Arsip untuk ‘> Trans KALIMANTAN Banjarmasin – Samarinda’ Kategori

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(1).   Pergi Ke Rantau

Sebenarnya hari masih belum sore-sore amat ketika saya mendarat di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang terletak di Kotamadya Banjarbaru, Senin, 24 Juli 2006 yang lalu. Hanya karena propinsi Kalimantan Selatan ini masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah, maka sepertinya hari sudah sore karena sudah jam limo keliwat limo, meski arloji saya masih menunjukkan jam enambelas lebih lima menit, waktu Yogyakarta. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di bumi Kalimantan. Jejakan pertama begitu menggoda, selebihnya tidak akan saya sia-siakan dengan banyak jejakan seminggu ke depan.

Sambil menunggu mobil jemputan, kami (saya dan beberapa teman) ngopi dulu di sudut pintu keluar bandara. Sekira setengah jam kemudian barulah kami meninggalkan bandara dan langsung meluncur ke arah utara. Berarti juga menjauh dari kota Banjarmasin yang berada kira-kira 25 km ke arah barat dari Banjarbaru. Kami terus melaju ke arah utara melewati kota Martapura. Kota Banjarbaru dan Martapura yang berjarak sekitar tiga kilometer sepertinya sudah menjadi satu kawasan kota besar. Martapura yang ketika di sekolah dulu dikenal sebagai kota penghasil intan, seakan tidak lagi mengesankan sebagai sebuah kota tambang melainkan sebuah kota yang sedang beranjak tumbuh dan padat penduduknya. Selain di buku-buku ilmu bumi dulu dikenal sebagai kota intan, di Kalimantan kini Martapura juga dikenal sebagai kota santri.

Hari sudah mulai benar-benar senja saat meninggalkan kota Martapura dan terus melaju ke arah utara mengikuti jalan Trans Kalimantan. Hari semakin gelap, tapi lalulintas di jalan yang beraspal mulus masih terlihat padat. Semakin malam semakin padat dengan puluhan bahkan mungkin ratusan truk pengangkut batubara. Kami berpapasan dengan truk-truk yang sedang mengangkut batubara dari banyak lokasi tambang di wilayah Kalimantan Selatan yang sedang menuju ke pelabuhan sungai, Trisakti, di Banjarmasin. Konvoi truk-truk pengangkut batubara itu memang hanya diijinkan melewati jalur lalulintas umum hanya pada malam hari. Para sopir truk pun seakan berkejaran agar bisa mengangkut batubara sebanyak-banyaknya untuk ditumpahkan ke dalam tongkang yang sudah menanti di pelabuhan, sebelum ayam jantan berkokok di pagi hari. Tidak mau kalah dengan Bandung Bondowoso yang mengejar menyelesaikan seribu candi.

***

Malam itu kami pergi ke Rantau. Rantau adalah ibukota kabupaten Tapin, satu dari sebelas kabupaten yang ada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dari Martapura menuju Rantau ditempuh selama kurang-lebih dua jam perjalanan melintasi jalan darat sejauh kira-kira 70 km. Sudah lewat jam tujuh malam ketika akhirnya kami tiba di Rantau, melewati beberapa wilayah kecamatan, antara lain Binuang.

Kota kecamatan Binuang terkenal dengan produk makanan khasnya yaitu selai pisang rimpi. Nama kota kecil ini cukup dikenal oleh mereka yang sering berkunjung ke Kalsel, meski tidak semuanya tahu kalau ada produk makanan khas hasil olahan dari buah pisang. Pisang merupakan salah satu produk pertanian yang memang banyak dihasilkan di Binuang dan umumnya sebagian wilayah Kalsel. Dan produk selai pisang Binuang pun dikenal dengan sebutan rimpi Binuang. Meski saya tidak sempat berhenti membeli oleh-oleh di Binuang (wong baru saja menginjakkan kaki, kok sudah beli oleh-oleh…..) karena hari sudah gelap, tapi akan saya catat siapa tahu pada kesempatan lain saya sempat mampir untuk mencicipinya.

Rantau hanyalah kota kecil yang tidak terlampau padat penduduknya, dan di sanalah malam itu kami bermalam. Kota ini sengaja dipilih karena kebetulan ada seorang teman yang tinggal di sana, sekalian bersilaturahmi dengan keluarganya. Juga karena kota ini berada di tengah rute perjalanan, agar perjalanan darat menuju utara esok hari menuju perbatasan Kalimantan Timur menjadi tidak terlalu jauh. Sebenarnya lokasi yang kami tuju lebih dekat dicapai dari Balikpapan, hanya karena ingin melihat dunia lebih banyak, maka dipilih mencapainya dari Banjarbaru. Rugi sehari waktu tempuh, tapi untung ratusan kilometer jarak dijejak.

Seorang teman mengidentifikasi jalur jalan sepanjang Martapura – Rantau (dan ke utara lagi) sebagai rute jalan “seribu masjid”. Tentu ini guyonan plesetan. Pasalnya di sepanjang jalur jalan itu banyak betebaran bangunan masjid atau musola, baik yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun, bahkan yang sedang dipikirkan untuk dibangun. Nyaris ada sebuah masjid atau musola berdiri di hampir setiap kampung di pinggir penggal jalan lintas Trans Kalimantan ini. Maklum, di sana memang banyak orang berpunya dari hasil batubara. Kalaupun tidak ada dana, maka tinggal memasang tong atau drum di tengah jalan dan siapkan sebuah jaring ikan untuk menampung lemparan uang dari para pengguna jalan. Mirip-mirip yang terjadi di jalur pantura (terlebih kalau bulan puasa), juga di Bantul ketika bantuan terlambat menjangkau para korban gempa.

Meskipun saya sendiri telanjur su’udzdzon (berprasangka buruk), saya toh tetap berusaha untuk khusnudzdzon (berprasangka baik), semoga semangat masyarakat setempat untuk memakmurkan dan menghidup-hidupi ribuan masjid itu sama atau lebih besar dari semangat untuk membangunnya. Sebelum nanti malah digunakan untuk arena uji nyali atau uka-uka…..     

Setiba di Rantau malam itu, kota ini tampak ramai. Rupanya di Rantau sedang ada hajatan besar untuk ukuran kota kecil seperti Rantau. Sore hari sebelum kami tiba, di Rantau ada pembukaan Porprov. Ini istilah yang kedengaran agak aneh di telinga saya. Maksudnya adalah Pekan Olah Raga Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan di kabupaten Tapin. Di tempat lain biasanya disebut Porda. Maka Rantau pun hari-hari itu menjadi semarak dan ramai dengan aneka kegiatan olah raga, mencari atlit terbaik untuk menuju Pekan Olah Raga Nasional ke-17 yang akan diselenggarakan di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2008.

Yogyakarta, 3 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(2).  Sarapan Ketupat Haruan 

Selasa pagi keesokan harinya, sebelum meninggalkan Rantau untuk meneruskan perjalanan ke utara menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan, tentu perlu mengisi bahan bakar. Ya untuk mobil, ya untuk perut penumpangnya. Mampirlah kami ke sebuah warung tempat biasa mangkal para pegawai dan pekerja untuk sarapan. Menunya ketupat dengan lauk kari ikan haruan. Pokoknya, pilih menu yang tidak ada di tempat lain. Minumnya teh panas. Berbeda dengan daerah Sumatera, di kawasan Kalimantan yang saya temui baru pertama kali ini rupanya kebiasaan minum kopi tidak mentradisi. Kalau mau ngopi ya bikin sendiri. Makanya jarang kita dengar ada kopi Kalimantan.

Tersajilah sepiring potongan ketupat, lalu secawan kuah sejenis kari dengan sepotong kepala ikan haruan di atasnya. Lho, kok tidak ada sendoknya? Saya pun tolah-toleh mencari sendok. Tapi teman yang duduk di sebelah saya yang asli Rantau memberitahu, bahwa tradisi masyarakat Rantau makan ketupat haruan tidak pakai sendok. Maka saya pun lalu turun tangan, maksudnya makan pakai tangan. Lha piye iki, ketupat digrujug kuah kari lalu dimakan pakai tangan. Lhadalah….., sepotong ketupatnya remuk, terpaksa butiran nasinya dijumputi pakai jari. Tapi yang paling hoasyik dan hoenak adalah ketika tiba waktunya nithili endas iwak (makan kepala ikan sedikit demi sedikit sampai tuntas-tas-tas-tas…..).

Sebenarnya nama yang benar untuk makanan khas Kalimantan Selatan atau tepatnya masyarakat Banjar ini adalah ketupat kandangan, merujuk pada nama kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Namun karena bentuk ketupat yang kami sarap di Rantau pagi itu agak berbeda dengan ketupat dari Kandangan, meski kuah campurannya sama, yaitu kuah ikan haruan, maka saya sebut saja ketupat haruan. Jadi kalau kebetulan lain kali berkesempatan mampir di Kalsel, carilah ketupat kandangan, bukan ketupat haruan.

Ikan haruan, mulanya saya tidak tahu juga ini ikan jenis apa? Rupanya ikan haruan ini adalah nama lain untuk ikan gabus, yang kalau di kampung saya disebut ikan kutuk, bentuknya mirip-mirip lele. Prejengannya (profil mukanya) menakutkan seperti kepala ular. Tapi rasanya , bo….. Gurih dan huenak tenan. Tingkat kelezatannya berbeda dengan ikan sejenis yang ada di Jawa atau tempat lain (kata orang yang pernah mencicipi ikan haruan di tempat lain). Untuk mengimbangi kelezatannya, terpaksa kepala ikannya nambah satu porsi lagi.

***

Ikan haruan atau gabus (Ophiocephalus striatus atau Channa striatus) adalah jenis ikan yang banyak hidup di rawa-rawa, bahkan di genangan-genangan air yang masam di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan ikan haruan adalah makanan rakyat Banjar yang umumnya disantap bersama ketupat kandangan. Inilah makanan yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan khas Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.

Kini kabarnya ikan haruan ini semakin langka diperoleh di habitatnya di Kalsel. Terutama sejak maraknya dilakukan perburuan anak-anak ikan haruan untuk umpan ikan hias louhan. Sehingga membuat ikan haruan dewasa semakin sulit diperoleh. Padahal selain kelezatannya yang tak tertandingi, katanya, ikan ini juga sebenarnya mempunyai keunggulan lain yaitu sangat bermanfaat untuk penyembuh luka.

Ikan, jenis karnivora yang nenek moyangnya berdomisili di Asia ini pernah mau dimusnahkan dan dicekal masuk ke Amerika. Jenis ikan yang termasuk rakus dan kanibal ini bagi Amerika menjadi mahluk yang menakutkan. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di Kalsel malah menduduki posisi ekonomi yang cukup penting.

Pernah tercatat di Banjarmasin, bahwa kelangkaan komoditas ikan haruan dan beberapa jenis ikan lokal di sana bisa menjadi penyebab terdongkraknya angka inflasi. Agak aneh kedengarannya jika dibandingkan dengan pemicu inflasi di kota-kota lain yang biasanya didorong oleh sektor jasa, properti, atau permintaan barang-barang konsumsi lainnya. Sumbangan perubahan harga ikan haruan bisa menduduki urutan teratas dari 10 komoditas di Kalsel yang menjadi pendorong inflasi. Masyarakat Kalsel memang “maniak” dengan ikan lokal, terutama haruan. Maka wajarlah kalau berapa pun harga ikan haruan akan tetap dibeli oleh masyarakat.

Sementara di Malaysia, ikan ini dipercaya sangat mujarab menjadi penyembuh luka dan amat ampuh untuk pemulihan kesehatan luka bagi ibu sehabis bersalin. Sejak tahun 1931, menurut literatur Malaysia telah menganjurkan pengobatan luka dengan haruan. Perguruan  tinggi di Malaysia hingga kini pun terus meneliti khasiat haruan. Ini karena diindikasikan  di dalam tubuh ikan haruan terkandung semua asam amino esensial dan asam lemak unik yang mampu mempercepat penyembuhan luka.

