boarding, saya mencari tilpun umum untuk melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana. Privilege untuk menunggu di VIP lounge sebagai penumpang kelas bisnis saya korbankan.

Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum, semuanya sudah diantri oleh calon penilpun. Satu per satu kotak tilpun saya dekati dari samping, di antara antrian orang. Saya baca aturan pakainya dengan teliti, yang ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris. Rupanya ada bermacam-macam perusahaan jasa tilpun, tidak dimonopoli oleh PT Telkom-nya Jepang saja. Ada diantaranya yang dapat dioperasikan menggunakan kartu kredit, tapi hanya Amex yang diterima.

Untuk alasan kemudahan, saya coba antri di belakang kotak tilpun yang menerima Amex. Tiba giliran saya, langsung kartu Amex saya gesekkan, dan saya ikuti instruksi selanjutnya. Tidak mau nyambung, dan tidak ada pesan apa-apa. Saya ulangi lagi, juga gagal. Setelah ketiga kalinya gagal, langsung saya batalkan. Saya merasa tidak enak sama orang lain yang antri di belakang saya.

Saya pindah ke pesawat di kotak sebelah, tapi sebelumnya saya baca aturan mainnya dulu, ternyata harus menggunakan kartu tilpun. Di dekat situ memang ada mesin penjual kartu tilpun, tapi membelinya harus menggunakan uang Jepang. Padahal di sekitar lobby keberangkatan tidak saya jumpai ada tempat penukaran uang.

Terpaksa cari akal, masuk toko souvenir dan cari barang-barang yang layak dibeli setidak-tidaknya tidak akan mubazir, dan yang penting bisa dibayar dengan dollar. Dapatlah piring hias yang ada gambarnya pemandangan kaki Gunung Fuji. Saat membayar, sambil tanya sama kasirnya berapa harga kartu tilpun termurah. Dijawab 1000 yen (saat itu 1 dollar sekitar 105 yen), maka lalu saya bayar souvenir sekalian tukar dollar dengan 1000 yen. Satu langkah untuk tilpun terselesaikan.

Langkah berikutnya adalah membeli kartu tilpun kepada mesin. Benar juga, begitu saya selipkan uang 1000 yen ke dalam mesin, langsung keluar selembar kartu tilpun. Lalu saya kembali menuju kotak tilpun yang tadi, dan antri lagi. Tiba giliran, lalu pencet ini-itu. Lho kok tidak sambung-sambung, dihalo-halo sama mesin penjawab katanya kode aksesnya salah. Perasaan saya sudah benar.

Saya coba tolah-toleh cari bantuan. Saya pilih seorang gadis Jepang yang sedang menunggu giliran di pesawat tilpun sebelah, lalu saya tanya. Cuma dijawab dengan senyum manis. Saya ulangi bertanya lagi, malah senyumnya makin dimanis-maniskan. Lho? Rupanya tidak paham bahasa Inggris. Lalu saya tanya orang yang antri di belakang saya, dijawab bahwa dia juga baru pertama kali akan memakai tilpun. Wah…! Terpaksa amit mundur dulu, memberi kesempatan kepada yang antri di belakang saya.

Belum menyerah saya. Saya coba lagi membaca dengan lebih teliti tata cara melakukan international call. Eh, ketahuan bodohnya. Rupanya mesin penjawab tadi benar, saya telah menggunakan kode akses untuk tilpun interlokal dalam negeri.

Kali ini saya gagal untuk berlaku tidak ndeso sebagaimana yang saya peragakan di pesawat sebelumnya. Maklum, saking banyaknya tulisan tentang “juklak” (petunjuk pelaksanaan) menilpun, yang mana untuk setiap perusahaan tilpun yang kotaknya ada di situ tidak sama aturan mainnya.

Terpaksa kembali ke antrian lagi, dan kali ini berhasil hingga titik pulsa terakhir. Ngomong dengan adik saya jadinya harus cepat-cepat, wong kartunya yang termurah. Pasti jatah pulsanya sedikit, pikir saya. Entah berapa banyak pulsanya, saya lupa memperhatikan. Yang jelas, belum lima menit ….., pembicaraan saya akhiri dan nampaknya memang pas pulsanya habis.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(8).   Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi

Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30 dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi, Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus terang saya agak gumun (heran), bahwa petugas American Airlines (AA) di Tokyo benar-benar menangani bagasi saya yang seharusnya saya ambil di Tokyo, mengikuti penerbangan lanjutan saya ke Singapura malam itu juga. Padahal saya sudah tidak lagi menggunakan jasa penerbangan mereka.

Pikiran pertama setiba di bandara Changi adalah langsung mencari counter Thai Airways (TG). Maksudnya mau menegosiasikan tiket saya agar bisa pindah dengan pesawat pertama yang terbang ke Jakarta paginya, yaitu Garuda Indonesia (GA) dan seklaigus menukar tiketnya. Ternyata untuk ketemu counter TG maupun juga GA saya mesti menuju ke Terminal 1. Wah, agak jauh.

Saya ubah skenarionya. Saya coba langsung menghubungi counter SQ di Terminal 2. Lalu dijelaskan oleh petugasnya bahwa tiket saya tidak bisa langsung digunakan untuk penerbangan lain, karena di Tokyo tiket AA saya sudah dialihkan ke TG. Untuk dapat pindah ke SQ atau pesawat lain, harus ada endorsement dulu dari pihak TG.

Akhirnya tetap juga saya mesti ke Terminal 1, itupun belum tentu buka, di saat dini hari, kata seorang Satpam bandara yang saya tanyai. Belum lagi mesti jalan kaki, karena sky-train yang menghubungkan Terminal 2 ke Terminal 1 dan sebaliknya sudah berhenti beroperasi dan baru mulai beroperasi lagi jam 6 pagi. Belum lagi sambil menyeret bagasi yang cukup berat. Yen, tak pikir-pikir …….., kok ya lebih baik istirahat saja dulu, simpan tenaga untuk esok paginya berburu lagi pesawat tercepat menuju Jakarta. Jadilah, masuk ke Terminal 2 lagi melalui imigrasi, dan stempel imigrasi di paspor pun saya minta untuk dibatalkan.

Dalam hal overnight di Singapura seperti ini, pengalaman sebelumnya saya langsung menuju ke lantai 3 untuk tidur di hotel transit airport. Bagaimanapun juga ini adalah kesempatan untuk istirahat, memulihkan stamina, dan bisa tidur dengan posisi sempurna, meskipun harus mbayar. Akan tetapi mempertimbangkan bahwa esok pagi-pagi mesti sudah mulai ngurus ini-itu kesana-kemari, saya memilih untuk tidur di kursi ruang tunggu di lantai 2 saja.

Di sana banyak sesama penumpang transit yang juga tidur di kursi menunggu penerbangan lanjutan esok paginya. Tetapi yang lebih penting bagi saya adalah agar tidak kebablasan tidurnya. Lumayan ….., toh bisa juga tidur 2-3 jam, meskipun diselingi nglilir (terbangun) beberapa kali. Selain karena tidurnya tidak dengan posisi sempurna, juga karena pikiran tetap bekerja menyusun skenario untuk esok paginya.

