Archive for the ‘> Seputar TEMBAGAPURA, PAPUA’ Category

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

15 November 2009

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan

13 September 2009

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur.

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. “Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam”, kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : “Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One”.

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : “Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je…”. Boro-boro…., TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : “Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia…”, pasti menirukan tuturan Mario Teguh.

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : “Wah, apik tenan…”. Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria.

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : “Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan”.

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : “Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan……. Terusnya lupa…..he..he..”, tulis istriku.

“Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi…”, balasku kemudian.
“Ngarang!”, balas istriku dengan cepat.
Lha, coba saja diingat-ingat….., kalau enggak percaya”, balas saya lagi.
Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur”, balasan cepat dari seberang sana.
“Ya, betul itu”, kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : “Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya”.

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret.

***

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah…., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya.

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis….

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam.

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga…

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu…
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat
tapi badan merinding tanpa sebab…
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan….
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk
ketika menyapunya dengan belaian lembut….
Subhanallah!

***

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu.

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin..

Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Malam Ke Tujuhbelas

11 September 2009

Ketika mendadak saya diminta datang ke Tembagapura, Papua, di pertengahan Ramadhan ini dan tidak bisa ditawar untuk ditunda usai Lebaran, hati kecil saya rada ngelangut….. Bukan karena jauhnya, bukan karena situasi kurang kondusif pasca insiden tembak-tembakan, dan bukan juga karena komitmen kerja yang menanti di sana. Melainkan lebih disebabkan kekhawatiran jangan-jangan komitmen pribadi untuk berbisnis dengan Ramadhan akan gagal tidak seperti niat ingsun di awalnya. Atau memang ini tantangan menuju kesempurnaan berbisnis dengan Ramadhan?

Apa bedanya ber-Ramadhan di rumah sendiri dengan di tempat orang? Hanya pada keleluasaan kesempatan, kekhusyukan dan tantangannya. Setiap keputusan dan pilihan tentu mengandung konsekuensi dan resiko. Adanya komitmen untuk memenuhi undangan, berakibat waktu yang tersisa menjadi tidak seleluasa dibandingkan dengan komitmen untuk menjalankan rencana kegiatan sendiri di rumah. Ya, ini memang hanya kegalauan perasaan hati yang tidak tampak di mata yang bagi sebagian orang barangkali kedengaran seperti mengada-ada.

Akhirnya, saya mengiyakan permintaan itu. Sempat saya pesimis lalu menyampaikan excuse kepada anak lelaki saya : “Wah, boss…”, kata saya kepada anak lelaki saya. “Sepertinya bapak bakal tidak bisa khatam baca Qur’an kali ini….”. Komentar anak saya malah bernada manas-manasin : “Ah, bapak pasti bisa…!”. Lalu sebuah kitab suci lusuh yang lebih setengahnya sudah saya baca di Ramadhan kali ini pun saya sisipkan di samping laptop di dalam tas ransel yang sama lusuhnya yang akan saya gendong kemana-mana.

***

Hari Minggu, 6 September 2009 sore saya siap terbang meninggalkan bandara Adisutjipto, Jogja. Menurut jadwalnya, Batavia Air yang akan saya tumpangi akan mendarat di bandara Juanda, Surabaya, bersamaan dengan waktu berbuka. Rupanya pesawat ke Surabaya mengalami penundaan sekitar sejam. Tapi itu justru berakibat waktunya jadi nanggung terhadap waktu berbuka puasa, akhirnya pesawat ditunda lebih dua jam guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk berbuka dahulu di bandara Jogja sekaligus sholat maghrib. Barangkali inilah jenis penundaan keberangkatan pesawat yang tidak digerutui penumpangnya. Sekotak nasi padang yang rasa padangnya kurang mak nyuss pun dibagikan sebagai teman berbuka.

Tiba di Surabaya langsung check-in ke pesawat Airfast Indonesia yang akan terbang jam 22:35 menuju Makassar dan Timika. Waktu menunggunya cukup lama. Kebetulan, pikir saya. Cukup waktu untuk mampir mushola menunaikan sholat Isya’, lalu sholat tarawih, dan kitab suci lusuh pun saya keluarkan dari tas ransel. Surat An-Nur (surat ke 24 yang berarti cahaya) dapat saya selesaikan membacanya di mushola bandara sambil menunggu saat panggilan boarding. Akhirnya pesawat MD 82 Airfast Indonesia mengangkasa menjelang tengah malam menuju Makassar dan Timika. Sudah terbayang kalau sepanjang malam itu bakal saya lewatkan di angkasa antara Surabaya dan Timika hanya dengan duduk atau tertidur.

Selewat tengah malam, belum lama meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, yang indah, megah dan bertampilan futuristik tapi akustik sistem suaranya mengecewakan, saat liyer-liyer hendak tidur, mendadak dada saya terasa seperti ditekan benda berat. Tarikan nafas menjadi berat sekali, keringat dingin membasahi badan, perut terasa kembung, mata seperti berat untuk dibuka sepertinya ingin segera terlelap, kepala kliyengan dan les-lesan… (entah apa bahasa Indonesianya) seperti berada antara sadar dan menjelang pingsan.

Benar-benar situasi yang tak terlukiskan tidak enaknya. Seumur-umur midar-mider naik pesawat belum pernah saya mengalami situasi yang seperti malam itu. Saya lihat penumpang di sekeliling saya semua ngleker dalam tidurnya, di bawah cahaya temaram kabin pesawat. Sementara saya sendiri klisikan (sibuk dalam hening) menahan sakit dan ketidak-nyamanan yang tak terperikan.