Sedangkan di Indonesia, penelitian ikan haruan sebagai obat penyembuh luka masih sangat minim. Publikasi penelitian ikan haruan untuk obat di Indonesia baru terpantau dalam penelitian Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS awal Januari 2003 lalu. Penelitian yang mengungkap pemanfaatan ekstrak ikan gabus sebagai pengganti serum albumin yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka operasi, telah mengantarkan Eddy Suprayitno meraih gelar profesor pertama di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.

Dari informasi yang sempat saya gali, mengungkapkan kalau penelitian di Indonesia masih terus mengembangkan pembuatan ekstrak untuk obat oles atau serbuk untuk obat luar. Sementara di Malaysia, pembuatan krim dan tablet tersebut sudah dilakukan sejak dulu kala.

***

Barangkali nasehat yang pas akan berbunyi : jangan hanya menikmati kehoenakannya, tapi raih pula manfaat sampingannya. Alangkah bagusnya kalau ada pihak-pihak yang mau secara lebih intensif menggali potensi yang luar biasa dari ikan haruan ini untuk manfaat yang lebih besar. Kurang apa lagi kekayaan yang dimiliki negeri tercinta ini, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Di bawahnya ada batu bara, di atasnya ada kayu, di sela-selanya ada rawa-rawa yang dihuni ikan haruan.

Sementara belum “sempat” diteliti, ya dimasak dululah untuk sarapan bersama ketupat. Hmm…..

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(3).  Pergi Ke Atas 

Hari Selasa, 25 Juli 2006 itu telah kami awali dengan sarapan ketupat yang luar biasa nikmatnya dan mengenyangkan. Tinggal siap-siap terkantuk-kantuk di perjalanan. Tapi “penyakit” ini harus dilawan, sebab saya pasti akan kehilangan jejak-jejak Trans Kalimantan kalau perjalanan kemudian saya tinggal tidur.

Setelah belanja perbekalan di pasar Rantau yang sangat padat dan ramai, kami mulai bergerak ke atas. Awalnya sebutan “ke atas” ini sempat membingungkan  saya. Bayangan saya kalau orang mengatakan pergi ke atas adalah karena jalannya naik. Tapi rupanya ini istilah untuk menyebut menuju ke arah utara. Sejak dari Banjarbaru, orang selalu mengatakan ke atas untuk menyebut pergi ke arah utara. Barangkali orang Kalimantan terbiasa membaca peta, sehingga bagian utara selalu berada di bagian atas lembar peta.

Kota Rantau “Bastari” kami tinggalkan. Seperti tidak mau kalah dengan kota-kota lainnya, embel-embel “Bastari” adalah simbol kebanggaan masyarakatnya, kependekan dari Bersih, Apik, Sehat, Tertib, Aman, Rukun, Iman. Pendeknya, semua embel-embel sifat kebaikan diborong komplit seperti jamu bersalin. Tujuannya tentu sangat mulia, agar semua warga Rantau yang “Bastari” pasti warga yang baik. Sebaliknya, warga yang tidak baik pasti tidak “Bastari”.  

Namun itu saja rupanya belum komplit. Kota Rantau memiliki motto atau semboyan yang bunyinya  “Ruhui Rahayu”. Tentu ini berasal dari bahasa Banjar, yang arti pendeknya : semoga Tuhan memberkati. Sedang arti panjangnya adalah semoga langgeng dan Tuhan senantiasa memberkati dengan kesejahteraan/keharmonisan.

Matahari sudah lebih sepenggalah tingginya (ini ukuran satuan yang sebenarnya sulit dicari konversinya, gampangnya saja hari sudah mulai poanas…..) saat kami tinggalkan kota Rantau dengan segudang sifat kebaikan dan doanya. Maka meninggalkan kota Rantau cukup dengan berbekal satu kata saja : “Amin…..”.

***

Melewati jalan aspal yang relatif mulus, lurus dan datar. Tidak terlalu padat lalulintasnya, sehingga Panther hijau yang kami tumpangi dapat melaju cukup kencang, dan cukup irit solar. Ketika kami berhenti untuk mengisi bahan bakar di sebuah stasiun pompa bensin, terlihat antrian panjang para pengguna kendaraan yang hendak membeli premium. Rupanya sebagian wilayah Kalimantan Selatan sedang dilanda kelangkaan BBM, terutama premium.

Sejak meninggalkan Banjarbaru kemarin, tampak antrian panjang calon pembeli BBM mengular di setiap SPBU yang saya lewati. Itupun mesti terkena penjatahan dan belum tentu kebagian, kata sopir Panther yang saya tumpangi. Namun anehnya, penjual bengsin eceran  tampak berderet-deret seperti kios rokok di pinggiran jalan. Harga per liternya? Rp 7.500,- sampai Rp 15.000,-, begitu kata sopir Panther lagi. Untungnya sang Panther minum solar, sehingga tidak perlu ngantri ketika harus mengisi bahan bakar.

Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan kami lewati. Kota Kandangan terkenal dengan makanan khasnya yaitu dodol asli kandangan (kata “asli” sepertinya menjadi jaminan tersendiri), termasuk ketupat kandangan. Lalu memasuki wilayah kabupaten Hulu Sungai Tengah yang beribukota di Barabai. kemudian melewati kota Balongan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara.

Setelah melewati tiga Hulu Sungai ini kemudian sampai ke persimpangan jalan yang kalau ke kiri (barat) akan menuju kota Amuntai yang menurut papan penunjuk arah jaraknya 27 km. Kami mengambil rute lurus ke utara yang lebih pendek untuk mencapai perbatasan Kalimantan Timur, dibanding kalau mesti memutar melewati kota Amuntai lalu Tanjung.

Terus saja pergi ke atas yang tidak naik, langsung menuju wilayah kabupaten Tabalong hingga sampai ke perbatasan propinsi Kalimantan Timur. Pemandangan sepanjang jalan mulai bervariasi melewati rute kawasan hutan, semakin sepi dan sedikit naik-turun di perbukitan. Pemandangan menjadi tidak membosankan, berbeda dengan ketika masih berada di rute datar-datar saja di wilayah selatan sebelumnya.

Di wilayah kabupaten Tabalong pula kami melintasi jembatan layang jalur pengangkutan tambang batubara PT Adaro, sebuah perusahaan tambang batubara yang termasuk papan atas di Indonesia. Lalu melintasi ujung landasan terbang Warukin yang sepertinya sebuah lapangan terbang perintis. Hanya sayangnya, penggal jalan di sisa perjalanan wilayah propinsi Kalimantan Selatan ini pas kalau disebut rute jalan “seribu lubang”.

Meski kondisi jalannya beraspal halus tapi tidak rata, alias mbrenjul-mbrenjul bergelombang. Kalau tidak hati-hati bisa terjebak lubang yang menghiasi di sana-sini, maksudnya di sana ada lubang, di sini ada lubang, di mana-mana ada lubang. Nyaris tidak ada jalan lurus kurang dari seratus meter yang bebas lubang. Belum lagi jembatan rusak di beberapa seksi jalan yang seringkali tanpa rambu pengaman. Tahu-tahu, mak jegagik, di depan ada jembatan yang baru setengah lebarnya yang dapat dilewati, setengah sisanya langsung sungai menganga tanpa batas pengaman.

Meski jalan relatif sepi, kecuali di beberapa wilayah kota saja, namun kami sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pisang, kelapa sawit dan kayu olahan (entah kayu legal atau tidak legal) untuk bahan pembuat plywood.

Sampailah kemudian kami memasuki wilayah propinsi Kalimantan Timur. Ditandai dengan sebuah tugu yang penampilannya sudah jelek, kusam dan tidak terurus. Hanya karena saya konsentrasi penuh menatap sambil menikmati setiap jejak perjalanan (hanya orang kurang kerjaan yang mau melakukan hal seperti ini), maka sekilas dari Panther yang melaju agak kencang masih sempat terbaca tulisan “Bumi Daya Taka”, memasuki propinsi Kalimantan Timur.

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(4).   Mencari Batubara Di Pasir 

Memasuki wilayah Kalimantan Timur, kemudian kami agak bisa bernapas lega. Kondisi jalan Trans Kalimantan mulai bagus dan mulus. Setidak-tidaknya kondisi jalan yang berlubang-lubang tidaklah separah di wilayah selatan. Kami melewati kota kecamatan Jaro, Muara Koman, Batu Kajang hingga tiba di persimpangan jalan Trans Kalimantan di kecamatan Kuaro. Suasana kota-kota kecamatan ini nampak berbeda dengan kota-kota kecil di wilayah selatan. Di wilayah utara ini terkesan lebih enak dipandang. Sama-sama kota kecil tapi nuansa kotanya berbeda.

Terlebih Muara Koman, kota yang memiliki kontur perbukitan ini selintas sambil jalan kota ini tampak indah dan tertata rapi. Dapat dipahami karena di wilayah ini menjadi basis aktifitas industri sehingga pemerintahannya tentu lebih kaya oleh kontribusi dari industri, dibanding daerah lainnya. Industri perkayuan, perkebunan dan pertambangan memang betebaran di wilayah Kalimantan Timur.

Suasana lebih ngota lagi nampak di kota Batu Kajang dimana terdapat industri tambang batubara PT Kideco, juga sebuah perusahaan tambang batubara papan atas. Suasana kotanya lebih hidup dan ramai. Refleksi dari gairah ekonomi masyarakatnya yang tumbuh seirama dengan pertumbuhan industri di sekitarnya. Mekanisme pasar yang logis-logis saja. Di mana-mana juga begitu. Di mana ada gula, di situ ada semut. Hanya biasanya, semakin manis gulanya semakin banyak pula semut-semut nakalnya….. 

***

Tepat di pertigaan Kuaro, kami berhenti untuk makan siang. Ya, pokoknya cari warung sedapatnya, wong ini  kota kecil yang sepi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 15:00 WITA. Ketemulah menu makan siang dengan daging payau, sebutan lokal untuk daging rusa yang rasanya mirip-mirip daging kambing.

Dari pertigaan Kuaro, kalau terus ke atas (utara) akan menuju arah kota Balikpapan, sedang kalau ke selatan menuju kota Tanah Grogot. Tujuan kami sore itu adalah menuju kota Tanah Grogot yang berjarak 28 km lagi dari Kuaro. Kami akan menginap di Tanah Grogot.

Akhirnya sekitar jam 5 sore kami sudah memasuki kota Tanah Grogot. Sebuah kota yang tidak terlalu padat, jalan-jalan kotanya cukup lebar dan berpenampilan bersih, sehingga enak dilihat. Tanah Grogot adalah ibukota kabupaten Pasir. Kabupaten yang letaknya paling selatan dari wilayah propinsi Kalimantan Timur dan berbatasan dengan Kalimantan Selatan. Kota-kota kecamatan yang saya lalui sejak memasuki perbatasan Kalimantan Timur adalah termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Pasir.

Tujuan utama perjalanan kami kali ini memang menuju ke kota ini, tepatnya ke wilayah kabupaten Pasir.  Kami akan blusukan di beberapa lokasi untuk mencari dan melihat-lihat singkapan batubara. Lokasi singkapan yang sebelumnya sudah kami ketahui posisinya dan koordinatnya. Tentu saya tidak sendiri, melainkan ditemani oleh geologist yang memang ahlinya dalam urusan singkap-menyingkap untuk melihat lebih detil apa yang ada di baliknya.