Sekedar pengalaman pembanding, pada tahun 1993 saya pernah kemalaman di Cengkareng dalam perjalanan dari Bengkulu ke Yogya, dan terpaksa tidur di Terminal F.  Rasanya seperti di rumah suwung (tidak berpenghuni), meskipun tidurnya di airport. Sepi dan tidak ada “tanda-tanda kehidupan”, boro-boro ada yang jual makanan. Bahkan karena tidur di bangku ruang tunggu saya merasa kedinginan, akhirnya pindah tidur di musholla. Itupun masih kedinginan, lapar lagi.

Sebelum merebahkan badan di kursi tunggu Terminal 2 Changi, saya sempatkan untuk mencari smoking area. Maklum, sejak dari New Orleans kemarin saya terpaksa menahan keinginan untuk merokok, karena memang di setiap tempat terpampang tulisan dilarang merokok.

Namun sebenarnya saya menahan keinginan merokok bukan lantaran ada tanda “No Smoking”. Melainkan karena tidak saya jumpai orang yang tidak tahu malu, yang suka melanggar tapi justru bangga. Tidak saya jumpai orang yang suka nekad melanggar aturan umum. Saat itu, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang tahu malu dan menghargai aturan. Ingin rasanya saya mengajak 200 juta tetangga saya agar mempunyai keinginan yang sama. Tapi jangan-jangan ……, untuk punya keinginan semacam itupun para tetangga saya itu juga malu.

Di kesempatan lain, sekali waktu saya transit di bandara Taipei, Taiwan. Karena di sekitar ruang tunggu tidak boleh merokok, saya berjalan menuju lorong penghubung antara ruang-ruang tunggu. Agak ke ujung lorong memang tidak saya jumpai tulisan “No Smoking”, tapi juga tidak ada tulisan “Smoking Area”.

Hanya yang melegakan, di situ ada bekas puntung rokok berserakan di sepanjang tempat bunga. Saya hanya berlogika : berarti puluhan orang yang merokok sebelum saya berkategori tidak melanggar aturan, alias tidak dilarang. Kesimpulan yang bagus, terkadang logika secara bodoh semacam ini ada gunanya. Paling tidak, bisa menjadi “tempat persembunyian” yang masuk akal.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Selasa siang, 15 Pebruari 2000, sekitar tengah hari saya tiba di Kendal. Dari masjid kota yang berada tidak jauh dari rumah saya terdengar adzan (panggilan sholat) waktu Dzuhur. Ya, saya sudah tiba di rumah, di Kendal. Sebuah perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans ke Kendal yang sangat melelahkan baru saja usai.

Saya disambut adik-adik saya. Lalu saya salami bapak saya. Mana ibu? Rasanya seperti tidak percaya, kalau tidak ada lagi seorang ibu yang biasanya menyambut kedatangan anaknya dengan suka-cita. Terharu? Ya. Sedih? Ya. Tapi sungguh, agama yang saya peluk tidak pernah mengajarkan yang berlebihan. Pemakaman ibu saya memang baru Senin pagi kemarinnya dilaksanakan, saat saya berada di atas Samudra Pasifik dalam perjalanan dari Dallas menuju Tokyo.

Beberapa saudara saya yang lebih sepuh (tua) menepuk-nepuk bahu saya, sambil mengingatkan bahwa tidak ada kewajiban lain bagi seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tiada, kecuali mendoakannya. Memang begitu kata guru-guru mengaji saya sewaktu kecil dulu.

Seorang ibu, kehadirannya seperti lumrah-lumrah saja saat dia berada di tengah-tengah kita, atau saat kita berada di sekitarnya. Tapi baru terasa betapa dia adalah sebuah sosok yang kita butuhkan sebagai panutan, justru ketika dia “hilang” dari tengah-tengah kita.

Tidak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya yang mendadak untuk mendahului menghadap Allah, kembali kepada Sang Khalik, Sang Pencipta. Juga tidak ada yang harus disesali, sekalipun saya tidak menangi (sempat mengalami) saat-saat terakhir menjelang pemakaman ibu. Kalaupun ada yang harus disesali, ternyata justru jawaban kalau kita ditanya : “Apakah kita sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya?”.-

Kendal, 20 Pebruari 2000.
Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(1).   Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City

Mengawali perjalanan dari kota Salt Lake City (Utah) sebenarnya bukan rencana awal saya. Sejak sebulan sebelumnya saya merencanakan untuk memilih kota Denver (Colorado) untuk mengawali perjalanan travelling dengan kendaraan darat bersama keluarga. Karena tujuan utama liburan kali ini adalah mengajak anak-anak melihat salju dan bermain ski, serta mengunjungi Grand Canyon of Colorado. Sambil lalu kami akan mampir-mampir di berbagai obyek wisata yang dilewati.

Namun setelah mencari-cari dan memilih-milih penerbangan dari New Orleans ke Denver, ternyata harga tiketnya termasuk mahal jika dibandingkan dengan ke kota-kota lain untuk jarak terbang yang relatif sama. Semakin mendekati waktu keberangkatan, harga tiket ke Denver pergi-pulang yang paling murah (meskipun tetap tergolong mahal) semakin habis.

Nampaknya kota Denver termasuk jalur basah bagi dunia penerbangan. Pelacakan tiket ini saya lakukan melalui jasa layanan reservasi on-line melalui internet. Di sana saya bisa mengatur rencana perjalanan lewat kota mana, kapan, pesawat apa, mau harga yang berapa dan duduk di sebelah mana. Setelah itu tinggal klik, tiket akan dikirim dan tagihan masuk ke kartu kredit.

Akhirnya saya mengalihkan pencarian tiket murah dengan melihat ke beberapa kota tujuan di sekitaran Denver, diantaranya Fort Collins dan Colorado Spring (Colorado), Las Vegas (Nevada), Albuquerque dan Santa Fe (New Mexico), Cheyenne (Wyoming) dan Salt Lake City (Utah). Ternyata juga tidak mudah, karena saya menentukan kriteria dalam pencarian tiket ini, yaitu tanggal berangkat dan kembali tidak bisa berubah (karena terkait dengan hari libur sekolah dan cuti kantor), harga tiket harus yang paling murah, dan tempat duduk di pesawat berderet untuk kami sekeluarga berempat (di Amerika adalah biasa memesan tiket pesawat sekalian nomor tempat duduknya).

Setelah dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan harganya serta disesuai-sesuaikan dengan rencana perjalanannya, akhirnya saya peroleh tiket penerbangan ke Salt Lake City, menggunakan pesawat Delta Airlines. Tiket murah ini membawa resiko pada jadwal penerbangan yang kurang enak, yaitu tiba di Salt Lake City jam 21:30 malam untuk berangkatnya dan akan tiba kembali di New Orleans jam 1:15 dini hari untuk pulangnya sepuluh hari kemudian. Apa boleh buat, itulah yang terbaik buat liburan yang berbanding lurus dengan isi saku.

Setelah reservasi penerbangan OK, selanjutnya saya melacak hotel-hotel yang umumnya menawarkan harga khusus via internet. Untuk itu, tentunya saya harus punya rencana perjalanan yang pasti dan di kota mana saja akan menginap. Memang akhirnya saya berhasil memperoleh hotel-hotel dengan harga yang relatif murah, setelah membanding-bandingkan antara lokasi, harga dan fasilitasnya. Namun rupanya saya kelewat percaya dengan iklan penawaran hotel yang ada di internet.

Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya saya masih bisa memperoleh harga yang lebih baik (lebih murah). Seharusnya setelah mengecek tarif dan ketersediaan kamar hotel via internet, saya mestinya melakukan pengecekan ulang dengan menghubungi langsung pihak hotel melalui tilpun. Seringkali ada perbedaan harga, bahkan harga bisa berubah-ubah antara pengecekan via tilpun pada saat yang berbeda-beda. Dengan pengecekan ulang, akan bisa diketahui pula apakah pada saat itu (masih) ada penawaran harga yang lebih khusus, yang biasanya tidak muncul di internet. Yang lebih penting lagi, masih ada peluang untuk negosiasi atau bargaining (tawar-menawar).

Rupanya ada kebiasaan yang sama seperti di Indonesia soal tawar-menawar ini. Pertama kali kalau kita tilpun hotel dan menanyakan harga, maka akan dijawab dengan menyebutkan tarif harga standard. Baru setelah kita menawar dan menanyakan tentang harga khusus yang lebih murah, maka seringkali akan diberikan. Kesannya menjadi seolah-olah pihak hotel telah berbaik hati memberikan harga murah. Ya, sama persis dengan traditional marketing ala kampung di desa saya, di Jawa sana. Sebenarnya tidak dinaikkan, tapi juga tidak memberikan harga murah.

Sayangnya, tips dan trik pemesanan hotel gaya Amerika ini baru saya pahami setelah membaca majalah “Reader’s Digest”, ketika saya sudah kembali dari perjalanan liburan. Rugi sih tidak, cuma mestinya bisa lebih untung. Meskipun kejujuran (keluguan) saya kali ini belum membawa keberuntungan, tapi yang pasti saya menikmati imbalan jasa yang layak atas apa yang telah saya bayarkan. – (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(2).   Salah Jalan Di Salt Lake City

Jum’at, 21 April 2000, jam 21:15, pesawat yang kami tumpangi dari New Orleans mendarat di bandar udara internasional Salt Lake City, setelah menempuh perjalanan selama 3,5 jam. Baru sekitar jam 22:00 malam saya meninggalkan bandara, dengan menggunakan mobil yang saya sewa di bandara langsung menuju ke hotel yang sebelumnya sudah saya pesan.

Sejak masih di New Orleans saya sudah membuka-buka peta kota Salt Lake City, jalan mana yang harus saya ambil dari bandara menuju hotel, dengan maksud agar nantinya saya tidak bingung. Rupanya karena tiba di Salt Lake City sudah cukup malam, hal ini membuat saya tidak terlampau jeli memperhatikan tanda-tanda petunjuk jalan. Akibatnya saya kebablasan cukup jauh dari jalan dimana seharusnya saya belok sekeluarnya dari bandara. Menyadari hal ini, lalu saya putuskan untuk berhenti dulu melihat kembali pada peta. Tapi untuk berhenti saya tentunya harus tahu berhentinya di mana, sehingga bisa dipakai sebagai patokan saat melihat peta.

Tempat paling baik untuk berhenti adalah di stasiun pompa bensin. Selain tempatnya terang, biasanya berlokasi di sudut persimpangan jalan. Paling tidak saya akan bisa tahu saat itu berada di persimpangan antara jalan apa dan apa. Atau sebingung-bingungnya, saya akan bisa tanya kepada si penjual bensin. Ternyata untuk menentukan lokasi saya saat itu di peta juga tidak mudah, saya perlu mengingat ancar-ancarnya dari bandara tadi bergerak ke arah mana lalu belok ke mana.

Saat itulah, tiba-tiba saya ingat : “Saya perlu kompas”. Ya, alat navigasi ini banyak sekali membantu saat melakukan traveling. Saya membutuhkan kompas karena mobil yang saya sewa tidak dilengkapi dengan alat navigasi sederhana ini.

Saya punya kebiasaan kemana-mana selalu membawa kompas kecil. Kalaupun tidak saya gunakan untuk menentukan arah jalan, minimal akan membantu saya menentukan arah kiblat. Dulu saya punya kompas kecil yang seperti mainan yang menghiasi tali plastik hitam jam tangan saya. Membelinya di Jalan Malioboro Yogya seharga Rp 2.500,-.

Sejak saya beli lima tahun yang lalu hingga sekarang belum rusak, masih saya simpan dengan baik. Tapi sejak setahun yang lalu tidak saya pakai lagi, karena jam saya habis batereinya dan belum sempat membawanya ke tukang jam di New Orleans. Sebagai gantinya sekarang saya punya gantungan kunci yang ada kompas kecilnya, dan kemana-mana selalu saya bawa.

Ternyata kompas mainan saya ini sangat membantu dalam situasi kesasar seperti yang sedang saya hadapi. Maka dengan bantuan kompas, kemudian dengan mudah saya merekonstruksi tadi bergerak ke arah mana dan harus kembali ke arah mana. Dengan mudah pula saya menentukan lokasi saya di peta dengan berpedoman pada nama persimpangan jalan di mana saya berhenti.

Punya sedikit pengetahuan tentang membaca kompas dan peta memang perlu. Untung saya dulu sejak SD hingga SMA pernah ikut Pramuka di kota asal saya. Mencari jejak adalah jenis kegiatan yang saya sukai. Saya juga masih ingat pelajaran Ilmu Ukur Tanah di tahun kedua kuliah dulu. Makanya kalau sekedar untuk urusan membaca peta dan kompas, rasanya saya tidak akan kesulitan.

***

Saya berbalik arah, menuju ke jalur semula. Cara penamaan jalan-jalan di Salt Lake City pada awalnya membuat saya agak bingung. Sistem jalan-jalan di Salt Lake City umumnya ditulis dalam nomor blok dan arahnya terhadap jalan utama yang dijadikan sebagai patokan. Seperti misalnya 1500 W (blok 1500 ke arah barat), atau 500 E (blok 500 ke arah Timur). Ada juga digunakan cara biasa yaitu setiap jalan diberi nama sebagaimana jalan-jalan di Indonesia.

Sialnya, pada malam itu yang nampak bisa saya jadikan pedoman adalah nama-nama jalan yang ditulis dengan nomor blok dan arah saja. Ini sempat menyulitkan. Akibatnya, setelah kebablasan ke barat, lalu ganti kebablasan ke timur. Lalu akhirnya ya baru paham setelah berhasil mengidentifikasi kemana arah membesar dan mengecilnya nomor blok serta arahnya.

Sebenarnya system jalan di Salt Lake City ini masih lebih mudah dibanding ketika saya jalan-jalan ke kota Miami (di negara bagian Florida) tahun lalu. Di sana system jalan-jalannya dibagi dalam empat grid berdasarkan arah mata angin yang tidak lazim menurut ukuran saya, yaitu arah timur laut, barat laut, barat daya dan tenggara, yang disertai dengan nomor bloknya.

Bagi yang sudah terbiasa dengan sebutan arah mata angin dalam bahasa Inggris barangkali tidak menjadi masalah. Tapi bagi pendatang baru seperti saya, setiap saat mesti berpikir dua kali; pertama membayangkan dulu setiap kali disebutkan arah North-West, South-West, dsb., baru kemudian memahami lokasi dan arah jalannya.

***

Akhirnya baru sekitar jam 23:30, menjelang tengah malam saya tiba di hotel. Padahal lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh dari bandara. Ya karena kurang jeli memperhatikan petunjuk jalan di saat hari sudah gelap, sehingga salah jalan.