Hampir saja saya memanggil pramugari minta pertolongan saking tidak tahannya merasakan apa yang saya alami. Tapi sempat terpikir, kalau hal itu saya lakukan, betapa seisi pesawat akan geger oleh ulah saya. (Heran juga masih sempat mikir. Inilah jadinya kalau punya otak terbiasa digunakan mikir apa saja. Hanya sedekah dan hajat yang terbuang saja rasanya yang tidak ingin saya pikir…).

Sempat mengingat-ingat tentang hal yang pernah saya dengar dan saya baca terkait fenomena yang saya alami saat itu, sepertinya menyerupai tanda-tanda orang terkena serangan jantung. Sementara saya menyadari adalah seorang yang rentan dengan kemungkinan mengalami hal itu. Seorang perokok, pemalas olah raga, jenis hewan berakal pemakan segala, dan rekam jejak saya dulu pernah divonis dokter memiliki gejala penyumbatan pembuluh jantung, meski kemudian dinyatakan sehat kembali. Uiiih…, klop sudah. Semua syarat terpenuhi. Kemungkinan terburuk segera membayang di pikiran saya. Jangan sampai mengikuti cara Munir, sang tokoh Kontras, menghadap Sang Khalik.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan supaya saya tahu persis apa yang terjadi pada setiap detik yang saya lalui dan memastikan bahwa jantung saya tetap berdetak. Selain itu tentu saja berdoa. Segera kalimat-kalimat dzikir menghiasi bibir, hati dan pikiran saya. Sementara penumpang lain tetap terlelap dalam tidurnya, saya berjuang mengatasi masalah saya sendiri.

Saya gunakan kedua kuku ibu jari untuk menekan dan menusuk-nusuk sekuat-kuatnya ujung-ujung jari yang lain, dengan tujuan untuk menciptakan sensasi rasa sakit sesakit-sakitnya agar saya tetap terjaga. Kalaupun sampai berdarah, barangkali saya tidak perduli. Sesekali saya mencoba batuk sebatuk-batuknya meskipun saya tidak sedang sakit batuk, dengan tujuan agar jantung saya terangsang untuk terus bekerja. Kalimat-kalimat dzikir pun terus saya lafalkan dalam hati nyaris tanpa putus.

Sekitar 4-5 menit yang bagi saya malam itu begitu menegangkan, kemudian mereda dan berlalu, kondisi berangsur normal, saya bisa menarik nafas panjang, sedang kalimat dzikir tetap terus tak terputus. Akan tetapi sekitar 15 menit kemudian situasi dramatis itu berulang kembali. Perjuangan yang sama kembali saya lakukan melawan datangnya serangan kedua.

Hingga detik itu sebenanya saya belum tahu pasti apakah itu serangan jantung, serangan perut, serangan atau sebab lain, karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi saya pikir, kemungkinan terburuk haruslah menjadi satu-satunya alasan saya untuk bertindak semaksimal mungkin dalam situasi yang tanpa punya pilihan. Konon, orang dulu sering menyebutnya angin duduk. Tapi duduknya angin ini pun memang tak terduga duduk penyakitnya, artinya bisa berarti macam-macam penyebabnya. Sekitar 4-5 menit serangan kedua berlangsung, lalu situasi kembali mereda.

Tidak berapa lama setelah serangan kedua, kemudian lampu kabin pesawat menjadi terang. Rupanya tiba saatnya pramugari membagikan makan malam menjelang pagi, atau makan sahur bagi yang berpuasa. Tidak sabar rasanya saya ingin segera minum teh manis hangat. Menu pagi itu rupanya lontong opor, mengingatkan saya pada menu unggulan saat Lebaran. Lima iris kecil lontong dengan opor daging (bukan ayam kampung) ditemani sambal dalam sachet dan sebungkus kecil kerupuk, dengan lahap saya habiskan, meski taste opornya sebenarnya agak kurang pas (heran juga, kalau sudah urusan makan sepertinya tak terpengaruh dengan derita yang barusan saya alami).

Serangan fajar rupanya belumlah usai. Kejadian yang pertama dan kedua sebelumnya sungguh membuat saya trauma ketika beberapa menit setelah makan saya mulai merasakan tanda-tanda yang sama seperti sebelumnya. Itulah kemudian datangnya serangan ketiga dan keempat yang berselang sekitar 10-15 menit. Hanya kali ini kekuatannya tidak seberat yang pertama dan kedua. Bagai gempa susulan yang biasanya intensitasnya menurun dibanding gempa utamanya. Tapi perlawananan yang sama kerasnya tetap saya lakukan. Saya tidak ingin lengah sedetikpun. Jangan sampai serangan kelima dan seterusnya datang lagi di saat saya sedang terlelap. Entah sudah berapa ribu kalimat dzikir saya lafalkan tanpa henti, tak juga saat makan dan minum. Karena hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya kecapekan sendiri dan tertidur selama beberapa menit. Sebelum kemudian terbangun dan saya lihat jam di ponsel (saya tidak punya arloji) menunjukkan sekitar pukul 3:30 WITA atau 4:30 WIT, dan saya tidak tahu sedang berada di atas mana. Sholat subuh segera saya tunaikan sambil duduk di pesawat yang sedang menuju ke timur. Kalau dunia ini bulat maka terus menuju ke arah timur akhirnya akan sampai ke barat juga, dan di sana ada kiblat. Tidak lama kemudian dari jendela pesawat tampak langit mulai cerah dengan semburat awan putih mulai menghiasi angkasa Indonesia.

Sekitar jam 5:30 WIT, hari Senin, 7 September 2009, akhirnya pesawat Airfast Indonesia mendarat dengan selamat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Lengkap beserta seorang penumpangnya yang semalam tadi merasa nyaris “wassalam”…. Dari pintu kedatangan bandara lalu berpindah menuju ke landasan helikopter, naik ojek bayar Rp 5.000,- dan akhirnya tiba di Tembagapura setelah menempuh perjalanan dengan chopper bersama tumpukan sayur-mayur (harga sayurnya pasti jadi mahal, lha wong naik chopper) sekitar 20 menit menyusuri punggungan pegunungan Papua selatan.