Kami sudah kangsenan (janjian) dengan orang yang akan mewakili penguasa lokasi batubara untuk bertemu di Tanah Grogot. Utusan penguasa lokasi (bukan pemilik, melainkan pemegang hak Kuasa Pertambangan) akan menemani kami menunjukkan lokasi-lokasi singkapan batubara yang sudah diketahui. Meskipun kami sudah memiliki data-data koordinatnya, adanya “saksi mata” ini akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan, dibandingkan kalau kami mesti thunak-thunuk ngalor-ngidul mencari sendiri lokasi singkapannya. Belum lagi nanti kalau dicurigai macam-macam oleh pemilik tanahnya. Bisa runyam akibatnya. Maka adanya pendamping dari orang yang sudah mengenal dan dikenal di sana akan sangat membantu.

Prinsip mencari singkapan dan lalu mengeksplorasi potensinya, adalah juga yang saya terapkan  dalam mengelola warung mracangan “Madurejo Swalayan” yang (alhamdulillah) sekarang semakin tumbuh sehat menjelang setahun usianya. Tanpa bermaksud mengajari siapapun, yang saya lakukan hanya sekedar menemukan singkapannya lalu menangkap peluang di baliknya. Ini hanyalah salah satu jenis suplemen yang telah terbukti khasiatnya meningkatkan vitalitas usaha.  

***

Besoknya kami akan blusukan di salah satu sudut wilayah kabupaten Pasir untuk mencari batubara. Mencari batubara di Pasir, hanya mungkin ada di Kalimantan. Jangan coba-coba mencarinya di pasir kali Opak atau pasir kali Krasak, misalnya. Seuntung-untungnya, hanya akan menemukan batu yang membara di pasir Merapi ketika terjadi erupsi.

Yogyakarta, 5 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif 

Hari Rabu, 26 Juli 2006 pagi kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Hari itu adalah hari yang kami rencanakan untuk mencari batubara di Pasir. Beberapa lokasi sudah kami tandai di peta untuk didatangi. Kami lalu meluncur kembali ke Kuaro yang jaraknya 28 km dari Tanah Grogot. Diteruskan menuju arah kembali ke Rantau sejauh kira-kira 7 km. Dari titik itu kami menyimpang ke arah selatan memasuki kawasan semak yang sudah terbuka oleh bekas adanya aktifitas penambangan setahun sebelumnya. Cukup lama kami berpanas-panas ngublek-ublek singkapan batubara yang ada di sana.

Dalam perjalanan kembali ke Kuaro, kami berhenti di dekat sebuah sungai kecil. Sungai Muru namanya, desanya pun bernama desa Muru. Tujuan kami adalah mensurvei singkapan yang muncul di salah satu dinding sungai kecil itu. Sengaja kami memilih tempat berhenti di dekat sebuah kios dimana di seberang-menyeberang jalannya ada sekelompok warga yang tinggal di sana. Kebetulan si pemilik kios juga menyediakan es batu, maka menenggak minuman dingin di tengah suasana kepanasan dan dahaga, serasa mak nyes rasanya….. 

Perhatian saya tertuju pada sebuah rumah di seberang kios yang nampak ada kesibukan sedang menumpuk-numpuk barang rongsokan. Dari rumah itu pula terdengar suara kaset musik ndang-ndut yang disetel keras-keras. Lho, kok orangnya ngomong bahasa Jawa….. Tahulah saya, di situ tinggal Pak Supar dan keluarganya beserta teman-teman kerjanya. Pak Supar ini rupanya asli orang Sleman yang sejak tahun 1992 sudah merantau ke Kalimantan Timur. Bukan sebagai transmigran, namun lebih karena mengadu nasib bekerja mengikuti kontraktor demi kontraktor. Hingga akhirnya terdampar di desa Muru sejak sembilan tahun yang lalu karena beristrikan orang sana.

Berkebun adalah sambilannya. Itupun sekedar memanfaatkan lahan kosong di seputaran tempat tinggalnya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, tepatnya bosnya pemulung. Pak Supar setiap hari asyik menumpuk-numpuk dan memilah-milah barang-brang plastik, kardus, botol, dsb. Kalau tumpukan hasil pulungan sudah banyak, segera diangkut ke Banjarmasin dan disana sudah ada pembelinya. Di tempat yang adoh lor adoh kidul itu rupanya Pak Supar bisa menyambung hidup dengan layak, bahkan lebih layak dibanding warga lain di desanya.

Pak Supar tentu tidak tiba-tiba menekuni profesinya itu. Melainkan karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa di manapun selalu ada peluang yang bisa digarap demi tingkat kelayakan hidup yang lebih baik. Itulah kira-kira jawabannya (seandainya Pak Supar bisa mengatakannya) kalau ditanya kenapa tidak menjadi petani atau pekebun kelapa sawit atau pekerjaan “tradisonal” lainnya seperti yang dikerjakan oleh umumnya warga desa di sekiarnya.

***

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Grogot dari Kuaro, kami menyimpang ke arah selatan. Di sana ada beberapa titik singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan untuk di-ublek-ublek. Tepatnya menuju desa Bekoso, termasuk wilayah kecamatan Pasir Belengkong. Lokasi desa ini kira-kira 18 km di selatan Tanah Grogot. Setelah terlebih dahulu kami sowan ke rumah Pak Kepala Desa, kemudian diantar oleh seseorang yang akan membantu menunjukkan lokasi singkapan.

Berbeda dengan sebelumnya, di desa Bekoso ini lokasi singkapan batubaranya tersembunyi di balik semak belukar, sehingga perlu bantuan orang lokal untuk membuka dan melakukan perintisan jalan. Demikian halnya ketika berpindah lokasi, kami ditemani oleh seorang pekebun kelapa sawit bernama Pak Syarif. Pak Syarif ini yang mengantarkan kami menemukan singkapan yang lokasinya agak masuk ke dalam hutan. Beberapa singkapan lainnya tentu akan sulit kami temukan sendiri kalau bukan karena bantuan Pak Syarif yang penduduk asli desa Bekoso. Sebab untuk mencapainya mesti berjalan kaki tiga kilometeran menyusuri punggungan bukit melewati kebun kelapa sawit dan menuruni lembah sungai kecil yang tertutup rapat semak belukar.

Pak Syarif adalah seorang guru sekolah dasar. Setiap hari bersepeda motor pergi dan pulang mengajar murid-muridnya. Namun Pak Syarif lebih suka disebut sebagai pekebun ketimbang sebagai guru. Itulah pilihan hidupnya. Di tengah kesibukannya mengajar setiap hari, Pak Syarif juga disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua kelompok tani kelapa sawit. Sulit untuk menerka-nerka mana di antara kedua tugas kerjanya yang menjadi pekerjaan pokoknya dan mana yang pekerjaan sambilannya. Namun yang pasti, Pak Syarif selalu tekun mengajar setiap hari, dan pada saat yang sama juga membimbing dan mengajar anggota kelompoknya dalam berkebun kelapa sawit.

Dengan sangat fasih pak guru Syarif ini bercerita tentang seluk dan beluknya bertani sawit, tentang hitung-hitungan ekonomi hasilnya, dan tentang bagaimana masyarakat desanya sangat tertolong dengan menjadi petani plasma kebun sawit. Program petani plasma ini baru setahun terakhir digalakkan oleh sebuah perusahaan perkebunan sawit, PTP Nusantara XIII. Hasil dari berkebun sawit yang dijalaninya bersama warga sekitarnya sangat membantu kehidupan masyarakat pekebun, begitu tuturnya. Keahliannya sebagai guru dan keahliannya menguasai ilmu persawitan, tentu menjadi aset tersendiri bagi para tetangganya yang tergabung dalam kelompok tani sawit di bawah pimpinan pak guru Syarif.

Apapun pekerjaannya, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh kiranya juga akan memberi hasil yang baik pula. Barangkali begitu jawabannya (seandainya Pak Syarif bisa mengatakannya) kalau ditanya apakah berkebun sawit bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Kalau kemudian pak guru Syarif juga suka dimintai bantuan oleh para pencari batubara, maka itu hanyalah kegiatan selingan.

*** 

Hari sudah gelap saat kami kembali ke Tanah Grogot. Hari itu memang habis-habisan. Kami kelewat bersemangat untuk mendatangi semua lokasi singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Hingga lupa waktu. Kendala pencapaian lokasi yang kami bayangkan sebelumnya, menjadi lebih mudah diatasi berkat bantuan pak guru Syarif dan seorang lainnya. Dengan demikian, tuntas sudah agenda survei kami hanya dalam waktu sehari dur….., yang melelahkan itu.   

Namun kondisi jalan pulang ke Tanah Grogot melewati kawasan perkebunan sawit PTP Nusantara XIII ternyata sama melelahkannya. Kondisi jalannya sungguh minta ampun buruknya. Nyaris tidak ada sisa jalan agak bagus yang dapat dipilih. Dan Panther pun bak tertatih-tatih dan meloncat-loncat di antara lubang-lubang jalan yang lebih tepat disebut sungai kering. Begitu kok ya tega-teganya truk-truk pengangkut buah sawit bermuatan munjung, menempuhnya setiap hari. Uh…..!  

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama

Alkisah, pada awal abad ke 16, tepatnya pada tahun 1516 Masehi berdirilah kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kesultanan Pasir. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung (kalau di Inggris barangkali akan dipanggil Lady Di). Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurengas ini meliputi wilayah kabupaten Pasir yang ada sekarang, ditambah dengan kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1523, sang Putri Di menikah dengan seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Pasangan ini memperoleh empat orang anak, yang kemudian berturut-turut akan menurunkan pewarisnya memimpin Kesultaan Pasir. Begitu turun-temurun hingga selama tiga abad Kesultanan Pasir dipimpin oleh anak-cucu-buyut-canggah-canggahnya-canggah-dst dari pasangan Putri Di dan Abu Mansyur. Hingga sampai pada periode tahun 1900 – 1906 dimana Pangeran Mangku Jaya Kesuma yang menjabat sebagai sultan terakhir Kesultanan Pasir.

Entah bagaimana proses transisinya, menurut catatan sejarah, setelah masa pemerintahan kesultanan terakhir itu kemudian berubah menjadi masa perjuangan rakyat Pasir melawan kolonial Belanda. Hingga tahun 1959 wilayah Pasir berstatus sebagai sebuah kawedanan dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dan tahun 1959 itulah yang dianggap sebagai tahun berdirinya kabupaten Pasir.

Rupanya masyarakat Pasir tidak menginginkan menjadi bagian dari wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Baru pada tahun 1961 kabupaten Pasir bergabung dengan propinsi Kalimantan Timur, setelah melalui perjuangan panjang para tokoh masyarakat Pasir sejak tahun 1950. Melalui resolusi demi resolusi, tuntutan demi tuntutan, desakan demi desakan dan segala macamnya kepada pemerintah pusat, hingga akhirnya dapat kembali bergabung dengan Kalimantan Timur, dari sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kabupaten Kota Baru, Kalimanan Selatan.

***

Menilik catatan sejarah kabupaten Pasir, memang rada-rada unik. Karena itulah maka saya tertarik membacanya. Rupanya masih ada darah Demak di dalam darah anak keturunan kesultanan Pasir. Pantas kalau kedua kabupaten itu mestinya menjalin kerjasama sebagai kota kembar (sister city). 

Kalau biasanya propinsi yang berebut kabupaten, maka Pasir telah berjuang sendiri memekarkan dirinya dari kawedanan menjadi kabupaten dan pindah propinsi, dan akhirnya berhasil. Maka masyarakat Pasir layak bangga dengan eksistensi ke-Pasir-annya.

Kini masih ada obsesi lain sedang diperjungkan oleh para tokoh masyarakat Pasir, yang langsung dipelopori oleh bupatinya sendiri. Obsesi untuk mengubah, mengganti dan mengembalikan penulisan dan pelafalan kata “pasir” menjadi “paser” sesuai nama penduduk asli (etnis) daerah ini. Salah kaprah penulisan dan pelafalan “paser” menjadi “pasir”, menurut anekdot bermula karena kesulitan etnis tertentu dalam menyebut fonem “e”, dan lebih akrab dengan fonem “i”.