Anak-anakpun sudah pada nyenyak tidur di mobil. “Kok lama sekali sampainya?”, kata mereka saat tiba di hotel. “Iya, kita salah jalan”, jawab saya maklum atas pertanyaan anak-anak saya. Tentu mereka belum paham apa artinya salah jalan di tempat yang masih asing.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(4).   Semalam Di Las Vegas

Sekitar jam 6 sore saya sudah memasuki Las Vegas, dan langsung menuju hotel yang berlokasi di Jalan Fremont, yaitu nama sebuah jalan di down-town (pusat kota) Las Vegas. Pukul 19:00 malam (meskipun sebenarnya hari masih terang), saya ajak keluarga jalan kaki menuju ke jalan utama Fremont. Di jalan ini atraksi animasi cahaya dan suara biasa digelar setiap malam.

Media yang digunakan untuk atraksi musik dan grafis yang dikendalikan komputer ini adalah lampu-lampu yang jumlahnya lebih dua juta yang dipasang melengkung sebagai atap yang menutupi jalan Fremont sepanjang 4 blok (kira-kira sepanjang 500 meter). Maka setiap kali atraksi dimainkan, para pengunjung pejalan kaki tinggal berhenti dan menengadahkan kepala ke atas atap, lalu mengikuti atraksi dari ujung ke ujung atap lampu. Tentu saja semua jenis kendaraan dilarang melewati jalan ini, yang memang hanya diperuntukkan khusus untuk para pejalan kaki.

Waktu itu pas malam Minggu, jadi suasana sangat ramai dengan pengunjung. Setiap kali atraksi selesai, para pengunjung yang terkagum-kagum dengan karya teknologi animasi tata lampu dan suara itupun spontan bertepuk tangan meriah. Tapi saya tidak mau ikut bertepuk tangan. Lha siapa yang mau ditepuki, wong atraksi itu sudah dirancang secara otomatis selama 6 menit setiap jamnya. Artinya, banyak atau tidak banyak pengunjung, komputer tetap akan menjalankan programnya untuk mengatraksikan lampu dan musik. Terkadang orang Amerika ini juga aneh. Lha wong lampu kok disoraki.

Menyusuri jalan Fremont malam itu, di antara gemebyar-nya lampu dan bisingnya suara musik di sepanjang pertokoan serasa tidak membosankan. Di sana-sini ada pengamen musik menampilkan kebolehannya. Yang namanya pengamen di situ, lengkap dengan tata suaranya yang serba elektrik dan nangkring di atas mobil bak terbuka sebagai panggungnya, disertai tulisan : “Tidak menerima tip”. Artinya mereka mengamen bukan untuk mencari nafkah.

Saya ingat pada bulan Maret 1996 saya sempat menginap semalam di hotel “Golden Nugget” yang berlokasi di jalan yang sama. Waktu itu Jalan Fremont hanya merupakan sebuah jalan penghubung menuju hotel dan sarana hiburan di sekitarnya. Belum ditutup dengan atap lampu, yang ada hanya mobil yang berseliweran keluar masuk. Kini empat tahun kemudian. saya sekedar lewat di depannya hotel saja, mengenang bahwa dulu saya pernah nginap di situ, dibayarin. Saat ini tentu harga per malamnya terlalu mahal untuk ukuran mbayar dhewe.

Itulah sebagian kecil dari kelebihan Las Vegas, sebagian besar lainnya adalah arena casino dan entertainment. Las Vegas memang identik dengan kota judi, kota yang tidak pernah tidur karena kegiatan perjudian dan hiburan berlangsung tanpa henti. Barangkali karena saking banyaknya fasilitas untuk itu yang menyebar di mana-mana, mulai dari bandara, hotel, restoran, toko, apotik, pompa bensin, supermarket, dsb.- Ini adalah tempat di mana roda kehidupan tidak pernah berhenti untuk urusan kemewahan, hiburan dan impian untuk kaya, dalam berbagai bentuknya.

Penduduk kota Las Vegas itu hanya sekitar 260.000 jiwa, tapi malam itu sepertinya padat orang hilir mudik. Tentu para pendatang, empat orang di antaranya adalah saya dan keluarga. Ribuan lainnya para pendatang dari kota-kota lain, terutama dari wilayah California. Kabarnya orang-orang Indonesia yang tinggal di negara bagian California, antara lain Los Angeles, suka membelanjakan (atau menghamburkan?) uangnya di arena casino di Las Vegas.

Bagi mereka yang punya cadangan uang saku dan bermimpi ingin lebih kaya lagi memang tinggal pilih caranya saja. Mesin slot, blackjack, keno, bingo, poker, baccarat dan rolet siap mengantarkan untuk mewujudkan impian menjadi lebih kaya, kalau menang.

Berjudi di Las Vegas adalah lebih mudah daripada membeli odol, demikian yang ditulis dalam lembar informasi yang saya baca, karena casino tidak mengenal tutup sedangkan toko ada jam-jam tutupnya (mestinya ya tidak lalu diterjemahkan : Kalau begitu, kalau mau beli odol kok tokonya sudah tutup ya uangnya dipakai main casino saja).

***

Tidak terasa malam semakin larut. Anak-anak mulai merasakan perutnya minta diisi setelah mondar-mandir menikmati suasana malam Jalan Fremont, yang dikenal dengan sebutan “Fremont experience“. Bukan kelaparan, hanya ingin makan. Mencari restoran yang suasananya enak (untuk ukuran orang kampungnya Indonesia) ternyata susah. Semua restoran di situ bersembunyi di balik arena casino.

Jelas tidak mungkin kalau saya membawa anak-anak melewati arena casino dulu, baru sampai ke restoran untuk makan. Akhirnya saya putuskan mencari restoran di tempat lain saja. Restoran yang memang benar-benar untuk orang yang mau makan, bukan untuk pemain judi yang kelaparan.

Dengan mengendarai mobil kami lalu melaju ke arah selatan, menyusuri jalan Las Vegas Boulevard, atau yang terkenal dengan sebutan The Strip. Ini adalah jalan utama tempat berbagai hotel mewah dan pusat beraneka hiburan dan atraksi berada, lengkap dengan arena casino-nya. Kami makan di salah satu restoran kecil di jalan itu.

Berbagai billboard dan hiasan animasi lampu di sepanjang jalan itu serasa merubah suasana malam layaknya siang. Saya perhatikan semakin malam semakin ramai saja. Melewati kompleks “Caesar Palace”, lagi-lagi saya ingat empat tahun yang lalu pernah ditraktir makan malam oleh seorang kolega yang tinggal di Las Vegas, di salah satu restoran di kompleks “Caesar Palace”. Berangkat dari hotel naik Limousine sedan panjang warna hitam, yang di dalamnya bisa untuk “main bola”.

Selesai makan, sang kolega mengajak saya dan teman-teman memasuki arena casino. Sebelum masuk, sang kolega tadi nyangoni (membekali uang saku) US$ 100, disertai pesan : “Ini uang, silakan dihabiskan”. Lho? Agaknya dia sudah sangat mafhum, bahwa bagi seorang pemula seperti kami ini pasti tidak akan bisa menang bermain casino.

Awalnya ragu-ragu mau diapakan uang itu, yang jelas pesannya adalah untuk dihabiskan. Tapi piye (bagaimana) caranya? Kalau tidak habis malah susah mempertanggungjawabkannya. Jumlah yang lumayan seandainya di situ ada tukang bakso atau mie goreng. Lalu kami coba main sana dan coba main sini. Eh… benar juga, hanya dalam tempo sekejap (belum sempat tolah-toleh) sudah bablasss … dollar sak-angin-anginnya…..