***

Tinggal kemudian saya dheleg-dheleg…. diam tepekur, sambil mencoba merenungi pengalaman dramatis yang saya alami malam itu. Sederet pertanyaan menggelayut di pikiran dan mencari jawabannya. Lakon apa sebenarnya yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya dalam perjalanan malam itu? “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari minal-Surabaya ilal-Timika…”, begitu yang ingin saya kaji, kalau boleh saya menyitir penggal ayat pertama kitab Qur’an surat Al-Isra’.

Kaidah pertama yang harus saya pegang adalah bahwa saya harus berprasangka baik kepada Tuhan, karena “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku”, kata Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Kaidah kedua adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang kebetulan belaka. Apakah itu adalah cara Tuhan memaksa saya agar beribadah di malam itu, sementara tidak mungkin dengan sholat atau baca kitabnya, maka semalaman saya “dipaksa” berdzikir sejak dini hari hingga pagi tanpa terputus.

Tapi untuk apa Tuhan repot-repot memaksa saya? Jangan-jangan itu adalah jawaban atas kegelisahan dan kegalauan hati saya sebelum saya berangkat yang ketika itu khawatir tidak bisa berbisnis dengan Ramadhan secara sempurna sebagaimana kalau saya tinggal di rumah.

Tapi kenapa harus malam itu saat saya sedang di angkasa entah dimana? Kenapa bukan pada malam berikutnya saja ketika saya sudah santai-santai di pelukan dinginnya hawa pegunungan di Tembagapura? Tiba-tiba…. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya baru ngeh bahwa rupanya malam itu adalah malam tujuh belas Ramadhan. Malam dimana segepok ayat-ayat Qur’an diturunkan dari lauhil mahfudz (langit tertinggi) ke baitul izzah (langit dunia), sebelum kemudian di-icrit-icrit (bertahap) diwahyukan kepada nabi Muhammad saw selama 23 tahun.

Malam lailatul qodar? Kalau iya, maka Tuhan sungguh telah menjawab dan memberikan solusi atas kegalauan hati saya. Kalau tidak, maka Tuhan telah menegur dan mengingatkan saya agar jangan terputus berdzikir kepada-Nya kapanpun dan dimanapun saya berada, baik sedang sehat maupun sakit, sedang lapang maupun sempit, sedang suka maupun duka. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 9 September 2009 (19 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Keluar Dari Tembagapura Naik Heli

20 Juli 2009

Alhamdulillah, pagi ini bisa sampai Timika…, naik chopper. Insya Allah nanti sore terbang ke Jakarta.

(Kebetulan cuaca pagi hari sedang bagus dan ada trip heli atau chopper dari Tembagapura ke Timika. Hanya butuh waktu tempuh 15 menit lebih sedikit, dibanding perjalanan darat 2 jam menyusuri gigir pegunungan)

Timika, 20 Juli 2009 (siang)
Yusuf Iskandar

***

Untung tadi pagi bisa mbonceng Heli, sehingga bisa keluar dari Tembagapura menuju Timika yang jalan keluar-masuknya masih ditutup.

Malam ini mendarat di Jakarta. Sampai hotel langsung nggeblak…. Terpaksa belum sempat pulang ke Jogja, karena perjalanan (Insya Allah) masih akan berlanjut….

(Dari Tembagapura jam 7:00 WIT. Rencana semula dari Timika mau langsung nyambung pesawat Airfast Indonesia jam 9:00 WIT, tapi ternyata pesawat ditunda jam 16:00 WIT sore. Lao-lao — santai – dulu di hotel Rimba Papua yang dulu bernama Sheraton Timika. Penerbangan dari Timika transit di Makassar dan Surabaya, hingga sekitar jam 19:30 WIB tiba di Jakarta)

Jakarta, 20 Juli 2009 (malam)
Yusuf Iskandar

Mexican Food Dan Daun Ciplukan

17 Juli 2009

Santap malam mexican food di resto ‘the Lups’, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal tembak-tembakan, bom-boman, dan…… ya makan itu tadi….. Penutupnya minum jamu favorit, rebusan daun ciplukan. Wupps…., pahitnya minta ampyun.

(The Lups adalah kependekan oleh lidah bule untuk menyebut nama restoran di kota tambang Tembagapura yang lengkapnya bernama ‘Lupa Lelah Club’)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Terpaksa Belum Bisa Meninggalkan Tembagapura

17 Juli 2009

Maksud hati Sabtu besok pulang ke Jogja, apa daya jalan dari Tembagapura menuju ke Timika masih ditutup karena (dinyatakan) belum aman. Terpaksa pulangnya mundur entah sampai kapan…. Ugh, tidur lagi aja ah…. (tahu-2 terbangun, ada bom njebluk di Jakarta…..)

(Sejak insiden penembakan hari Sabtu, Minggu, Selasa, Rabu dan terakhir Jumat, praktis selama empat hari terakhir ini jalan utama Timika – Tembagapura terutama antara Mile-50 – Mile-66 yang merupakan kawasan perbukitan ditutup, karena menurut aparat polisi masih dinyatakan belum aman)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Pagi Mendung Di Tembagapura

16 Juli 2009

Pagi mendung berkabut tipis di Tembagapura
Berjalan menyusuri pepohonan cemara
yang sensasi baunya begitu menggairahkan
Melupakan sejenak mbak-temmbak…..
nun tidak terlalu jauh di luar sana…..