Apalah artinya sebuah nama, begitu kira-kira kita akan memandangnya. Namun tidak demikian dengan para tokoh di kabupaten Pasir. Perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser dan ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser, tetap perlu diperjuangkan, karena akan mendorong semangat membangun Kabupaten Pasir untuk lebih maju dari sekarang, begitu cita-citanya.

Setiap perubahan tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang ingin tetap menjadi Pasir dan ada yang ingin berubah menjadi Paser. Agaknya sikap bupati Pasir yang sekarang, H.M. Ridwan Suwidi, cukup bijaksana dan layak dicontoh oleh siapapun yang suka pada perubahan. “Lahirkan kesepakatan yang damai, jika terjadi cekcok akibat tak searah pandang cukup sampai hari ini, karena apalah arti sebuah nama, tetapi dengan nama akan melahirkan cahaya mutiara-mutiara menuju masa depan yang lebih maju”, begitu katanya.

Mencermati perkembangan terakhir dunia perpolitikan kabupaten Pasir, ada yang menarik dengan sikap demokratisasi yang sedang berkembang. Tidak serta-merta wakil rakyat bersidang lalu voting dan ketuk palu. Kuisioner pun disebarkan ke segenap penjuru. Hasil sementara menunjukkan lebih banyak warga masyarakat yang setuju perubahan nama dari kabupaten Pasir menjadi Paser, namun lebih banyak yang tidak setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Tidak cukup dengan kuisioner. Jajak pendapat SMS pun dibuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, bak acara polling-polling-an di televisi. Hasil sementaranya menunjukkan bahwa 75% pengirim SMS setuju perubahan nama kabupaten Pasir menjadi kabupaten Paser, sementara hanya 25% pengirim SMS yang setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Singkat cerita, tidak perlu ada chaos, tidak perlu gontok-gontokan, tidak perlu timpuk-timpukan atau ngotot-ngototan untuk membuat sebuah perubahan. Apapun hasilnya, Pasir dan Tanah (juga batubara dan air sungai Kandilo) tetap akan ada disana. Hidup Pasir…..! Hidup Paser…..!

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”

Hari Kamis pagi, 27 Juli 2006, kami sudah berkemas-kemas hendak meninggalkan hotel. Waktu sudah menunjukkan menjelang jam 11:00 siang WITA ketika akhirnya kami meninggalkan kota Tanah Grogot dan kembali ke Kuaro. Sesampai di persimpangan kota Kuaro, kami mengambil jalan ke utara menuju arah kota Penajam dan Balikpapan. Pada papan penunjuk arah yang sempat saya baca, tertulis jarak ke kota Penajam 114 km dan ke kota Banjarmasin 362 km.

Kembali kami menyusuri jalan Trans Kalimantan dan terus ke arah utara. Belum lama melaju, Panther perlu minum. Untung minumnya solar sehingga tidak perlu ngantri lama-lama. Sementara di bagian pompa premium terjadi antrian panjang. Sampai-sampai pak polisi perlu berjaga-jaga di seputaran SPBU agar semua berjalan lancar. Kalimantan Timur memang lumbungnya minyak, tapi kelangkaan BBM nyaris terjadi di setiap pompa bensin sejak dari Banjarbaru, Kalsel. Akibat kelangkaan BBM pula kota Tanah Grogot yang baru saja kami tinggalkan harus mengatur giliran pemadaman lisrik sehingga di beberapa bagian kota kalau malam jadi gelap bin gulita.

***

Saya baru ingat, jalan Trans Kalimantan ini mempunyai banyak sebutan nama jalan, malah terkadang tidak ada namanya. Pada penggal jalan dari Banjarmasin hingga perbatasan Kalsel-Kaltim, jalan ini bernama Jalan Ahmad Yani. Bahkan sampai Kuaro ke arah Penajam pun orang masih menyebutnya sebagai Jalan Ahmad Yani. Makanya mesti hati-hati kalau mencari alamat di seputaran Kalsel hingga perbatasan Kaltim. Dengan hanya menyebut Jalan Ahmad Yani saja, tanpa menunjuk kilometer berapa atau wilayah mana, bisa-bisa harus menyusuri jalan sepanjang lebih 400 km. Inilah barangkali jalan terpanjang di Indonesia yang hanya memiliki satu nama jalan.

Apalah artinya sebuah nama? Wow…, penting sekali. Setidak-tidaknya bagi anggota Dewan yang terhormat di Kalsel. Buktinya dalam sebuah sidang di DPRD Kalsel pernah dipermasalahkan, kenapa nama Jenderal Sudirman di Banjarmasin hanya dipakai untuk nama jalan protokol yang panjangnya hanya 500 meteran, sementara nama Ahmad Yani dipakai untuk jalan yang panjangnya ratusan kilometer. Padahal Jenderal Sudirman yang Panglima Besar TNI dipandang “lebih berjasa” ketimbang Ahmad Yani. Nampaknya memberi nama jalan pun bagi sebagian orang tidak boleh sembarangan, meski tanpa bubur merah bubur putih. Nyata tapi aneh!

Semakin ke ujung utara jalan Trans Kalimantan, semakin jarang disebut Jalan Ahmad Yani. Karena kesulitan menyebut namanya, maka di beberapa daerah jalan ini disebut Jalan Propinsi, ada juga yang menyebutnya Jalan Negara, malah beberapa kota menggunakan penamaan Jalan Raya…., lalu diikuti nama kota itu.

***

Semakin ke utara perjalanan semakin tidak membosankan. Melewati kecamatan Long Ikis, Long Kali, Babulu, Waru, dan seterusnya. Pemandangan di rute utara ini lebih bervariasi dan menarik ketimbang rute sebelah selatan. Hamparan perkebunan kelapa sawit tampak di beberapa lokasi. Meskipun kondisi jalan termasuk bagus namun bergelombang di sana-sini. Kelihatannya mulus, tapi mesti hati-hati mengontrol kecepatan, sebab tiba-tiba kendaraan bisa njumbul-njumbul….., seperti meloncat-loncat akibat kondisi jalan yang bergelombang.

Sampai kemudian di kota Petung sebelum akhirnya tiba di pelabuhan penyeberangan di Penajam. Jalur jalan antara Petung – Penajam dapat dibilang sangat bagus dan mulus. Sepertinya inilah penggal jalan terbaik yang kami lalui sejak dari Banjarbaru di Kalsel. Suasana jalan pun semakin ramai. Tidak lagi suasana desa yang jauh dari mana-mana, namun sudah memasuki sebuah kawasan yang lebih padat penduduknya dan lebih sibuk dengan aktifitas ekonomi.

Menjelang memasuki kota Penajam, kami sempatkan untuk beristirahat barang sejam, sambil mengisi perut makan siang. Cuaca memang terasa begitu panas. Penajam adalah ibukota Kabupaten Penajam Paser Utara. Ini adalah kabupaten yang baru seumur jagung usianya, ibarat bayi masih lumah-lumah….. Dulunya masuk wilayah kabupaten Pasir. Tapi para tokoh masyarakatnya rupanya berkehendak lain. Kehendak yang sumbut (sebanding) dengan kekayaan alamnya. Hingga akhirnya pada tahun 2002 resmi memisahkan diri dari Pasir menjadi Penajam Paser Utara. Kata “Pasir” sudah diganti dengan “Paser”, merujuk pada nama penduduk asli suku Paser.

Namun tetap saja, lidah kebanyakan orang (apalagi pendatang dari Jawa) mensalah-lafalkan huruf “e” dengan “i”, sehingga jadi “Pasir”. Padahal mestinya huruf “e” dilafalkan seperti menyebut nama kota “Anyer”, bukan “Anyir”, bisa lain lagi maksudnya. (Bagi yang paham bahasa Jawa, penjelasannya adalah bahwa huruf “e”-nya “di-pepet”. Tapi bisa semangkin membingunkan kalau di belakangnya ditambah kata “sepeda”….. Ya pokoknya begitulah…..).

Sebagai kabupaten baru, penduduknya belum padat. Total penduduknya hanya sekitar 120 ribuan jiwa, sekitar setengahnya ngumpul di ibukota Penajam, selebihnya menyebar. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang biasanya memiliki semboyan yang muluk dan heboh, Penajam Paser Utara memiliki semboyan yang sangat sederhana. Dalam bahasa Paser disebut “Benuo Taka” yang artinya Daerah Kita, atau istilah gaulnya : Kampung Kita Sendiri…..

Walaupun terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya, namun tetap merupakan satu kesatuan ikatan kekeluargaan. Begitu kira-kira idealisme yang dibanggakannya. Seakan memahami bahwa kelak akan semakin banyak kaum pendatang ke wilayah ini yang numpang mencari hidup dari kekayaan alamnya. (Meski agaknya perlu hati-hati juga. Pepatah ada gula ada semut masih berlaku. Semakin manis gulanya, semakin banyak pula semut-semut nakal dan noakal…….).    

Yogyakarta, 9 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda 9

15 Maret 2008

(9).   Menyeberang Ke Balikpapan

Di pelabuhan penyeberangan kota Penajam inilah jalan Trans Kalimantan penggal selatan, atau Jalan Ahmad Yani, atau Jalan Propinsi, atau Jalan Negara, atau Jalan Raya Penajam seolah-olah berujung, yaitu di pelabuhan penyeberangan menuju kota Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan akan disambung lagi dengan jalan Trans Kalimantan penggal utara sampai terus ke atas entah dimana ujungnya (mudah-mudahan kelak saya akan mempunyai kesempatan untuk melihat ujungnya).

Tiba di pelabuhan penyeberangan, rupanya kami adalah kendaraan pertama yang masuk sejak kapal fery terakhir berangkat. Kami harus membayar biaya penyeberangan Rp 103.000,- untuk satu kendaraan, berapapun isi penumpangnya. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Segera kami diaba-aba untuk masuk ke kapal fery yang akan menyeberangkan kami dari Penajam menuju Kariangau di pinggiran Balikpapan. Kapal fery itu katanya selalu penuh. Pada siang itu saya lihat setidaknya ada sekiar 10 kendaraan segala macam jenis turut menyeberang, masih ditambah puluhan sepeda motor. Kapalnya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar kapal fery penyeberangan antara Jawa – Sumatera atau Jawa – Bali.

Angkutan penyeberangan ini termasuk sangat vital sebab inilah cara tercepat untuk menuju Balikpapan dan sebaliknya, termasuk semua aktifitas ekonomi akan menggunakan sarana ini. Kegiatan penyeberangan ini beroperasi 24 jam, karena itu tidak perlu khawatir jam berapapun kita tiba di pelabuhan Penajam. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, ada alternatif untuk menyeberang dengan menggunakan speed boat. Waktu tempuh untuk menyeberang dengan speed boat tentu lebih cepat dibanding fery, dengan ongkos per kepala yang lebih mahal.

Hanya perlu waktu satu jam untuk menyeberang, hingga akhirnya saya mendarat di sisi barat daya kota Balikpapan. Satu jam seperti tidak terasa. Sebab sambil beristirahat, bisa sambil menikmati pemandangan alam laut, pelabuhan dan pulau-pulau di sekitarnya. Bisa dipahami, karena ini adalah suasana baru setelah sekian hari melihat daratan yang membosankan.

Namun satu jam bisa jadi menjengkelkan kalau itu adalah perjalanan kembali dari cuti bagi para pekerja pendatang yang besoknya harus bekerja kembali menanti periode cuti berikutnya. Uh, apa boleh buat….     