Ya, namanya juga untuk sekedar entertainment. Dalam hati saya tersenyum, saya mereka-reka pikiran sang kolega  : “Biarlah orang-orang kampung ini sekali-sekali diberi kesempatan, agar kelak bisa cerita sama anak-cucunya bahwa dia pernah main casino di Las Vegas sana …..”

Akhirnya lewat tengah malam kami baru meninggalkan The Strip dan kembali menuju hotel. Sayang, hanya sempat semalam saja di Las Vegas, karena besok mesti melanjutkan perjalanan ke Flagstaff, Arizona.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(3).   Menyusuri Lembah Api

Sabtu, 22 April 2000, jam 8:00 pagi, saya sudah meninggalkan hotel menyusuri jalan-jalan kota Salt Lake City untuk menuju jalan bebas hambatan Interstate-15. Salt Lake City yang berada di ketinggian sekitar 1.700 m di atas permukaan laut pagi itu masih tampak sepi, berudara cukup dingin dan di kejauhan di sisi timurnya membentang indah pegunungan yang masih tertutup salju. Masuk ke Interstate-15 langsung melaju ke arah selatan.

Hari itu saya merencanakan agar sorenya bisa mencapai kota Las Vegas (Nevada) yang berjarak 415 mil (sekitar 664 km) dari Salt Lake City. Menurut perhitungan, saya akan mencapainya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam. Hujan mengguyur di sepanjang perjalanan dua jam pertama. Sesudah itu cuaca berubah terang dan lalu panas bahkan terik matahari terasa sekali, tetapi angin tetap bertiup kencang dan dingin.

Sekitar 67 mil (107 km) menjelang Las Vegas, ternyata waktu masih menunjukkan jam 2 siang. Saya lalu memutuskan untuk membelok ke jalan highway dua lajur dua arah yang menuju ke obyek wisata Valley of Fire. Yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi tempat ini adalah karena saya sudah melihat fotonya yang menarik dan namanya yang berkesan menyeramkan.

Meskipun untuk ini saya harus memutar sejauh 46 mil (sekitar 74 km), dan saya memperkirakan memerlukan tambahan waktu 3 jam termasuk untuk berhenti dan melihat-lihat pemandangan, juga berfoto tentunya. Dengan demikian saya berharap sekitar jam 6 sore bisa masuk kota Las Vegas. Hari pasti belum gelap, karena di bulan April matahari baru tenggelam di atas jam 19:00.

Mendengar kata Valley of Fire yang saya terjemahkan menjadi Lembah Api, sudah saya duga anak saya akan spontan bertanya : “Di sana ada apinya?”. “Tentu tidak ……”, jawab saya. “Itu hanya sebuah nama”.  Barangkali kalau SH Mintaredja sempat mengunjungi tempat ini, bisa jadi akan lahir cerita bersambung dengan judul “Pusaka dari Lembah Api” atau “Misteri di Lembah Api”, atau yang sejenis itulah.

Tiba di tempat ini, saya seperti berada di sebuah lembah yang di kiri-kanannya membentang tinggi dinding formasi batuan pasir berwarna merah yang telah mengalami pengikisan, sejak 150 juta tahun yang lalu. Diceritakan bahwa dinding batuan yang berwarna merah ini tampak seperti terbakar api saat terkena pancaran sinar matahari. Benarkah demikian? Saya hanya mencoba berpikir sederhana, sama seperti kalau saya menyebut Gunung Tangkuban Perahu, Kali Kuning atau Telaga Mas. Jawabannya? “Itu hanya sebuah nama”, dan selalu ada cerita di baliknya. Siapapun sah-sah saja membuat ceritera atau mempas-paskan kisah atau dongeng yang melatarinya.    

Menyusuri jalan-jalan yang membelah sepanjang Valley of Fire atau Lembah Api adalah mengunjungi sebuah tempat yang mempunyai bentang alam morfologis berbeda dari yang biasanya saya lihat di Amerika. Batuan pasir berwarna merah yang sudah terkompaksi dan menyembul tidak teratur di sepanjang cekungan seluas 10 x 6 km persegi memang memberikan daya tarik tersendiri untuk diamati. Sementara area di luar itu, sejauh mata memandang hanya tampak dataran terbuka yang hanya ditumbuhi semak-semak kecil.

Menirukan pertanyaan anak saya : “kok bisa seperti itu, ya?”. Bagi mereka yang pernah belajar geomorphology (sekalipun tidak lulus-lulus) tentu tidak akan sulit untuk memahami fenomena alam ini. Tapi bagi anak-anak, jawabannya adalah saya tunjukkan kepada mereka berbagai gambar berukuran besar serta diorama di ruang visitor center yang berceritera tentang peristiwa geologi daerah itu. Setelah itu saya belikan saja buku bergambar yang dilengkapi dengan alur ceritera yang sederhana. Menerangkannya jadi mudah. Buku itu memang dirancang untuk anak-anak agar mudah untuk memahami tentang gejala alam.

Satu lagi kekalahan kita dalam me-manage obyek wisata alam agar menarik untuk dikunjungi (dan dipelajari), bahkan oleh anak-anak sekalipun. Antara lain ya karena kita ini pada umumnya baru bisa hanya sekedar “menjual”, tidak dengan “memberi nilai tambah”. Jadi, pantaslah kalau “keuntungan” yang diraih ya hanya segitu-segitu saja. Itupun kalau tidak dikantongi lalu dibawa pulang sendiri.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(5).   Mampir Makan Nasi Di Ujung Timur California

Minggu, 23 April 2000, jam 9:00 pagi kami sudah meninggalkan hotel dan langsung melaju ke arah tenggara. Tujuan kami hari itu adalah menuju kota Flagstaff di sisi utara negara bagian Arizona. Dari kota ini besoknya kami akan mendekat ke pinggir selatan Grand Canyon of Colorado. Jarak Las Vegas – Flagstaff sebenarnya hanya 215 mil (sekitar 345 km), kalau saya tempuh langsung paling lama 4,5 jam. Tapi justru karena waktu tempuhnya relatif pendek, maka kami merencanakan untuk mampir-mampir dulu.

Sekitar satu jam keluar dari Las Vegas, kami sudah mencapai perbatasan antara negara bagian Nevada dan Arizona. Garis perbatasan ini tepat berada di sungai Colorado yang di atasnya dibangun sebuah dam atau bendungan yang bernama Hoover Dam. Bagian tebing sungai curam yang dibendung ini menyerupai sebuah celah yang sangat dalam yang di atasnya dibangun jalan penghubung antara dua negara bagian. Tempat ini kini menjadi obyek wisata negara bagian Nevada karena letaknya yang relatif lebih mudah dijangkau dari Las Vegas, dibanding dari kota-kota di Arizona.

Hoover Dam dibangun tahun 1931 dan diresmikan penggunaannya tahun 1936, mempunyai konstruksi beton setinggi 221meter. Ini adalah bendungan dengan konstruksi beton tertinggi yang pernah dibangun di Amerika yang berfungsi sebagai pengendali banjir, penampungan air dan pembangkit tenaga listrik, sehingga membentuk danau buatan Lake Mead. Nama Hoover diberikan sebagai penghargaan kepada Presiden Amerika ke-31, Herbert Hoover, yang waktu itu merestui pembangunannya.