Tembagapura, 16 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura Di Saat Yang “Kurang Tepat”

13 Juli 2009

Alhamdulillah, malam ini sekitar jam 20:00 WIT sampai juga saya di Tembagapura, Papua. Setelah sempat 6 jam tertahan di area Mile-50, akhirnya ikut rombongan konvoi bis karyawan dikawal polisi melewati “medan tempur” Mile 51-53. Asyik…asyik…, soalnya sopir dan penumpang lainnya saya tinggal tidur di bis….

Tembagapura, 13 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Tadi malam berangkat dari rumah JK terus ke SBY….., sore tadi sudah sampai TIM….. (JK: Jogjakarta; SBY: Surabaya; TIM: Timika)

Malam ini nginap di Timika dulu (hotel Rimba Papua, dulu bernama Sheraton Timika), sambil menunggu penembaknya pergi….. Menikmati menu healthy food, baramundi rebus + sayur mentah, dimakan pakai garam + merica, kentang panggang….

(Sejak ada insiden penembakan pada Sabtu pagi dan Minggu siang, 11-12 Juli 2009, di area Mile 52-53 jalur jalan dari Timika menuju kota tambang Tembagapura, lalu lintas semua kendaraan sangat diperketat dan dibatasi untuk alasan keamanan)

Timika, 12 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Tiba Kembali Di Jogja

1 Juni 2009

Alhamdulillah…, pagi ini tiba kembali di Jogja, setelah sejak kemarin siang menempuh perjalanan poanjang… dari Tembagapura – Timika – Makasar – Denpasar – Surabaya – Jogja……

MD82(Tembagapura ke Timika lewat darat 2 jam, lalu naik pesawat MD 82/83 Airfast Indonesia terbang dari Timika jam 16:00 WIT dan tiba di Surabaya jam 20:30 WIB, lalu disambung dengan mobil Suzuki APV carteran berombongan, akhirnya tiba di Jogja Senin pagi)

Yogyakarta, 1 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Sebelum Meninggalkan Tembagapura

30 Mei 2009

Lanjutan catatan harian……
Minggu sore, 31 Mei 2009, terbang kembali ke Jogja.

Yusuf Iskandar

——-

Tiba-tiba Disapa Sang Motivator

Tiba-tiba tadi siang ditilpun Pak Yusef J. Hilmi (seorang motivator yang suka blusukan di wilayah nusantara). Katanya numpang lewat Jogja dalam perjalanan menuju Solo. Mudah-mudahan agenda workshop ‘Smart Parenting’ Minggu besok sukses dan lancar…. Sampai ketemu di belahan nusantara lainnya… Semoga kelak sampai juga ke wilayah Timur. Salam.

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Masih Ada Kereta Makan Yang Lewat

Rupanya kereta makan hari ini masih lewat dua kali….

Pertama, ada yang mengundang makan siang di pasar ‘Shopping’ Tembagapura, dengan tawaran menu londo, namanya chicken barbeque…. (Terima kasih Pak/Bu Widodo Margotomo).

IMG_2407_rIMG_2404_r

Kedua, ada yang menjemput untuk makan malam di rumahnya, dengan menu nasi uduk, ayam serundeng, teri-kacang-kering…. (Matur nuwun Pak Amal Rahman dan Bu Sylvia atas masakannya yang hmmmmm…… pingin lagi, deh…..)

IMG_2416_rIMG_2418_r

Insya Allah Minggu sore besok terbang dengan pesawat Airfast, kembali ke negeri Ngayogyokarto Hadiningrat yang rajanya urung jadi capres….

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Nyruput Kopi Amungme Gold

Pagi-pagi nyruput kopi arabika Amungme Gold dari pegunungan Nemangkawi, Papua. Mak thengngng… betul…! Nikmat sekali. Pokoknya beda.

IMG_2280_rKalau ingat kopi ‘Jasa Ayah’ hanya theng.. kalau disruput di Ulee Kareng, Aceh. Kopi ‘Hawaii’ hanya enak kalau diminum di Kijang, Bintan. Kopi ‘Asia’ hanya nikmat kalau diminum di Pontianak.

Tapi kopi Amungme Gold enak terus… aroma dan taste-nya sekelas Starbucks, juga harganya. Karena itu jangan ada yang minta oleh-oleh. Harap maklum budget Panitia terbatas… (he..he..he..).

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Anakku Ngajak Ke Rinjani

Ketika ada berita pendaki gunung yang hilang di G. Argopuro & G. Ciremai, saya SMS anak saya di Jogja agar melihat beritanya di TV.

Besoknya anak saya yang lagi suntuk nungguin hasil UAN SMP kirim SMS : “Bapak pulang kapan?”. Saya pikir berhenti sampai di situ saja. Esoknya lagi kirim SMS, katanya : “Bapak, kalau pulang dari Papua nanti kita ke Rinjani ya…?”. Mak glek... tenggorokanku. Dikiranya perjalanan Jogja – Lombok ki mbecak opo yo…..

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Ikan Laut, Ikan Ayam, Ikan Daging…

IMG_2402_rTadi malam diundang acara syukuran (mas Wahyu Sunyoto menempati rumah baru). Acara intinya… ya tetap makan-makan… Ada sup asparagus, sate kambing, mi goreng, tumis kangkung, mpek-mpek, apa lagi ya…….., oh ya…, ada ikan laut, ikan ayam, ikan daging… (he..he.. jawa biyangeth…).

Mudah-mudahanan masih ada kereta makan yang akan lewat…..

Tembagapura, 30 Mei 2009

Flu Menyerang, Bunga Rosela Menghadang

30 Mei 2009

Lanjutan catatan dari Tembagapura…… (Yusuf Iskandar)

Bunga Rosela Menghadang

Sebagai pengganti vitamin C, saya glonggong saja dengan teh bunga rosela (herbal yang kaya akan vitamin C), bercangkir-cangkir, kayak sapi Boyolali. Lumayan, bisa menahan flu agar tidak semakin menjadi-jadi. Muasal-asalnya sederhana, ada janitor di kantor yang diberi temannya bunga rosela kering, tapi tidak paham bunga kering itu untuk apa. Maka saya mintain terus saja, sampai habis….. Flu pun berangsur sembuh….