***

Memasuki kota Balikpapan saya hanya sempat melewati pinggirannya saja, sebab perjalanan akan terus dilanjutkan menuju ke Samarinda. Saya jadi ingat, di kota ini tinggal cukup banyak teman-teman saya. Setidak-tidaknya kota ini sering diceritakan sebagai kota transit bagi banyak pekerja tambang, minyak dan geologi untuk cuti pulang kampung atau kembali ke tempat kerja. Tapi menyadari bahwa saya hanya akan numpang lewat saja di Balikpapan, beberapa teman hanya sempat saya halo-halo, numpang lewat. Mudah-mudahan lain kesempatan punya waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi kota ini, yang kabarnya termasuk kota yang biaya hidupnya tergolong ngudubilah tingginya.

Perjalanan menuju kota Samarinda masih sekitar 115 km lagi. Hari sudah sore saat meninggalkan kota Balikpapan. Lalu lintas ke luar kota cukup padat. Juga jalan ini melintasi kawasan penduduk yang tampaknya juga padat. Kendaraan pun sepertinya semua melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi jalur Balikpapan – Samarinda yang sangat bagus dan mulus kondisi jalannya. Sebagus berbagai jenis kendaraan yang melintasinya. Barulah ketika melewati sekitar kilometer 12 kondisi jalan mulai tampak kurang padat dan mulai memasuki kawasan yang kurang penduduknya. Pemandangan tampak lebih hijau dan banyak pepohonan.

Senja menjelang, perjalanan memasuki kawasan hutan Bukit Soeharto. Meski sudah rada-rada gelap, namun terkesan bahwa ini adalah tempat yang indah, teduh dengan udara menyegarkan di kala siang. Setidak-tidaknya bisa mengimbangi kota Balikpapan yang panas, padat dan berpolusi. Lokasi Bukit Soeharto pun tidak terlalu jauh dicapai dari Balikpapan, barangkali hanya sekitar 45 menit naik kendaraan agak ngebut.

Perjalanan terus kami lanjutkan menuju ke kota Samarinda, karena sudah kami jadwalkan malam itu untuk menginap di sana. Beberapa teman kuliah yang sejak lepas bangku kuliah dulu tidak pernah ketemu sudah hola-halo saja, kepingin reuni kecil-kecilan. Ya maklum wong sudah 20 tahunan tidak ketemu. Padahal dulu belajarnya sama-sama (itu juga enggak ngerti-ngerti juga). Padahal dulu tinggal sekamar berdua di Patehan Lor, demi menghemat biaya kost.

Yogyakarta, 10 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(10).   Di Tepinya Sungai Mahakam

Kira-kira sudah lewat jam tujuh malam, ketika akhirnya tiba di kecamatan Loa Janan. Tadinya saya pikir sudah masuk Samarinda, soalnya kota kecil Loa Janan malam itu demikian padat dan lalulintas berjalan merambat. Rupanya kota Samarinda masih delapan kilometeran lagi. Praktis, kota Loa Janan dan Samarinda sepertinya sudah menjadi satu. Tak ubahnya Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga di seputarannya. Hingga akhirnya memasuki kota Samarinda, serasa tak beda dengan memasuki kota-kota di Jawa. Ibukota propinsi Kalimantan Timur malam itu terlihat padat dan sibuk.

Jembatan sungai Mahakam seakan menjadi pintu gerbang untuk masuk kota Samarinda. Kota Samarinda memang tumbuh dan bewrkembang di sebelah-menyebelah sungai Mahakam, dengan pusat kotanya berada di sisi utara sungai. Dengan kata lain, sungai Mahakam mengalir membelah kota Samarinda.

Ihwal jembatan yang berwarna kuning dengan lebar delapan meter dan dibangun tahun 1983 itu saat ini kondisinya dinilai sudah menghawatirkan. Beban yang harus ditanggung oleh jembatan yang membentang sepanjang ratusan meter itu sungguh berat. Setiap harinya ada ribuan kendaraan yang melintas di atasnya, dari jenis angkutan kota hingga bis dan trailer. Inilah jalan utama di wilayah Kalimantan Timur yang menghubungkan kota Balikpapan dengan kota-kota lainnya di sebelah utara, termasuk Samarinda, Bontang, Sangatta dan Kutai Timur.

Ya bagaimana tidak menghawatirkan kalau rangka jembatan ini sudah robek di beberapa tempat akibat sering disenggal-senggol oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Belum lagi di bawahnya setiap hari melintas hilir mudik ratusan kapal, perahu, kapal tunda dan ponton. Sebagian di antaranya suka main serempet besi dan kayu pelindung penyangga jembatan. Maka jangan lupa berdoa setiap kali hendak melintas di atas jembatan ini, semoga selamat sampai di seberang yang 480 meter jauhnya…..

Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Air sungai menyusut dan terus menyusut, sehingga menyebabkan beberapa bagian sungainya dangkal. Tampak endapan lumpur menebal di tepian sungainya. Akibatnya jalur lintas sungai menyempit, juga terkadang kapal tunda dan ponton pun seperti suk-sukan (berdesak-desakan).

***

Tidak kalah dengan kota-kota lain, kota Samarinda pun perlu memiliki semboyan atau motto kotanya. Menyadari letak geografisnya yang demikian, maka motto kota Samarinda lalu dipas-paskan, dan ketemulah Samarinda kota “Tepian”. “Tepian” adalah akronim dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman. Maka, pas sudah! Apakah memang kotanya seperti itu? Itu soal lain, yang pembahasannya pun bisa dipas-paskan pula. Tapi pasti, bahwa kota ini memang terletak di tepian sungai Mahakam.

Cikal bakal kota Samarinda ini dulu-dulunya adalah pendatang dari masyarakat Bugis Wajo dari kerajaan Gowa di Sulawesi yang pada tahun 1668 mengungsi menyeberang ke wilayah kerajaan Kutai karena musuhan dengan Belanda. Kini penduduk kota Samarinda yang jumlahnya lebih setengah juta jiwa itu semakin heterogen dengan datangnya berbagai kalangan masyarakat yang mengadu nasib ke kota ini.

Perkembngan kota ini nyaris tidak dapat dipisahkan dari aktifitas perdagangan. Mulanya memang perdagangan hasil pertanian dan perikanan. Kini sudah semakin sibuk dengan aktifitas perkayuan (baik yang resmi maupun ilegal) dan pertambangan batubara. Maka tidak mengherankan kalau gerak bisnis properti dengan pembukaan kawasan pemukiman baru juga semakin semarak.

Wajarlah kalau kemudian pemerintah setempat mencanangkan visinya untuk menjadikan kota Samarinda sebagai kota jasa, industri, perdagangan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan.

***

Karena kami belum mengenal kota ini, maka ketika memasuki kota Samarinda kami saling berkomunikasi melalui tilpun dengan teman-teman di Samarinda yang sudah berbaik hati mem-booking-kan hotel untuk kami. Niat semula sebenarnya hendak ketemuan dulu di rumah seorang teman di pinggiran kota sebelum menyeberang jembatan Mahakam, untuk selanjutnya nanti akan diantar menuju hotel. Namun apa daya, rupanya kami kelewat bersemangat hendak segera mencapai Samarinda hingga telanjur masuk kota.

Terpaksalah kemudian diputuskan untuk mencari tempat yang mudah bagi kami untuk ketemuan. Terpilih sebuah tempat di salah satu sudut di tepinya sungai Mahakam. Di sana banyak orang jual jagung bakar. Maka sambil beristirahat meregang otot, menggeliat, melepas lelah, sambil pesan kopi. Sialnya tidak ada kopi hitam, yang ada kopi instan three-in-one sachet-an. Ya sudah. Sekalian pesan jagung bakar buat pantes-pantes. Entah rasa apa. Saya sebut buat pantes-pantes karena dari kenampakannya sebenarnya sudah ketahuan bahwa rasanya bakal “biasa-biasa saja”. Tidak tampak tanda-tanda yang bisa membangkitkan selera. Tapi toh dipesan juga jagungnya, sekedar untuk pengisi waktu menunggu teman yang hendak menjemput.

Suasana di seputaran kedai remang-remang jagung bakar itu sebenarnya cukup indah di malam hari. Terletak di sebuah taman kota yang berada di antara jalan besar dengan sungai. Di sepanjang tepi sungai Mahakam ini memang terdapat ruang publik yang cukup leluasa bagi tempat rekreasi di dalam kota. Taman kota ini tepat berada di tepinya sungai Mahakam.

Namun, melihat nuansanya, naga-naganya kalau malam tempat ini sebenarnya bukan tempat yang “sehat”. Apalagi kalau niatnya adalah berjalan-jalan bersama keluarga. Saya akan menghindari tempat ini. Lain halnya kalau tujuannya ingin menyendiri menikmati suasana malam di tepi Mahakam mencari ilham atau wangsit, atau kunang-kunang…..

Akhirnya kami bertemu dengan teman yang hendak mengantarkan kami ke hotel. Acara malam itu dilanjutkan dengan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman lainnya, di sebuah tempat yang berbiaya mahal untuk sekedar makan dan minum. Malam pertama di Samarinda kemudian kami lalui dengan ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, hingga malam pun semakin larut.   

Yogyakarta, 17 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(11).   Nggado Ikan Puyu Goreng Garing

Hari itu, Jum’at, 28 Juli 2006, agenda kami adalah urusan perkantoran. Maksudnya, pergi ke beberapa kantor, untuk bertemu dengan beberapa orang, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Agenda tentang beberapa ini akan selesai pada tengah hari, sebelum tiba waktu jum’atan. Maka pada siang harinya akan saya manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan sebuah keluarga yang masih ada hubungan “pernah-pernahan” dengan keluarga saya.

Saya rada kesulitan menerjemahkan kata “pernah” dalam kosakata pergaulan Jawa. Kira-kira maksudnya adalah hubungan keluarga yang kalau ditelusuri dengan pertanyaan “apanya siapanya-siapa”, lalu akan ketemu bahwa dia adalah “apanya” kita. Maka kesimpulannya bahwa dia masih keluarga atau famili dengan kita. Kata “saudara” atau “famili” bisa menjadi kata kunci yang sangat berharga apabila ketemunya di tempat yang jauh dari tempat asal kita. Tradisi semacam ini memang khas bagi bangsanya Indonesia (suku bangsa yang ada di Indonesia, atau yang sejenis dengan Indonesia).

Maka betapa senangnya ketika akhirnya kita ketemu dengan seseorang yang ternyata masih ada hubungan “pernah-pernahan” itu tadi. Adalah famili saya yang sejak saya mengeluargai istri saya sekian belas tahun yang lalu belum pernah ketemu. Hingga akhirnya famili saya itu menjemput ke hotel dengan naik sepeda motor, karena katanya mobilnya sudah lama masih saja dititipkan ke dilernya (dealer) entah sampai kapan.

Kocaping carito… (saya kok jadi merasa enak mengucapkan kata-kata ini), singkat cerita, siang itu saya mengunjungi famili saya. Kali ini ganti reuni kecil-kecilan antar dua keluarga. Bersilaturahmi, bercengkerama, bertukar cerita tentang nasib keluarga, dan rencana-rencana keluarga, dengan famili saya yang akhirnya terdampar di Samarinda sejak meninggalkan Jogja sekian belas tahun yang lalu.

Hingga tibalah pada salah satu bagian terpentingnya. Duduk bersama di depan meja makan. Bukan duduknya, bukan pula meja makannya, melainkan yang ada di atasnya. Tentu ini menjadi acara istimewa bagi saya dan terutama bagi tuan rumah yang kedatangan (lebih tepat, didatangi) tamu jauh yang masih “pernah” saudara. Di tengah kesederhanaan hidup yang sedang dijalani saudara saya di Samarinda ini, rupanya masih sempat untuk mempersiapkan menu makan siang yang terkesan agak istimewa. Syukur alhamdulillah. Inilah yang saya maksud dengan kata kunci yang sangat berharga tadi.

