Posts Tagged ‘bekisar’

Kisah Seekor Pitik Ayam Alas Dan Seekor Burung Beo

9 April 2008

Dasar bukan penggemar burung, dikapakno-kapak (diapa-apakan) ya tetap saja malas kalau disuruh ngurusi hewan piaraan bangsa unggas ini. Biarpun punya banyak waktu longgar, tetap saja berat rasanya kalau mesti membersihkan kandang burung, memandikan burungnya, mengisi air minumnya dan menyuplai makanannya setiap pagi. Tapi, kok ya dilakoni juga.

Kalau akhirnya semua itu saya lakukan setiap pagi, semata-mata hanya karena rasa peri kebinatangan yang masih saya punyai. Hanya karena rasa kasihan, kok burungnya tidak diurus. Hanya karena takut kuwalat sama burung, mau menyangkarkan tapi kok tidak mau menghidupinya. Kecuali membersihkan kandangnya yang saya lakukan hanya kalau pas lagi agak berlubang pusarnya, alias kalau pas mau saja.

Kalau memang tidak suka merawat burung, lha ngapain repot-repot piara burung? Itulah masalahnya. Saya sendiri juga herman bin gumun. Sejak jadi pengangguran terselubung, saya terkadang suka berlaku “bodoh”, mengada-ada dan ngoyoworo…..  Namun karena semua itu bisa saya nikmati, saya syukuri dan saya hikmahi, maka hal-hal “bodoh” itupun seolah-olah menjadi motivator dan inspirator munculnya banyak ide dan peluang baru yang tak terduga. Termasuk inspirasi untuk menulis cerita ini…..

***

Hampir setahun yang lalu, ada seorang bekas tetangga yang menawari saya untuk memelihara ayam hutan, orang kampung saya dulu suka menyebutnya pitik ayam alas. Biar halaman depan rumah saya tampak lebih “wah”, katanya. Biar seperti halaman rumahnya orang-orang gedean, katanya. Kalau tidak ayam hutan ya ayam bekisar, katanya. Kebetulan tempat tinggal saya di Jogja berada nylempit di gang Bekisar, Umbul Harjo.  

Sangat menyadari bahwa saya bukan penggemar manuk dan tidak telaten merawat manuk, maka tawaran simpatik itupun saya tolak. Padahal dia akan memberi saya ayam hutan yang sudah “jadi” dengan percuma. Bekas tetangga saya yang kini tinggal di Imogiri itu punya seekor ayam hutan berusia remaja. Diperolehnya dari hutan Wonosari. Dibelinya dari orang hutan (maksudnya orang yang tinggal di kawasan hutan) ketika masih anak ayam. Sekarang sudah terampil kluruk kalau pagi buta membangunkan orang tidur. Nyuaring bunyinya. Ayam itulah yang ditawarkan akan diberikan kepada saya.

Karena tawaran itu disampaikan kepada saya tidak hanya sekali-dua, akhirnya goyah juga iman saya. Apa salahnya dicoba?. Toh, no risk at all. Maka pitik ayam alas itu akhirnya boyongan dari Imogiri ke halaman rumah saya. Boyongan, karena bukan hanya ayamnya yang pindah tapi sekalian kandangnya. Bekas tetangga saya ini sempat pula membuatkan kandang baru berbahan kayu dengan tampilan yang tergolong cantik. Lengkap dengan bekal makanan berupa butiran beras merah untuk persediaan selama seminggu.

Maka sejak itu, saya punya kegiatan baru, yaitu memberi makan beras merah kepada warga baru halaman depan rumah saya. Sesekali diberi suplemen berupa kroto (telur semut cangkrang). Menurut promosi tetangga saya itu, katanya kalau pagi umun-umun kluruk-nya sangat menawan.

Waktu berlalu. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, kok pitik ayam alas saya tidak juga kluruk. Saya complaint kepada tetangga saya, kenapa ayam hutannya membisu. Dijawabnya, mungkin masih stress karena kini tinggal di kandang terpisah di halaman rumah di tempat yang baru. Sebelumnya ayam itu tinggal menjadi satu dengan dapur di dalam rumah. Masuk akal, pikir saya. Hingga satu purnama berlalu sudah, dan pitik ayam alas saya tetap bergeming diam seribu basa. Malah takut kalau didekati dan krubyuk-krubyuk nabrak-nabrak dinding kandang. Boro-boro kluruk kalau pagi, sekarang malah telek-nya berwarna putih.

Pengalaman masa kecil saya mengajarkan, kalau ayam sudah berwarna putih tahi atau telek-nya, maka itu pertanda bahwa ayam sedang sakit. Ya sudah, mau diapakan lagi. Makan dan minum terus saya suplai, kandang pun saya bersihkan, dan telek-nya tetap putih. Hingga akhirnya pitik ayam alas saya yang semata wayang itu menghembuskan napas terakhirnya tanpa sempat saya tunggui. Karena hanya seekor, maka tidak terjadi gegeran di kampung. Coba kalau jumlahnya puluhan, pasti geger genjik isu flu burung akan merebak Hari itu juga liang lahat digali di pinggir selokan, lalu dimakamkan di sana. Rest in peace. Tinggal kandangnya yang masih terlihat baru, melompong menghiasi halaman depan rumah.

***

Beberapa bulan kemudian, ada teman lain memberi saya seekor burung berusia remaja, warna bulunya hitam dan paruhnya kuning. Burung beo, katanya. Entah beo apa. Saya ya percaya saja, wong memang tidak familiar dengan urusan permanukan atau perburungan. Kalau pun dia bilang burung manuk dadali, saya juga tidak akan protes. Sebenarnya saya rada malas menerimanya. Lagi-lagi demi alasan peri kebinatangan, daripada burung itu telantar lantaran tidak diurus majikannya dan mau dibuang, akhirnya saya suruh saja memasukkannya ke bekas kediaman pitik ayam alas yang sudah almarhum. Katanya kalau sudah dewasa suaranya bagus. Saya percaya saja, dan memang bukan karena itu saya mau menerima kehadirannya. Mau suaranya baguskah, atau malah tidak mau bersuara pun tidak soal benar. Asal burung itu masih mau hidup saja di sangkar bekas ayam hutan, rasanya sudah prestasi yang bagus.

Hingga hari ini, burung beo itu masih menghiasi halaman depan rumah saya. Terpaksa saya menambah jadwal kegiatan harian kalau pagi. Setelah ngojek anak-anak ke sekolah, lalu baca koran, kemudian ngurusi manuk. Makanan pokoknya jenis buah-buahan. Seperti lagu anak-anak,  pepaya….., mangga, pisang, jambu….. Buah pisang paling disukainya, apalagi kalau jenis pisang kepok. Kalau lagi kehabisan pisang, saya carikan jambu klutuk tetangga yang pada jatuh karena kelewat masak. Sekali waktu persediaan pisang makanan burung habis, terpaksa pergi dulu ke warung terdekat membeli sesisir pisang kepok. Siangnya saya lihat, lho pisangnya kok sudah habis lagi…..? Eee….., rupanya sudah direbus sama ibunya anak-anak. Habis pisang kepok kok untuk makanan burung, katanya. 

Menurut nasehat orang-orang penggemar burung, yang sudah berpengalaman dalam urusan nuk-mannuk, sekali-sekali perlu diselingi dengan makanan nasi campur sambal pedas. Biar burungnya kepedasan dan belajar ngoceh, katanya. Nasehat itu pun saya turuti, walau sebenarnya berbau pemerkosaan terhadap peri kebinatangan. Saya sendiri sebenarnya tidak perduli perihal ngoceh-mengoceh ini. Mau ngoceh, mau bengong, sebodo teuing. Mudah-mudahan berumur panjang dan tidak buru-buru meninggal dunia saja.

Anak laki-laki saya malah sudah mem-booking kandangnya. Katanya kalau nanti burungnya mati, kandangnya untuk memelihara hamster saja. Dia memang suka hamster sejak kecil, sewaktu masih tinggal di Tembagapura dulu. Malah sampai beranak-pinak hingga belasan ekor jumlahnya, dan sempat dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Hingga ibunya suka mencak-mencak karena pipis hamster baunya enggak karu-karuan.

Anak saya ini juga yang suka tanya-tanya, katanya burung beo bisa bicara dan suka menirukan suara manusia. Saya jelaskan bahwa hal itu terjadi karena dilatih dan dibiasakan. Maka kalau kepingin beonya bisa bicara dan menirukan suara, saya sarankan agar anak saya menyanyikan lagu “Balonku Ada Lima” dan batuk-batuk di depan kandang setiap pagi sebelum berangkat sekolah selama kira-kira 99 hari. Pasti nanti sang beo bisa menirukannya. Sebodoh-bodohnya beo pasti bisalah kalau cuma menirukan “dor”…..dan batuk-batuk…..

Namun, dasar saya bukan (setidaknya belum menjadi) penggemar burung, kecuali sekedar sayang dan suka saja, disuruh rajin merawat burung ya rada malas-malasan. Maka burung beo saya pun nampaknya sudah mafhum, sudah ada saling pengertian, bahwa kandangnya akan jarang-jarang dibersihkan oleh majikannya. Seminggu atau dua minggu sekali sudah cukuplah. Kalau terlambat membersihkan kandangnya, terkadang malah tikus-tikus selokan yang membantu membersihkannya, plus dibuatkan lubang kecil oleh tikus di bagian bawah kandangnya yang terbuat dari kayu, untuk jalan masuk ke kandang.

Sehari-harinya cukup dibersihkan bagian luarnya yang tampak saja, sekalian sambil ngguyang (memandikan) burung. Saya baru tahu kalau burung pun rupanya perlu dimandikan, dengan cara disemprot air. Bedanya kalau penggemar burung yang sejati nyemprotnya pakai alat sprayer kecil, lha kalau saya pakai selang plastik yang biasa untuk nyuci mobil dari jarak agak jauh. Sama-sama basah asal burungnya tidak gelagapan saja.

Sampai hari ini burung beo saya masih sehat walafiat. Entah sedang lapar, entah sedang kenyang, dia suka teriak-teriak, kaok…..kaok…..kaok….. Ya cuma begitu bunyinya. Barangkali hanya sekedar mau lapor bahwa dia masih hidup. Seandainya besok teriakannya berubah jadi meong….. meong….., atau guk….. guk….. pun sebenarnya saya juga tidak perduli, dan akan terus saya kirimi pisang setiap pagi. Maka kalau kini burung beo saya setiap pagi masih rajin berkaok….. kaok….., sesungguhnya dia sedang berteriak : “Send me a banana, boss…..!”.

Yogyakarta – 30 Maret 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.