Tembagapura, 28 Mei 2009

——-

Gejala Flu Menyerang

Tadi malam diundang makan lagi (sama mas Widodo Margotomo yang hobi fotografi), menunya pepesan nila plus ayam kremes… Tapi sayang, saya lagi kurang enak badan sejak siangnya sehingga tidak bisa makan banyak. Gejala mau flu, badan nggreges agak demam, tenggorokan gatal, batuk-batuk. Saya tidak biasa minum obat kimia, biasanya saya sikat dengan Adem Sari dan You C 1000, bisa teratasi. Tapi tadi malam keadaan emergency, kalau tidak segera sembuh rencana kerja bisa berantakan, terpaksa minum Decolsin, lalu tidur…

Tembagapura, 27 Mei 2009

Catatan Dari Tembagapura – Mei 2009

27 Mei 2009

Berikut ini catatan-catatan pendek perjalanan saya ke kota tambang Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua, yang sempat saya posting di Facebook (saya tulis ulang dengan penyempurnaan penulisannya agar lebih enak dibaca).

Yusuf Iskandar

———-

Jamblang dan Sate Lilit

Kemarin malam saya diundang makan malam oleh seorang teman (mas Ridwan Wibiksana) dan disuguhi jamblang, masakan khas Cirebon (tumis cabe merah yang bijinya sebagian dibuang, diramu dengan irisan daging)…. hewes..hewes… kepedasan….

Malam ini diundang oleh seorang teman lainnya, yaitu keluarga Pak Ketut Karmawan (kalau tidak salah berasal dari Bali), disuguhi sate lilit (berbahan daging ayam), petai goreng lengkap dengan sambal terasi, bawal goreng dengan sambal tomat, tumis kacang panjang, dll. Wuih…, di saat malam-malam dingin di lokasi berketinggian lebih 2300 mdpl (meter di atas permukaan laut), tapi bisa juga kepala keringatan….

Tembagapura, 26 Mei 2009

—–

Alhamdulillah…..

Alhamdulillah….. pagi ini terasa sakit pada lutut dan paha setelah ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’ hari Minggu kemarin. Kaki terasa sakit untuk jalan, mlanjer, njarem, kemeng, loro kabeh, terasa sakit semua…. Sepertinya sudah agak lama saya tidak menikmati hal seperti ini. Trims, Tuhan….

Tembagapura, 25 Mei 2009

—–

Kakap Woku Belanga

Seorang teman yang agak pinter masak dan hobi memancing, malam ini mengundang saya makan malam. Menu yg ditawarkan : kakap woku belanga (kakapnya hasil mancing di laut), ayam goreng, ca sawi campur telur, minumnya teh tubruk. Ya, jelas saya langsung berangkat ke rumahnya to…. Sampai perut kemlakaren…., kekenyangan. Lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai malam. Terima kasih, kawan…. (kawan saya itu namanya pak Herry Siswanto).

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Ikut ‘Race To The Clouds’

Bisa juga saya mencapai garis finish, lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, di urutan ketiga (dari belakang… he..he.., peserta yang lain cukup butuh waktu 1,5 – 2 jam, saya selesai dalam 3 jam lebihnya banyak). Sangat menantang, start di lokasi berelevasi 1988 mdpl (meter di atas permukaan laut), lalu mendaki menuju lokasi berelevasi 2908 mdpl, dan turun lagi.

Bersyukur saya masih sempat ikut kegiatan “aneh” ini di lokasi yang tidak pernah saya sangka… Saya membayangkan seperti sedang perjalanan mendaki gunung. Meski belum cukup memacu adrenalin…

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Mbah Wardi

Tadi siang ketemu teman lama yang ahli urut (pijat) sekaligus melakukan ‘scan’ penyakit. Sewaktu saya masih karyawan dulu, sering saya buktikan hasil ‘scan’-nya ternyata tepat dibanding angka hasil pengecekan laboratorium di Rumah Sakit yang saya lakukan esoknya, termasuk kadar asam urat, kolesterol, dsb. Edan…..

Setelah itu biasanya dia memberitahu resep jamu ramuan herbal atas penyakit yang diderita pasiennya. Ramuannya bisa dicari di halaman sekitar atau membeli di pasar. ‘Cilakaknya’, kok ya terbukti manjur…. Teman saya itu bernama Suwardi, teman-teman biasa memanggilnya Pak Wardi, tapi ada juga yang merasa lebih akrab memanggil Mbah Wardi….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Sepatu Baru

Akhirnya sepatu baruku bisa ditukar dengan yang lebih besar ukurannya. Waktu itu membelinya hanya titip teman di pasar Timika, harganya Rp 99.950,- tapi tidak ada kembaliannya. Hari Minggu besok mau dipakai ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, menempuh jarak lebih 13 km, mendaki 930 m, di elevasi 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di tengah Papua. Mudah-mudahan bisa mencapai sasaran, dan yang penting bisa turun kembali….., biarpun paling buntut saat semua panitia sudah bubar….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Dinner Di Lupa Lelah Club

Malam ini diajak dinner oleh seorang teman (namanya pak Joko Basyuni) di Lupa Lelah Club (nama sebuah resto di kota tambang Tembagapura, Papua). Bagi pengunjung tempat ini harapannya tentu agar dengan makan-minum di klab ini segera akan lupa dengan segenap rasa lelah, capek, kesal, dan sebangsanya sehabis seharian sibuk dengan kerja di lapangan.