Ada ayam goreng, tempe goreng, ikan puyu goreng, sayur bening, lalapan dan sambal terasi tomat. Semua menjadi favorit saya. Pokoknya kalau yang enak-enak, semua harus difavoritkan. Tempe goreng dan ikan goreng ditambah lalapan dan sambal tomat agak pedas sedikit, wuiiih……, ruarrr biasa nikmatnya. Menikmati menu yang semacam ini memang harus turun tangan. Jangan sekali-kali menggunakan sendok, karena akan berkurang intensitas kenikmatannya. Ukuran intensitas kenikmatan siang itu hanya satu ukuran tunggal : nuuuikmat sekale….. Tidak ada skala lain yang “pas” untuk digunakan.

Lebih-lebih ikan puyu goreng garing (kering) yang rasanya gurih tenan. Ya baru pertama kali inilah saya mendengar nama ikan puyu. Sampai-sampai untuk memastikan namanya saya harus ha…he…ha…he… agar diulang penyebutannya untuk memastikan saya tidak salah dengar. Rupanya ikan air tawar ini memang menjadi kegemaran masyarakat Samarinda, Kalimantan pada umumnya. Nasibnya mirip-mirip dengan ikan haruan, yaitu bahwa ikan puyu ini kini semakin sulit diperoleh. Mangkanya kalau lagi ada dijual di pasar atau dimana saja orang akan berebut membelinya. Kebetulan pada hari itu, saudara saya berhasil memperolehnya, yang lalu menyajikannya sebagai menu unggulan untuk menjamu seorang tamunya dari Jogja yang masih “pernah” saudara tapi belum pernah ketemu.

Ikan puyu yang disajikan sepiring munjung, pada siang itu, rata-rata ukurannya hanya telong nyari (selebar tiga jari tangan). Badannya pipih. Banyak duri-duri kecilnya. Dagingnya sedikit tapi gurih. Karena itu ada seni tersendiri untuk menikmatinya. Memisahkan serpih demi serpih daging ikannya dari duri-duri kecilnya. Jangan sampai kloloden duri (durinya turut termakan dan nyangkut di tenggorokan). Sebab kalau itu sampai terjadi, maka bisa bikin mata mendelik (melotot).

Kalau accident itu terjadi juga, maka resep mengatasinya bukan digelontor air, apalagi lumpur panas, melainkan didorong dengan ngelek (menelan) nasi putih tanpa dikunyah atau dikunyah sedikitlah. Akan menyebabkan mendelik dan meringis sesaat, tapi setelah itu biasanya teratasi. Ini resep ampuh yang tidak pernah terpikirkan oleh dokter-dokter di negara maju. Kalau terjadinya di Amerika, maka segera dokter keluarga akan ditilpun, atau langsung call 911…… Kalau setelah diemploki nasi ternyata tidak berhasil juga, ya nasib namanya……. Ibarat berada di dalam rumah yang rubuh digoyang gempa tapi tidak sempat lari.

Ikan puyu ini adalah sejenis ikan sepat yang banyak hidup di kali, di sawah atau di lingkungan air tawar. Terkadang suka disebut juga dengan ikan pepuyu atau betok. Ikan puyu (istilah londo Latinnya : Anabas Testudineus) termasuk jenis ikan yang luar biasa dalam melakukan survival. Badannya yang bersisik dan bersirip keras memudahkan spesies ini bergerak di atas tanah yang berair sedikit. Pada musim hujan ikan ini suka hijrah dari satu tempat ke tempat lain, jika perlu meloncat dan memanjat tebing aliran air pun dilakoninya.

Ikan ini memiliki asesori tambahan alat pernapasannya yang disebut labirin di luar insangnya, sehingga dia mampu bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu tanpa air karena alat pernapasannya tetap basah. Jika musim kemarau tiba, ikan ini mampu bertahan dan bernafas dalam lumpur hingga selama beberapa waktu tertentu. Maka jangan hueran, kalau ada suatu kolam yang kelihatannya kering, ujug-ujug ada ikannya ketika hujan tiba. Bisa jadi mereka adalah masyarakat ikan puyu yang sembunyi di dalam tanah.

***

Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahi, pelipis dan kulit kepala yang menyebabkan rasa agak gatal. Namun rasa gatalnya seolah termanipulasi oleh gurihnya ikan puyu (ini memang gaya bahasa, yang sebenarnya terjadi ya tetap saja goatal…..). Biarpun nasi sudah tanduk sekali atau tamboh ciek dan habis juga, namun episode makan ikan puyu belum selesai.

Atas seijin tuan rumah (itulah etikanya, mau menghabiskan sisa ikan di meja saja mesti minta ijin dulu, dan biasanya diijinkan dan malah senang kalau suguhannya habis), acara makan siang masih dilanjutkan dengan nggado (memakan tanpa nasi) ikan puyu goreng garing yang masih tersisa. Tentu sambil bercengkerama dan berbagi cerita tentang keluarganya mas anu, mbok de anu, eyang kakung anu dsb. Untuk alasan etika pula, akhirnya hanya setengah piring ikan yang saya habiskan. Yah…. kira-kira kalau saya hitung ada enam atau tujuh atau delapan ekoran ikan puyu saya gado. Habis huenak sih….., dan barangkali tidak akan saya temukan di Jogja.    

Yogyakarta, 19 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(12).   Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy

Berhubung hari Jum’at sore itu tidak ada kegiatan, sementara rencana besoknya adalah pulang ke Jogja, maka jangan lewatkan sedetik pun untuk tidak melihat hal-hal baru. Pilihan jatuh pada kota Tenggarong, ibukota kabupaten Kutai Kartanegara (disingkat Kukar, terkadang orang menyebutnya dengan Kutai saja, padahal mestinya ada kabupaten Kutai Barat dan Kutai Timur).

Kota Tenggarong berjarak sekiar 40 km dari Samarinda, ditempuh melalui Loa Janan. Mencapai Tenggarong melalui Loa Janan memang bukan satu-satunya rute yang dapat ditempuh. Ada beberapa rute lain yang dapat dilalui. Jalur melalui Loa Janan ini melintasi sisi barat dan utara sungai Mahakam. Jalannya memang tidak terlalu lebar, tapi cukup leluasa untuk melaju agak cepat.

Tiba di Tenggarong masih belum terlalu sore, sehingga panorama sungai Mahakam, pulau Kumala dan suasana kota yang terkesan apik dan resik masih jelas dapat dinikmati. Tenggarong memang bukan kota yang padat penduduknya. Masyarakatnya pun kini sangat heterogen, bercampur antara warga suku asli Dayak dengan kaum pendatang. Salah duanya adalah teman sekolah di jurusan Tambang yang menyunting penduduk asli Tenggarong dan kini memilih tinggal di sana. Seorang teman lainnya juga beristrikan warga Dayak dan kini membuka usaha restoran di tepi sungai Mahakam di seberang ujung timur pulau Kumala. Nama rumah makannya “Tepian Pandan”.

Ke resto “Tepian Pandan” itulah tempat pertama yang kami jujug, ketika tiba di Tenggarong sore itu. Tempatnya memang strategis dan berpemandangan indah. Di tepi sungai, dekat dengan obyek wisata kompleks keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu teman lama yang empunya resto, karena rupanya teman saya sore itu masih berada di tempat kerjanya di sebuah tambang batubara. Saya pikir ini kerjasama mempersiapkan hari tua yang layak dihargai. Sang bapak menjadi karyawan tambang, semenara sang ibu mempekerjakan karyawan membuka usaha rumah makan.

Nama Tepian Pandan, dahulu kala adalah nama sebuah kawasan kecil yang merupakan cikal bakal terbentuknya kota Tenggarong. Konon kawasan di tepian sungai Mahakam itu dulunya banyak ditumbuhi tanaman pandan. Menurut sohibul-hikayat, nama Tenggarong diperkirakan berasal dari sebutan “tangga arung” yang artinya rumah raja.

***

Sejarah panjang kerajaan Kutai Kartanegara, tidak lepas dari sejarah panjang kerajaan Mulawarman sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Meski juga berada di Kutai, pusat kerajaan Mulawarman yang berdiri pada abad ke-4 Masehi itu sebenarnya bukan di Tenggarong sekarang ini, melainkan di pedalaman Sungai Mahakam, tepatnya di Muara Kaman, atau sekitar 200 kilometer dari Tenggarong ke arah hulu Mahakam.

Kerajaan Mulawarman atau Kutai Martapura yang sempat dipimpin oleh 25 orang raja (tentu saja tidak berbarengan…..) selama 13 abad itu akhirnya musnah tahun 1635, akibat pertempuran hebat dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang waktu itu dipimpin oleh Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (Kutai, dilawan…..!).

Meskipun keraton Kutai Kartanegara kini berada di kota Tenggarong, namun asal bin muasalnya kerajaan Kutai Kartanegara dulunya berpusat di muara delta Mahakam tepatnya di Kecamatan Anggana yang sekarang disebut Kutai Lama. Dinasti Kutai Kartanegara diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 Masehi dan berhasil menurunkan 19 orang raja.

Selama 13 abad masa kejayaannya, kesultanan Kutai Kartanegara mengalami beberapa kali kepindahan pusat kerajaan mulai dari Kutai Lama, Pemarangan, Samarinda, dan akhirnya di Tenggarong. Kota terakhir ini diketahui menjadi pusat Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1782 saat Aji Imbut dengan gelar Sultan Muhammad Muslihuddin berkuasa. Sebelum akhirnya istana raja yang dibuat dari kayu ulin oleh Sultan Muhammad Muslihuddin itu pada tahun 1844 hangus terbakar saat terjadi peperangan melawan Belanda, dan kalah (giliran Londo, dilawan…..!).

Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian harus tunduk pada kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dengan ditandatanganinya traktat Tepian Pandan pada 29 April 1844. Pada tahun 1850, Sultan AM Sulaiman berinisiatif kembali mendirikan keraton Kutai dari kayu ulin dengan gaya arsitektur Melayu. Bangunan Keraton ini kemudian dibangun secara permanen dari beton pada masa Sultan AM Parikesit. Pembangunan secara permanen istana kerajaan Kutai pada tahun 1936 itu dikerjakan dengan gaya arsitektur Eropa klasik.

Sementara itu, nama Kutai atau Koetai sendiri diperkirakan mulai dikenal pada abad ke-5 Masehi, ketika para pedagang Cina masuk ke daerah ini. Mereka menyebutkan Kutai dengan Kho Thai yang artinya bagian besar dari pulau atau pulau yang besar. Sedangkan pedagang dari Kalingga, India Selatan, menyebutnya dengan Quetairy yang maksudnya hutan yang lebat.

Kini Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy, sudah menjadi salah satu warisan budaya nusantara. Bersama tradisi budaya masyarakat Dayak di sekelilingnya, mestinya menjadi kekayaan Kalimantan yang tak ternilai harganya. 

Yogyakarta, 20 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(13).   Tenggarong Di Waktu Sore

Sejarah panjang masa kejayaan kerajaan Mulawarman dan kerajaan Kutai Kartanegara adalah aset budaya yang terlalu sayang untuk dikesampingkan. Catatan sejarah dan peninggalannya itu sudah semestinya menjadi salah satu sumber daya yang masih sangat terbuka untuk digali potensinya.

Ketika Indonesia merdeka dan kemudian diberlakukan undang-undang daerah swapraja, keraton Kutai Kartanegara mulai seperti kehilangan rohnya. Kutai harus menjadi daerah swapraja, sementara Sultan AM Parikesit harus lengser keprabon dan menjadi rakyat biasa. Keraton Kutai tak ubahnya hanya sebuah bangunan kuno yang syukur-syukur tidak segera disulap menjadi mal atau hotel.

Beruntunglah, tanggal 25 Nopember 1971, atas keinginan masyarakat dan pemerintah, istana Tenggarong kemudian difungsikan sebagai museum, yang diberi nama Museum Negeri Mulawarman. Sejak itu keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman mulai terus berupaya mengembalikan pamornya sebagai salah satu obyek wisata unggulan di Indonesia, sebagaimana keraton Yogyakarta, Solo, Cirebon atau lainnya.