Melihat lokasi sekitarnya yang umumnya berupa tebing curam dan lembah bebatuan yang nyaris tanpa penghuni selain hewan gunung, saya menduga-duga dulu pembangunannya barangkali tanpa perlu pusing-pusing soal ganti rugi atau pemindahan penduduk. Kalaupun dulu ada orang Indian yang camping di sekitarnya, itu memang cara hidup mereka. Berbeda dengan orang Kedung Ombo yang membangun gubug di pinggiran waduk, itu karena mereka tidak puas dengan cara pemerintah memperlakukan mereka.

Di atas bendungan dipasang dua buah jam dinding, satu berada di wilayah Nevada dan satu lagi masuk wilayah Arizona. Jarak antara kedua jam itu sekitar 50 meter. Tapi kalau di bulan-bulan antara Oktober – April Anda berjalan dari jam dinding yang satu ke yang lain, “waktu tempuhnya” adalah satu jam. Sedangkan kalau di bulan-bulan antara April – Oktober, jamnya tetap.

Ini karena ada perbedaan waktu antara Nevada dan Arizona untuk bulan-bulan Oktober hingga April. Sedangkan pada bulan-bulan antara April hingga Oktober jamnya sama, karena Arizona adalah negara bagian yang tidak mengikuti program Daylight Saving Time (pergeseran waktu maju atau mundur satu jam setiap musim panas).

***

Tidak terasa hampir dua jam kami berhenti di lokasi waduk Hoover Dam. Perjalanan lalu kami lanjutkan ke selatan memasuki wilayah negara bagian Arizona melalui jalan berkelok-kelok mendaki dan menuruni bukit. Setelah itu perjalanan terasa membosankan, karena pemandangan di kanan kiri jalan hanya berupa dataran luas dengan semak-semak di sana-sini sepanjang jalur lurus 50 mil (sekitar 80 km).

Waktu masih menunjukkan sekitar jam 2:00 siang saat jalan yang saya lalui akan bertemu dengan jalan bebas hambatan Interstate-40 yang membentang arah Timur-Barat, sekitar 7 km lagi. Mempertimbangkan masih cukup waktu, saya lalu berubah pikiran. Saya berbelok ke barat menuju kota kecil Laughlin dengan menyeberangi lagi sungai Colorado yang di atasnya dibangun bendungan Davis. Dari kota ini kemudian memasuki wilayah negara bagian California di sisi ujung timur, lalu belok ke selatan hingga  tiba di kota Needles. Di kota Needles inilah saya akan ketemu lagi dengan Interstate-40.

Meskipun untuk jalan memutar ini saya harus menambah jarak tempuh 143 mil (sekitar 230 km), namun kami punya pertimbangan : Pertama, kami berharap akan menemukan restoran Cina di wilayah California, yang berarti kami akan bisa makan siang dengan nasi. Maklum, sejak dari Salt Lake City belum pernah makan nasi yang benar-benar makan.

Kedua, setelah memasuki Interstate-40 kami bisa melaju dengan kecepatan konstan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam) menuju Flagstaff, tanpa khawatir terganggu dokar, becak, sepeda, penyeberang jalan, anak ngejar layang-layang, ayam, kucing, pengamen atau pencongkel kaca spion. Paling-paling saya harus waspada terhadap rambu lalu lintas bergambar kijang atau elk (sejenis rusa besar) yang suka-suka numpang menyeberang jalan.

Ketiga, meskipun hanya sekedar lewat, kami ingin melengkapi perjalanan panjang ini dengan merasakan pernah berada di wilayah negara bagian California (sebuah keinginan yang kedengarannya ambisius).-

Pertimbangan yang pertama ternyata terbukti. Ketika di kota Needles kami menjumpai restoran Cina, maka nasi putih dan sop egg flower kesukaan anak saya langsung menjadi menu utama. Nikmat sekali rasanya, di saat sedang lapar berat di siang yang terik, tahu-tahu ketemu nasi yang benar-benar terasa nasi, justru di ujung timur California yang semula tidak menjadi bagian dari rencana perjalanan saya. Cukup diakhiri dengan menghabiskan segelas es teh dan sebatang rokok, lalu perjalanan dilanjutkan langsung menuju Flagstaff.

Sekitar jam 6:00 sore lebih sedikit, kamipun sudah sampai di hotel di kota Flagstaff. Satu dari dua kota terdekat untuk menuju ke sisi selatan Grand Canyon, selain satunya lagi kota Williams.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(6).   Di Pinggir Selatan Grand Canyon

Senin, 24 April 2000, sesuai rencana jam 8:30 pagi saya meninggalkan hotel di Flagstaff menuju ke utara sejauh 81 mil (sekitar 130 km) dan saya perkirakan sekitar 1,5 jam akan sampai ke daerah Tusayan sebelum mencapai pinggir selatan Grand Canyon. Di Tusayan ini kami sempatkan masuk ke Imax theater menyaksikan film tiga dimensi yang antara lain berceritera tentang sejarah dan ekspedisi Grand Canyon.

Taman Nasional Grand Canyon memang bisa didatangi dari dua arah. Untuk menuju ke pinggir utara (North Rim) bisa dicapai dari negara bagian Utah, sedangkan kami (dan umumnya wisatawan) memilih untuk mengunjungi pinggir selatan (South Rim) karena di sini berbagai sarana dan fasilitas lebih tersedia, dibandingkan dengan sisi utara yang nampaknya kurang dikembangkan. Lokasi di sisi selatan ini terbuka sepanjang tahun, sedang di sisi utara jalan akan ditutup pada musim dingin karena bersalju.

Grand Canyon of Colorado adalah satu dari sekian nama yang sudah saya kenal (dan saya ingat persis bagaimana cara menulisnya) sejak saya masih duduk di SMP di kampung, melalui pelajaran ilmu bumi dunia. Sejak dulu hingga sebelum saya tiba di Amerika tahun lalu, saya masih beranggapan bahwa tempat ini terletak di negara bagian Colorado. Rupanya tidak, Colorado adalah nama sungai dimana Grand Canyon membentang, sedangkan lokasinya berada di negara bagian Arizona.

Begitu berdiri tepat di pinggir selatan Grand Canyon : “Subhanallah“. Bukan karena selama ini saya hanya mendengar nama dan melihat gambarnya saja, dan kini berdiri tepat di pinggirnya. Melainkan, siapa yang telah bereksperimen dengan ilmu geologi sekian milyar tahun yang lalu hingga bisa menghasilkan bentang alam yang spektakuler ini. Kalau bukan siapa, pasti ada Tuhan di sana yang telah lebih dahulu “mempelajari” proses geologi, dan Tuhan tentu tidak sedang bermain-main dengan ilmu geologi. Pasti ada maksudnya.

***

Grand Canyon adalah jurang atau ngarai sedalam 1.737 m di dinding utaranya dan sekitar 1.371 m di dinding selatannya, di sebelah-menyebelah sungai Colorado. Jurang atau ngarai ini membentang sepanjang 443 km dengan lebar rata-rata 16 km. Di tengahnya bukit-bukit kecil dengan tampilan morfologi dan stratigrafi yang beraneka ragam (saya menggunakan lensa binocular agar bisa melihat lebih jelas).

Diterangkan bahwa pada setiap strata batuan yang ada di situ menandakan periode umur atau sejarah bumi sejak 2 milyar hingga 250 juta tahun yang lalu. Profil yang demikian ini tentu akan nampak lebih jelas kalau kita sempat jalan kaki menuruni jurang. Tapi pasti tidak cukup sehari untuk berwisata alam ke dasar jurang.