Ketika pulang? Ya lelah lagi……., mendingan nggeblak tidur ah….

Tembagapura, 21 Mei 2009

—–

Tsel Flash

Tsel Flash benar-benar kemayu dan menggemaskan. Pingin tak pithes…. (tapi nanti malah tidak bisa online…). Sudah ditinggal ke belakang kok ya masih saja lenggut-lenggut kayak sapi kekenyangan…

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Menyusuri Pepohonan Cemara

Hawa segar pagi hari, berjalan agak mendaki menyusuri pepohonan cemara yang aroma daun-daunnya sangat khas. Sensasi bau-bauan yang sering dijumpai saat melintasi hutan pertama ketika mendaki gunung…..

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Online Di Tembagapura

Akhirnya bisa juga ng-online di Tembagpura (menggunakan Tsel Flash yang jalannya menggemaskan…). Ini adalah kota tambang di tengah Papua, berada di ketinggian +/- 2000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di lembah pegunungan terjal, sering berkabut, hujan, dingin, mudah lapar, ingin kencing terus, paling enak kemulan sarung… terus enggak usah kerja….

Tembagapura, 19 Mei 2009

—–

Mendarat Di Timika

Jam 18:00 WIT pesawat Airfast yang saya tumpangi dari Surabaya mendarat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Malamnya menikmati karakah (kepiting) goreng mentega di Rumah Makan ‘212’ (tapi pasti tidak ada hubungan saudara dengan Wiro Sableng), di Jl. Belibis, Timika. Alhamdulillah, bisa kembali mengunjungi kota ini……

Timika, 16 Mei 2009

Pahala Betebaran Di Pasar

18 April 2009

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Perang Tuku

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting tulisan lama :

Kabar seru kembali datang dari kota Timika, di Papua bagian tengah sebelah selatan. Ada perang tuku, maksudnya perang suku (orang angsli Papua biasa melafal huruf ‘s’ dengan ‘t’, dan sebaliknya). Tepatnya keributan antar suku di daerah Kwamki Lama, yang kalau terjadinya di Jakarta biasa disebut tawuran. Akan tetapi karena, keseharian masyarakatnya memang berbusana sangat sederhana; juga mereka tidak biasa menggunakan clurit atau golok melainkan panah dan tombak; juga melibatkan kelompok sekampung (di Papua umumnya beda kampung sudah beda suku), maka kejadian tawuran antar kelompok bisa berubah kesan menjadi perang (antar) suku.

Meskipun judulnya perang suku, namun jangan heran kalau peserta perangnya ada yang pakai safety googgles (kacamata keselamatan), rubber booth (sepatu keselamatan), safety helmet (topi keselamatan), atau kalau cuaca agak mendung ada juga yang pakai rain coat (jas hujan) warna kuning. Darimana lagi kalau bukan “keluaran” Freeport. Maklum, sebagian matarakas (maksudnya, masyarakat) yang berperang adalah karyawan perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.

Kalau sudah begini, para supervisor Freeport dibuat kelabakan, anak buahnya pada bolos kerja untuk ikut perang. Setelah perangnya usai, mereka masuk kerja dan melapor kemarin tidak kerja karena ikut perang. Bagi Freeport jadi serba salah, antara mau dianggap mangkir (dan oleh karena itu terkena sangsi dan potong gaji) atau ditolerir saja. Kalau dibiarkan, kejadian sejenis ini sering sekali dan selalu dimanfaatkan oleh mereka yang malas-malas kerja untuk absen, apapun sukunya. Akhirnya, mereka dianggap sebagai cuti tanpa bayar (secara peraturan tidak ada yang dilanggar oleh mereka, namun gajinya dipotong). Dengan kata lain, ketidak hadirannya “diijinkan”. Namun perlu diketahui bahwa “ijin perang” diberikan setelah perang terjadi, dan bukan sebelum perang.

Menangani soal ijin-mengijin ini memang gampang-gampang susah. Orang-orang asli Papua ini sangat lihai mencari alasan untuk tidak masuk kerja. Umumnya orang akan minta ijin kalau ada lelayu, atas saudara dekatnya yang meninggal, misalnya ayah, ibu, mertua, suami, istri, anak, dan kerabat dekat lainnya. Tapi itu saja ternyata tidak cukup bagi orang Papua, saudara jauh, pernah apanya-siapa, tetangga sekampung, bahkan babi piaraannya mati pun akan minta ijin tidak masuk kerja.

Ihwal perang juga aneh. Meskipun semangat kemarahan untuk membalas, melawan, memusuhi sedimikian memuncaknya, namun dijamin pada saat jam istirahat kedua belah pihak akan berhenti dan makan dulu. Demikian pula jika tiba waktunya untuk jeda minum (istilah sekarangnya coffee break), kedua belah pihak akan serentak berhenti dan beristirahat. Kemudian perang akan dimulai lagi setelah itu. Tidak ada gerilya, malam ya istirahat. Namun, jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam terus membara.

Tentang sebab-musabab perang bisa macam-macam, rasanya tidak berbeda jauh dengan yang biasa menyebabkan tawuran. Lebih-lebih umumnya orang asli Papua hobi minum minuman keras sebagai hasil serapan budaya modern, maka tidak terlalu sulit untuk membuat pemicu. Belum lagi, situasi semacam ini rentan untuk dimanfaatkan oleh kalangan yang sudah agak berpikiran maju, yang dalam bahasa sekarang disebut provokator.

Yusuf Iskandar
(19/04/2004)

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar

Matoa (2)

23 Maret 2008

Di Papua sendiri, buah matoa ini tidak dijumpai di semua wilayah. Ada daerah-daerah tertentu dimana buah matoa banyak dijumpai, sementara di daerah yang lain rada susah menemukannya. Buah matoa dari Jayapura lebih dikenal orang daripada yang berasal dari kota-kota lain di Papua. Katanya, rasanya lebih enak dan daging buahnya lebih tebal. Sedangkan buah matoa dari daerah lain, buahnya kurang bagus.