Tanggal 22 September 2001 adalah awal kebangkitan, hidupnya kembali kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Malahan pada tahun 2002 sempat menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara III. Bagi warga Kalimantan Timur, khususnya masyarakat Kutai, museum yang letaknya menghadap sungai Mahakam ini sudah lama menjadi kebanggaan. Bagaimanapun bekas kerajaan yang megah ini adalah simbol bahwa Kutai mempunyai sejarah panjang. Kendati tidak meninggalkan bekas-bekas bangunan candi seperti di pulau Jawa.

Tinggal bagaimana upaya melestarikan kekayaan peninggalan sejarah Kutai ini dan mengelolanya agar laku dijual sebagai objek wisata sejarah dan budaya yang menarik. Potensi kekayaan budayanya sungguh sangat besar dengan budaya Dayak sebagai pesona utamanya. Lokasinya yang relatif jauh dari pusat pemerintahan memang bisa menjadi kendala. Namun melihat bahwa potensi-potensi wisata di pulau-pulau lain pun ternyata bisa berkembang, bukan tidak mungkin Tenggarong dan Kutainya kelak akan berjaya pula. Lokasinya yang mudah dijangkau dari Balikapapan akan memberikan nilai lebih.

Mulailah Pemda Kutai Kartanegara beserta punggawanya menyingsingkan lengan baju. Visi dan misi dicanangkan melalui semboyan yang terkesan begitu gagah berani : “Gerbang Dayaku” (akronim dari Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai). Para pejabat Kutai tentu tidak asal mengepas-paskan semboyan itu. Tersirat sebuah misi untuk memberdayakan seluruh komponen (pemerintah, legislatif, masyarakat, dan investor) dalam proses pembangunan secara berkesinambungan. Begitu penjabarannya.

Kesungguhan dan semangat pemerintah daerah kabupaten Kukar (Kutai Kartanegara) dalam upayanya memajukan daerahnya memang layak ditiru. Program dan kegiatan pembangunan seperti sambung-menyambung dan terkonsep dengan rapi. Tapi jangan lupa, kabupaten ini memang tergolong kabupaten yang koaya raya dibandingkan kabupaten lain di Indonesia.

***

Di seberang selatan agak nengos (miring) ke barat sedikit dari kompleks keraton Kutai Kartanegara terdapat sebuah lokasi wisata yang tergolong modern, yaitu Pulau Kumala. Lokasinya berada di tengah sungai Mahakam. Pulau seluas kira-kira 86 hektar ini dilengkapi dengan wahana kereta gantung (cable car) dan Sky Tower setinggi 80 meteran. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dari daratan Tenggarong menuju Pulau Kumala, wahana-wahana modern itu memberi keasyikan berbeda. Para pelancong dapat menikmati panorama kota Tenggarong dan bentang Pulau Kumala dengan sungai Mahakamnya dari ketinggian. Selain menggunakan kereta gantung, juga ada sarana transportasi air dengan perahu ketinting untuk menyeberang dan mendarat di Pulau Kumala.

Kabarnya, wahana wisata di pulau Kumala ini akan terus dikembangkan dan dilengkapi guna semakin menarik wisatawan untuk berkunjung, dan tentu saja membelanjakan uang sakunya. Melihat sepintas tentang obyek wisata Pulau Kumala ini, pikiran saya lantas melayang jauh ke Pulau Sentosa di Singapura, yang sempat saya kunjungi pada tahun 2002.

Agaknya ide tentang Pulau Kumala ini terinspirasi oleh pengembangan Pulau Sentosa. Saya pikir itu ide brilian. Jangankan kok cuma terinspirasi, meniru persis plek pun tidak ada salahnya. Baru akan nampak salahnya (plus terkadang rada menjengkelkan) adalah setelah nanti ketahuan bagaimana professionalisme pengelolaannya.

Pemda Kukar punya alasan kuat untuk melakukan studi banding (kalau perlu magang) ke Pulau Sentosa, tanpa khawatir didemo. Pulau Kumala memang tidak seluas Pulau Sentosa, tapi konsep “gerbang dayasing” (gerakan pengembangan dan pendayagunaan singapura) patut dipelajari. Kita memang harus jujur, terkadang kita dibuat kagum dan terperangah oleh negeri jiran yang sak uplik itu. Lha bagaimana tidak, wong Singapura itu negeri yang “tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya”. Sementara kita ini negeri yang “apa-apa punya tapi sepertinya tidak punya apa-apa”.

Memang rada aneh bin salabin, seperti sulapan….. Padahal kalau mau banyak-banyakan tukang sulap, jelas kita punya lebih banyak. Anak-anak muda kita juga jago beradu pikir, menangan kalau ikut olimpiade perorangan. Giliran olimpiade rombongan, bersebelas misalnya, keok terus. Barangkali kita memang belum pandai bekerja dalam tim. Padahal sebelum 61 tahun yang lalu tim kemerdekaan kita pernah berjaya mengusir penjajah. 

Kembali ke pokok persoalan : Haqqun-yakil, di masa mendatang (ini bahasa diplomatis para pejabat untuk menyebut embuh kapan…..) Pulau Kumala pasti akan didatangi oleh para pelancong dari mana-mana, bukan hil yang mustahal kalau turis mancanegara pun bakal kepincut. Mudah-mudahan di masa mendatang (juga embuh kapan) saya sempat membawa keluarga untuk mengunjungi tempat ini.

***

Tenggarong dengan Pulau Kumalanya memang layak dipertimbangkan untuk dikunjungi jikalau ada kesempatan untuk piknik bersama keluarga. Sayang sekali sore itu kompleks keraton Kutai Kartanegara sudah tutup, kecuali kuburan raja-raja di sebelah baratnya (lha ngapain sore-sore masuk kuburan…..), sehingga saya hanya bisa berjalan-jalan berkeliling di kawasan luarnya saja.

Kawasan sekeliling keraton dan halaman museum, kawasan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kumala, dan pemandangan pantai sungai Mahakam dengan latar depan pulau Kumala, cukuplah untuk media relaksasi pikiran, sambil jalan-jalan di kala sore. Kesan pertama dari luar memang begitu menarik, saya percaya dalamnya juga. Itulah kota Tenggarong “Berseri”.

Yogyakarta, 21 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(14).   Rebutan Bukit Soeharto

Hari Sabtu, 29 Juli 2006 adalah hari terakhir kami di bumi Kalimantan, tepatnya propinsi Kalimantan Timur. Masyarakat setempat bangga menyebutnya “Banua Etam” (bahasa Kutai yang artinya “kampung kita”). Sudah sering disebut-sebut, bahwa propinsi Kalimantan Timur ini termasuk propinsi terkaya di Indonesia. Kekayaan yang berupa minyak bumi, gas alam, batu bara, emas dan hasil hutan sepertinya melimpah-ruah.

Namun ironisnya, dengan kekayaan yang melimpah dengan catatan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi, hanya sekitar 10% yang kemudian kembali ke daerah dalam bentuk dana perimbangan (yang dinilai tidak berimbang karena sebagian besar nyangkut di pusat). Kenyataannya, dari sekitar 2,7 juta penduduk “Banua Etam” itu 11% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Infrastruktur sosial pun sangat terbatas. Maka tidak heran kalau masyarakat Kaltim teriak-teriak menuntut pembagian dana perimbangan yang lebih berimbang dan adil.

Padahal masyarakatnya sangat antusias membangun daerahnya. Dimana-mana terpampang tulisan yang menggugah semangat “Etam bangga membangun Kaltim”. Tentu menjadi kurang fair kalau kemudian yang menikmati hasil pembangunan “etam” itu tadi justru bukan masyarakat Kaltim sebagian besarnya. Mendingan kalau masyarakat Indonesia lain yang menikmatinya, hitung-hitung “sedekah”…… Tapi masalahnya dikhawatirkan yang menikmati justru oknum nun jauh di sana (mengkambinghitamkan oknum memang paling enak…..). Begitu kira-kira kegundah-dan-gulanaan yang berkembang di tengah masyarakat Kaltim, yang kini siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII tahun 2008.

***

Agak siang kami harus meninggalkan Samarinda, ibukota “Banua Etam”, menuju ke Balikpapan. Perjalanan ke Balikpapan dengan menempuh jarak 115 km itu berarti kami akan kembali melalui jalur berkelok di Bukit Soeharto. Kali ini saat siang hari, sehingga nampak benar suasana hutan nan teduh dan asri dari kawasan perbukitan yang menghijau.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, terletak membentang sepanjang 32 km di jalur jalan Balikpapan – Samarinda, tepatnya di km 45 – 77, masuk wilayah kecamatan Semboja, kabupaten Kutai Kartanegara. Hutan seluas 61.850 hektar ini ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam pada tanggal 20 Mei 1991. Di hutan ini tumbuh berbagai vegetasi hutan dengan semak dan alang-alang. Pepohonan yang ada merupakan hasil reboisasi, seperti akasia, sengon, mahoni, johar, sungkai dsb. Jenis satwa yang ada antara lain babi hutan, kancil, kera, biawak serta berbagai jenis burung-burungan.

Dengan bentang alamnya yang indah, sejuk dan nyaman, tak syak lagi tempat ini menjadi obyek wisata yang cukup diminati oleh para wisatawan. Beberapa lokasi di sepanjang jalur lintas hutan ini pun dimanfaatkan oleh para penduduk untuk membuka kedai-kedai yang menjual aneka macam. Tumbuhlah aktifitas ekonomi kecil, yang kalau tidak ditata dengan baik tentu berpotensi mengganggu keindahan dan kenyamanan berwisata.

Namun kini aktifitas ekonomi yang berskala lebih besar sedang menghadang. Hal ini terkait dengan ditengarainya bahwa di dalam perut Soeharto terkandung 122-150 juta ton cadangan batubara. Ini baru heboh!. Bukit Soeharto lalu seolah-olah jadi rebutan. Berbagai kepentingan pun lalu menyeruak. Maka persoalannya menjadi klasik. Antara yang hendak mengeksploitasi dengan yang hendak mengkonservasi. Antara yang pro hutan dan pro industri, tapi rupanya masih ada satu lagi yang pro hutan tanaman industri. Nah, loe! “Nggak ada loe, nggak rame…..”, kata iklan sebuah produk hijau (maksudnya produk yang bungkusnya berwarna hijau) di televisi…..

Riuh-rendah tentang Bukit Soeharto ini terlihat dari semangat pihak Bapedalda yang mengancam tidak akan mengeluarkan ijin jika Bukit Soeharto hendak dieksploitasi batubaranya. Tetapi, begitupun pihak Pemkab Kutai Kartanegara ternyata sudah mengkapling-kapling dan mengeluarkan ijin Kuasa Pertambangan batubara bagi sejumlah pengusaha dan Koperasi Unit Desa. Sementara itu, pihak Menhutbun juga sudah telanjur melepaskan sejumlah areal hutan untuk perluasan Hutan Tanaman Industri dan sarana penunjangnya. Lebih seru lagi, pada musim kemarau seperti sekarang ini kebakaran hutan mengancam ketiga kepentingan itu.

Bagai persamaan matematika, ada tiga buah garis yang hendak bertemu di satu titik perpotongan. Maka perlu dicari harga optimum dari titik perpotongannya, dimana menghasilkan minimum kemudharatan (keburukan) dan maksimum kemaslahatan (kebaikan). Biarlah orang-orang pintar di “Banua Etam” duduk bersama, bekerja dalam tim, untuk merumuskan titik perpotongan yang bernilai optimum, agar kelak anak-cucunya tidak tuding-tudingan. 