Bagi mereka yang mempunyai hobby berpetualang, tempat ini menjadi salah satu pilihan. Di dasar ngarai, di sisi sungai Colorado ada lokasi untuk berkemah dan menjelajah wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi orang, olah raga arus deras, menyusuri gua dan tebing-tebing curam. Belum lagi menantang cuaca yang angin dan suhu udaranya bisa sangat dingin terutama di malam hari, dan bahkan di musim dingin daerah ini bisa bersalju.

Di pinggir selatan ini telah disediakan beberapa gardu pemandangan (meskipun sebenarnya tidak ada bangunan gardunya) atau semacam tempat terbuka yang dirancang khusus, agar pengunjung dapat leluasa dan aman menyaksikan Grand Canyon, yang di beberapa tempat dipasang teropong. Titik-titik pemandangan ini tersedia di banyak tempat, sehingga pengunjung dapat menyaksikan Grand Canyon dari berbagai sudut pandang untuk dapat melihat bentuk, kilauan warna dan tampilan geologi yang berbeda.

Bagi pengunjung yang mempunyai uang saku lebih, menjelajah ngarai raksasa dengan pesawat helikopter pasti akan lebih mengasyikkan. Bisa melihat lebih dekat, bahkan ke dekat dasarnya, memasuki celah-celah di antara dinding bebatuan yang berprofil “aneh”, dan menjangkau area yang lebih luas. 

Kami menyusuri pinggir Grand Canyon dari barat ke timur sambil sesekali berhenti di titik-titik pemandangan. Pepohonan pinus dan juniper (sejenis tumbuhan yang buahnya dipakai untuk aroma minuman anggur) berada di sepanjang rute ini. Daerah ini memang berbatasan dengan Hutan Taman Nasional Kaibab. Sambil terus melaju ke arah timur kami menyaksikan Grand Canyon di sisi utaranya, hingga akhirnya meninggalkan Taman Nasional Grand Canyon melalui pintu timur. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 3:30 sore.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(7).   Melihat Batu Gosong

Mempertimbangkan kami masih punya cukup waktu dalam perjalanan kembali ke Flagstaff dari Grand Canyon sore itu, maka sekitar 25 km sebelum mencapai Flagstaff kami berbelok ke timur mampir ke obyek wisata yang disebut Sunset Crater Volcano. Saya memang tertarik dengan namanya, sementara belum banyak informasi yang sempat saya baca tentang tempat itu sebelumnya. Dalam hati saya berkata : pokoknya belok saja, toh hanya 5 km dari jalan besar.       

Ternyata yang namanya Sunset Crater Volcano adalah bekas kawah gunung berapi. Lha wong namanya bekas, jadi yang tampak di sana adalah hamparan batu-batu vulkanis yang nampak gosong, bekas terbakar. Juga tersedia jalan yang cukup aman untuk bisa jalan kaki mendaki ke pinggir bekas kawahnya, jika berminat.

Sepintas sama sekali tidak ada yang menarik bagi saya. Di Indonesia rasanya banyak yang lebih menarik untuk dikunjungi, daripada sekedar batu gosong. Tidak perlu lama-lama, setelah berhenti istirahat sebentar, kamipun langsung memutar untuk melanjutkan perjalanan. Yang lalu kemudian mengganjal di pikiran saya adalah kenapa batu gosong saja mampu mereka promosikan untuk menarik wisatawan. Dan anehnya, banyak juga wisatawan (lokal khususnya) yang mau berkunjung ke situ dan rela membayar uang tanda masuk US$ 7.00.

Obyek wisata Dieng di Jawa Tengah, bagi saya jauh lebih kaya dan menarik untuk dikunjungi, kalau hanya sekedar berkunjung yang diinginkan. Untuk sekedar mengambil contoh : tahun 1977 saya ke Dieng, lalu tahun 1987 saya ke Dieng lagi, memang menarik tapi ya masih begitu-begitu saja. Tidak berkesan ada nilai tambah yang saya peroleh. Padahal di sana ada kawah, ada sumber air panas, ada telaga, ada candi, ada industri jamur, ada pertanian kentang, ada perkebunan teh, ada berbagai legenda yang tidak habis-habisnya digali.

Selesai berkunjung dan melihat, ya sudah. Apa dan bagaimana semua itu? Anda harus mencarinya sendiri, tanya sana tanya sini, riset kepustakaan sendiri jika diperlukan, atau mendatangi kantor Dinas Pariwisata (itupun kalau Anda beruntung petugasnya sedang “mau” Anda kunjungi). Maka janganlah heran kalau Pemda Dati II Banjarnegara, atau Wonosobo sebagai kota terdekatnya sebenarnya kehilangan sumber pendapatan asli daerah (termasuk devisa) dari sektor pariwisata, yang sebenarnya bisa diharapkan lebih banyak. Karena dengan memberi nilai tambah, Dieng akan sangat menjanjikan lebih bernilai ekonomis untuk “dijual”.   

***

Seperti saya singgung di catatan sebelumnya tentang Lembah Api. Kenapa banyak wisatawan berkunjung ke Sunset Crater Volcano adalah karena ada nilai tambah atas batu gosong itu. Brosur-brosur promosi yang dicetak di atas kertas lux berwarna dan terkadang dilengkapi dengan foto, bisa diperoleh dengan mudah, di hotel, di restoran, bahkan di visitor center saat memasuki negara bagian Arizona. Tentu dengan harapan agar para wisatawan tertarik untuk menjadikan tempat itu sebagai salah satu sasaran kunjungannya. Minimal para calon pengunjung tahu bahwa ada tempat yang namanya Sunset Crater Volcano.

Umumnya tempat-tempat wisata di Amerika, setiap kita membeli karcis masuk maka akan disertakan juga brosur yang memuat berbagai informasi tentang tempat yang kita kunjungi, termasuk denah atau peta lokasi lengkap dengan berbagai keterangannya. Dengan demikian pengunjung tidak hanya akan melihat obyeknya saja (batu gosong misalnya), melainkan juga akan tahu “Apa dan Bagaimana”-nya.

Di ruang visitor center, biasanya pengunjung akan memperoleh berbagai macam informasi yang terkait, seperti sejarahnya, proses terjadinya, pengelolaannya, bahkan terkadang dikembangkan lagi dengan peristiwa-peristiwa lain yang ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di situ. Semua disajikan melalui media yang sangat informatif, bisa gambar-gambar dan foto-foto di dinding, diorama, alat peraga, pemutaran film dan video, buku-buku, hingga dilengkapi dengan cenderamata yang bisa diperoleh dengan membelinya.

Nilai tambah itulah yang sebenarnya sedang mereka jual, bukan semata-mata menjajakan “batu gosong” -nya. Nampaknya kita memang harus mengejar banyak hal di sektor ini. Dalam kenyataannya kita masih menerapkan bahwa antara rekreatif dan edukatif adalah dua hal terpisah. Sementara di sini saya melihat orang sudah mengaitkan bagaimana agar yang rekreatif itu sekaligus berfungsi edukatif, bagi siapa saja, sekalipun untuk itu harus dengan membayar. Siapapun boleh saja tidak setuju, tapi setidak-tidaknya itulah yang baru saja saya tangkap.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(8).   Bermalam Di Durango

Selasa, 25 April 2000, jam 8:30 pagi saya check out dari hotel dan langsung melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate-40. Sekitar satu jam perjalanan saya keluar dari Interstate-40 dan membelok ke selatan sejauh 10 km. Di sana ada Meteor Crater, yaitu sebuah lokasi di tengah dataran luas berbatu dan bersemak di mana pernah jatuh batu meteor yang lalu meninggalkan sebentuk kawah.  