Cerita ini tidak jauh berbeda dengan tanaman matoa yang tumbuh di daerah Jawa. Adakalanya tanaman ini bisa berbuah, namun banyak juga yang tumbuh saja terus dan enggak muncul-muncul buahnya. Orang bilang tanahnya beda. Ya memang beda, wong yang satu tanah Papua yang lainnya tanah Jawa.

Kulit buah matoa ini tergolong tipis dan mudah terkelupas. Oleh karena itu, penanganannya memang rada susah, apalagi kalau masih ditangani, misalnya cara pengepakan (packing), yang masih tradisional. Sekali kulitnya terluka, biasanya menjadi tidak tahan lama, kecuali langsung disimpan di lemari es.

Sebelumnya saya mengira tanaman matoa ini berbuah sepanjang tahun. Rupanya ada seorang teman yang memberitahu, bahwa meskipun matoa berbunga sepanjang tahun, namun matoa ini ternyata termasuk tanaman yang berbuah musiman dan biasanya pada akhir tahun. Sama halnya ada musim buah rambutan, duku, durian dsb. Itu kalau di Papua. Entah kalau tanaman matoa yang tumbuh di tempat lain.

Seperti halnya tanaman matoa yang sudah lama ditanam di lingkungan PT Caltex Pacific Indonesia atau di Minas, Rumbai, di daratan Sumatera. Barangkali karena Pak Johand Dimalouw sebagai pelopor penanamnya adalah seorang yang asli berasal dari Papua maka tanaman matoa ini dipilih untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan di sana. Siapa tahu bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, sehingga kelak ada matoa Sumatera atau paling tidak matoa Rumbai.

***

Seorang rekan bercerita tentang buah matoa, begini penggalan ceritanya :

Matoa adalah jenis buah tropis yang berasal dari tanaman kehutanan yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di daerah Papua dan Kalimantan. Kayu dari batang pohon matoa bernilai ekonomis tinggi, termasuk golongan kayu kelas 2, sehingga tidak jarang menjadi obyek illegal logging oleh orang-orang Jakarta.

Musim buah matoa terjadi sekali setahun, biasanya pada akhir tahun. Jadi kalau mau ambil cuti, pada bulan November saja ke Jayapura.

Buah matoa bentuknya lonjong, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah berwarna putih seperti rambutan, letaknya menyelimuti biji berwarna coklat kehitaman, ditutup oleh lapisan kulit luar yang agak keras. Buah matoa rasanya manis dengan aroma seperti durian, kadangkala ada dijual di shopping center dengan harga yang lumayan mahal. Bagi yang belum pernah merasakan buah matoa maka cukup membayangkan saja, bahwa matoa adalah kelengkengnya orang Papua, sedangkan kelengkeng adalah matoanya orang Jawa……..

Rupanya bagi sebagian orang di Papua, buah matoa ini juga dapat membangkitkan kisah kenangan tersendiri. Seorang rekan bernostalgia dengan kisahnya, begini :

Jaman aku SD ketika Mendikbud-nya Daoed Joesoef, lagu matoa cukup terkenal pada tahun 1970-an di kalangan anak-anak di Papua (bahkan mungkin masih dinyanyikan di sekolah-sekolah hingga sekarang). Potongan syair lagu tsb. begini :

Buah matoa enak dimakan
Marilah kawan coba rasakan
Dimana terdapat buah matoa
Banyak terdapat di Irian Jaya

Pendeknya jika ada kesempatan, tidak ada ruginya sekali waktu mencoba mencicipi rasanya buah matoa Papua ini. Apalagi, kalau kebetulan sempat singgah di Jayapura.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau melafalkan kata buah matoa hendaknya yang jelas, salah-salah nanti kedengaran seperti sedang mengucapkan kata buah maitua, yaitu dialek Manado yang sering dipergunakan dalam bahasa pergaulan di Indonesia timur, yang berarti istri…..)

Tembagapura, 10 Juni 2003
Yusuf Iskandar

Scoleciphobia

22 Maret 2008

Misty Chapell sempat kamitenggengen (tertegun seperti tidak percaya), menatap seonggok cacing yang tampak pating krungkel (saling belit-membelit menjadi satu). Bukan karena kaget atau kagum, melainkan karena dia harus segera memakan cacing-cacing itu. Ya, Misty mesti mengambil cacing-cacing itu, lalu mengunyah dan menelannya. Rasa jijik, kotor, mau muntah, mual, jorok, bercampur menjadi satu.  

Mula-mula Misty merasa begitu tegar, sedikitpun tidak ada rasa takut atau khawatir. Ia menyangka akan mudah melakukan hal itu. Namun menjadi lain ceritanya, ketika dia harus menjadi orang pertama yang memakan cacing-cacing itu, mendahului dan disaksikan oleh rekan-rekannya. Ia begitu kaget menjadi orang pertama yang harus melakukannya.

Adegan di atas bukanlah kisah fiksi dalam sebuah film, melainkan benar-benar terjadi dan harus dilakukan oleh Misty tahun lalu. Misty Chapell adalah satu dari enam orang peserta kontes melawan rasa takut. Sebuah kontes adu berani dan adu nekad yang terkenal dengan nama “Fear Factor”. Acara ini diselenggarakan oleh stasiun televisi NBC yang secara rutin mengadakan kontes ini dan ditayangkan di televisi. Kini acara itu dapat disaksikan melalui saluran televisi AXN.

Setiap peserta dari setiap kontes “Fear Factor” dituntut keberaniannya untuk melakukan berbagai hal yang seringkali tampak rada gila, nekad, dan enggak masuk akal. Termasuk diantaranya harus makan cacing atau kecoa hidup, meloncat dari helikopter, meluncur dari ketinggian dengan kaki diikat dan kepala di bawah, meniti papan dengan sepeda menyeberangi atap dua gedung tinggi, telanjang di tempat umum, makan jeroan kambing atau ikan mentah, menelan telur busuk yang sudah disimpan lama, diseret kuda, dikerubuti tikus atau lebah, menyelam, dan macam-macam ide gila lainnya.

Tapi, lha wong namanya lomba, mau tidak mau setiap peserta harus melakukannya. Atau jika tidak, artinya mundur menyerah atau kalah. Dan kehilangan kesempatan untuk membawa pulang hadiah uang tunai US$50,000, kalau menang.

Lalu bagaimana Misty harus melakukan pekerjaan yang bagi orang waras tentu sangat menjijikkan itu?. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, namun Misty langsung saja memasukkan semua cacing-cacing itu ke dalam mulutnya sampai mucu-mucu (mulutnya menggembung karena kepenuhan), lalu mengunyahnya. Dia kesulitan untuk menelannya karena mulutnya kelewat penuh. Dia merasa seperti keseredan (ada yang nyangkut di tenggorokan), tapi dia terus mengunyah dan mengunyah, sementara cacing-cacing itu masih terus bergerak dan tidak mati di dalam mulutnya.

Akhirnya semua cacing itupun ditelannya. Dan, Misty tersenyum penuh kemenangan. Satu tahapan adu keberanian telah berhasil dilakukannya. Setiap peserta dalam setiap kontes “Fear Factor” harus melalui tiga tahapan adu keberanian yang jenisnya dirahasiakan hingga saatnya lomba akan dimulai.

“Fear Factor” adalah sebuah acara televisi sungguhan yang dapat diduga memang penuh dengan nuansa entertainment. Berbeda dengan sebuah buku yang berjudul sama “The Fear Factor” karya Dr. Barry S. Philipp yang lebih bernuansa ilmiah, kajian atas berbagai hal tentang rasa takut atau phobia.

***

Sebenarnya tidak hanya kaum perempuan, banyak pula kaum laki-laki yang mempunyai perasaan yang sama terhadap cacing. Jangankan memakannya, menyentuhnya pun tidak semua orang merasa nyaman melakukannya. Kecuali mereka yang dulu waktu di kampung hobinya mancing dengan menggunakan cacing sebagai bangi atau umpannya.

Orang yang takut dengan cacing disebut juga Scoleciphobia atau Vermiphobia. Sedangkan kalau merasa sampai kelewat takut diganggu atau diserang cacing disebut juga Helminthophobia. Dalam istilah bahasa Inggris, rasa takut cacing (worm) ini terkadang juga disebut Wormophobia. Misty Chapell dalam kisah di atas tentu tidak termasuk sebagai penderita Scoleciphobia. Tidak saja karena tidak takut atau jijik dengan cacing, malah cacingpun dimakannya.

Para penderita Scoleciphobia tentu tidak cocok kalau harus mengembangkan bisnis ternak cacing. Tidak juga menguntungkan bagi mereka yang hobi berkebun atau menanam bunga. Hal ini akan bertentangan dengan hobinya tanam-menanam karena cacing justru sangat dibutuhkan oleh media tanam dalam sangat bermanfaat dalam menyuburkan tanah.

Penyakit Scoleciphobia atau Vermiphobia ini tentunya tidak dikenal oleh orang-orang desa yang umumnya bekerja sebagai buruh tani. Cacing sudah menjadi bagian dari hidup kesehariannya. Dengan kata lain, munculnya rasa takut atas sesuatu itu biasanya sebagai akibat dari situasi atau kebiasaan yang tanpa disadari telah terkondisikan sejak kecil sehingga demikian tertanam kuat dalam alam bawah sadarnya. Coba saja, biasakan anak kita diberitahu : “Di situ gelap, nanti ada hantunya”, dan kata-kata sejenis lainnya yang menjadi semacam afirmasi. Maka kelak si anak akan memetik buahnya, benar-benar menjadi takut dan perlu waktu lama untuk bebas darinya.

Takut cacing sebenarnya adalah rasa takut yang wajar, sebagaimana dialami oleh manusia dengan berbagai rasa takut yang berbeda-beda. Ada ratusan jenis rasa takut atau phobia sejenis ini, termasuk takut kecoa , takut hantu, takut tampil di depan umum, takut sakit, takut ketinggian, takut gelap, takut sex, takut jalan sendirian, dsb. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan monopoli jenis kelamin tentang siapa penderitanya. Siapapun bisa mengalami salah satu rasa takut. Takut apa saja.

Dalam bahasa politik, bebas dari rasa takut merupakan hal elementer yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bebas dari rasa takut adalah satu dari hak asasi manusia yang (semestinya) tidak boleh direnggut atau diberangus oleh siapapun juga dari diri seseorang. Tapi, lha wong namanya politik, buku sejarah dunia ini justru penuh oleh peristiwa-peristiwa yang asal-muasalnya berhubungan dengan kebebasan atas rasa takut.

Dijaman modern ini, urusan bebas dari rasa takut yang menjadi salah satu hak asasi manusia ini sudah ada wadahnya, yaitu Komnas HAM atau Amnesty International. Tapi ya jangan coba-coba kalau Anda takut cacing lalu pergi melapor ke Komnas HAM. Jangan-jangan malah Komnas HAM-nya nanti yang takut kepada Anda dan lari terbirit-birit.

Kalau ada rasa takut yang justru harus dijaga, dibina dan dipertahankan, maka itu adalah takut kepada Tuhan. No question asked!

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.