Ini hal yang lumrah saja. Sudah menjadi hukum alam, bahwa ketika ilmu dan teknologi semakin maju, maka semakin banyak pula peluang terjadinya benturan. Kenapa jaman dulu tidak banyak benturan (tepatnya, belum teridentifikasi)? Karena ilmu dan teknologi belum semaju sekarang dan orang-orangnya pun belum sepintar sekarang. Seratus tahun lagi benturan akan semakin hebat. Tapi kerepotan selalu muncul, yaitu ketika salah satu pihak menganggap dirinya yang paling benar. Uh…., repotnya!

***

Jalur melintasi Bukit Soeharto pun terlewati sambil mata terkantuk-kantuk tak tertahankan. Tahu-tahu kami sudah memasuki kota Balikpapan. Suasana kota yang padat dan ramai, di tengah cuaca siang yang panas sungguh membuat kurang nyaman. Waktu menunjukkan menjelng tengah hari. Masih ada beberapa jam sebelum pesawat ke Jogja tinggal landas dari bandara Sepinggan.

Rasanya ada yang kurang. Ya, oleh-oleh!. Lalu seorang teman di Balikpapan mengantarkan membeli makanan khas Kaltim, yaitu amplang. Amplang adalah sejenis kerupuk ikan, yang terbuat dari ikan dan tepung sebagai bahan utamanya, lalu dicampur dengan bumbu, telor dan sedikit gula. Maka jadilah makanan ringan berukuran kecil-kecil, yang kalau dimakan bunyinya antara kremes-kremes dan kriuk-kriuk. Rasanya mirip-mirip seperti kalau kita makan kerupuk udang atau kerupuk Palembang, dengan rasa bumbu ikannya lebih kuat. Lumayan enak untuk makanan selingan di rumah, agar tidak terus-terusan makan kacang rebus atau blanggreng (ubi goreng). Tetangga pun bisa turut kebagian kremes-kremes dan kriuk-kriuknya…. Itulah enaknya tinggal di kampung dekat tetangga, ada yang bisa diberi oleh-oleh……  

Yogyakarta, 22 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(15).   Tragedi Pembantaian Masal Di Kota Minyak

Sejarah berdirinya kota Balikpapan tidak dapat dipisahkan dari industri perminyakan, yaitu sejak pengeboran minyak pertama kali dilakukan di teluk Balikpapan pada tanggal 10 Februari 1897, oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari pasal-pasal kerjasama antara J.H.Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel & Co.

Sejak jaman Belanda hingga sekarang di bawah pengelolaan Pertamina, praktis industri perminyakan menjadi urat nadi perekonomian kota Balikpapan. Bukan saja oleh hasil minyak dan gas alamnya, melainkan juga sebagai pusat pengilangan minyak mentah yang bahan bakunya didatangkan dari daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Pasir, dan Kutai Timur.

Kontribusi yang cukup besar telah diberikan oleh sektor indusri perminyakan bagi pembangunan negeri ini. Keberadaan perusahaan-perusahaan minyak swasta seperti Vico, Total, Unocal, dan banyak perusahaan lainnya turut memberikan andil yang besar bagi pengembangan dan pembangunan kota Balikpapan dan Kaltim pada umumnya. Maka tidak berlebihan kiranya jika kota Balikpapan juga dijuluki sebagai kota minyak.

Karena minyak pula, di jaman kolonial dulu kota Balikpapan dan kawasan penghasil minyak di sekitarnya sempat menjadi ajang perebutan antara penjajah Belanda dan Jepang. Kalau di tempat-tempat lain penjajah akan berebut rempah-rempah atau hasil tambang, sementara di wilayah Kalimantan Timur minyaklah sasarannya. Kisah pendudukan, peperangan dan penguasaan kawasan Balikpapan dan sekitarnya banyak tercatat dalam sejarah militer asing.  

***

Namun ternyata kota Balikpapan menyimpan sejarah kelam yang nyaris tidak pernah tercatat dalam lembar sejarah Indonesia. Barangkali karena korbannya bukan orang Indonesia. Sejarah pembantaian oleh Jepang yang mengeksekusi 78 orang Belanda di tempat yang bernama Klandasan, tercatat sebagai salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Balikpapan. Sebuah kekejaman perang yang terkait dengan perebutan ladang minyak oleh Jepang dari tangan Belanda.

Ketika Jepang merebut kota Tarakan, tentara Jepang nggondoknya bukan kepalang melihat kenyataan bahwa ladang minyak di Tarakan sudah luluh-lantak dihancurkan oleh Belanda sebelum Jepang datang. Padahal berikutnya Jepang berencana merebut kota Balikpapan. Jangan-jangan ladang minyak Balikpapan juga akan dibumihanguskan oleh Belanda. Maka dua orang kapten Belanda yang tertangkap di Tarakan, yaitu Kapten G.L. Reinderhoff dan Captain A.H. Colijn dikirim ke Balikpapan pada tanggal 20 Januari 1942 dengan membawa surat ultimatum yang bunyinya membikin berdiri bulu romaku……

Bunyinya kira-kira begini : Jika Belanda berani merusak fasilitas ladang minyak Balikpapan dan sekitarnya, maka semua komandan, prajurit dan londo-londo yang terkait akan dilibas tanpa kecuali.

Eee…, lha kok tenan. Begitu menerima surat ancaman, komandan KNIL Letkol C. van den Hoogenband merasa ora sudi diancam-ancam. Sang komandan KNIL malah memerintahkan untuk membakar seluruh fasilitas ladang minyak Balikpapan. Maka ketika akhirnya pasukan Jepang dibawah komandan Mayjen Shizuo Sakaguchi benar-benar menyerang dan merebut Balikpapan, tiada ampun lagi semua bangsa walondo yang tertangkap lalu dikumpulkan dan ditahan semena-mena. Sebagian besar walondo lainnya sudah diungsikan keluar daerah oleh Letkol Hoogenband. Bahkan Kapten Reinderhoff dan Kapten Colijn malah disuruh ke Jawa, alih-alih kembali ke Tarakan untuk memenuhi janjinya melapor kepada Jepang yang menangkapnya.

Hingga akhirnya tibalah pada suatu pagi di tepian pantai, diperkirakan tanggal 24 Pebruari 1942. Jepang menggiring tangkapan Belandanya yang antara lain terdiri dari pegawai sipil, petugas medis, pendeta, pasien rumah sakit, inspektur polisi, tentara dan sekelompok tahanan perang lainnya, total jendral ada 78 orang. Mereka digiring dalam keadaan terikat di bawah kawalan ketat tentara Jepang. Sudah pasti dengan menodongkan senjatanya.

Satu demi satu lalu didor tanpa perlawanan. Prosesi pembantaian masal itupun selesai dalam dua jam. Begitu menurut penuturan seorang saksi mata yang juga orang Belanda yang sempat menyamar sebagai orang Indonesia.

Ketika Jepang datang menangkapi pasien rumah sakit, orang Belanda yang bernama  J. Th. Van Amstel ini kabur ke kampung di sekitarnya. Kebetulan Belanda satu ini termasuk londo ireng, berkulit gelap dan lalu menyamar berpakaian layaknya orang Indonesia. Pada hari pembantaian, orang-orang kampung dikumpulkan dan dipaksa menyaksikan eksekusi masal itu, termasuk Van Amstel, hingga sempat menuliskan kesaksiannya.

Itulah sepenggal kisah kelabu tragedi pembantaian masal di Balikpapan yang kisahnya jarang disebut-sebut dalam sejarah Indonesia tentang pendudukan Jepang di Balikpapan. Perang memang selalu menyisakan kisah kekejaman dan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Hanya perang rebus atau sate perang , eh….. kerang maksudnya, yang banyak disuka orang….. 

Yogyakarta, 23 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(16).   Kenapa Disebut Balikpapan?

Sebentar lagi pesawat Mandala akan membawa kami kembali ke Jogja. Siang itu, Sabtu, 29 Juli 2006, bandara Sepinggan nampak padat dan ramai. Agaknya bandara internasional Sepinggan ini termasuk bandara yang cukup sibuk. Sejak tahun 1995 bandara ini juga mulai ditunjuk sebagai bandara embarkasi jamaah haji yang berasal dari sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.

Sayang sekali, kali ini saya hanya numpang lewat saja di Balikpapan, sehingga banyak hal menarik yang terpaksa terlewatkan untuk dikunjungi. Saya berharap mudah-mudahan masih akan memperoleh kesempatan untuk kembali mengunjungi Balikpapan. Meski begitu, dari selintas kunjungan saya kali ini, saya sempat menangkap dan menggali sedikit hal yang rasanya sayang untuk saya simpan sendiri.

*** 

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Balikpapan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota yang topografinya berbukit-bukit dan dihuni oleh lebih 550.000 jiwa penduduknya itu sepintas tampak teratur, rapi dan bersih. Memang pantas menjadi contoh bagi pengelolaan tata kota yang relatif lebih terencana dibanding kota-kota industri lainnya di Indonesia. Tidak dipungkiri hal ini sangat dipengaruhi oleh warisan Belanda yang sejak dahulu kala membangun kota ini sebagai rangkaian penyediaan infrastruktur bagi aktifitas industri perminyakan.

Membicarakan kota Balikpapan nyaris akan selalu terkait dengan aktifitas bisnis industri perminyakan, pertambangan dan perkayuan, yang tentu kemudian terkait dengan industri perdagangan dan transportasi. Komponen itulah yang kemudian menjadi roda penggerak ekonomi kota Balikpapan. Hingga Balikpapan pun menjelma menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tergolong luar biasa cepat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Aktifitas industri yang berkembang pesat di hampir semua sektor di Balikpapan, praktis mengalahkan popularitas kota Samarinda yang ibukota propinsi. Maka, kota inipun siap untuk mengemban misi yang tidak baen-baen : “Menggelorakan semangat Balikpapan, Kubangun, Kujaga, dan Kubela”.

***

Akhirnya, ada pertanyaan rada menggelitik kenapa kota ini disebut Balikpapan? Kok bukan Balikdrum atau Baliktong, misalnya….. Kalau sudah bicara soal asal bin muasal di balik sebuah nama, maka akan berurusan dengan kata “konon”.

Konon yang pertama : Sewaktu sultan Kutai hendak membangun kembali istananya yang musnah terbakar gara-gara kalah tarung dengan Belanda, beliau memesan seribu keping papan. Namun hanya ada sepuluh keping papan yang balik ke Jenebora di teluk Balikpapan. Oleh orang Kutai papan yang balik itu disebut “Balikpapan Tu”, hingga kawasan sepanjang teluk itu lalu disebut dengan Balikpapan.

Konon yang kedua : Disebutkan bahwa suku asli Balikpapan, yaitu suku Pasir Balik, adalah keturunan dari kakek dan nenek moyangnya yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan yang juga berarti Balikpapan (dalam bahasa Pasir, kuleng artinya balik).

Konon yang ketiga : Di jaman dahulu kala adalah seorang raja yang tidak ingin putrinya jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita lalu diikat di atas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring dan dilepas ke laut. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata dijumpai seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan (jangan lagi ditanya bagaimana sang putri bisa tetap hidup di balik papan dan dibolak-balik gelombang…..).

Konon yang keempat : Di jaman pendaratan VOC sekian abad yang lalu, melihat kumpeni Belanda yang bersepatu prok-prok-prok dan mempunyai bedil panjang, masyarakat setempat pada ketakutan lalu ndelik (bersembunyi) sambil ngintip-ngintip di balik dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Maka londo Belanda itu pada heran kok kampungnya sepi sekali, rupanya ketahuan bahwa inlander yang ketakutan pada bersembunyi di balik papan dinding rumahnya. Tersiarlah sebutan Balikpapan.

Kelihatannya konon yang keempat itu lebih masuk akal, kenapa kota ini disebut Balikpapan.

Tapi tunggu, hua…ha…ha…ha….. Nyuwun sewu, sori tenan……, konon yang keempat itu adalah cerita karangan saya sendiri….. (biar tidak nanggung).

Selamat bekerja dan matur nuwun — (Wis, ah!)

Yogyakarta, 24 Agustus 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.