Menurut para ahli astrogeologi, diperkirakan sekitar 50.000 tahun yang lalu ada sebuah meteorit yang beratnya ratusan ribu ton jatuh ke dataran itu. Jatuhnya meteorit ini meninggalkan kawah sedalam 213 m. Saat ini kedalaman kawah ini tinggal sekitar 168 m dengan garis tengah hampir 1,6 km dan keliling lingkarannya sekitar 3,8 km. Perubahan ini tentu akibat proses alam.

Di gedung utama, selain disajikan berbagai informasi tentang peristiwa alam berkaitan dengan benda-benda ruang angkasa, alat peraga termasuk simulasi komputer, pemutaran film, museum astrogeologi, dsb. juga bisa dijumpai seonggok contoh batu meteor seberat lebih 660 kg yang setelah penemuannya lalu diberi nama diablo irons

Melihat permukaan kawah yang diperkirakan mirip dengan permukaan yang ada di bulan, NASA pernah mengadakan pelatihan untuk astronot Apollo di tempat ini. Bekas-bekas perlengkapan training itu masih ada hingga kini, termasuk kapsul ruang angkasa Apollo. Berbagai hal berkaitan dengan misi Apollo juga dipamerkan dengan sangat lengkap.

***

Dari Meteor Crater saya melanjutkan perjalanan menuju timur. Satu jam kemudian, saya keluar lagi dari Interstate-40 menuju ke arah Petrified Forest National Park. Ini adalah hutan taman nasional yang tidak satupun dijumpai ada pepohonan di situ. Ya, karena yang dimaksud dengan hutan di situ adalah hutan batu atau lebih tepatnya bekas hutan yang pepohonannya sudah membatu (petrified).

Tahun 1962 daerah ini dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi, karena di kawasan yang membentang sepanjang lebih 75 km ini terdapat reruntuhan pepohonan yang sudah membatu yang beraneka warna dan gurun pasir yang disebut Painted Desert, serta lukisan batu peninggalan suku-suku Indian. Antara pepohonan batu dan gurun pada dasarnya adalah berasal dari proses yang sama, yang menurut studi paleontologi keduanya terbentuk pada jaman Triassic sekitar 225 juta tahun yang lalu.

Menyusuri rute petrified forest ini sepintas nampak seperti banyak berserakan batang-batang pohon. Baru setelah didekati akan tampak jelas bahwa sebenarnya itu adalah batang-batang pohon yang telah membatu yang mengandung mineral yang beraneka warna (tergantung dari warna mineral yang membentuknya).

Jangan coba-coba ngantongin sepotong batu dari sini. Jika tertangkap, minimal kena denda US$ 300. Itu sebabnya secuil batu petrified yang dijual di toko cendera mata bisa berharga US$ 25 hingga ratusan dollar tergantung dari warna mineral yang dikandungnya. Indah dan artistik memang, tentu bagi mereka yang sedikit paham tentang latar belakang ilmu geologi.

***

Dari dua tempat yang saya kunjungi itu, lagi-lagi saya merasakan bahwa bukan sekedar kawah dan batu yang saya lihat, melainkan banyak sekali informasi baru dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh. Sarana yang disediakan memungkinkan bagi siapa saja (termasuk anak-anak) untuk menjadi dipermudah memahami berbagai peristiwa geologis yang sayapun dulu untuk memahaminya susah setengah mati.

Rasanya tidak sayang menyisihkan waktu dan uang untuk “membeli” obyek kunjungan yang sudah diberi nilai tambah ini. Padahal di Indonesia saya juga pernah menjumpai kawah dan saya juga pernah menjumpai tanaman membatu yang saya baru tahu kalau istilahnya petrified. Tapi ya seperti saya kemukakan sebelumnya, setelah mengunjungi dan melihat, ya sudah itu saja.

***

Sekitar jam 1:30 siang, saya sudah berada kembali di Interstate-40 dan melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan negara bagian New Mexico. Menurut rencana semula, saya akan terus menuju ke kota Albuquerque dan kemudian bermalam di kota Santa Fe (ibukota New Mexico).

Tapi tadi malam ketika membuka-buka peta perjalanan, saya berubah pikiran. Jika langsung menuju Santa Fe melalui Interstate-40 untuk kemudian esoknya melanjutkan melalui Interstate-25 menuju ke Denver (ibukota Colorado), maka pemandangan di sepanjang perjalanan akan sangat monoton dan membosankan meskipun saya bisa melaju dengan kecepatan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam).  

Akhirnya lalu kami putuskan setiba di kota Gallup (New Mexico) akan membelok ke utara menuju arah Denver tetapi melalui rute tengah yang bergunung-gunung dan akan melalui beberapa kota kecil, dengan akibat saya hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimum 55-65 mil/jam (sekitar 90-100km/jam). Perjalanan melalui kota-kota kecil ini kata seorang teman di Colorado, Mas Bob Adibrata, lebih bersuasana Amerika ketimbang lewat jalan mulus bebas hambatan yang hanya akan menjumpai mobil dan tuck-truck raksasa saja.

Maka siang itu, perjalanan dilanjutkan melalui kota-kota kecil di New Mexico yang pada umumnya mempunyai pemandangan alam yang kering mirip Arizona dengan di sana-sini dataran luas bebatuan dengan bukit-bukit menonjol berprofil “aneh” akibat proses erosi. Tonjolan-tonjolan bukit batupasir yang membentuk profil “aneh” ini cukup menarik dan banyak menghiasi sepanjang perjalanan di bagian utara negara bagian New Mexico. Menjelang sore saya sudah melintasi perbatasan dengan negara bagian Colorado. Tujuan saya adalah menuju kota Durango yang berada di sisi barat daya Colorado, sebelum naik ke punggungan barat pegunungan Rocky Mountain.

Sebenarnya sebelum sampai ke Durango saya ingin mampir ke Taman Nasional Mesa Verde, namun sayang waktunya sudah tidak mencukupi karena saya perkirakan perlu waktu sekitar 2 jam untuk mengunjungi tempat itu sedangkan hari sudah sore. Khawatir terlalu malam tiba di Durango, maka perjalanan saya lanjutkan saja, hingga sekitar jam 6:00 sore saya memasuki kota Durango. Tidak terlalu sulit untuk mendadak mencari hotel murah di kota kecil ini. 

Bagi saya Durango adalah sebuah kota kecil yang asri. Berada di ketinggian sekitar 1.981 m di atas permukaan air laut dan berpenduduk kurang dari 12.500 jiwa. Tidak terlalu padat untuk ukuran sebuah kota kecil di Amerika.

Udara sore itu cukup dingin dan menyegarkan setelah 4 hari perjalanan dalam cuaca yang panas. Di jalan utama Durango masih bisa dijumpai bangunan-bangunan lama yang sekarang dipakai untuk pertokoan, bekas masa kejayaan industri pertambangan ketika di Amerika sedang mengalami booming emas dan perak, di akhir abad 19. Di kota Durango inilah kami bermalam.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar