Posts Tagged ‘pasir’

Mbelah Duren Cirawa

10 Februari 2010

Jauh-jauh pergi ke Citatah dan Padalarang mau cari pasir. Lha kok ketemunya durian desa yang cantik-cantik tapi pasti tidak ada yang mulus, di desa Cirawa. Yo wis, mbelah duren saja (sumprit, ini durian beneran…). Lalu 30 butir durian pun tak borong….

Bandung, 6 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Endapan Pasir Kwarsa

28 Agustus 2008

Ini bukan salju di pegunungan Eropa, melainkan endapan pasir kwarsa yang berwarna putih, di sebuah lokasi bekas tambang di Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, sekitar 100 km sebelah timur Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Lokasi yang merupakan bekas tambang emas PETI (pertambangan tanpa ijin) yang telah lama ditinggalkan ini memberikan bentang alam yang sangat menawan, padahal semestinya kawasan ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lebih produktif.

Endapan pasir kwarsa, baik yang merupakan hasil proses alami maupun sebagai timbunan limbah bekas tambang, banyak dijumpai di berbagai kawasan di Indonesia. Sebagian telah dikelola sebagai komoditas bahan tambang untuk memenuhi kebutuhan industri. Pasir kwarsa antara lain dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan bahan pelapis (coating).

Pontianak, 28 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Goa Tengkorak Yang Tidak Menyeramkan

19 Maret 2008

Menyusuri sungai Kandilo di wilayah kabupaten Pasir, Kaltim, dengan naik ketinting kecil membuat dag-dig-dug juga mulanya. Sedikit saja badan bergoyang patah-patah karena mengatur posisi pantat sambil kedua tangan bertumpu di kedua sisi perahu, maka perahupun ikut oleng. Pendeknya, duduk mesti tenang dan diemmmm….. aja. Tapi lama-kelamaan jadi terbiasa juga menikmati olang-oleng-nya ketinting. Asal tidak tumplek… terbalik saja….. Bukan takut dengan air sungai, melainkan karena ada penghuni lain di sana, yaitu buaya sungai.

Sekali waktu, seorang teman melihat dan memberitahu ada buaya kecil menatap tajam di pinggir sungai. Ketika ditanyakan kepada tukang ketinting (lebih biasa disebut motoris), sang pengemudi perahu diam seribu basa dan cuek saja, pura-pura tidak mendengar. Tanya kenapa? Nampaknya bagi masyarakat sekitar adalah tabu membicarakan perihal buaya di depan beliaunya (beliau buaya, maksudnya). Seperti kata pepatah, biarlah buaya menatap tajam, ketinting tetap berlalu. Agar tidak saling mengganggu dan (insya Allah) selamat…… Pantang untuk saling bertegur sapa dengan buaya.

Selain buaya, jenis binatang yang sering saya jumpai di sepanjang tepian sungai ini adalah berang-berang, kera kampung (saya tidak tahu namanya), bekantan (kera berhidung mancung) dan tentu saja bangsa burung-burungan, tidak termasuk cucakrowo sing dowo buntute… .

Namun yang paling spektakuler adalah ketika melewati sepenggal perbukitan kapur. Dinding batu kapur yang terbelah sungai, di atasnya ditumbuhi pepohonan rimbun, sehingga terasa teduh dan berhawa segar. Pemandangan ke arah timur, di sana terbentang bukit kapur yang menjulang tinggi. Sorotan matahari sore memberi rona bayangan pada dinding bukit kapur yang menjulang tinggi itu jadi tampak kemerah-merahan. Menakjubkan! Sayang adoh lor adoh kidul…., sehingga sulit untuk dijangkau wisatawan.

*** 

Hari sudah menjelang maghrib ketika kami hampir tiba kembali ke desa Kesungai. Pandangan mata tertuju pada dinding batu terjal yang ternyata di atas sana ada sebuah goa. Namanya goa Tengkorak. Menilik namanya, maka kesan mistis, angker dan menyeramkan,  yang pertama terbayang. Apalagi hari sudah rembang petang. Tapi menimbang bahwa kapan lagi bisa nyambangi goa isi tengkorak di tempat terpencil itu, maka terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketinting pun menepi ke sisi barat, menurunkan kami. Tukang ketintingnya dipersilakan langsung pulang, sementara kami akan melihat-lihat goa Tengkorak, dan pulangnya jalan kaki saja.

Untuk naik menuju mulut goa tidak terlalu susah, hanya perlu memanjat lebih seratus anak tangga. Ya, susah juga sih sebenarnya….. Ngos-ngosan….. Mulut goanya berada di sekitar pertengahan dinding tegak lurus gunung kapur setinggi lebih 50 meter, yang dari kejauhan tampak berwarna putih. Di sana sudah terpasang menara kayu komplit dengan anak tangga zig-zag. Fasilitas itu memang disediakan oleh pemerintah guna memberi kemudahan bagi wisatawan yang ingin nyambangi tengkorak-tengkorak di dalam goa.

Yang disebut goa ini sebenarnya hanya cerukan kecil. Tinggi mulut goanya sekitar 1,5 meteran, sehingga untuk masuk ke dalamnya badan mesti rada dibungkukkan. Lebar guanya 2 meteran dan kedalaman ceruk goa ini tidak sampai 10 meter. Tidak jauh dari mulut gua terlihat onggokan tengkorak-tengkorak dan tulang belulang bekas manusia yang tertata rapi berjajar tiga baris.

Kata orang, jumlah tengkoraknya ada 37 buah. Karena penasaran saya hitung juga, ketemunya 35 buah. Dihitung ulang tetap saja 35 buah. Ya sudah, pokoknya percaya saja jumlahnya 37 buah.

Kata orang juga, tengkorak-tengkorak ini harum baunya. Karena penasaran saya coba mengambus-ambuskan hidung sambil membuka lubang hidung lebar-lebar (meskipun saya tahu ukuran lubang hidung saya ya tetap saja segitu), tidak juga tercium aroma harumnya. Ya sudah, pokoknya percaya saja baunya harum. Ketimbang kuwalat.

Masih kata orang, jangan coba-coba mengambil tengkorak atau tulang-tulang yang ada di situ. Yang sudah-sudah, orangnya bakal ketimpa musibah. Ya sudah, tidak usah mengambil tengkorak. Hanya wisatawan kurang kerjaan saja rasanya yang mau nyangking tengkorak di bawa pulang…..

Konon tengkorak dan tulang belulang itu dahulu milik raganya para nenek dan moyangnya masyarakat Pasir, pada jaman kerajaan Sadurengas pada abad 16 Masehi. Masyarakat jaman itu adalah penganut kepercayaan Hindu Kaharingan, sebelum datangnya ekspedisi Islam dari Kesultanan Demak.

Di jaman itu orang yang meninggal dunia mayatnya tidak dikubur, melainkan dipak dengan setangkup kayu yang disebut lungut, atau di-blusuk-kan ke dalam lubang kayu yang sengaja dibuat untuk itu. Proses pengepakan ini berlangsung sekitar setahun hingga jasadnya habis dan tinggal tersisa tengkorak dan kerangkanya. Tidak ada keterangan yang menjelaskan tentang bagaimana menangani baunya. Barulah kemudian tengkorak dan tulang-belulangnya dipindahkan ke ceruk-ceruk atau goa-goa di dinding batu melalui upacara adat. Sebagian di antaranya, ya yang sekarang masih bisa ditemukan di goa Tengkorak itu.    

Untuk mencapai lokasi goa Tengkorak tidaklah sulit. Sebelum memasuki Batu Kajang, desa dimana berada perusahaan tambang batubara PT. Kideco Jaya Agung dari arah Balikpapan lalu masuk ke kanan. Ada petunjuk arah cukup jelas terpasang di pinggir jalan. Masuk menuju desa Kesungai sekitar 4 km, lalu jalan kaki sejauh kurang-lebih satu kilometer menyeberangi dua jembatan gantung beralas kayu yang melintas di atas sungai Kesungai dan sungai Kandilo. Pemandangan dari bawah goa juga cukup bagus, karena memang letaknya di ketinggian.

Meski bernama goa Tengkorak dan di dalamnya banyak tengkoraknya, tapi sungguh ini bukan tempat yang menyeramkan. Kalaupun ada yang menyeramkan, itu karena para tengkoraknya pada meringis (yang tidak meringis berarti tengkoraknya ompong……..).

Selain goa Tengkorak, sebenarnya ada satu goa lagi yang konon lebih besar, lebih misterius tapi indah. Namanya goa Lojang. Letaknya tidak terlalu jauh dari goa Tengkorak, dan tidak perlu menyeberang jembatan gantung. Juga berada di tengah tebing tegak bukit kapur yang lebih tinggi. Dapat ditebak bahwa goa ini indah karena di dalamnya banyak stalaktit dan stalagmit, dan misterius karena tidak seorang pun tahu dimana ujungnya. Mungkin lebih tepat disebut ujung goanya belum ditemukan. Lha wong namanya goa di bukit kapur……..

Namun sayang karena hari semakin gelap, saya tidak sempat menyinggahi goa Lojang. Pasti semakin gelap pula di dalam goanya. Namun sayang yang kedua adalah karena kedua goa itu nampaknya belum menjadi perhatian pemerintah setempat untuk dijual kepada wisatawan. Padahal potensi nilai jual kawasan bukit kapur itu tergolong tinggi. Paling-paling masyarakat Batu Kajang dan sekitarnya yang keluar-masuk daerah itu, termasuk para pegawai tambang batubara di dekat situ.

Yogyakarta, 1 Maret 2007
Yusuf Iskandar

Melahap Durian Hutan

19 Maret 2008

Di wilayah Sungai Terik, kecamatan Batu Sopang, kabupaten Pasir, Kaltim, kami berhenti di pinggiran jalan raya, tepatnya di halaman rumah orang, setelah menempuh perjalanan kira-kira 50 km dari kota Tanah Grogot. Wilayah ini berada di jalur jalan Trans Kalimantan Banjarmasin – Balikpapan, atau disebut juga jalan negara atau jalan Ahmad Yani. Kira-kira berada 20 km ke arah selatan dari pertigaan kecamatan Kuaro dan kira-kira di pertengahan jalan sebelum sampai di Batu Kajang, lokasi dimana salah sebuah perusahaan besar tambang batubara berada.

Rencananya kami memang mau menyusuri pinggiran bukit atau tepian hutan di sisi barat jalan raya Batu Sopang menyeberangi Sungai Terik. Ya, jalan-jalan saja, sambil mencari dan melihat-lihat singkapan batubara. Sekedar mempraktekkan filosofi bisnis yang saya terapkan untuk mengelola “Madurejo Swalayan”. Menemukan singkapan lalu mengkaji (untuk selanjutnya kalau mungkin menggarap) potensinya. Lokasi? Jelas tidak strategis. Mana ada singkapan batubara kok di pinggir jalan dekat kampus atau kost-kostan. Karena itu, lupakan soal lokasi. Melainkan temukan singkapannya, tangkap peluangnya dan garap potensinya.

Bukan soal singkapan batubara yang ingin saya ceritakan. Biarlah itu diurusi oleh pekerja-pekerja teknis yang memang dibayar untuk bercerita tentang seluk dan beluknya batubara. Namun, di pinggir jalan itu saya melihat dua buah keranjang yang penuh berisi durian. Hmmm…., kenampakannya dan aromnya merangsang syaraf air liur. Jangankan dibayar, membayarpun kalau perlu, rasanya sudah tidak sabar lagi ingin melampiaskan gairah untuk mencicipinya.

Seperti dapat membaca pikiran orang lain, si ibu pemilik dua keranjang durian segera menawarkan harganya, Rp 170.000,- sekeranjang munjung yang katanya berisi 37 butir durian. Tidak boleh dibeli sebagian, melainkan selanjung. Lanjung adalah bahasa lokal untuk keranjang gendong, yang kalau di kampung saya disebut dunak. Tawar menawar pun terjadi, dan akhirnya disepakti harga Rp 150.000,- sekeranjang munjung, tapi tanpa keranjangnya. Lagian ya ngapain bawa-bawa keranjang durian…..

Durian hutan ini ukurannya kecil-kecil, kira-kira seukuran nanas. Butiran buah dan bijinya juga kecil-kecil dan daging buahnya tipis. Karena itu melahap banyak-banyak durian ini tidak cepat membuat nek dan kenyang. Paling-paling perut kemlakaren dan glegheken…. kekenyangan hingga tubuh malas bergerak dan bersendawa……  Aromanya tidak menyengat amat. Namun rasa manis daging lembutnya cukuplah mengobati selera untuk melahapnya.

Selain durian hutan, rupanya si ibu pemilik dua lanjung durian itu juga menjajakan buah yang nyaris persis durian. Buah ini ada dua macam, yang berwarna merah disebut layung dan yang berwarna hijau disebut krantungan. Aromanya mirip durian, tapi lebih harum menyengat. Harganya juga kurang-lebih setara dengan harga durian hutan. Untuk sekedar dicoba rasanya, bolehlah. Tapi indra penciuman dan pencecap saya tidak cocok. Terlalu nendang syaraf hidung dan syaraf lidah, maka baru mencicipi sedikit saja langsung berasa nek dan kenyang. Sayang…., tembolok cuma satu, baru diisi sedikit saja sudah kenyang. Tapi konon masyarakat setempat justru lebih menyukai layung dan krantungan daripada durian.

Layung dan krantungan ini ukurannya hampir sama dengan durian hutan dan bentuknya lebih bulat menyerupai bola. Hanya durinya lebih langsing, lebih lentur dan tidak setajam durian. Jadi kalau kejatuhan layung atau krantungan runtuh, pasti tidak akan separah kalau kejatuhan durian runtuh. Meski tetap saja harus segera dilarikan ke puskesmas terdekat….. 

Di tempat ini pula saya menemukan jenis buah yang selama ini belum pernah saya coba rasanya. Antara lain buah rambe (seperti buah kokosan) dan juga ketapi (ketika saya sebut kecapi, saya disalahkan). Yang terakhir ini saya tidak membelinya, melainkan numpang mencicipi (lebih tepatnya, minta) buah ketapi yang sedang dinikmati oleh anak dari si ibu penjual durian. Rasanya oke juga.

***

Di kawasan desa Kasungai, masih di kecamatan Batu Sopang, saya lihat ada gubuk-gubuk yang sengaja disiapkan oleh masyarakat setempat di pinggiran hutan. Bulan-bulan ini memang lagi musim buah durian. Maka kalau malam mereka yang merasa memiliki kapling bagian hutan yang ditumbuhi durian, nongkrong semalaman di gubuk-gubuk itu sambil menunggu durian jatuh. Paginya durian-durian dikumpulkan lalu diwadahi lanjung dan dijual.

    

Sehari sebelumnya, ketika kami menyusuri sungai Kasungai dan berhenti untuk jalan-jalan masuk hutan, tukang ketinting (perahu kecil bermotor) yang saya tumpangi tahu-tahu juga ikutan masuk hutan tapi ke arah yang berbeda. Rupanya sedang mencari durian hutan yang jatuh. Ketika kembali ke ketinting sudah dengan membawa beberapa butir buah durian. Giliran kami yang melahapnya di atas ketinting. Enaknya memang tidak seberapa, tapi noikmat tenan….., mungkin memang perut sudah rada lapar karena terlambat makan siang.

Dibandingkan dengan durian-durian yang lebih punya nama yang selama ini dikenal orang, durian hutan memang belum bisa diandalkan untuk bersaing. Namanya juga durian hutan, ya pasti durian yang diperoleh di hutan. Asli dan langsung dari hutan. Bukan durian hasil budi daya atau hasil petikan, melainkan yang dikumpulkan dari durian yang jatuh dari pohonnya di hutan. Atau sebut saja durian thukulan (tumbuh sendiri di hutan).

Betapa hebatnya dunia kita ini. Ternyata yang thukulan saja bisa lebih enak, sehat dan murah meriah. Sebab belum tercampur dengan bahan kimia beracun hasil rekayasa penghuni dunia, yang biasanya harga buahnya malah jadi lebih mahal. Ya karena untuk menutup harga racunnya itu….. 

Yogyakarta, 28 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Masuk Hotel, Alas Kaki Dilepas

19 Maret 2008

Namanya hotel “Mama Rina”. Menilik namanya, jelas dapat ditebak bahwa sang pemilik hotel adalah ibunya Rina. Seseorang yang bernama Rina ini ternyata memang anak ragil dari seorang ibu yang baru saja pulang haji. Sebut saja bu haji. Di sebelah kiri bagian depan hotel terpajang tulisan ucapan sambutan selamat datang yang nadanya mengelu-elukan sang pemilik hotel yang baru datang dari tanah suci. Dikatakan terpajang karena memang tulisan itu sengaja dibuat indah dan meriah yang kalau malam berhiaskan lampu byar-pet warna-warni. Nampaknya itu adalah bagian dari tradisi penyambutan orang yang pulang haji di daerah itu.

Hotel “Mama Rina” letaknya cukup strategis di tengah kota Tanah Grogot, ibukota kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Terjemahan mudah dari strategis adalah dekat kemana-mana. Mudah dicapai. Dekat dengan satu-satunya mal di Tanah Grogot, yaitu Kandilo Plaza. Dekat bank dan ATM-nya. Dekat masjid raya yang belum lama diresmikan yang tampak begitu wah, megah, mewah dan besarnya sak hohah…, jika dibandingkan dengan kepadatan penduduknya. Dekat alun-alun dan berada di sisi barat tugu yang sedang dibangun. Dan, yang terpenting adalah dekat dengan tempat-tempat makan.

Hotel berkelas melati ini memang lebih pas disebut hotel kelas backpacker. Tarifnya tidak terlalu mahal. Setiap pagi disediakan sarapan yang di-drop langsung di depan kamar, meskipun selama seminggu saya menginap di sana menunya sama terus, nasi kuning ditambah ayam goreng dan terik tempe kering. Sajian khas sarapan pagi di hotel milik bu haji mamanya Rina. Juga ada suguhan kopi atau teh di pagi dan sore hari. Pendeknya, begitu bangun tidur lalu membuka pintu kamar, pasti ransum pagi sudah tersaji di meja depan kamar.

Agaknya hotel ini sering menjadi tempat transit atau persinggahan para pekerja lapangan, antara lain orang-orang yang sedang melakukan survey geologi. Mereka yang berangkat pagi pulang petang. Mereka yang hanya perlu tempat untuk nggeblak melepas penat dan buang hajat, tapi memenuhi syarat.

Singkat kata, untuk sekedar persinggahan atau transit jangka pendek beranggaran sedang-sedang saja, maka inilah tempat yang pas kalau kebetulan sedang berada di kota Tanah Grogot. Namun kalau sedang dalam perjalanan bersama keluarga, rasanya kurang nyaman, kecuali kepepet. Tapi memang di Tanah Grogot ini tidak banyak pilihan hotel. Para tamu instansi pemerintah pun seringkali menyinggahi tempat ini.

***

Namun jangan kaget, meski bukan masjid, bukan rumah mewah, bukan pula kediaman priyayi, begitu naik ke lantai dua hotel milik mamanya Rina ini, di ujung atas tangga terpampang tulisan : “Alas Kaki Tolong Dilepas”. Penulisannya terkesan asal-asalan, ditulis dengan spidol hitam di atas kertas warna putih tua, maksudnya tidak lagi bersih.

Meski nadanya minta tolong, tapi siapapun yang naik ke lantai dua hotel pasti merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaan tolong dari sang pemilik hotel. Pantas saja, lantai dua hotel yang berkarpet merah itu terlihat bersih. Meski ada juga sepatu yang nyelonong ke kamar-kamar hotel, tapi setidaknya banyak tamu hotel yang melepas sepatu atau alas kakinya di ujung tangga. Patuh, memberi pertolongan kepada sang pemilik hotel, ya bu haji ibunya Rina itu tadi.

Rupanya karena hotel ini sering dijadikan persinggahan para orang-orang lapangan, yang kalau pulang dari lapangan biasanya sepatunya kotornya minta ampun, berbalut tanah dan terkadang lempung. Belum lagi baunya. Akibatnya, karpet yang mestinya berfungsi mempercantik dan memperbersih tampilan lantai dua hotel, karuan saja jadi cepat kotor dan repot membersihkannya. Maka, ya harap maklum, kalau kemudian pemilik hotel merasa perlu memasang tulisan permintaan tolong itu. Toh, tidak sulit untuk dipenuhi. Yang penting semua tamu dan penghuninya merasa nyaman.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(4).   Mencari Batubara Di Pasir 

Memasuki wilayah Kalimantan Timur, kemudian kami agak bisa bernapas lega. Kondisi jalan Trans Kalimantan mulai bagus dan mulus. Setidak-tidaknya kondisi jalan yang berlubang-lubang tidaklah separah di wilayah selatan. Kami melewati kota kecamatan Jaro, Muara Koman, Batu Kajang hingga tiba di persimpangan jalan Trans Kalimantan di kecamatan Kuaro. Suasana kota-kota kecamatan ini nampak berbeda dengan kota-kota kecil di wilayah selatan. Di wilayah utara ini terkesan lebih enak dipandang. Sama-sama kota kecil tapi nuansa kotanya berbeda.

Terlebih Muara Koman, kota yang memiliki kontur perbukitan ini selintas sambil jalan kota ini tampak indah dan tertata rapi. Dapat dipahami karena di wilayah ini menjadi basis aktifitas industri sehingga pemerintahannya tentu lebih kaya oleh kontribusi dari industri, dibanding daerah lainnya. Industri perkayuan, perkebunan dan pertambangan memang betebaran di wilayah Kalimantan Timur.

Suasana lebih ngota lagi nampak di kota Batu Kajang dimana terdapat industri tambang batubara PT Kideco, juga sebuah perusahaan tambang batubara papan atas. Suasana kotanya lebih hidup dan ramai. Refleksi dari gairah ekonomi masyarakatnya yang tumbuh seirama dengan pertumbuhan industri di sekitarnya. Mekanisme pasar yang logis-logis saja. Di mana-mana juga begitu. Di mana ada gula, di situ ada semut. Hanya biasanya, semakin manis gulanya semakin banyak pula semut-semut nakalnya….. 

***

Tepat di pertigaan Kuaro, kami berhenti untuk makan siang. Ya, pokoknya cari warung sedapatnya, wong ini  kota kecil yang sepi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 15:00 WITA. Ketemulah menu makan siang dengan daging payau, sebutan lokal untuk daging rusa yang rasanya mirip-mirip daging kambing.

Dari pertigaan Kuaro, kalau terus ke atas (utara) akan menuju arah kota Balikpapan, sedang kalau ke selatan menuju kota Tanah Grogot. Tujuan kami sore itu adalah menuju kota Tanah Grogot yang berjarak 28 km lagi dari Kuaro. Kami akan menginap di Tanah Grogot.

Akhirnya sekitar jam 5 sore kami sudah memasuki kota Tanah Grogot. Sebuah kota yang tidak terlalu padat, jalan-jalan kotanya cukup lebar dan berpenampilan bersih, sehingga enak dilihat. Tanah Grogot adalah ibukota kabupaten Pasir. Kabupaten yang letaknya paling selatan dari wilayah propinsi Kalimantan Timur dan berbatasan dengan Kalimantan Selatan. Kota-kota kecamatan yang saya lalui sejak memasuki perbatasan Kalimantan Timur adalah termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Pasir.

Tujuan utama perjalanan kami kali ini memang menuju ke kota ini, tepatnya ke wilayah kabupaten Pasir.  Kami akan blusukan di beberapa lokasi untuk mencari dan melihat-lihat singkapan batubara. Lokasi singkapan yang sebelumnya sudah kami ketahui posisinya dan koordinatnya. Tentu saya tidak sendiri, melainkan ditemani oleh geologist yang memang ahlinya dalam urusan singkap-menyingkap untuk melihat lebih detil apa yang ada di baliknya.

Kami sudah kangsenan (janjian) dengan orang yang akan mewakili penguasa lokasi batubara untuk bertemu di Tanah Grogot. Utusan penguasa lokasi (bukan pemilik, melainkan pemegang hak Kuasa Pertambangan) akan menemani kami menunjukkan lokasi-lokasi singkapan batubara yang sudah diketahui. Meskipun kami sudah memiliki data-data koordinatnya, adanya “saksi mata” ini akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan, dibandingkan kalau kami mesti thunak-thunuk ngalor-ngidul mencari sendiri lokasi singkapannya. Belum lagi nanti kalau dicurigai macam-macam oleh pemilik tanahnya. Bisa runyam akibatnya. Maka adanya pendamping dari orang yang sudah mengenal dan dikenal di sana akan sangat membantu.

Prinsip mencari singkapan dan lalu mengeksplorasi potensinya, adalah juga yang saya terapkan  dalam mengelola warung mracangan “Madurejo Swalayan” yang (alhamdulillah) sekarang semakin tumbuh sehat menjelang setahun usianya. Tanpa bermaksud mengajari siapapun, yang saya lakukan hanya sekedar menemukan singkapannya lalu menangkap peluang di baliknya. Ini hanyalah salah satu jenis suplemen yang telah terbukti khasiatnya meningkatkan vitalitas usaha.  

***

Besoknya kami akan blusukan di salah satu sudut wilayah kabupaten Pasir untuk mencari batubara. Mencari batubara di Pasir, hanya mungkin ada di Kalimantan. Jangan coba-coba mencarinya di pasir kali Opak atau pasir kali Krasak, misalnya. Seuntung-untungnya, hanya akan menemukan batu yang membara di pasir Merapi ketika terjadi erupsi.

Yogyakarta, 5 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama

Alkisah, pada awal abad ke 16, tepatnya pada tahun 1516 Masehi berdirilah kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kesultanan Pasir. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung (kalau di Inggris barangkali akan dipanggil Lady Di). Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurengas ini meliputi wilayah kabupaten Pasir yang ada sekarang, ditambah dengan kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1523, sang Putri Di menikah dengan seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Pasangan ini memperoleh empat orang anak, yang kemudian berturut-turut akan menurunkan pewarisnya memimpin Kesultaan Pasir. Begitu turun-temurun hingga selama tiga abad Kesultanan Pasir dipimpin oleh anak-cucu-buyut-canggah-canggahnya-canggah-dst dari pasangan Putri Di dan Abu Mansyur. Hingga sampai pada periode tahun 1900 – 1906 dimana Pangeran Mangku Jaya Kesuma yang menjabat sebagai sultan terakhir Kesultanan Pasir.

Entah bagaimana proses transisinya, menurut catatan sejarah, setelah masa pemerintahan kesultanan terakhir itu kemudian berubah menjadi masa perjuangan rakyat Pasir melawan kolonial Belanda. Hingga tahun 1959 wilayah Pasir berstatus sebagai sebuah kawedanan dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dan tahun 1959 itulah yang dianggap sebagai tahun berdirinya kabupaten Pasir.

Rupanya masyarakat Pasir tidak menginginkan menjadi bagian dari wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Baru pada tahun 1961 kabupaten Pasir bergabung dengan propinsi Kalimantan Timur, setelah melalui perjuangan panjang para tokoh masyarakat Pasir sejak tahun 1950. Melalui resolusi demi resolusi, tuntutan demi tuntutan, desakan demi desakan dan segala macamnya kepada pemerintah pusat, hingga akhirnya dapat kembali bergabung dengan Kalimantan Timur, dari sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kabupaten Kota Baru, Kalimanan Selatan.

***

Menilik catatan sejarah kabupaten Pasir, memang rada-rada unik. Karena itulah maka saya tertarik membacanya. Rupanya masih ada darah Demak di dalam darah anak keturunan kesultanan Pasir. Pantas kalau kedua kabupaten itu mestinya menjalin kerjasama sebagai kota kembar (sister city). 

Kalau biasanya propinsi yang berebut kabupaten, maka Pasir telah berjuang sendiri memekarkan dirinya dari kawedanan menjadi kabupaten dan pindah propinsi, dan akhirnya berhasil. Maka masyarakat Pasir layak bangga dengan eksistensi ke-Pasir-annya.

Kini masih ada obsesi lain sedang diperjungkan oleh para tokoh masyarakat Pasir, yang langsung dipelopori oleh bupatinya sendiri. Obsesi untuk mengubah, mengganti dan mengembalikan penulisan dan pelafalan kata “pasir” menjadi “paser” sesuai nama penduduk asli (etnis) daerah ini. Salah kaprah penulisan dan pelafalan “paser” menjadi “pasir”, menurut anekdot bermula karena kesulitan etnis tertentu dalam menyebut fonem “e”, dan lebih akrab dengan fonem “i”.

Apalah artinya sebuah nama, begitu kira-kira kita akan memandangnya. Namun tidak demikian dengan para tokoh di kabupaten Pasir. Perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser dan ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser, tetap perlu diperjuangkan, karena akan mendorong semangat membangun Kabupaten Pasir untuk lebih maju dari sekarang, begitu cita-citanya.

Setiap perubahan tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang ingin tetap menjadi Pasir dan ada yang ingin berubah menjadi Paser. Agaknya sikap bupati Pasir yang sekarang, H.M. Ridwan Suwidi, cukup bijaksana dan layak dicontoh oleh siapapun yang suka pada perubahan. “Lahirkan kesepakatan yang damai, jika terjadi cekcok akibat tak searah pandang cukup sampai hari ini, karena apalah arti sebuah nama, tetapi dengan nama akan melahirkan cahaya mutiara-mutiara menuju masa depan yang lebih maju”, begitu katanya.

Mencermati perkembangan terakhir dunia perpolitikan kabupaten Pasir, ada yang menarik dengan sikap demokratisasi yang sedang berkembang. Tidak serta-merta wakil rakyat bersidang lalu voting dan ketuk palu. Kuisioner pun disebarkan ke segenap penjuru. Hasil sementara menunjukkan lebih banyak warga masyarakat yang setuju perubahan nama dari kabupaten Pasir menjadi Paser, namun lebih banyak yang tidak setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Tidak cukup dengan kuisioner. Jajak pendapat SMS pun dibuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, bak acara polling-polling-an di televisi. Hasil sementaranya menunjukkan bahwa 75% pengirim SMS setuju perubahan nama kabupaten Pasir menjadi kabupaten Paser, sementara hanya 25% pengirim SMS yang setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Singkat cerita, tidak perlu ada chaos, tidak perlu gontok-gontokan, tidak perlu timpuk-timpukan atau ngotot-ngototan untuk membuat sebuah perubahan. Apapun hasilnya, Pasir dan Tanah (juga batubara dan air sungai Kandilo) tetap akan ada disana. Hidup Pasir…..! Hidup Paser…..!

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”

Hari Kamis pagi, 27 Juli 2006, kami sudah berkemas-kemas hendak meninggalkan hotel. Waktu sudah menunjukkan menjelang jam 11:00 siang WITA ketika akhirnya kami meninggalkan kota Tanah Grogot dan kembali ke Kuaro. Sesampai di persimpangan kota Kuaro, kami mengambil jalan ke utara menuju arah kota Penajam dan Balikpapan. Pada papan penunjuk arah yang sempat saya baca, tertulis jarak ke kota Penajam 114 km dan ke kota Banjarmasin 362 km.

Kembali kami menyusuri jalan Trans Kalimantan dan terus ke arah utara. Belum lama melaju, Panther perlu minum. Untung minumnya solar sehingga tidak perlu ngantri lama-lama. Sementara di bagian pompa premium terjadi antrian panjang. Sampai-sampai pak polisi perlu berjaga-jaga di seputaran SPBU agar semua berjalan lancar. Kalimantan Timur memang lumbungnya minyak, tapi kelangkaan BBM nyaris terjadi di setiap pompa bensin sejak dari Banjarbaru, Kalsel. Akibat kelangkaan BBM pula kota Tanah Grogot yang baru saja kami tinggalkan harus mengatur giliran pemadaman lisrik sehingga di beberapa bagian kota kalau malam jadi gelap bin gulita.

***

Saya baru ingat, jalan Trans Kalimantan ini mempunyai banyak sebutan nama jalan, malah terkadang tidak ada namanya. Pada penggal jalan dari Banjarmasin hingga perbatasan Kalsel-Kaltim, jalan ini bernama Jalan Ahmad Yani. Bahkan sampai Kuaro ke arah Penajam pun orang masih menyebutnya sebagai Jalan Ahmad Yani. Makanya mesti hati-hati kalau mencari alamat di seputaran Kalsel hingga perbatasan Kaltim. Dengan hanya menyebut Jalan Ahmad Yani saja, tanpa menunjuk kilometer berapa atau wilayah mana, bisa-bisa harus menyusuri jalan sepanjang lebih 400 km. Inilah barangkali jalan terpanjang di Indonesia yang hanya memiliki satu nama jalan.

Apalah artinya sebuah nama? Wow…, penting sekali. Setidak-tidaknya bagi anggota Dewan yang terhormat di Kalsel. Buktinya dalam sebuah sidang di DPRD Kalsel pernah dipermasalahkan, kenapa nama Jenderal Sudirman di Banjarmasin hanya dipakai untuk nama jalan protokol yang panjangnya hanya 500 meteran, sementara nama Ahmad Yani dipakai untuk jalan yang panjangnya ratusan kilometer. Padahal Jenderal Sudirman yang Panglima Besar TNI dipandang “lebih berjasa” ketimbang Ahmad Yani. Nampaknya memberi nama jalan pun bagi sebagian orang tidak boleh sembarangan, meski tanpa bubur merah bubur putih. Nyata tapi aneh!

Semakin ke ujung utara jalan Trans Kalimantan, semakin jarang disebut Jalan Ahmad Yani. Karena kesulitan menyebut namanya, maka di beberapa daerah jalan ini disebut Jalan Propinsi, ada juga yang menyebutnya Jalan Negara, malah beberapa kota menggunakan penamaan Jalan Raya…., lalu diikuti nama kota itu.

***

Semakin ke utara perjalanan semakin tidak membosankan. Melewati kecamatan Long Ikis, Long Kali, Babulu, Waru, dan seterusnya. Pemandangan di rute utara ini lebih bervariasi dan menarik ketimbang rute sebelah selatan. Hamparan perkebunan kelapa sawit tampak di beberapa lokasi. Meskipun kondisi jalan termasuk bagus namun bergelombang di sana-sini. Kelihatannya mulus, tapi mesti hati-hati mengontrol kecepatan, sebab tiba-tiba kendaraan bisa njumbul-njumbul….., seperti meloncat-loncat akibat kondisi jalan yang bergelombang.

Sampai kemudian di kota Petung sebelum akhirnya tiba di pelabuhan penyeberangan di Penajam. Jalur jalan antara Petung – Penajam dapat dibilang sangat bagus dan mulus. Sepertinya inilah penggal jalan terbaik yang kami lalui sejak dari Banjarbaru di Kalsel. Suasana jalan pun semakin ramai. Tidak lagi suasana desa yang jauh dari mana-mana, namun sudah memasuki sebuah kawasan yang lebih padat penduduknya dan lebih sibuk dengan aktifitas ekonomi.

Menjelang memasuki kota Penajam, kami sempatkan untuk beristirahat barang sejam, sambil mengisi perut makan siang. Cuaca memang terasa begitu panas. Penajam adalah ibukota Kabupaten Penajam Paser Utara. Ini adalah kabupaten yang baru seumur jagung usianya, ibarat bayi masih lumah-lumah….. Dulunya masuk wilayah kabupaten Pasir. Tapi para tokoh masyarakatnya rupanya berkehendak lain. Kehendak yang sumbut (sebanding) dengan kekayaan alamnya. Hingga akhirnya pada tahun 2002 resmi memisahkan diri dari Pasir menjadi Penajam Paser Utara. Kata “Pasir” sudah diganti dengan “Paser”, merujuk pada nama penduduk asli suku Paser.

Namun tetap saja, lidah kebanyakan orang (apalagi pendatang dari Jawa) mensalah-lafalkan huruf “e” dengan “i”, sehingga jadi “Pasir”. Padahal mestinya huruf “e” dilafalkan seperti menyebut nama kota “Anyer”, bukan “Anyir”, bisa lain lagi maksudnya. (Bagi yang paham bahasa Jawa, penjelasannya adalah bahwa huruf “e”-nya “di-pepet”. Tapi bisa semangkin membingunkan kalau di belakangnya ditambah kata “sepeda”….. Ya pokoknya begitulah…..).

Sebagai kabupaten baru, penduduknya belum padat. Total penduduknya hanya sekitar 120 ribuan jiwa, sekitar setengahnya ngumpul di ibukota Penajam, selebihnya menyebar. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang biasanya memiliki semboyan yang muluk dan heboh, Penajam Paser Utara memiliki semboyan yang sangat sederhana. Dalam bahasa Paser disebut “Benuo Taka” yang artinya Daerah Kita, atau istilah gaulnya : Kampung Kita Sendiri…..

Walaupun terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya, namun tetap merupakan satu kesatuan ikatan kekeluargaan. Begitu kira-kira idealisme yang dibanggakannya. Seakan memahami bahwa kelak akan semakin banyak kaum pendatang ke wilayah ini yang numpang mencari hidup dari kekayaan alamnya. (Meski agaknya perlu hati-hati juga. Pepatah ada gula ada semut masih berlaku. Semakin manis gulanya, semakin banyak pula semut-semut nakal dan noakal…….).    

Yogyakarta, 9 Agustus 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.